Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 47 : Payung


__ADS_3

"Jadi," Merasa keheningan terus terjadi di antara mereka bertiga yang sedang duduk di kursi bus yang sama, Colin memberanikan diri untuk memecahkan keheningan tersebut dengan suaranya. "Orang macam apa yang akan kita temui?"



Suara mesin bus menggerung-gerung, saat Colin melontarkan pertanyaan itu. Nico dan Paul yang awalnya diam seribu bahasa, secara bersamaan, menolehkan pandangannya ke lelaki berambut biru yang duduk di sebelah mereka. Dari raut wajahnya, mereka berdua tampak seperti mengatakan 'Bagus! Topik telah ditemukan!' dengan napas menderu-deru, bersemangat untuk menimpali pertanyaan yang Colin lontarkan. Tentu saja mereka bersemangat, karena dari tadi, Nico dan Paul menahan diri untuk bersuara atau memulai topik duluan, mereka tidak ingin menjadi orang pertama yang mengawali pembicaraan, itu disebabkan karena gengsi yang teramat tinggi, mengingat pertengkaran tadi pagi di ruang tamu. Itulah yang menimbulkan atmosfir antara Paul dan Nico jadi semakin dingin.



"Orang yang akan kita temui adalah--" Perkataan Paul langsung dipotong oleh Nico.



"Seorang perempuan!" kata Nico, berusaha meyakinkan Colin bahwa omongannya itu benar dan sesuai dengan kenyataan. Walau sebenarnya, Nico sadar bahwa omongannya hanyalah asal, tidak berdasarkan keterangan nyata dari Paul. Tapi karena saat ini hubungannya dengan Paul mendingin, Nico terpaksa ingin terlihat lebih maha tahu dibanding mentornya. "Aku yakin sekali, orang yang akan kita temui adalah seorang perempuan."



Alis Paul berkedut, ia tampak kesal karena ucapannya dipotong begitu saja, padahal dia hendak menjawab pertanyaan Colin. Kekesalannya bertambah saat mendengar jawaban sok tahu dari Nico yang menjengkelkan. Jelas-jelas Nico tidak tahu orang seperti apa yang akan mereka temui, tapi dia bertindak seolah-olah tahu segalanya, itu benar-benar membuat Paul jengkel setengah mati. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan lelaki berkaca mata itu, apakah Nico tidak malu jika semisalnya omongannya salah? Walau kenyataannya memang salah besar! Tapi amarah Paul mendadak meredam, ia mendapatkan sebuah ide yang bagus untuk mempermainkan si lelaki bermulut kurang ajar yang duduk di sebelahnya itu.



Dengan senyuman meremehkan, Paul berkata, "Benarkah?" Senyuman Paul jadi makin mengembang, seperti sesosok kakak yang sedang mengejek adiknya. "Memangnya kau tahu dari mana soal itu? Tapi sepertinya kau percaya diri sekali, ya, saat mengatakannya."



"Tentu saja," Nico langsung menimpali perkataan Paul dengan raut muka yang sombong, seolah-olah apa pun yang dia katakan merupakan sebuah kebenaran yang tak terbantahkan. "Hal yang sangat mudah bagiku memperkirakan sosok yang akan kutemui," Nico mendelikkan matanya dengan sinis pada Paul. "Tidak sepertimu, yang selalu mengandalkan Roswel dalam mencari pahlawan."



"Hah!?" Tapi malah Paul yang berakhir dipermainkan oleh Nico, itu disebabkan amarahnya yang terlalu mudah meledak, membuat keadaan jadi terbalik dengan cepat. "Kau bilang apa tadi!?" Tak tanggung-tanggung, Paul meremas kerah baju Nico hingga kepala mereka saling berdekatan.



Kebetulan posisi Colin berada di tengah, membuat ia jadi korban tersikut oleh pergerakan dua tangan temannya yang kini sedang bertengkar di hadapannya. Merasa didesak-desak oleh badan Paul dan Nico, Colin pun melebarkan tangannya ke perut mereka berdua, membuat dua temannya yang sedang bertengkar di hadapannya, terpisahkan. "Ayolah!" Colin mengerang, dia tidak suka melihat Paul dan Nico saling melemparkan cibiran dan kata-kata tajam, "Bisakah kalian akur? Kita tidak bisa melaksanakan tugas ini dengan baik jika kondisi kalian masih bermusuhan begini! Jadi, ayolah! Kalian pun pasti mengerti, kan?"



"Dia yang kurang ajar! Jadi dia yang harus meminta maaf padaku!" sergah Paul dengan amarah yang bergelora.



"Apa dasarmu mengatakan aku kurang ajar? Kau seharusnya bercermin pada dirimu sendiri, dungu." timpal Nico dengan gerakan mata yang angkuh, tampak kalem namun menusuk.



Masalah malah makin parah, Nico dan Paul jadi terlihat makin menggila. Colin sampai bingung harus bagaimana lagi agar dua temannya itu bisa kembali seperti biasanya. "Baiklah! Aku paham!" ucap Colin setelah memutar otaknya sejenak. "Aku menganggap kalian berdua sama-sama salah!" Sontak, Paul dan Nico terkejut, mereka tidak terima dengan keputusan Colin.



"Aku tidak salah! Dia yang salah! Kau jangan macam-macam denganku! Colin!" Paul mulai memberikan ancaman keras pada Colin, agar lelaki itu tidak lagi menyebut dirinya salah.



"Menganggap dirimu tidak salah, tapi dibarengi dengan sebuah ancaman," Nico tersenyum sambil menahan tawanya. "bukankah itu mencurigakan?"



Mata Paul langsung dipelototkan lebar-lebar ke arah Nico. "Kau kira siapa di sini yang salah!? Aku!? Itu mustahil! Brengsek!" Paul mengepal tangannya kuat-kuat. "Jangan kau pikir, aku akan diam saja! Bajingan!"



Berdecak ludah, Colin sudah tidak tahan lagi mendengar pertikaian yang terjadi antara Paul dan Nico, kekesalannya sudah tak terbendungkan lagi. Karena itulah, dengan puncak kepala yang memanas, Colin berkata, "Padahal aku sudah menunggu saat-saat seperti ini, di mana aku bakal pergi bersama teman-temanku mengunjungi kota untuk mencari pahlawan baru. Bahkan ketika kerja di kedai pun, aku selalu merindukan momen seperti ini, karena kukira akan seru dan menyenangkan. Tapi sayang sekali, semua itu hanya khayalan semata. Kalian tidak membuat suasana perjalanan ini jadi menyenangkan, malah sebaliknya, kalian berdua telah memperburuk keadaan! Kalau tahu bakal begini, seharusnya aku tidak perlu ikut dengan kalian."



Paul dan Nico terbelalak, mereka tampak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Colin, dan perlahan-lahan, rasa bersalah mulai menjalar di pikiran dua makhluk tersebut. Paul jadi membisu, dia tidak menyangka kalau Colin telah menunggu saat-saat seperti ini, tapi karena ulahnya, suasana menyenangkan yang diinginkan oleh Colin, tidak tercipta. Nico pun demikian, ia merasa bersalah karena telah memburuk keadaan, seharusnya dia tidak perlu meladeni Paul, tapi sikap angkuhnya telah memperbudak pikirannya, hingga membuat Colin tidak nyaman dengan kondisi yang terjadi di sini.



Dan akhirnya, mereka berdua terdiam secara bersamaan.


__ADS_1


Tidak ada lagi kata-kata kasar ataupun menusuk dari dua mulut itu, yang terjadi hanyalah kesunyian yang membeku. Colin senang melihat Nico dan Paul sudah tersadarkan oleh kesalahannya masing-masing. Walau sebenarnya Colin terpaksa mengatakan apa yang ada dipikirannya, dengan nada yang parau, agar Paul dan Nico merasa kasihan terhadapnya. Tapi sungguh, Colin pun tidak terlalu suka berada di dalam sebuah kesunyian.



"Emmm," Dan lagi-lagi, Colin lah yang memulai pembicaraan. "Jadi kita akan pergi ke kota mana, Paul?" Walaupun begitu, pertanyaan Colin kini lebih ditunjukkan pada seseorang, agar orang yang satunya lagi, tidak menjawab dengan asal.



Dengan nada yang santai, Paul menjawab, "Cocoa, kita akan pergi ke Kota Cocoa," Bola mata Paul mendelik pada Nico, "Dan orang yang akan kita temui adalah seorang laki-laki, bukan perempuan. Itulah yang dikatakan Roswel." Sadar sedang disinggung oleh Paul, bibir Nico mengerucut sebal.



"Dan siapa namanya?" Colin bertanya lagi dengan muka yang antusias.



"Abbas," Paul memasang wajah datar. "Nama yang terlalu biasa, kan?"



"Tidak juga," Colin menggelengkan kepalanya. "Itu nama yang bagus, kok!" Setelah mengatakan itu, perhatian Colin dipindahkan ke si lelaki berkaca mata yang duduk di sebelah kirinya. "Emmm, apakah kau tahu tentang kondisi Kota Cocoa?"



"Tentu saja," Nico mulai menolehkan kepalanya pada Colin dengan raut wajah yang sangat ramah. "Memangnya kau tidak tahu sama sekali? Padahal itu adalah kota yang dipenuhi dengan kontroversi, kan?"



"Kontroversi?" Colin mengernyitkan alisnya. "Apakah kotanya berbahaya?" Tampaknya, Paul pun diam-diam terkejut mendengar percakapan antara Colin dan Nico.



Jujur saja, Paul pun kali ini tidak tahu menahu tentang keadaan Kota Cocoa, karena itulah ia kaget saat Nico bilang bahwa kota itu dipenuhi dengan kontroversi. Sama seperti Colin, Paul pun di dalam pikirannya bertanya-tanya, apakah kota itu berbahaya? Sampai menuai kontroversi seperti itu. Paul benar-benar penasaran dengan hal tersebut. Dia butuh penjelasan yang detail, tapi terlalu gengsi untuk bertanya pada Nico.



"Aku pernah membaca di suatu buku," kata Nico, mencoba menjelaskan tentang kondisi Kota Cocoa pada Colin, tanpa tahu kalau Paul pun ikut menyimak. "Bahwa kota itu, menurut buku yang kubaca, memiliki sistem yang aneh, lebih aneh dari Kota Aljelvin, jika kau ingin tahu," Nico berhenti sejenak. "Jadi, penduduk asli yang tinggal di sana, mereka diwajibkan memakai sebuah gelang berwarna merah, yang di permukaan gelang itu, terdapat angka-angka yang berderet. Dan jika kau ingin tahu, apa arti dari angka-angka tersebut. Itu adalah jumlah dari sisa hidup mereka di dunia ini.




Colin dan Paul tersentak mendengarnya. "A-Astaga!" Colin tidak bisa menyembunyikan keterkejutkannya pada hal tersebut. "Bukankah itu sangat mengerikan!? Maksudku, mengapa harus ada gelang yang menunjukkan sisa waktu hidup seseorang!? Dan aku kaget saat kau bilang bahwa tidak peduli orang itu sedang sakit atau pun sehat, jika sisa waktunya sudah habis, maka gelang itu akan langsung meledak," Colin bergidik ngeri membayangkannya. "Kulitku sampai merinding, astaga!"



"Selain itu?" Kini, Paul yang bertanya pada Nico, walau sebetulnya dia enggan untuk bersuara. "Apakah ada sistem aneh lainnya?"



Nico memiringkan senyumannya ketika mendengar suara Paul. "Rasanya aku mendengar suara seseorang," kata Nico dengan nada yang rendah. "Apakah di bus ini ada hantu, ya?"



"Brengsek!" Paul bangkit dari kursinya, dan menunjuk Nico dengan tatapan menindas. "Maksudmu apa berbicara begitu! Hah!?"



"Hm?" Nico bertingkah seolah-olah tidak ada Paul di kursi bus yang mereka tumpangi. "Colin, kau dengar itu? Suaranya jadi meraung-raung. Apakah penumpang lain ada yang membawa seekor anjing?"



Kemarahan Paul jadi semakin memuncak.



Saat Paul akan menimpali omongan Nico, Colin buru-buru menutup mulut mentornya dengan dua telapak tangannya. "S-Sudahlah! J-Jangan dibalas! Paul!" Pandangan Colin pun dialihkan ke Nico. "Kau juga! Berhentilah mempermainkan Paul!"



Tiba-tiba laju bus berhenti, menandakkan bahwa tempat yang mereka tuju sudah tercapai. "Kita sudah sampai!" Colin senang dengan pemberhentian bus. "Ayo kita keluar! Kita harus cepat-cepat!" Colin langsung berjalan cepat menuju pintu keluar bus, meninggalkan Paul dan Nico yang masih berada di dalam. Setelah berhasil turun dari bus, Nico terkejut karena rintik-rintik dari air hujan membasahi kepalanya. "Ah, hujan."

__ADS_1



"Aku belum sempat bilang padamu, ya?" Nico telah turun dari bus dan berdiri di sisi Colin. "Kota Cocoa sama seperti Kota Vineas, ini adalah kota satu musim. Dan di sini, musim hujan lah yang berkuasa. Jadi jangan kaget jika kau akan selalu melihat payung di sepanjang jalan, karena memang seperti itulah kondisinya."



"Persetan dengan hujan!" Paul juga telah turun dari bus, dan kini, dia langsung berjalan lurus meninggalkan Nico dan Colin yang masih berdiri di halte. "Tugasku di sini adalah mencari pahlawan! Bukan memperbincangkan masalah cuaca, brengsek!"



Melihat Paul berjalan lebih dulu dari mereka, Nico dan Colin pun cepat-cepat mengejar mentornya dari belakang. Mereka bertiga terus menyusuri jalanan kecil di antara gedung-gedung tinggi. Dan mereka berjalan tanpa menggunakan payung, karena itulah mereka jadi basah kuyup. Padahal Colin merengek-rengek pada Paul untuk berhenti sejenak untuk membeli payung, tapi sialnya, Paul tidak mempedulikan itu. Nico sampai kedinginan karena terus diguyur air hujan yang sangat deras. Suara gemuruh dari petir pun melengkapi suasana di Kota Cocoa, kilatan cahaya dari halilintar berkali-kali tercipta di langit abu-abu yang membentang.



Semua pejalan kaki yang berseliweran di sekitar Kota Cocoa selalu membawa payung digenggamannya, itu membuat Colin dan Nico iri melihatnya. Sementara Paul sama sekali tidak memperhatikan para pejalan kaki. Pandangannya terus lurus, dan dia berjalan mengikuti insting yang selalu ia pakai dalam mencari pahlawan di suatu kota. Hingga ia tak sadar kalau badannya pun kini tidak jauh berbeda dengan Nico dan Colin, menggigil kedinginan.



"Ternyata benar, ya," Colin bersuara di samping Nico, di antara derasnya suara hujan. "Aku selalu melihat gelang berwarna merah di tangan orang-orang yang berpapasan dengan kita. Dan aku tidak pernah sekali pun melihat angka di bawah sepuluh di gelang yang mereka pakai. Rata-rata yang aku lihat adalah 60 sampai 100, bukankah itu artinya hidup mereka cukup leluasa? Karena masih berpuluh-puluh tahun lagi hingga gelang yang mereka pakai meledak," Colin pun mendadak mendapatkan sebuah pertanyaan di kepalanya, buru-buru ia sampaikan pada Nico. "Lalu, jika semisalnya sisa waktu mereka tinggal sedikit lagi, apakah waktunya bisa ditambah?"



"Bisa." jawab Nico dengan mulut yang bergetar karena kedinginan.



"Caranya bagaimana?" Colin penasaran dengan hal tersebut.



"Membeli waktu ke para penjual waktu."



Tiba-tiba Paul menghentikkan langkahnya saat mereka telah masuk ke sebuah ladang rumput yang luas nan basah. "Membeli waktu? Apa maksudmu?" tanya Paul pada Nico, karena ia merasa ada kejanggalan di penjelasan yang Nico ungkapkan.



Awalnya Nico tak ingin merespon pertanyaan itu, tapi karena kedinginan, dia tepaksa menjawabnya, sebab ingin cepat-cepat pergi ke tempat yang teduh agar Paul kembali menggerakan kakinya.



"Sama seperti pulsa," kata Nico dengan mulut yang sudah memutih. "Kita bisa membeli waktu ke gerai-gerai yang menjual waktu."



Baru saja Paul hendak melontarkan pertanyaan lain, tiba-tiba saja, rintikan air hujan tidak lagi menyentuh tubuh mereka bertiga, karena muncul sebuah payung besar yang melindungi mereka dari guyuran air hujan, payung itu sedang digenggam oleh sesosok lelaki bertubuh tinggi.



Colin, Nico, dan Paul kaget dengan kehadiran payung yang mendadak muncul di atas kepala mereka. Keterkejutan mereka semakin besar saat melihat sesosok lelaki tinggi yang hanya mengenakan celana pendek, memamerkan tubuh kekarnya yang begitu perkasa. Lelaki tinggi itu pun memiliki kulit yang begitu hitam, tapi wajahnya sangat tampan, bahkan ketampanannya melebihi Nico, Colin, dan Paul.



"S-Siapa orang ini, P-Paul?" Jantung Colin berdegup-degup dengan kencang, takut kalau lelaki kekar itu adalah orang jahat.



"Tak apa, Colin," Nico menyunggingkan senyumannya pada Colin. "Dia memayungi kita, jadi kurasa dia orang baik."



Sementara Paul terbelalak menyaksikan sosok yang ia lihat. "Tidak salah lagi," ucap Paul dengan suara yang lantang, membuat Nico, Colin, dan lelaki kekar itu memandanginya. "Orang ini..., kau Abbas, kan!?"



Lelaki kekar itu tersentak mendengar omongan Paul.



__ADS_1


__ADS_2