
"Rumahmu mewah sekali, ya?"
Itulah yang diucapkan Paul ketika ia keluar dari kamar dan berjalan melewati lorong terang, yang di tiap dindingnya, dipenuhi dengan pola-pola dan goresan-goresan seni yang sangat artistik.
Sungguh, Paul terkagum-kagum dengan keindahan tempat ini, ia merasa seperti sedang berjalan di sebuah museum, sebab perabotan yang tersimpan di sekitar lorong, seperti lemari, lampu-lampu, nakas, lukisan, dan pot bunga, semuanya terlihat sangat bergaya.
Paul yakin, harga dari perabotan-perabotan yang ia lihat di lorong, pasti tidak murah, semuanya pasti bernilai tinggi. Bahkan, lantai yang Paul pijakki pun, begitu mempesona, benar-benar dibuat dengan nilai seni yang tidak sembarangan.
"Tidak, Tuan," Roswel yang berjalan di depan Paul, menimpali ucapan anak itu dengan sedikit menoleh ke belakang. "Tidak ada yang bagus dari rumah saya, semua ini hanyalah pernak-pernik zaman dulu, tidak selaras dengan peradaban modern yang telah hidup di permukaan. Bisa dibilang, rumah saya tidak lebih dari sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman, Tuan."
"Justru itu daya tariknya, bodoh!" seru Paul dengan terheran pada perkataan Roswel yang terkesan merendah. "Sebetulnya aku tidak mengerti dengan hal-hal berbau seni, tapi aku yakin, rumah ini punya nilai seni yang sangat tinggi! Sebab, segala ukiran yang dibuat di dinding, lantai, dan perabotan, punya keindahan yang... AH! Aku tidak bisa menjelaskannya secara detail!" Paul menghela napasnya dengan santai. "Aku benci mengatakannya, tapi aku benar-benar suka dengan tempat ini!"
Roswel tersenyum mendengarnya. "Saya senang jika rumah saya membuat Anda nyaman, Tuan."
"Ngomong-ngomong," Paul kembali bersuara, kini pandangannya dialihkan ke pakaian yang dikenakannya. "Baju yang kupakai ini, kau pernah bilang, bahwa ini adalah pakaian saat kau masih menjadi seorang murid, kan?" Paul mengernyitkan alisnya. "Itu maksudnya apa? Mungkinkah kau ini dulunya pernah berguru ke seseorang? Selain itu, kau juga masih belum menjelaskan tentang kehidupanmu padaku. Bahkan dari pertama kali kita bertemu, kau hanya bilang padaku, bahwa kau hanyalah seorang pelayan rendahan, begitu, kan? Tapi aku yakin, kau bukan sekedar seorang pelayan rendahan! Jadi ceritakanlah, semua tentang dirimu, Roswel!"
Tersentak, Roswel menghentikkan langkahnya sejenak, membuat Paul yang berjalan di belakangnya, ikut berhenti. Roswel tidak menolehkan pandangannya ke Paul, ia tetap menatap lurus ke ujung lorong.
"Jadi, Anda penasaran dengan masa lalu saya, Tuan?"
"Tentu saja! Bodoh!" Paul berseru dengan menajamkan tatapannya ke punggung Roswel. "Aku merasa, kau masih merahasiakan tentang dirimu sendiri padaku! Kau belum bisa terbuka padaku! Kau jadi terkesan misterius, Sialan!"
Roswel menarik napasnya dengan lemah. "Ini bukan saat yang tepat, Tuan," ucap Roswel dengan kembali melangkahkan kakinya, menjauhi Paul. "Daripada membahas itu, lebih baik kita bergegas ke tempat Tuan Abbas. Bukankah, Anda ingin berjumpa dengannya? Untuk menanyakan siap tidaknya, ia menjadi seorang pahlawan?" Roswel tersenyum dengan sedikit melirik Paul. "Maka dari itu, mari lupakan pembahasan tentang diri saya, dan kembali fokus ke Tuan Abbas, Tuan."
"Baiklah!" Paul kesal mendengarnya, tapi ia terpaksa harus menurutinya, karena prioritasnya memang bertemu dengan Abbas. "Tapi kau harus berjanji, Roswel!" kata Paul dengan menarik langkahnya kembali. "Suatu hari nanti, kau harus menceritakan semua tentang masa lalumu padaku!"
Roswel tersenyum tipis mendengarnya, ia tidak menyangka kalau Paul bakal tertarik dengan kehidupannya, padahal itu bukan hal yang penting. Tapi apa boleh buat, jika Paul sudah mengancamnya dengan sesuatu yang bernama 'janji', Roswel tidak bisa berkata apa-apa selain, "Ya, saya berjanji, Tuan." kata Roswel dengan suara yang begitu halus. "Setelah Anda menemukan sepuluh pahlawan, maka saya dengan senang hati, akan memberikan hadiah pada Anda, yaitu, kisah hidup saya."
Paul tersenyum lebar, itulah yang ia inginkan sedari dulu. "Bagus! Aku terima tawaranmu! Dengan begitu, aku bakal bersemangat dalam mencari pahlawan! Lagipula, jumlah pahlawan yang kutemukan sudah tujuh orang! Sebentar lagi, aku akan berhasil menyelesaikan tugas ini! Dan kau! Harus menepati janjimu! Brengsek!"
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan," jawab Roswel dengan nada yang pelan. "Saya tidak akan melanggar janji itu, karena saya menganggap sebuah janji sama dengan sebuah jiwa. Jika saya melanggarnya, itu sama saja seperti saya melukai jiwa Anda, Tuan."
Setelah itu, Roswel dan Paul memperbincangkan banyak hal lagi yang tidak begitu penting, sampai akhirnya, mereka sampai di depan sebuah pintu dari suatu kamar.
"Tuan Abbas ada di dalam," kata Roswel dengan mendorong pelan-pelan pintu tersebut. "Silakan masuk. Saya akan menunggu di luar. Semoga beruntung, Tuan."
Pintu pun terbuka lebar, menampilkan seorang lelaki berkulit hitam yang sedang terduduk di atas ranjang dengan pakaian yang serupa seperti yang Paul kenakan. Tampaknya, Roswel punya banyak baju yang berjenis sama, Paul kira pakaian yang akan dikenakan Abbas akan sedikit berbeda, tapi nyatanya, sama persis.
Paul pun melangkahkan kakinya, mendatangi sesosok lelaki yang sedang termenung, memandangi situasi di luar jendela dari atas ranjang. Sepertinya Abbas masih belum sadar kalau saat ini ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, lelaki kulit hitam itu benar-benar tidak peka pada kedatangan Paul.
__ADS_1
"Kau sedang apa? Melamun begitu?"
Terdengarlah suara Paul yang begitu khas di kamar itu, membuat Abbas langsung memutar lehernya, mengalihkan pandangannya untuk menoleh ke sumber suara. Dan ternyata benar, ada wujud seorang lelaki berwajah seram di samping ranjang, sedang berdiri tegak dengan mata menindas, bibir cemberut, dan dua tangan terkepal erat. Tidak salah lagi, itu adalah Paul.
Abbas hanya menunjukkan ekspresi senang dari wajahnya tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia tampak bahagia melihat Paul baik-baik saja. Padahal seingatnya, ia bersama Nico dan Paul, telah diserang habis-habisan oleh kelompok Jubah Putih. Maka dari itu, Abbas sangat bersyukur menemukan Paul yang baik-baik saja di hadapannya, tanpa adanya luka parah di tubuhnya.
"Setidaknya, katakan sesuatu! Bodoh!" Walau Paul berkata begitu, tidak ada tanda-tanda Abbas bakal merespon ucapannya, karena itulah, ia hanya menghela napas sambil bilang, "Percuma saja, aku bilang begitu! Sial!" Paul mengacak rambutnya sendiri. Kemudian, ia langsung menatap tajam ke mata Abbas dengan aura yang sangat serius. "Sekarang, aku ingin kau jawab ucapanku dengan benar, Abbas!" kata Paul dengan menggeram. "Karena! Aku akan mengatakan sesuatu yang sangat penting!"
Abbas memiringkan kepalanya, tidak mengerti pada maksud Paul. Tapi dia kembali menegakkan kepalanya, berusaha memahami apa yang akan dikatakan Paul. Semoga saja bukan sesuatu yang rumit, sebab Abbas tidak bisa mencerna hal-hal yang memusingkan.
"Dengar, kau akan menjadi seorang pahlawan," ucap Paul dengan muka yang luar biasa serius, menatap lekat-lakat mata Abbas. "Dan aku, sebagai Mentormu," Paul memukul dadanya sendiri dengan tangan terkepal, seperti seorang atlit sebak bola yang membanggakkan lambang yang tercetak di dadanya. "Akan membimbingmu agar bisa menjadi pahlawan sejati!"
"Pahlawan?" Abbas tersentak mendengarnya, ia tidak paham mengapa Paul mendadak berkata bahwa dirinya bakal menjadi seorang pahlawan. Sejak kapan Abbas layak menjadi seorang pahlawan? Dia tidak ingat pernah melakukan sesuatu yang heroik, seperti misalnya, menolong seseorang dari pembunuh bayaran, atau mempertaruhkan nyawa untuk banyak orang. Abbas tidak pernah melakukan hal seperti itu. Lantas, mengapa Paul menyebut dirinya sebagai seorang pahlawan? Abbas benar-benar tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
Paul mendecakkan lidahnya mendengar pertanyaan Abbas yang tampak tidak paham dengan omongannya. Tapi itu masuk akal, siapa pun akan bereaksi seperti itu, jika seseorang menyebut dirinya sebagai seorang pahlawan. Tapi dia tidak menyangka kalau Abbas pun sama seperti kebanyakan orang, Paul pikir, lelaki kulit hitam itu, reaksinya akan sedikit berbeda, tapi ternyata sama saja.
Karena itulah, Paul cepat-cepat menjelaskan segala hal tentang pahlawan, mentor, siapa saja yang telah terpilih menjadi pahlawan, dan hal-hal semacamnya. Di situlah, Abbas seperti sedang dicekoki oleh Paul dengan berbagai hal yang terdengar rumit. Saat Paul sedang menjelaskan pun, Abbas hanya menggangguk-anggukkan kepalanya, seperti orang yang memahami penjelasan itu, padahal nyatanya, ia hanya menangkap satu persen dari seratus persen penjelasan yang dikemukakan oleh Paul.
"Sampai sini, apa kau sudah paham?"
Dengan berat, Abbas menganggukkan kepalanya, berusaha terlihat paham dengan semua yang telah Paul jelaskan padanya. Karena jika tidak, Paul pasti bakal marah padanya, maka dari itu, dia harus berpura-pura paham agar Paul senang.
"Bagus!" Paul menurunkan tangan yang masih menempel di dadanya, kemudian ia berkata, "Sekarang, katakan padaku, apakah kau siap untuk menjadi seorang pahlawan!?"
Awalnya Abbas ragu untuk menjawabnya, sebab menjadi seorang pahlawan, itu artinya akan menjadi pusat perhatian semua orang. Abbas tidak terlalu suka dengan itu. Ia tidak mau menjadi sesuatu yang mencolok, sebab resikonya terlalu banyak. Abbas pasti akan mendapatkan penggemar dan pembenci, dan tidak ada yang baik dari dua hal itu. Penggemar maupun pembenci, mereka semua akan suka dan benci terhadap sesuatu dengan berlebihan. Dan itu akan menimbulkan masalah. Abbas tidak mau hal-hal seperti itu terjadi dalam hidupnya.
Tapi, Paul adalah salah satu orang yang mau berbicara dengannya, ketika semua orang di Cocoa menjauhinya karena takut pada gelang waktu yang akan meledak di tangannya. Paul, walau selalu berkata kasar, adalah lelaki yang baik. Karena itulah, Abbas tidak enak jika dia menolak permintaan Paul untuk menjadi seorang pahlawan. Abbas ingin membalas budi pada kebaikan Paul, ia tidak mau ikatannya dengan lelaki seram itu terputus hanya karena sebuah penolakan. Abbas ingin menjadi sosok sahabat untuk Paul. Bukan hanya Paul, tapi untuk Nico dan Colin juga. Mereka bertiga, adalah orang-orang yang baik.
Dengan senyuman menawan, Abbas menjawab, "Aku mau," kata Abbas dengan suara baritonnya yang begitu jantan dan muka yang tampak bahagia. "Aku mau menjadi seorang pahlawan."
Paul tertegun, ia senang mendengar jawaban Abbas. Paul pikir, Abbas akan menolaknya, sebab dari tadi, orang itu tampak merenung, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu dengan tegang. Tapi akhirnya, Abbas telah menemukan pilihan yang bagus, apa pun itu, Paul benar-benar senang.
Setelah Abbas menjawab ucapan Paul, tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan suara langkah sepatu dari beberapa orang, terdengar masuk ke dalam kamar tersebut. Setelah Paul dan Abbas melirik ke arah pintu, ternyata itu adalah Nico dan Colin, mereka berdua tampak elegan, dengan balutan kemeja dan celana hitam berkerah kristal, yang modelnya sama persis seperti yang dikenakan oleh Paul dan Abbas.
"Kami mendengar pembicaraan kalian," kata Nico dengan menekan kaca matanya dengan dingin. "Aku tidak menyangka kalian juga memakai pakaian yang sama seperti kami, benar-benar menjijikan, harus kembaran denganmu, Paul."
"DIAM KAU!"
"Huh!" Colin mengelap keringat yang membasahi keningnya. "Kukira kalian masih sedang pingsan! Syukurlah kalian juga baik-baik saja!" Fokus Colin langsung dialihkan ke pergelangan tangan Abbas. "Woah! Gelang merahmu! Menghilang!?"
__ADS_1
Melihat Colin kaget melihat tangannya yang bersih tanpa adanya gelang, membuat Abbas hanya tersenyum tipis. "Gelangnya sudah dilepas," jawab Abbas dengan suara beratnya. "Oleh pria bernama Roswel."
Colin dan Nico terkejut mendengarnya. "Seperti biasa, Roswel selalu ikut campur dalam masalah kita," desis Nico dengan nada yang tajam. "Padahal masalah adalah sebuah masa pendewasaan diri, dan harus diselesaikan sendiri. Jika kita tiap ada masalah, selalu dibantu oleh Roswel. Untuk apa kita menjadi sesuatu yang bodoh seperti seorang pahlawan?" Nico mendengus dengan angkuh. "Tampaknya, kita masih dimanjakkan oleh Roswel."
Paul terdiam mendengar omongan itu, apa yang dikatakan Nico ada benarnya. Selama ini, Roswel selalu membantu mereka, terus dan terus membantu mereka, apa pun masalahnya, pria sakti itu pasti akan muncul jika mereka berada dalam situasi genting dan membahayakan. Dan menurut Paul, jika mereka terus diperlakukan begitu oleh Roswel, tidak ada ruang bagi mereka untuk menyelesaikan sebuah masalah sendirian.
"Hey! Nico! Jangan berkata begitu!" Colin langsung berseru pada Nico setelah mendengar perkataan yang menusuk itu. "Seharusnya kau berterima kasih pada Roswel! Sebab dia selalu menolong kita! Bayangkan jika Roswel tidak datang saat kita diserang oleh Para Jubah Putih! Kita berempat pasti sudah mati konyol di sana! Tidakkah kau berpikir ke arah situ?"
Nico hanya menundukkan kepalanya, ia tidak berani untuk membalas ucapan Colin. Bagi Nico, apa pun yang Colin katakan adalah sebuah kebenaran mutlak. "Maaf." ucap Nico dengan suara yang pelan.
Colin tersenyum mendengar Nico mengucapkan kata maaf. "Tidak apa-apa selama kau paham dengan kesalahanmu, jadi, jangan pasang wajah cemberut begitu, Nico. Hehehe."
"Menurutku! Apa yang Nico katakan masuk akal! Bodoh!" bentak Paul dengan muka yang terlihat berang, Colin, Nico, dan Abbas langsung berpaling ke wajah mentornya setelah mendengar seruan itu. "Jika kita terus-terusan ditolong oleh Roswel, kita tidak akan bisa maju! Seharusnya! Kita harus bisa menyelesaikan suatu masalah sendirian!"
"Tapi Paul!" Colin tidak terima pada ucapan Paul, dia merasa ada yang salah dari hal itu. "Jika saat itu Roswel tidak datang! Kita semua pasti mati! Sudah sepatutnya Roswel membantu kita! Dia punya kekuatan yang besar! Dan dia juga bisa melihat apa pun yang kita lakukan! Sudah sewajarnya dia menolong kita!"
"BRENGSEK! SEJAK KAPAN KAU JADI MENJENGKELKAN BEGINI!? COLIN SIALAN!"
Tiba-tiba Abbas turun dari ranjangnya, dan langsung mengusap-usap rambut Paul, Colin, dan Nico secara bergantian, seperti seorang kakek yang menenangkan cucu-cucunya. Mendadak, suasana jadi sunyi seketika. "Kalian semua adalah anak-anak baik," ucap Abbas dengan senyuman tipisnya. "Jadi, jangan bertengkar lagi."
Paul terkejut, Colin sumringah, dan Nico terbelalak, karena kepala mereka mendadak disentuh dan diusap-usap oleh Abbas dengan lembut dan penuh kehangatan.
Saat mereka bertiga akan menanggapi perlakuan Abbas, mendadak terdengarlah suara seseorang yang masuk ke dalam kamar tersebut.
"Tuan Paul, Tuan Colin, Tuan Nico, Tuan Abbas," Ternyata sosok yang masuk adalah Roswel. "Kalian tidak perlu khawatir. Dari awal, saya tidak punya niatan untuk memanjakkan kalian. Namun, jika saya melihat kalian menderita dan tidak bisa apa-apa selain menangis, maka saya akan datang menolong kalian. Lagipula, jika saya memanjakkan kalian, mungkin dari saat munculnya Para Pembunuh Roh, mungkin saya juga akan langsung datang. Tapi saya belum datang, kan? Tentu saja, alasannya karena saya ingin melihat dulu, seberapa kuat kalian bertahan menghadapi mereka. Saya tidak akan langsung turun ke lapangan sebelum kalian tidak terlihat akan hancur. Jadi begitulah, semoga dengan ini, kalian bisa paham."
Akhirnya, mereka semua mengerti pada penjelasan dari Roswel.
"Kalau begitu," Paul mulai bersuara dengan suara bringas. "Karena urusan kami sudah selesai di sini! Kembalikan kami ke Kota Swart! Roswel!"
Roswel menyunggingkan senyuman ramahnya. "Baik, Tuan," jawab Roswel dengan patuh. "Tapi sebelum itu, saya akan memberitahu pada Anda, berada di mana pahlawan berikutnya, agar Anda besok tidak perlu lagi menunggu telepon dari saya." Paul menganggukkan kepalanya dengan semangat. "Jadi, target selanjutnya adalah seorang gadis berambut merah panjang, bertubuh seksi, dan selalu mengenakan bikini." Colin memucat mendengarnya. "Gadis seksi itu tinggal di Kota Luna. Dan dia selalu dipanggil dengan nama 'Isabella' oleh teman-temannya, Tuan."
"K-K-Kota Luna!?" Kepucatan di wajah Colin makin bertambah saat mendengar nama dari sebuah kota yang diucapkan oleh Roswel. "B-Bukankah kota itu adalah pusatnya prostitusi di Negara Madelta!?"
"Apa itu prostitusi?" Abbas tidak tahu arti dari istilah itu, kedengarannya rumit.
"Pelacuran," Nico menimpali pertanyaan Abbas dengan suara yang dingin. "Dan pelacuran sendiri pada dasarnya merupakan sebuah jasa yang menawarkan hubungan seksual, dan kau harus membayar setelah menikmati hubungan seksual tersebut." Abbas menganggukkan kepalanya, paham dengan penjelasan itu.
"Jadi intinya," Paul menyeringai. "Pahlawan berikutnya adalah seorang pelacur, ya?"
__ADS_1