Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 26 : Anak Buangan


__ADS_3

Tepat pada pukul tiga sore, konflik tegang antara pihak Paul dengan Nico di Kota Vineas telah selesai, kedua belah pihak sudah resmi berdamai, sebab si lelaki putih telah menerima simbol permintaan maaf dari Paul. Roswel yang berdiri di antara mereka, tersenyum senang menyaksikan Nico dan Paul sudah berbaikan, walau atmosfirnya masih tampak canggung, tapi setidaknya kebencian yang sebelumnya ada di benak mereka, sudah padam sepenuhnya.



"Sepertinya urusan saya di sini sudah usai, tidak ada lagi yang harus saya bantu," Suara Roswel berhasil memecahkan keheningan yang canggung, memancing beberapa pasang mata memandangi mukanya. "Kalau begitu, sebelum saya pergi, saya ingin menyampaikan satu dua patah kata untuk kalian. Yang pertama, untuk Tuan Paul," Perhatian Roswel dialihkan ke muka Paul. "Secara pribadi, saya terkesan melihat kegigihan Anda dalam mencari dan mendapatkan pahlawan, percayalah, mentor-mentor sebelumnya tidak bisa secepat Anda dalam mendapatkan pahlawan, mereka bahkan menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk mendapatkan satu pahlawan. Sedangkan Anda? Baru empat hari saja, sudah mendapatkan empat pahlawan, itu sangat mengagumkan, Tuan."



Paul terdiam, tidak merespon apa-apa, hanya menatap muka Roswel dengan wajah datar. Kemudian, pandangan Roswel digantikan ke arah Nico, "Yang kedua, untuk Tuan Nico, intinya, saya sangat berterima kasih pada Anda karena telah bersedia untuk menjadi bagian dari sepuluh pahlawan, semoga Anda kelak menjadi sosok pahlawan yang membanggakan, Tuan. Dan juga, Anda tidak akan sendirian dan kesepian lagi, karena Paul dan kawan-kawan, akan menjadi teman yang menyenangkan, Tuan."



Nico tersentak mendengarnya, dia langsung berkata, "Siapa sosok menyedihkan yang kau maksud itu? Aku tidak pernah merasa kesepian!" Walau bilang begitu, sebenarnya hati nurani Nico berkata sebaliknya. Dan tampaknya, Nico masih belum membuka benda pemberian dari Paul, dia hanya memeluk benda tersebut di dadanya, membuat Cherry kesal melihatnya.



Mengabaikan perkataan Nico, Roswel mengalihkan perhatiannya ke arah Cherry. Dengan senyuman hangat, Roswel kembali bersuara, "Yang ketiga, untuk Nona Cherry, kelihatannya Anda masih menyimpan kebencian pada Tuan Nico, benar? Saya cukup prihatin, saya harap Anda dengan Tuan Nico bisa berbaikan, karena tidak cocok jika sesama pahlawan malah bertengkar. Bukankah sesama pahlawan seharusnya saling mendukung satu sama lain? Benar, kan? Nona Cherry?"



Cherry mendengus sambil berkata, "Tenang saja, Cherry pasti bakal jadi teman yang baik untuk Nico." Sayangnya, walau kata-katanya terdengar manis, tapi nada dan wajah Cherry sangat dingin ketika mengatakannya, membuat Roswel menghela napasnya.



Bola mata Roswel bergeser ke tempat Jeddy berdiri. "Yang keempat, untuk Tuan Jeddy, mohon maaf jika saya mengatakannya di depan teman-teman Anda, tapi belakangan ini, saya melihat, Anda jadi sering menangis di kamar mandi, bahkan saat tidur pun Anda menangis, sebenarnya apa yang membuat Anda menangis, Tuan? Soalnya, ekspresi Anda saat menangis, benar-benar menyakitkan."



Jeddy terbelalak mendengarnya, keringat dingin langsung membasahi tubuhnya ketika Paul, Colin, Cherry, dan Nico menatapnya dengan tatapan penasaran. "Ah-Ahahaha!" Tawa Jeddy jadi terdengar kaku, tidak seperti biasanya. "A-Apa yang kau bicarakan, Bro!? B-Buat apa aku menangis di kamar mandi!? Hahaha! Tapi apa-apaan itu! Bro! Jadi selama ini kau selalu mengintipku sedang mandi!?"



Roswel terkekeh, "Tidak apa-apa. Lagi pula saya tidak memaksa Anda untuk menjelaskannya, karena beberapa hal memang harus menjadi sebuah rahasia. Saya bisa memakluminya, Tuan." Kemudian, saat Colin akan bertanya pada Jeddy, perihal hal itu, Roswel langsung mengalihkan pandangannya ke arah si lelaki biru dengan berkata, "Dan yang terakhir, untuk Tuan Colin." Mendengar namanya disebut, membuat Colin mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Jeddy dan menatap muka Roswel dengan serius.



"Apa yang mau kau katakan untukku?" tanya Colin penasaran pada apa yang akan diungkapkan Roswel tentangnya.



"Sepertinya ada banyak yang akan saya ucapkan pada Anda," ucap Roswel dengan tenang. "Karena Anda jadi semakin berkembang akhir-akhir ini, Tuan. Sikap 'pecundang' yang melekat di diri Anda sudah sedikit lepas, terutama saat Anda berhasil membungkam Tuan Nico, yang merupakan seorang lelaki bermulut pedas. Itu adalah pencapaian yang sangat membanggakan, karena ketika teman-teman Anda kewalahan menghadapi mulut pedas Tuan Nico, Anda dengan keberanian yang besar, mematahkan segala yang dikatakan Tuan Nico, dengan emosi yang terkontrol, membuat Tuan Nico kesulitan membalasnya dan memilih untuk melarikan diri."


__ADS_1


Mendengarnya, muka Colin memerah malu, dia agak senang mendengarnya. "Masa, sih? Aku tidak sehebat itu, kok! Aku masih sama seperti biasanya." jawab Colin dengan menggaruk-garuk belakang kepalanya.



Nico menatap muka Colin dengan pandangan yang serius. "Apa yang dikatakan Roswel memang benar," ucap Nico dengan suara yang nyaring. "Kau adalah orang pertama yang berhasil membuatku terdiam. Karena itulah, aku sudah tidak lagi menganggapmu sebagai sampah, mulai saat ini, aku telah menganggapmu sebagai seorang manusia, sederajat denganku. Berbahagialah, teman." Nico tersenyum pada Colin.



"EEEEEEH!?" Colin terkejut mendengarnya, dia juga tidak menyangka sosok menjengkelkan seperti Nico sedang memberikan senyuman hangat padanya. Ini adalah momen paling indah dalam hidupnya, karena biasanya Colin selalu dibentak-bentak oleh Paul, ditertawakan oleh Jeddy, dan diejek oleh Cherry.



"Baiklah, karena saya sudah menyampaikan semua itu pada kalian, sekarang waktunya saya untuk pamit. Sampai jumpa." Dan tiba-tiba sebuah asap hitam muncul di seluruh tubuh Roswel, membuat tubuhnya tertutupi oleh asap tersebut. Saat kepulan asap itu mulai lenyap, sosok Roswel telah menghilang dari tempat berdirinya. Membuat mereka yang menyaksikan hal itu, tercengang secara bersamaan.



"WOOOOOOW!?" Jeddy sampai memekik kencang, baru kali ini dia melihat hal semenakjubkan ini. "Keren sekali, Bro!"



"Lupakan dulu soal itu!" Paul mulai bersuara, membuat semua mata langsung memandangnya. "Sekarang, aku ingin bertanya padamu," Tatapan Paul tertuju pada Nico. "Apa kau mau menjadi sosok pahlawan? Jawab dengan jujur!"




"Dan aku sekarang sedang memaksamu!" timpal Paul dengan suara yang tegas, membuat Nico tersentak mendengarnya. "Jadi cepat jawab dengan jelas! Brengsek!"



"Kau ini benar-benar menyebalkan, ya," desis Nico dengan memicingkan matanya pada Paul. Sebelum Nico melanjutkan kata-katanya, dia membuka kotak pemberian Paul dulu, setelah terbuka, tampaklah kilauan kaca mata baru yang terbaring di dalam kotak tersebut. Nico mengambil kaca mata itu dan langsung dia pakai di wajahnya, akhirnya penampilannya jadi seperti sebelumnya, menjadi seorang lelaki berkaca mata. Bungkusan kotak panjang itu Nico lempar ke tong sampah. Lalu, mulai melanjutkan kata-katanya. "Karena kau memaksa, apa boleh buat. Apalagi kau sudah membelikanku kaca mata ini, baiklah, aku akan menjadi sosok pahlawan, seperti yang kau inginkan."



Kaca mata yang dikenakan Nico, di setiap batangnya dilapisi berlian putih yang mengkilap-kilap, membuat siapa pun yang memandangnya dari kejauhan akan melihat sebuah kilauan mungil yang indah. Namun, ketika Paul puas mendengar jawaban Nico, Cherry malah terlihat jengkel, gadis itu langsung mendatangi Nico dan berkata, "Sebagai sesama pahlawan, Cherry menyambutmu, tapi jika kau sedikit saja melakukan pengkhianatan pada kami," Suara Cherry mulai menggeram. "... Cherry akan membunuhmu."



"Boleh saja, aku tidak takut." sambar Nico dengan tersenyum simpul, membuat Cherry tambah jengkel. Jeddy dan Colin langsung mendekati Cherry dan menyeret gadis itu untuk menjauhi Nico. "Heh! Dasar gadis sampah."



"Jadi, karena kau sudah mau menjadi pahlawan, tugasku di Kota Vineas sudah selesai!" sergah Paul dengan keras. "Dan sebagai mentormu, aku ingin bertanya padamu, apa kau mau ikut bersamaku ke Kota Swart? Atau tetap tinggal di Kota Vineas? Tapi apa pun pilihanmu, aku hargai! Karena walaupun kau mau tetap tinggal di kota ini, mungkin setelah aku mendapatkan sepuluh pahlawan, aku akan datang lagi kemari untuk mengundangmu ke pelatihan para pahlawan atau semacamnya!"

__ADS_1



"Aku ikut," Nico langsung menjawabnya dengan cepat. "Aku bosan hidup sendirian di sini. Tapi ngomong-ngomong, apakah di Kota Swart ada perpustakaan?"



"Tentu saja ada! Bodoh!" bentak Paul pada Nico, membuat Cherry tersenyum melihat musuh bebuyutannya dibentak, sedangkan Nico hanya menghela napasnya. "Jadi kau yakin mau ikut bersama kami ke Kota Swart!? Tapi kenapa kau hidup sendirian di sini? Di mana keluargamu!?"



"Saat ini, aku tidak punya keluarga. Aku adalah anak buangan, keluargaku telah membuangku karena mereka malu punya anak sepertiku. Apa informasi ini sudah cukup?" ucap Nico dengan wajah yang tenang.



Cherry melengking setelah mendengar penjelasan Nico, "Mereka membuangmu karena mereka malu punya anak sepertimu!?" Bukannya mengejek atau menertawakan Nico, Cherry malah teringat pada masa lalunya yang persis seperti lelaki putih itu.



Mengapa kau melahirkan gadis gila seperti dia! Tiba-tiba terdengar suara ayahnya yang berteriak di kepala Cherry, membuatnya menutup telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Ini bukan salahku! Kau saja yang tidak bisa mendidik anak kita! Kini suara Ibunya mulai terdengar memekik-memekik di kepalanya. Air mata Cherry menetes-netes. Lihatlah! Dia malah tersenyum saat kita bertengkar seperti ini! Sudah kuputuskan! Aku tidak mau tinggal satu rumah dengan gadis gila seperti dia! Jika kau masih ingin bersamaku! Buang anak itu! Atau jika kau masih mencintaiku! Bunuh anak itu! Suara ayahnya kembali terngiang-ngiang di kepala Cherry, sungguh, hati Cherry terasa hancur saat mendengar semua itu. Aku tidak mau membunuhnya! Kau saja yang membunuhnya! Aku tidak ingin jadi pembunuh! Bukannya melindungi putrinya, sang ibu malah mementingkan dirinya sendiri, membuat Cherry terisak-isak mendengarnya.



"Cherry! Cherry! CHERRY!" Dan suara Colin terdengar semakin keras dan keras, hingga akhirnya Cherry kembali tersadarkan dari ingatan-ingatan buruknya di masa lalu. Colin mengusap-usap punggung Cherry. "Apa kau baik-baik saja? Entah kenapa, kau jadi terguncang setelah Nico menjelaskan kondisi keluarganya, ada apa denganmu?"



Cherry menghapus air matanya dan ia buru-buru memasang muka riangnya. "Hihihi! Tidak ada apa-apa, kok! Cherry hanya mengingat sesuatu yang seharusnya tidak Cherry ingat!" Lalu, bola mata Cherry bergeser ke Nico. "Nico! Mulai saat ini! Cherry akan menganggapmu sebagai sahabat! Cherry tidak akan menyimpan dendam apa pun lagi padamu! Hihihi!"



Mendengarnya, Nico mengernyitkan alisnya, kebingungan. "Kenapa mendadak kau jadi berubah begitu, tadi kau marah, lalu menangis, dan sekarang ceria? Benar-benar gadis yang an--"



Cherry langsung melompat ke arah Nico dan memeluk tubuh lelaki putih itu dengan erat. "Cherry mengerti penderitaanmu. Jangan khawatir, Cherry akan menghiburmu agar kau tidak kesepian lagi, Nico." bisik Cherry pada telinga Nico, setelah itu, pelukannya ia lepaskan dan gadis itu mulai berkata dengan senyuman riang pada Nico, "Ayo kita ke pergi Kota Swart bersama kami! Nico! Hihihihi!"



Apa maksudnya itu? Nico terdiam, mencoba menyimpulkan kata-kata yang dibisiki Cherry. Namun, tetap saja, Nico masih belum mengerti. Alhasil, Nico hanya menjawab, "Terserah kalian saja."



Dan akhirnya mereka--Paul, Jeddy, Colin, Cherry, dan Nico--meninggalkan Kota Vineas yang bersalju untuk kembali ke Kota Swart yang berisik.

__ADS_1



__ADS_2