
Gina! Gina! Bangun! Ada apa denganmu!?"
Isabella memangku tubuh Gina yang terkulai lemas di atas dempetan dua paha mulusnya, ia terus menggoyang-goyangkan tubuh muncikarinya yang terlelap agar bangun, tapi usahanya sia-sia. Gina Orcadelia tampaknya jatuh pingsan setelah mendengar ancaman yang dikatakan oleh Paul. Melihat muncikarinya tak bangun-bangun, Isabella memandang muka Paul dan bertanya, "Sebenarnya, kau melakukan apa sampai Gina pingsan seperti ini? Apa kau mengatakan sesuatu padanya?"
"Aku hanya sedikit mencelanya," jawab Paul dengan menghela napasnya. Isabella, Cherry, dan Naomi tersentak mendengar jawaban itu, mereka tidak mengerti mengapa hanya karena sebuah celaan, bisa membuat seseorang jatuh pingsan? Pasti ada sesuatu di balik ini semua, pikir Isabella.
"Kau yakin hanya sedikit mencelanya?" tanya Isabella, mencoba meyakinkan Paul mengenai jawabannya. Sebab, Isabella merasa aneh, ia masih ragu untuk mempercayai omongan Paul. "Seingatku, Gina bukanlah tipe orang yang mudah pingsan seperti ini, dia itu kuat, fisiknya sangat kuat. Dia bahkan mampu memutari lapangan seluas tiga kilometer berkali-kali," kata Isabella, menceritakan pengetahuannya tentang kondisi fisik Gina Orcadelia pada Paul, Cherry, dan Naomi. "Aneh sekali rasanya jika Gina jatuh pingsan hanya karena mendengar sebuah celaan? Bahkan dia sudah terbiasa menghadapi milyaran hujatan di sosial medianya, dari orang-orang yang tidak suka pada pekerjaannya, tapi mengapa hanya dicela olehmu, dia bisa jatuh pingsan begini, Paul?"
"Biarkan saja dia! Dia itu jahat! Cherry sangat benci pada Gina!" Cherry melengking dengan geraman yang luar biasa, seperti orang yang tersulut dendam. "Kuharap dia mati! Orang jahat seperti Gina harusnya dibunuh saja! Dia tidak boleh diselamatkan!"
"Bicara apa kau ini, Cherry?" Mendengar kata-kata kebencian itu, Isabella menolehkan pandangannya pada Cherry dengan terheran-heran. "Aku tahu kau benci padanya, tapi aku tidak setuju kalau kau berniat ingin membunuhnya. Bagiku, Gina adalah sosok malaikat paling baik di dunia ini. Aku tahu kalian semua tidak suka pada sikapnya yang sombong, dan kejam, tapi sejujurnya, Gina itu seperti Ibuku sendiri. Dia adalah orang yang sangat penting di hidupku."
__ADS_1
Cherry sedikit tersentak mendengarnya, "B-Bukannya Cherry benci padanya, Cherry hanya tidak suka saja pada omongannya yang jahat! Maaf, deh! Kalau kata-kata Cherry menyinggungmu! Lagian! Cherry tidak tahu kalau dia itu sangat penting bagi hidupmu! Makanya! Bilang dari awal! Agar Cherry tidak salah paham, tahu! Hm!" Cherry membuang mukanya ke samping, pipinya memerah, ia tidak ingin melihat wajah Isabella.
"Astaga. Saya tidak tahu kalau Gina Orcadelia adalah sosok malaikatmu, Isabella. Saya pikir, Anda dipaksa oleh Gina untuk masuk ke dalam dunia pelacuran, tapi sepertinya tidak seperti itu, ya? Kalau begitu, saya minta maaf sebesar-besarnya kalau perkataan saya pernah menyinggung Anda, Isabella."
"Aku senang kalian bisa mengerti pada perasaanku, tapi semua yang kukatakan itu bohong," Tawa Isabella langsung pecah saat itu juga, menertawakan ucapan-ucapan belas kasihan yang diungkapkan oleh Cherry dan Naomi padanya, terkait kondisi Gina Orcadelia. Isabella berhasil menciptakkan suasana sendu yang membuat orang lain merasa iba pada dirinya. Padahal itu hanya tipuan semata. "Ya ampun, kalian ini benar-benar polos, ya?" kata Isabella setelah tawanya reda. "Aku yakin, orang-orang polos seperti kalian pasti bakal dijadikan incaran empuk para penipu. Kusarankan untuk berhati-hati dalam mendengarkan omongan orang lain, jangan langsung mempercayainya."
Paul, Cherry, dan Naomi, tentu saja terkejut. Mereka tidak menyangka kalau perkataan pilu yang diucapkan oleh Isabella hanya kebohongan semata. Sia-sia Naomi merasa kasihan padanya. Sia-sia Cherry merasa bersalah padanya. Sia-sia Paul mendengar semua yang dikatakannya. Karena semua yang Isabella katakan hanyalah sebuah kebohongan. Perempuan itu benar-benar pandai dan lihai dalam berbohong.
"Sialan! Berani-beraninya kau membohongi kami!" Paul mencibir jengkel pada Isabella, dan dibalas dengan kekehan kecil dari perempuan itu.
Mendengar itu, wajah Paul langsung memerah, dia cepat-cepat mengambil kembali baju dan celananya yang tergeletak di lantai dan memakainya dengan rapi, tak lupa juga mengambil ponsel berharganya. Isabella tersenyum simpul melihat Paul datang dengan penampilan yang sudah berpakaian. Cherry dan Naomi hanya meneguk ludahnya saat mengingat kondisi Paul yang bertelanjang dada, walau mereka tak menyadarinya, tapi sebenarnya mereka berdua sedikit tergoda oleh keseksian badan Paul yang berotot.
__ADS_1
"Lupakan soal itu!" kata Paul dengan mata yang menindas. "Aku sudah tak peduli lagi dengan kondisi muncikarimu! Aku ingin kau jawab pertanyaanku!"
Isabella tergelak mendengarnya. "Pertanyaanmu? Pertanyaan yang seperti apa?" Isabella masih sedang memangku kepala Gina Orcadelia di paha-paha mulusnya. "Jangan bilang kalau kau masih ingin membeliku dengan harga 500 juta? Jangan sekarang, aku harus membangunkan Gina terlebih dahulu untuk meminta persetujuannya. Asal kalian tahu, para pelacur sepertiku sangat terikat dengan sang muncikari. Jika aku melakukan apa yang tidak disukai muncikariku, itu akan membuat hidupku susah."
"Mengapa kau takut sekali dengan muncikarimu?" Paul mengernyitkan alis mendengarnya. "Memberontaklah! Lakukan apa yang kau mau! Jangan biarkan dirimu terus-terusan menjadi bagian dari koleksi bonekanya! Bodoh!"
Isabella menahan tawanya. "Bicara memang mudah, tapi aku tidak bisa melakukan itu. Ada aturan yang menjerat diriku, kalau aku melanggarnya, maka akan terjadi BUM! BUM! BUM!" ucap Isabella dengan menirukan suara ledakan untuk menggambarkan masalah yang bakal terjadi jika dia melanggar peraturan. "Jadi seperti itulah."
"Bum? Bum? Bum? Apa itu?" Cherry tersentak mendengarnya. "Suara ledakan? Ledakan apa? Apakah tubuhmu akan meledak jika kau melanggar peraturan? Tapi percuma saja, tidak ada yang bisa dipercaya dari kata-katamu, Cherry harus berhati-hati pada omonganmu, Isabella. Karena kau itu Ratu Pembohong."
"Ratu Pembohong?" Isabella mengangkat dua alisnya, kaget dengan nama yang diciptakkan oleh Cherry untuknya. "Julukan yang bagus, aku menyukainya," Kemudian, perhatian Isabella kembali diarahkan pada Paul. "Baiklah, kita anggap saja aku berani melanggar peraturan itu. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan padaku, Paul? Aku penasaran sekali."
__ADS_1
Paul menyeringai mendengarnya. "Sebetulnya pertanyaan ini pernah dibahas saat kita di dalam helikoptermu, tapi aku ingin menanyakannya langsung padamu, karena saat itu, Cherry dan Naomi lah yang mengatakannya. Kuharap, kau juga menjawab pertanyaan ini dengan serius! Awas saja kalau kau tidak serius!" bentak Paul pada Isabella dengan bengis. Lalu, Paul menenangkan suaranya dan berkata, "Aku langsung pada intinya saja." Paul menarik napasnya dalam-dalam dan dikeluarkan secara perlahan. "Kau terpilih sebagai pahlawan, Isabella. Aku sebagai mentormu, akan membimbingmu untuk menjadi pahlawan sesungguhnya."
Cherry, dan Naomi tampak fokus pada perkataan Paul, seolah-olah mereka seperti sedang mendengarkan berita yang menggemparkan. Paul pun berhenti sejenak untuk mendengarkan respon dari Isabella Melvana.