Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 52 : Gelang Waktu


__ADS_3

"Hm?" Paul mengerjap-erjapkan kelopak matanya, menstabilkan pernapasannya dan menenangkan jantungnya yang berdegup-degup kencang. Paul terheran-heran, menemukan dirinya sedang terbaring di sebuah ranjang empuk yang sangat mewah, selimut yang menutupi permukaan badannya, sangat tebal dan hangat. Paul juga memandangi interior ruangan yang begitu indah, terdapat jendela berbentuk oval di samping ranjang, yang dilengkapi dengan sebuah pot berisi tumbuhan kaktus berukuran mungil. "Di mana ini?"



Paul kebingungan, ia tidak mengerti mengapa dirinya bisa berada di tempat semewah ini. Sebab Paul tidak ingat kalau ia punya kenalan atau pun rekan karib yang kaya raya. Paul menggerakkan lengannya, menyingkap selimut tebal yang menutupi badannya, dan ia terkejut. Karena ternyata kondisi badannya sedang bugil, tidak ada sehelai kain pun yang menutupi setiap inci dari kulitnya. Cepat-cepat Paul menutup kembali selimutnya untuk menyembunyikan tubuhnya yang telanjang bulat.



"Apa yang terjadi?" Paul mengernyitkan alis, termenung. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian yang menimpanya sebelum ia bisa bangun di tempat semewah ini, pasti ada sesuatu yang salah. Paul terus berusaha mengingat tiap-tiap momen yang ia lalui, sampai akhirnya, ia dapat mengingat semuanya. Ya, Paul ingat kalau dirinya sedang berada di Kota Cocoa, untuk menemukan pahlawan berikutnya. Dan Paul ingat bahwa pahlawan berikutnya bernama Abbas, seorang lelaki kekar berkulit hitam yang hanya mengenakan celana pendek. Dan Paul pun ingat beberapa kejadian yang terjadi di Kota Cocoa, seperti pertemuan dengan Abbas, berbincang-bincang mengenai sistem Kota Cocoa, disambut hangat di dalam sebuah gubuk reyot, berusaha melepaskan gelang merah yang sulit dilepas, dan sampai pada pertarungan melawan Para Jubah Putih.



Itu semua, Paul mengingatnya dengan jelas. Tapi, ada sesuatu yang membuat kepala Paul jadi pusing, ini tentang ketika dirinya melawan Para Jubah Putih. Entah kenapa, sekujur tubuh Paul jadi menggigil saat sadar kalau ia sebelumnya telah diserang dengan batu-batu berukuran besar, yang dihantamkan langsung ke tubuhnya, di antara deraian hujan yang lebat. Luka-luka yang seharusnya ada di tiap lekuk badannya, entah kenapa, semuanya menghilang total. Bahkan, badannya pun terasa segar bugar, tak terasa adanya rasa sakit yang seharusnya berdenyut-denyut.



Paul menghela napas, ia tidak habis pikir hal seaneh ini bisa terjadi pada dirinya. Dan Paul tidak berpikiran kalau semua itu hanyalah mimpi, karena ia tahu bahwa rasa sakit ketika kepala, perut, dengkul, dan kaki dihantam dengan batu-batu raksasa secara membabi-buta, benar-benar terasa sangat nyata.



Dan itu luar biasa menyakitkan.



Aroma harum di sekitar ruangan ini memanjakkan hidung Paul, jujur saja, ia suka dengan wanginya. Seperti mencium aroma kulit jeruk yang menyegarkan. Cahaya berkilat-kilat yang masuk melalui kaca dari jendela berbentuk oval di samping ranjang, menembus ke selaput mata Paul, tampak terang dan menyilaukan. Refleks, Paul menyipitkan kelopak matanya, lalu ia berpendar, menggeserkan pantatnya di permukaan kasur empuk, untuk mendekati jendela oval tersebut.



Lagi-lagi matanya melihat sesuatu yang mengejutkan, bahkan ini terlalu gila untuk dijelaskan. Bayangkan saja, Paul kira, saat ia mendorong kepalanya ke kaca jendela, ia bakal menyaksikan pemandangan indah dari hijaunya pegunungan, atau riuhnya jalanan, atau asrinya pedesaan, atau mungkin, tingginya gedung-gedung perkotaan. Tapi nyatanya, semua perkiraannya salah. Sebab, yang Paul saksikan dari jendela saat ini, hanyalah gumpalan awan putih yang berarak secara perlahan di bawah bangunan yang ia yakini sebuah kastil.



"Semuanya... awan!?" Paul meneguk ludahnya, kaget dengan pemandangan yang tersaji di hadapannya. Berkat itu, timbulah berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya, seperti; sebenarnya sedang berada di mana dirinya sekarang? Mengapa tidak ada permukaan tanah yang ia lihat di jendela? Apakah kamar yang ia tempati merupakan ruangan tertinggi dari sebuah kastil, hingga ketinggiannya menembus awan? Lagipula, apakah memang benar ini adalah sebuah kastil? Bisa saja ini adalah gedung pencakar langit dari suatu kota, tapi memangnya, siapa yang membawa Paul kemari? Ini semakin membingungkan.



"Syukurlah," Tiba-tiba terdengar derikan pintu yang terbuka dan suara seseorang yang masuk ke ruangan ini, cepat-cepat Paul putar kepalanya sedikit untuk menoleh ke sosok yang muncul, dan lagi-lagi, mata Paul terbelalak. "Saya kira Anda akan bangun dua atau tiga hari lagi, saya tidak menyangka akan secepat ini Anda bangun, Tuan."



Ternyata orang yang baru saja masuk ke ruangan ini adalah Roswel, seorang pria tinggi berkulit putih pucat yang selalu memakai jubah hitam, dia menyunggingkan senyuman ramah pada Paul dengan berjalan santai mendatangi ranjang, tangannya membawa sekeranjang buah jeruk segar. Keranjang itu langsung disimpan di atas nakas putih yang menempel di dinding. Jeruk-jeruk itu terlihat sangat bersih dan licin, warna jingganya pun tampak begitu mencolok. Penampilannya saja sampai sebegitu bagusnya, lalu bagaimana dengan rasanya? Paul jadi ingin merasakan satu buah. Tapi buru-buru Paul lupakan dulu soal jeruk, ia harus menanyakan hal yang lebih penting pada Roswel.



"Roswel!" ungkap Paul dengan menarik selimut ke badannya agar kebugilannya tertutupi dengan rapat. "Sebenarnya, aku sedang berada di mana!?"

__ADS_1



Setelah menyimpan keranjang jeruk ke atas nakas, Roswel membenamkan pantatnya ke samping permukaan ranjang. Ia menatap wajah Paul yang dipenuhi dengan tanda tanya dan kebingungan.



"Anda sedang berada di kediaman saya, Tuan."



Paul tercengang, mulutnya sampai terbuka lebar. "Kediamanmu!?" Paul menelisik ke tiap sudut ruangan dengan resah. "Jadi ini adalah rumahmu!?" Ada sedikit kekaguman dari Paul saat menyaksikan kemewahan kamar tidur yang ia tempati, yang merupakan bagian kecil dari seluruh ruangan di rumah Roswel. "Oke! Lupakan dulu soal itu!" Karena pertanyaannya sudah terjawab, cepat-cepat Paul beralih ke pertanyaan berikutnya. "Jika ini memang rumahmu, berada di kota mana kau tinggal, Roswel!? Mengapa di bawah sana hanya terlihat kepulan awan putih saja!? Apakah kamar ini berada di puncak paling tertinggi di rumahmu!?"



"Tidak, Tuan," jawab Roswel dengan menampilkan senyuman hangat yang begitu menenangkan. "Rumah saya tidak jauh berbeda dengan rumah Anda, hanya saja, luasnya sedikit lebih besar dan interiornya sedikit lebih unik dari rumah Anda. Lalu, mengenai lokasi, sebetulnya kita memang sedang berada di atas awan, Tuan. Mungkin Anda pikir rumah saya berada di daratan, dan punya menara tinggi yang menembus awan, begitu, kan? Itu tidak tepat, Tuan. Karena yang sebenarnya terjadi, rumah saya berdiri di atas awan."



"B-Berdiri di atas awan!?" Paul melotot saking kagetnya. "Kau gila!? Itu mustahil! Mana mungkin awan yang bentuknya menyerupai kepulan asap, bisa menahan besarnya sebuah rumah!? Sialan! Mau bagaimana pun aku membayangkannya, tetap saja, itu aneh sekali!"



"Anda tidak perlu memaksakan diri untuk membayangkannya, lagipula, saya tidak menyuruh Anda untuk percaya pada ucapan saya. Itu terserah pada diri Anda sendiri untuk percaya, atau pun tidak," kata Roswel dengan mengambil satu buah jeruk dan melemparkannya pada Paul. Paul langsung menerimanya. "Selain itu," Roswel melanjutkan kata-katanya dengan intonasi yang begitu sopan. "Saya telah menghancurkan beberapa manusia berjubah putih yang menyerang Anda dan yang lainnya. Saya membekukan mereka, lalu langsung meremukannya hingga berkeping-keping. Dan saya yakin, es yang membuat tubuh mereka membeku sudah mencair, menyisakkan potongan-potongan daging busuk yang tergeletak di tanah."




"Apakah yang Anda maksud adalah keberadaan Tuan Colin, Tuan Nico, dan Tuan Abbas?" Mendadak, Roswel kembali menyunggingkan senyuman ramahnya pada Paul. "Anda tidak perlu cemas. Kondisi mereka sama seperti Anda, baik-baik saja, dan mereka ada di rumah ini, hanya saja, berada di kamar yang terpisah-pisah." Kemudian, hening sejenak. Paul jadi merenung dalam sesaat. Melihat hal itu, Roswel kembali bersuara. "Setelah terbangun dan mengingat semua kejadian yang Anda alami, Anda pasti bakal berpikir, mengapa luka-luka Anda, dari serangan Para Pembunuh Roh, bisa sembuh tanpa bekas, benar, kan, Tuan?"



"Ya! Aku juga penasaran dengan itu!"



"Saya senang melihat Anda bersemangat, Tuan," kata Roswel, dengan senyuman tipisnya yang menawan. "Luka-luka Anda dan yang lainnya, telah saya urus semaksimal mungkin, dan saya bisa memastikkan tidak akan ada luka sedikit pun di tubuh Anda. Karena saya tidak ingin melihat Anda kesakitan saat menjalankan tugas, itu membuat saya cemas, Tuan."



"Kalau begitu, terima kasih, telah menyembuhkan luka-luka kami, Roswel," jawab Paul dengan nada yang rendah dan mata yang sayu. "Lalu," Paul mulai kembali bertanya pada Roswel. "Setelah dikalahkan semudah itu oleh Para Jubah Putih, apakah kau berpikir, aku masih layak menjabat sebagai mentor Para Pahlawan?" Paul menghela napas beratnya. "Entahlah. Setelah mendapatkan kekalahan telak, aku jadi merasa kalau aku sudah berbeda dengan aku yang dulu. Aku semakin lemah dan tidak berguna. Brengsek memang! Tapi memang begitu kenyataannya!"



Tiba-tiba Roswel terkekeh-kekeh, dia tidak tahan mendengar perkataan Paul yang menurutnya lucu. "Mengapa Anda bisa berpikir demikian, Tuan?" Roswel menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tentu saja Anda masih layak dan pantas untuk menjadi seorang mentor, Tuan. Anda tidak lemah, Anda itu sangat kuat. Hanya karena mengalami kekalahan satu kali, bukan berarti kualitas Anda jadi menurun secara drastis, itu tidak benar, Tuan. Anda masih layak sekali untuk menjadi seorang pembimbing Para Pahlawan. Dan saya percaya, pahlawan-pahlawan bimbingan Anda, akan lebih hebat dari pahlawan-pahlawan sebelumnya."

__ADS_1



Mendadak, Roswel bangkit dari ranjang, lalu ia berjalan mendatangi beberapa bingkai foto yang berjejer, menempel di dinding belakang kamar ini. Paul terheran melihat tingkah Roswel. "Kau mau apa?"



Roswel mengangkat lengan kanannya dan menunjuk ke sebuah bingkai foto yang paling sebelah kiri, merupakan foto pertama dari lima foto yang menempel di dinding. "Sejauh ini, saya sudah bertemu dengan lima manusia yang ditakdirkan untuk menjadi seorang mentor oleh Sang Penguasa. Dan ini, adalah potret seorang mentor pertama yang saya temui, Tuan."



Paul memperhatikan bingkai foto yang Roswel tunjukkan padanya, itu merupakan gambar dari seorang lelaki berambut pirang, yang mengenakan mantel putih, dan wajahnya tampak riang sekali, bahkan senyumannya tercetak begitu lebar di foto tersebut. Sebenarnya siapa orang itu?



"Namanya Brandon," kata Roswel dengan suara yang lembut. "Dia adalah satu-satunya mentor yang ditugaskan untuk mendapatkan sepuluh pahlawan hanya dalam jangka satu hari saja, Tuan."



Paul terbelalak mendengarnya. Yang benar saja! Paul saja yang baru menemukan tujuh pahlawan, menghabiskan beberapa hari, dan rasanya cukup melelahkan karena selama pencarian, harus berkunjung ke kota yang berbeda-beda. Tapi Si Brandon itu, dia bisa mendapatkan sepuluh pahlawan hanya dalam satu hari saja? Benar-benar gila!



"Namun," Roswel kembali melanjutkan kata-katanya yang terhenti sejenak. "Dia gagal menjadi seorang mentor," ucap Roswel dengan raut muka santai. "Itu dikarenakan, dia memilih pahlawannya secara acak dan tidak benar, alhasil, hampir sebagian besar pahlawan yang ia pilih adalah orang tua yang bahkan untuk berjalan saja kesulitan, anak-anak yang baru berusia tiga tahun, bahkan bayi pun ia pilih untuk dijadikan sebagai pahlawan. Benar-benar tidak masuk akal, kan, Tuan? Itulah sebabnya, dia gagal menjadi seorang mentor. Akibatnya, semua pahlawan yang ia pilih, dibebaskan kembali untuk menjadi manusia biasa. Dan Brandon sendiri, diharuskan menghadap Sang Penguasa untuk diberi hukuman. Dan hukumannya adalah, mengubah tubuh manusianya untuk menjadi seekor marmut."



Paul terkejut mendengarnya. "Kukira hukumannya bakal mengerikan, tapi ternyata hanya itu, aku jadi lega."



"Hanya itu?" Roswel terkikik. "Anda pikir menjadi seekor hewan itu sesuatu yang ringan? Dunia hewan itu sangat keras, Tuan. Tidak seperti dunia manusia. Bahkan saya tidak tahu apakah Brandon masih hidup atau tidak sekarang, karena kejadiannya sudah lama sekali sejak saat itu. Tapi bakal memakan waktu banyak jika saya jelaskan hal itu dengan detail, jadi mari kita lanjut ke foto mentor yang kedua, Tuan."



"TUNGGU!" Paul tiba-tiba berteriak. "Aku sebenarnya masih penasaran pada sosok mentor-mentor pendahuluku, tapi aku jadi teringat sesuatu!" kata Paul dengan napas yang kembang-kempis. "Jadi, bagaimana dengan kondisi Abbas!? Maksudku! Apakah dia telah terbebas dari gelang waktunya? Soalnya, gelang itu bisa meledak! Dan jangka waktunya tinggal sebentar lagi! Jadi apakah kau sudah mengurus gelang sialan itu, Roswel!?" Saat mengatakan itu, Paul tak sadar kalau jeruk yang ada digenggamannya, terjatuh dari kasur, menggelinding-gelinding di lantai hingga menyentuh sepatu Roswel yang mengkilap.



Roswel melangkahkan kakinya, dan langsung menginjak jeruk segar itu hingga hancur lebur, mendatangi Paul yang masih terduduk di atas ranjang. Roswel pun memasukkan tangan kanannya ke saku jubah hitamnya, dan ia mengeluarkan sesuatu dari sana. Sesuatu yang membuat ekspresi muka Paul jadi menegang.



"Apakah yang Anda maksud adalah benda ini, Tuan?"


__ADS_1


__ADS_2