Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 53 : Para Mentor Era Sebelumnya


__ADS_3

"Ini gelangnya Abbas, kan!?" Paul terkejut saat melihat sesuatu yang Roswel tunjukkan padanya, tidak salah lagi, gelang merah yang ada di telapak tangan Roswel adalah gelang yang seharusnya dipakai Abbas. "Tapi, bagaimana caranya kau bisa melepaskan gelang itu dari tangan Abbas?" Paul mengernyitkan alisnya, sebetulnya ia tidak begitu heran pada hal itu, sebab Roswel selalu berhasil membuat sesuatu yang ajaib, dan itu sudah menjadi hal yang biasa. Tapi, yang membuat muka Paul kaget bukan karena terlepasnya gelang itu, tapi, lebih ke cara melepaskannya, karena Paul sudah mencobanya berkali-kali dan gelang itu tetap sulit untuk dilepas. Karena itulah, Paul benar-benar penasaran pada cara Roswel melepaskan benda sialan itu dari tangan Abbas.



Mendengar pertanyaan itu, Roswel hanya tersenyum ramah, mukanya tampak berseri-seri, menandakan kalau ia senang Paul menanyakan hal itu padanya. Roswel kembali memasukkan gelang itu ke saku jubahnya, dan kembali berjalan, menjauhi ranjang, untuk mendekat ke dinding yang terdapat lima potret para mentor era sebelumnya.



"Saya hanya menggunakan sedikit sihir, Tuan," kata Roswel dengan nada yang santai. "Lagipula, sangat mustahil saya bisa melepaskannya hanya dengan tangan kosong, karena di gelang tersebut, terdapat material lengket yang akan terus merekat di kulit. Walaupun gelang itu bisa dilepas pun, akan timbul ledakan besar yang dapat membuat si pemiliknya tewas. Jadi, jika kita melakukannya dengan tangan kosong atau pun menggunakan alat bantu, tidak ada bedanya, karena lepas atau tidak, gelang itu bakal meledak, Tuan," ucap Roswel dengan tutur bahasa yang rapi dan sopan, Paul tertegun mendengarnya.



"Jadi begitu, ya," bola mata Paul membesar, ia tersadarkan pada perkataan Roswel. "Melepaskannya dengan cara manual, hanya akan membuat bahaya makin besar. Aku jadi lega karena usahaku saat itu tidak berhasil. Tapi aku penasaran pada," ujar Paul dengan nada yang penuh penekanan. "Pihak yang mencetuskan ide gelang waktu tersebut." Suara Paul jadi terdengar menggeram. "Aku heran, memang apa manfaatnya menciptakan gelang yang dapat menentukan batas hidup seseorang!? Itu ide yang tidak ada manfaatnya sama sekali! Malah terdengar seperti operasi pengurangan jumlah penduduk! Atau bisa dibilang seperti, pembantaian manusia!"



Roswel jadi terkekeh-kekeh mendengar ocehan Paul tentang penciptaan gelang waktu, ia merasa kalau anak itu jadi semakin dewasa dalam berpendapat, ia kira Paul akan berkata tidak peduli pada keadaan itu, tapi nyatanya, tidak demikian. Sepertinya sifat nakal Paul jadi makin terkikis, perlahan-lahan anak itu mulai tumbuh menjadi sosok pengamat yang cukup jenius, walau sisi kekasarannya masih melekat di dalam diri Paul, tapi setidaknya, Paul sudah bisa berbicara serius dengan Roswel.



"Anda pasti kecewa mendengar jawaban saya, tapi akan saya katakan dengan jujur, Tuan," timpal Roswel dengan tersenyum tipis pada Paul. "Pihak yang mencetuskan sistem gelang waktu, itu merupakan ide dari rakyat Cocoa sendiri, bukan pemerintahnya atau pun pemimpinnya." Paul terbelalak mendengarnya, ia benar-benar tidak menyangka. "Namun, rakyat di sini adalah, orang-orang dari kalangan atas, sementara orang-orang dari kalangan bawah, hanya terpaksa mengikuti kemauan mereka yang berada di posisi atas. Begitulah, tapi karena hal itu, banyak sekali orang-orang dari kalangan bawah yang tewas mendadak karena tidak mampu membeli waktu untuk menambah jangka hidup mereka, alhasil, terjadilah kesenjangan sosial dan angka kematian yang lumayan tinggi di Kota Cocoa." Roswel berhenti sejenak. "Mengerikan sekali, ya, Tuan?"



Paul terdiam, dadanya jadi memanas, mulutnya tertutup rapat, tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk merespon penjelasan dari Roswel. Hanya ada rasa kekecewaan dan kekesalan di benak Paul, ia ingin menghajar orang-orang kalangan atas di Kota Cocoa, sebab mereka telah menciptakan sistem yang seharusnya tidak perlu ada di sebuah kota, karena sistem yang mereka buat, telah menciptakan ketidakadilan bagi kalangan bawah, yang sejatinya memiliki kondisi ekonomi lemah, untuk menghidupi kebutuhan hidup saja sudah susah, dan sekarang, malah ditambah dengan tekanan dari sebuah gelang waktu. Tubuh mereka bisa hancur berkeping-keping terkena ledakan, jika tidak mampu membeli waktu agar jangka hidup di gelang yang mereka pakai, tidak habis.



Itu merupakan sistem yang menjunjung tinggi ketidakadilan.



"Anda tidak perlu tegang begitu, Tuan," Roswel bersuara sembari mengamati ekspresi Paul yang tampak resah dan gelisah, memikirkan kondisi Kota Cocoa yang dipenuhi dengan ledakan-ledakan dari kalangan bawah. "Lagipula, sistem gelang waktu sudah ada dari zaman dulu, bahkan sudah menjadi sebuah tradisi dan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke kota Cocoa. Dan karena hal itu juga, orang-orang dari kalangan bawah tiap harinya, selalu berusaha untuk mencari uang agar mereka bisa membeli waktu untuk memperpanjang kehidupan, jadi menurut saya, ada sisi positif dari sistem tersebut."



"Sisi positif, kau bilang?" Paul mulai menatap tajam ke muka Roswel dengan suara yang menggeram hebat, layaknya seekor serigala yang hendak menerkam mangsanya. "Ucapanmu hanya membuat sesuatu yang buruk seakan-akan jadi terlihat indah!" Paul mendecakkan lidahnya dengan kesal, jemari kasarnya meremas selimut tebal yang menutupi tubuh bugilnya. "Itu benar-benar memuakkan! Brengsek!" Paul mengacak-acak rambut hitamnya dengan jengkel. "Aku tidak bisa membiarkan ini! Aku harus menghancurkan sistem sialan itu! Sebelum korban dari kalangan bawah terus berjatuhan! Bahkan mungkin, saat kita sedang berbicara pun, di bawah sana, banyak orang-orang di Kota Cocoa yang telah meledak karena gelang sialan itu!"



"Tuan, tenanglah."



"Aku tidak bisa terus-terusan berada di sini!" Paul tampak panik. "Roswel! Mana pakaianku! Cepat kembalikan! Aku harus bergegas ke Kota Cocoa! Di sana, banyak Abbas-Abbas lain yang membutuhkan pertolonganku! Jadi cepatlah! Berikan aku pakaian!"



"Tuan, saya mohon tenanglah."

__ADS_1



"AKU TIDAK BISA TENANG, BRENGSEK!" bentak Paul dengan suara yang begitu keras, membuat seisi kamar jadi bergema oleh suaranya.



Berkat itu, Roswel akhirnya mendapatkan kesimpulan baru dalam menilai sikap Paul. Anak itu, walaupun sudah jadi makin serius, tapi kedewasaannya berkurang, amarahnya malah jadi makin besar, dan selalu tergesa-gesa dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Menurut Roswel, Paul ingin masalah yang ia dengar, harus tuntas saat itu juga. Tidak boleh ditunda-tunda, seakan-akan dunia akan hancur jika masalah itu tidak diselesaikan sekarang. Padahal masalah itu sudah berlangsung sejak lama, bahkan ketika Paul belum terlahir ke dunia. Tapi anak itu, benar-benar rusuh, ia terkesan memaksa Roswel untuk melakukan sesuatu pada masalah yang terjadi di Kota Cocoa.



"Maaf, Tuan," Dengan mata yang tertutup, Roswel berbicara. "Saya tidak bisa menuruti kemauan Anda."



"APA MAKSUDMU!? BRENGSEK!" Paul kaget mendengar Roswel bilang begitu, seolah-olah pria pucat itu tidak peduli pada permasalahan di Kota Cocoa. "JANGAN BILANG KALAU KAU BERNIAT MEMBIARKAN KOTA COCOA TERUS SEPERTI ITU! AKU AKAN MENGHAJAR WAJAHMU SAMPAI HANCUR JIKA KAU PUNYA NIATAN BEGITU! ROSWEL!"



"Saya bilang demikian karena sia-sia Anda menyelesaikan permasalahan di Kota Cocoa, Tuan. Sebab," Roswel mulai membuka kembali kelopak matanya dan menyunggingkan senyumannya. "Saya telah membebaskan seluruh penduduk Cocoa dari gelang waktu tersebut."



Paul terkesiap mendengarnya, tapi walaupun begitu, ia tidak percaya Roswel telah membebaskan para penduduk Cocoa dari gelang waktu, pasti orang itu hanya mengatakan kebohongan agar Paul tidak pergi ke Kota Cocoa. Bukannya senang, muka Paul malah jadi tampak kesal.



"Kau meremehkanku, Roswel," Paul menggelemetukkan rahangnya. "Kau pikir aku akan langsung percaya begitu saja pada omonganmu, hah!?" Paul mendecakkan lidahnya dengan bringas. "Aku tidak sebodoh itu, brengsek!"




Ketika jendela di sampingnya pecah karena diterobos oleh gelang-gelang merah, Paul tidak henti-hentinya menampilkan raut muka kaget yang luar biasa. Bayangkan saja, gelang-gelang yang seharusnya tidak bisa bergerak, malah sedang beterbangan di hadapannya seperti seekor hewan bersayap, dan itu benar-benar menyeramkan.



"Bagaimana, Tuan?" ucap Roswel dengan tampang yang begitu ramah pada Paul, kini ia sedang berdiri di antara ratusan gelang yang beterbangan di sekitar tubuhnya. "Apa sekarang Anda masih meragukan ucapan saya, Tuan?"



Tertohok, Paul gelagapan mendengar sindiran Roswel, tapi sungguh, matanya terus memperhatikan gelang-gelang merah yang sedang melayang-layang di sekitar Roswel, menurut Paul, itu adalah pemandangan yang cukup langka, melihat benda mati bisa bergerak bebas.



"Baiklah," Dengan membuang muka dari tatapan Roswel, Paul berkata, "Aku percaya." Pipi Paul tampak memerah karena malu.



Baru saja Paul berbicara begitu, tiba-tiba saja ratusan gelang yang melayang-layang di sekeliling Roswel, berjatuhan ke lantai, kembali menjadi benda mati yang diam tak bergerak. Dan akhirnya, lantai dari kamar yang ditempati oleh Paul, dipenuhi dengan gelang-gelang merah yang tergeletak.

__ADS_1



"Roswel," Paul kembali bersuara, setelah hembusan angin dari jendela yang pecah, masuk dan menerpa tubuhnya, bahkan membuat rambut hitam pendek Paul melambai-lambai. "Mana pakaianku? Aku kedinginan di sini. Jendela di sampingku telah membiarkan angin kencang masuk! Walau aku memakai selimut tebal, aku masih merasa kedinginan!" Paul menarik napasnya. "Lagipula! Untuk apa kau melucuti pakaianku segala! Brengsek! Apa kau mau memperkosaku, hah!?"



"Pakaian Anda sudah kotor, sobek, kusut, dan tertimpa darah, Tuan," kata Roswel dengan suara yang lembut. "Itulah mengapa saya melucuti pakaian Anda. Tidak nyaman rasanya jika saya membiarkan Anda tidur di sini dengan mengenakan pakaian seperti itu. Tapi Anda jangan khawatir, saya punya beberapa pakaian yang cocok untuk dikenakan oleh Anda, bahkan Tuan Nico, Tuan Abbas, dan Tuan Colin pun sudah memakainya," kemudian Roswel berjalan ringan ke arah pintu, "Saya akan mengambilnya, Tuan."



Setelah keberadaan Roswel menghilang di kamar itu, Paul pelan-pelan membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya, lalu ia turun dari ranjang dengan keadaan bugil. Kemudian, Paul melangkahkan kakinya untuk menghampiri dinding yang terdapat lima potret para mentor sebelum dirinya. Akhirnya, Paul bisa melihatnya dengan jelas, wajah-wajah dari lima orang yang telah terpilih menjadi seorang mentor.



Paul tersenyum tipis memandangi lima foto yang menampilkan wajah dari para mentor era sebelumnya.



"Jadi kalian itu senior-seniorku, ya?"



Puas melihat wajah-wajah itu, Paul kembali naik ke ranjangnya, dan kembali menarik selimut tebal untuk menyembunyikan tubuh bugilnya. Beruntung, waktunya pas, baru saja ia kembali ke ranjang, pintu terbuka, mengeluarkan sesosok pria berkulit pucat, yang ditangan kanannya membawa sebuah kemeja lengan panjang berwarna hitam legam, yang tampak elegan khas seorang pangeran dari dunia fantasi. Di kerah kemeja itu, terdapat kristal-kristal yang berkilauan. Roswel pun membawa celana panjang berwarna hitam, yang juga terdapat beberapa kristal di bagian bawahnya. Serta sepatu hitam berbahan karet, yang sangat lentur dan elastis.



"Ini adalah pakaian saat saya masih jadi seorang murid, Tuan," kata Roswel dengan berjalan mendatangi Paul, sembari menunjukkan baju dan celana yang ia bawa. "Saya pikir, ini pakaian yang bagus dan cocok kalau dipakai oleh Anda, Tuan."



Tanpa basa-basi, Paul langsung merebut pakaian yang Roswel bawa, dan memakainya di dalam selimut. Tidak lama kemudian, Paul keluar dari selimut dengan penampilan yang sangat mewah, layaknya seorang bangsawan tampan yang punya harta berlimpah.



"Oke! Terima kasih atas pakaiannya!" ucap Paul dengan melompat turun dari ranjang. Kemudian, ia menatap lekat-lekat ke wajah Roswel. "Sekarang, bisakah kau lanjutkan pembahasan yang tadi terjeda?"



Roswel tampak heran mendengarnya. "Pembahasan yang terjeda?"



"Maksudku! Ceritakan lagi kisah dari para mentor yang ada di foto-foto itu selain Brandon! Aku penasaran! Dan setelah ini! Aku ingin menemui Abbas untuk menanyakan siap tidaknya dia menjadi seorang pahlawan! Maka dari itu! Bisakah kau percepat penjelasannya?"



Roswel menyunggingkan senyumannya mendengar permintaan Paul, ia tak menyangka kalau anak itu ternyata tertarik pada hal tersebut.


__ADS_1


"Baiklah," Roswel menganggukkan kepalanya. "Saya akan mengungkapkan semuanya."



__ADS_2