
"Jadi," kata Nico setelah dia turun dari gendongan Abbas untuk duduk di samping Koko di bawah pohon. "Kau mau ke mana? Sendirian begitu?" Nico mengernyitkan alis. "Tapi kenapa kau kabur setelah melihat kami? Kurasa ada yang aneh dari sikapmu."
Koko hanya menyunggingkan senyum getir saat mendengar pertanyaan itu, matanya memandang ke langit yang sudah mulai menguning, kemudian, ia menghela napas dengan lemah. "Bukan apa-apa... aku hanya sedang ingin sendirian."
Abbas, yang kini sedang duduk sila di depan mereka, termenung memikirkan kata-kata Koko yang terdengar mencurigakan. Abbas bukan orang yang peka terhadap sesuatu, tapi entah kenapa, melihat ekspresi dari wajah Koko, ia bisa mengerti kalau ada sesuatu yang tidak beres, menyebabkan lelaki berambut ungu panjang itu, ingin sendirian. Dan Abbas cukup penasaran pada hal itu, karena itulah, cepat-cepat ia bersuara.
"Apa kau sedang sedih?"
Mendadak, Koko terbelalak, ia tertegun mendengar pertanyaan dari seorang lelaki kekar yang punya suara berat, yang sedang duduk beberapa meter di depannya itu. Koko tidak menyangka Abbas bisa bertanya langsung ke dalam inti masalah, tanpa mengucapkan basa-basi dahulu. Koko jadi kikuk harus menjawab apa, karena akan sangat merepotkan jika dua orang itu mengetahui masalah yang kini sedang dihadapinya, dia sangat bingung sekarang.
Dengan gugup dan bibir gemetar, Koko menundukkan kepalanya. "Aku baik-baik saja... kalian tidak perlu khawatir." Hanya itu yang mampu Koko katakan, ia enggan untuk menjelaskan semuanya pada mereka, itu hanya akan membuat masalah tambah besar. Koko tidak mau mereka ikut campur dalam masalahnya, cukup Paul, Jeddy, Cherry, dan Tante Elena saja yang tahu, selebihnya, Koko tidak ingin mereka mengetahuinya--Walau ia tidak tahu kalau Colin pun sudah mengetahuinya.
__ADS_1
"Mengapa kau tidak menceritakannya pada kami? Masalahmu itu?" ucap Nico, berhasil menebak kondisi Koko, dengan senyuman tipisnya yang terkesan menyombongkan diri. Tentu saja Nico bisa mengetahuinya, sebab ia adalah orang yang sangat peka terhadap sesuatu, dan ia pun pandai mengamati emosi orang lain dari tingkah lakunya. Nico menduga kalau Koko saat ini sedang berada di situasi yang menyakitkan, tertampak jelas dari gerak-gerik matanya, hembusan napasnya, caranya berbicara, dan gestur badannya.
Koko semakin menundukkan kepalanya dengan memeluk dua lututnya yang tertekuk, ia membenamkan wajah cantiknya di antara dua paha yang berdempetan, ia tidak mau Nico dan Abbas melihat air matanya yang saat ini sedang mengalir, membasahi pipinya.
"Aku tidak punya masalah... aku hanya ingin sendirian," jawab Koko dengan suara yang lirih, tanpa memandang muka Nico mau pun Abbas, pelukannya pada lutut semakin erat. Koko sedikit kecewa karena harus bertemu dengan Nico dan Abbas di jalan, padahal ia hendak pergi dari rumah Paul menuju jembatan raksasa Kota Swart, yang ada di pusat kota, dan tempat itu pun dikenal sangat angker, karena sering dijadikan sebagai lokasi bunuh diri. Dan Koko ingin bergabung dengan mereka--orang-orang yang telah bunuh diri di jembatan tersebut. Tapi sayang sekali, ia tidak bisa melakukannya karena berpapasan dengan Nico dan Abbas di tengah jalan, benar-benar mengecewakan.
Nico dan Abbas mengamati Koko yang sedang memeluk dua lututnya dengan membenamkan mukanya di paha. Mereka mulai paham setelah melihat itu, dugaan mereka semakin kuat kalau saat ini, Koko memang tidak sedang baik-baik saja. Mungkin tubuhnya tampak baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya pasti sedang terluka. Mereka sangat yakin dengan itu.
"Kalau kau masih tidak mau bicara, maka aku yang akan menanyakannya langsung pada mereka yang ada di rumah, kuharap Paul sudah ada di sana." kata Nico dengan menyisir rambut putihnya yang agak kusut menggunakan jemari kurusnya.
"Jangan membodohiku, Koko," Nico beranjak, membangunkan badannya untuk berdiri tegak. "Orang sepertiku akan langsung tahu kalau saat ini kau sedang," Nico menatap mata Koko dengan tajam. "Menyunggingkan senyuman palsu."
__ADS_1
Bola mata Koko menegang mendengar itu, senyuman yang barusan ia tampilkan, perlahan lenyap, tergantikan dengan bibir yang gemetar. "Kenapa... kau keras kepala sekali?" tanya Koko saking gemasnya pada sikap Nico yang tidak mau menuruti permintaannya.
"Keras kepala, ya?" Nico menyunggingkan senyuman miringnya dengan angkuh, sembari menekankan kaca matanya. "Yang cocok menyandang gelar itu hanyalah Paul," ucap Nico dengan mendongakkan lehernya, tampak menyombongkan diri, sambil berdiri tegak di hadapan Koko dan Abbas. "Aku ini lebih layak dijuluki dengan sebutan 'Penguin Congkak', semua orang tahu itu. Benar, kan, Abbas?"
"Penguin... Congkak?" Koko tidak paham mengapa Nico menjuluki dirinya sendiri dengan menggunakan nama hewan lucu seperti penguin, tapi apa pun alasannya, ia tidak memikirkannya. Buru-buru Koko mencengkeram betis kanan Nico agar lelaki rambut putih itu tidak pergi ke Rumah Paul. "Kumohon... Nico, jangan lakukan itu. Aku tidak ingin kalian...." Koko menutup mulutnya seketika dengan tangan, kaget karena hampir mengatakan alasan yang sebenarnya pada dua lelaki itu.
"Tidak ingin kami apa?" tanya Nico, dengan mengangkat sebelah alisnya, menampilkan wajah yang tidak puas pada ucapan Koko. "Apakah yang kau maksud adalah, kau ingin kami tidak terlibat dalam masalahmu, begitu?" Keterkejutan Koko semakin menjadi saat mendengar tebakan Nico yang sangat tepat. Sungguh, rasanya Koko tidak bisa berkata apa-apa lagi selain terdiam, karena berhadapan dengan orang seperti Nico, benar-benar mengerikan. Rasanya seperti berhadapan dengan seorang psikolog yang pandai dalam menilai suasana hati seseorang dari perilakunya. Dan itu bukan hal yang bagus.
Meskipun begitu, Koko tidak boleh menyerah, ia harus membuat Nico tidak pergi ke Rumah Paul, dan satu-satunya cara yang dapat ia pikirkan hanyalah membiarkan mereka mendengar masalahnya, karena dengan itu, mungkin Nico dan Abbas bisa menahan diri untuk bertanya secara langsung pada mereka yang ada di rumah Paul. Pelan-pelan, Koko menarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia hembuskan secara perlahan. Saat itulah, Koko melepaskan tangan kanannya yang sebelumnya mencengkeram betis Nico, lalu ia bersiap-siap untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada dua lelaki tersebut.
Dan pada saat itulah, Nico dan Abbas langsung menyimak dengan cepat pada apa yang dijelaskan Koko mengenai masalahnya. Nico dan Abbas tak henti-hentinya terkejut saat mendengar kata demi kata yang Koko sampaikan pada mereka. Nico tidak percaya kalau ternyata masalah yang sedang Koko hadapi berkaitan langsung dengan Naomi, yang menurutnya adalah seorang gadis yang sangat sopan dan lemah lembut, sebab, dipenjelasan yang Koko katakan, sosok Naomi di sana benar-benar terasa berbeda. Naomi terlalu kasar, kejam, dan sadis di cerita yang Koko sampaikan. Dan itu tidak seperti yang Nico tahu dalam kesehariannya.
__ADS_1
Sementara Abbas, hanya mengangguk-anggukkan kepala, mencoba memahami pada apa yang disampaikan oleh Koko perihal masalahnya itu. Walau dia tidak kenal dengan gadis bernama Naomi, tapi ia yakin kalau gadis itu bukan perempuan yang baik. Tapi Abbas penasaran, ia ingin bertemu langsung dengan Naomi, untuk menilai seberapa sadisnya gadis tersebut menghina orang lain.
Nico tersenyum simpul, "Jadi begitu, ya. Baik, aku mengerti. Terima kasih atas penjelasannya, Koko."