
"Mengapa orang bejat sepertimu yang tertangkap basah melakukan mesum! Bisa mengetahui nama depanku!?" Lizzie menggeram dengan menunjukkan taring-taring tajamnya, seperti seekor harimau yang siap bertarung melawan musuh.
"Jangan salah sangka dulu!" sergah Paul dengan menatap tajam pada Lizzie. "Apa yang kau lihat tadi, bukanlah tindakan mesum!"
"Kalau bukan mesum, lalu apa lagi!?" Lizzie tampak tidak percaya pada ucapan Paul. "Jangan banyak alasan! Kau sudah tertangkap basah! Aku akan melaporkan kejadian ini pada wali kota! Kalian akan kena sanksi berat!"
"DENGARKAN AKU DULU!" Urat-urat di leher Paul sampai menonjol-nonjol, saking jengkelnya pada Lizzie yang keras kepala. "Di sini! Aku lah yang jadi korban! Aku dipaksa oleh mereka berdua!" Paul menunjuk ke arah Isabella dan Abbas dengan bengis. "Untuk melakukan hal yang menjijikan!" Paul sampai engap-engapan saat mengatakannya. "Kami tidak melakukannya atas dasar suka sama suka! Tidak! Itu salah besar! Aku lah di sini yang menjadi korban atas tindakan mereka! Jika kau ingin melaporkan! Maka laporkan saja mereka!"
Isabella dan Abbas tersentak saat Paul dengan teganya meminta perempuan oranye itu untuk melaporkan mereka, itu jahat sekali. Padahal mereka melakukan itu hanya karena hal yang sepele, yaitu melaksanakan perintah raja dari permainan raja, tapi mengapa Paul menganggapnya serius, hingga seperti pelecehan seksual? Isabella benar-benar heran.
"Jangan kira hanya dengan ucapanmu itu, aku bisa langsung percaya padamu!" Lizzie tidak menunjukkan ketertarikan untuk membantu Paul, malah sebaliknya, dia semakin marah. "Kalian bertiga, tidak ada bedanya. Kalian hanyalah orang-orang bejat yang berkunjung ke Barasta karena ingin melakukan tindakan mesum! Aku sudah beberapa kali menangkap orang-orang bejat seperti kalian! Dan kebanyakan mereka tidak mau mengaku! Padahal sudah tertangkap basah sebasah-basahnya! Mereka selalu mengeluarkan alasan demi alasan, agar aku bisa mempercayainya dan melepaskan mereka! Tapi maaf saja! Aku tidak sebodoh itu!"
Paul berdecak lidah, sial, melawan orang yang keras kepala seperti Lizzie membuatnya harus berpikir dua kali dalam bertindak. Perempuan itu punya pemikiran yang sangat kukuh, tidak bisa dihancurkan atau pun dilunakkan, benar-benar keras dan padat. Ternyata kepribadian pahlawan barunya cukup menjengkelkan, bahkan lebih menjengkelkan dari Nico dan Isabella.
__ADS_1
"Hey," Isabella memanggil Lizzie dengan suara yang lembut. "Kau perempuan, kan? Mengapa rambutmu dipotong pendek seperti itu?"
Lizzie, mendengar itu, langsung terkejut. "Mengapa perempuan busuk sepertimu, bertanya tentang potongan rambutku!?" Sekali lagi, Lizzie menggeram. "Itu bukan urusanmu!"
"Paul," Isabella menoleh pada Paul dengan santai. "Jadi ini orangnya, ya?" Mengerti maksud dari pertanyaan itu, Paul mengangguk. Isabella pun tersenyum, dan pandangannya kembali tertuju pada Lizzie. "Namamu, Lizzie, ya?" Lizzie--lagi-lagi--tersentak saat orang asing memanggil namanya. "Okey, Lizzie, dengarkan aku," Nada bicara Isabella jadi tampak serius. "Rambut adalah mahkota perempuan, dan semakin panjang rambutnya, maka perempuan itu semakin mempesona. Dan Lizzie, mahkotamu terlalu pendek, itu membuat pesonamu jadi berkurang dan bahkan tidak keluar. Selain itu, mengapa kau memakai seragam olahraga begitu? Seorang perempuan, tidak cocok memakai pakaian seperti itu. Kecuali jika waktunya sedang olahraga. Tapi aku yakin, kau memakai itu, bukan hanya untuk berolahraga. Kau pasti memakainya untuk seharian penuh, benar, kan?"
"Itu bukan urusanmu!" Lizzie, dengan muka ganas, menyembur Isabella dengan kata-katanya. "Mau rambutku sependek apa pun! Mau pakaianku seburuk apa pun! Itu bukan urusanmu! Lagi pula, apa itu? Mahkota perempuan? Pesona perempuan? Omong kosong! Aku benci pada kiasan-kiasan semacam itu! Karena itu membuat sosok perempuan terlihat seperti boneka yang tidak berguna!"
"CUKUP!" Lizzie berteriak dengan muka yang benar-benar kesal. "Aku tahu kau membahas itu untuk mengulur-ulur waktu, kan!? Agar aku melupakan masalah yang tadi, dan membuatku lupa untuk melapor pada wali kota, iya, kan!? Jangan bodoh! Dasar orang-orang mesum! Aku tidak akan pernah lupa! Aku akan melaporkannya pada wali kota! Dan kalian bertiga," Lizzie memiringkan senyumannya. "Akan tertimpa hukuman berat!"
"Apa kau punya buktinya?" Isabella kembali bersuara dengan santai. "Maksudku, untuk melaporkan suatu kejadian, kita harus punya buktinya, agar laporan yang kita ajukan, tidak dianggap sebagai laporan palsu atau kebohongan belaka." Isabella langsung menyunggingkan senyuman tipisnya. "Jadi, apa kau punya buktinya, Lizzie?"
Seketika wajah Lizzie jadi kikuk, seperti orang yang baru sadar pada hal sepenting itu. "S-Sial!" Lizzie mengepalkan dua tangannya kuat-kuat. "Aku tidak membawa ponsel atau alat perekam! Aku tidak punya bukti sedikit pun untuk melaporkan mereka pada Wali Kota!" Lizzie bergumam pada dirinya sendiri dengan kesal.
__ADS_1
"Bisakah kau lupakan dulu kejadian itu?" Paul kembali bersuara, dengan intonasi yang lebih tenang dari biasanya. "Aku tahu kau pasti tidak menerimanya, tapi kumohon, lupakan dulu. Aku ingin memberikanmu informasi penting," Paul menarik napasnya dalam-dalam. "Kau juga pasti penasaran, kan? Mengapa kami, yang merupakan orang asing, bisa mengetahui namamu?"
"Ya! Aku penasaran! Jelaskan padaku! Sekarang!" Lizzie, dengan paksa, memerintahkan Paul untuk menjelaskannya sekarang juga. Paul, dengan patuh, menganggukkan kepalanya. Isabella dan Abbas cukup terkejut pada tingkah laku Paul yang terlihat lebih tenang dari biasanya.
"Hey Abbas," Isabella mendatangi Abbas dan berbisik. "Bukankah Paul terlalu tenang? Itu aneh sekali, kan?"
Abbas menganggukkan kepalanya, ia juga merasakan hal yang sama. Ada sedikit keanehan pada tingkah Paul yang biasanya bersungut-sungut, jadi tampak tenang dan kalem. "Mungkin," jawab Abbas dengan berbisik. "Karena Lizzie keras kepala, membuat Paul harus mengalah."
Isabella tertegun. "Oh, bisa begitu juga, ya? Aku terkesan." Isabella baru menyadarinya. "Jadi ibaratnya, seperti 'sekasar apa pun dirimu, jika bertemu dengan orang yang lebih kasar darimu, maka kamu akan terdiam', wow, ternyata benar-benar terjadi juga, ya?" Lagi-lagi, Abbas menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Isabella.
Paul pun, mulai menjelaskannya pada Lizzie. "Sebenarnya, kau ini telah terpilih untuk menjadi seorang pahlawan, karena salah satu kunang-kunangku, masuk ke dalam tubuhmu dan bersemayam di sana. Aku tahu ini mengejutkan, tapi itu memang benar terjadi. Dan aku adalah mentormu, orang yang bertugas membimbing para pahlawan untuk menjadi pahlawan sejati. Itulah yang membuatku bisa mengetahui namamu." Paul menarik napasnya dalam-dalam, lalu dihembuskan secara perlahan. "Sampai sini, apa kau sudah paham dengan kondisimu?"
"Omong kosong!" Lizzie, sama sekali tidak percaya pada omongan Paul. Dia malah merasa kalau Paul hanyalah orang mesum yang sedang melantur kemana-mana. "Semakin ke sini, aku jadi semakin yakin! Kalau kau bersama dua temanmu itu! Adalah orang-orang yang bejat!" Lizzie bergidik ngeri memandang Paul, Abbas, dan Isabella. "Dasar cabul!"
__ADS_1