
"Tidak ada yang lucu di sini!" bentak Naomi dengan amarah yang kembali naik. "Sudah saya bilang! Saya berada di sini bukan berarti saya melunak pada Anda! Itu salah besar!" Naomi menatap tajam pada mata Isabella. "Malah sebaliknya! Saya benar-benar mengeras pada Anda!"
"Mengeras?" Isabella terkikik-kikik, senang karena mendengar istilah baru yang dapat dijadikan bahan godaan. "Apanya yang mengeras?" Isabella menyentuh payudaranya sendiri. "Apakah bagian ini yang telah mengeras?" Isabella menahan tawanya. "Ya ampun, kau ini tidak sopan sekali, ya?"
Kedua pipi Naomi memerah pekat mendengar itu, dia tidak menyangka kata-katanya yang sedemikian rupa dirancang untuk dijadikan perumpamaan, malah dipelesetkan pada hal-hal yang tidak senonoh. Benar-benar bejat, Naomi tidak tahan lagi mendengar candaan-candaan bernada mesum.
Melihat ekspresi Naomi, Isabella tersenyum. "Sepertinya kau sudah tidak bisa membantahnya lagi, ya? Kalau begitu," Pandangan Isabella dipalingkan ke arah Paul. "Bagaimana denganmu? Apa kau bisa menebaknya? Mengenai 'untuk apa kita ke kediaman Gina Orcadelia?' Kau pasti bisa menebaknya dengan mudah, kan? Ayo, aku ingin mendengar jawabanmu."
Paul berusaha berpikir, agar jawabannya bisa tepat, tapi mau berusaha sekeras apa pun, ia tetap tidak bisa menebaknya. Entah kenapa, pertanyaan kali ini terdengar semakin sulit dari sebelumnya. "Mungkin untuk sekedar bertemu dengannya?"
"Eh?" Isabella terkejut mendengarnya. "Mengapa kau bisa tahu?"
"Hah?" Paul mengerjap-erjapkan matanya bingung. "Entahlah, aku asal menebaknya!"
Sampai akhirnya, sesi tebak-tebakan Isabella berhasil dijawab oleh Paul dengan tepat, semua pertanyaan yang perempuan berambut merah itu lontarkan, selalu dijawab benar oleh Paul, tanpa sedikit pun ada yang salah. Padahal Paul menebaknya dengan asal, hanya memanfaatkan insting dari segala kemungkinan yang mungkin terjadi, tanpa sekali pun berpikir kalau semua itu benar-benar terjadi. Dan saat Isabella mengatakan kalau semua yang Paul katakan benar, membuat lelaki itu ikut terkaget, karena memang jawabannya itu hanya berdasarkan insting semata yang biasa ia gunakan dalam menemukan para pahlawan baru. Paul tidak menyangka kalau instingnya bisa berguna dalam permainan tebak-tebakkan. Benar-benar fantastis.
Sementara Cherry dan Naomi, hanya menampilkan ekskpresi terbelalak saat semua jawaban yang Paul lontarkan dalam menebak pertanyaan dari Isabella, memperoleh label benar. Itu benar-benar mengejutkan. Mereka tidak menyangka seorang Paul bisa pandai sekali dalam permainan tebak-tebakan.
__ADS_1
Hingga Isabella sedikit kewalahan dalam menghadapi Paul dalam permainan tebak-tebakkan yang diciptakannya. "Kau kuat sekali, ya? Aku tidak percaya ada orang yang tidak pernah salah dalam menebak pertanyaanku, padahal aku yakin, semua pertanyaanku selalu membuat orang-orang resah. Tapi kau?" Isabella mengigit bibirnya dengan bergairah. "Rasanya bibir bagian bawahku jadi basah mendengar semua tebakanku dijawab dengan benar olehmu, aku sangat basah dibagian sini, Paul. Kau mau lihat?"
"H-H-HAH!?" Seluruh tubuh Paul jadi memerah dalam sekejap, tampak seperti kepiting rebus. "J-Jangan gila! Aku bukan lelaki mesum seperti para pelangganmu! Aku tidak akan mau melakukan hal-hal semacam itu! Brengsek!"
"Lalu?" Isabella memiringkan kepalanya, tampak bingung dengan perkataan Paul. "Mengapa kau menyewaku dengan nominal 500 juta? Jika kau sendiri tidak punya nafsu terhadap hal-hal semacam itu? Apakah kau punya tujuan lain? Hmmm?"
"Ya!" Kini Cherry yang bersuara. "Paul punya tujuan lain!" ucap Cherry dengan berseru. "Sebenarnya, Paul tidak menyewamu untuk melakukan hubungan seks, loh! Itu hanya pura-pura saja! Hihihihi!"
Isabella benar-benar terkejut mendengarnya. "Lalu?" kata Isabella dengan wajah yang semakin kebingungan. "Apa tujuan yang sebenar-benarnya dari kepura-puraan itu?"
"Dia ingin merekrutmu menjadi bagian dari sepuluh pahlawan! Hihihi!"
"Tidaaaaaaak!" Cherry kembali berseru. "Itu sama sekali bukan candaan, loh!"
"Eh?" Isabella melongo mendengarnya. "Lalu maksudnya, Paul benar-benar ingin merekrutku menjadi bagian dari sepuluh pahlawan? Memangnya pahlawan yang bagaimana? Apa semacam, pahlawan keadilan, begitu?" Entah kenapa, saat mengatakan itu semua, Isabella jadi ingin tertawa.
"Sepertinya begitu!" jawab Cherry dengan semangat. "Cherry juga tidak begitu tahu detailnya! Tapi sepertinya memang begitu! Mungkin kita akan menjadi semacam pahlawan keadilan! Hihihi!"
__ADS_1
"Eh?" Isabella kembali mengernyitkan alisnya. "Tadi kau bilang 'kita'? Apa mungkin kau juga--"
"Ya," Kini Naomi yang bersuara dengan kecepatan yang luar biasa. "Saya, Cherry, dan beberapa orang lainnya, telah direkrut untuk menjadi bagian dari sepuluh pahlawan. Mungkin Anda masih dalam tahap 'Apa-apaan itu?' tapi lambat-laun, pasti Anda akan mengerti sendiri, untuk menjadi sosok pahlawan sesungguhnya."
"Aku tidak begitu mengerti apa yang kalian maksud, tapi kedengarannya lucu juga, aku tertarik," kata Isabella dengan menyunggingkan senyumannya. "Boleh, kan?"
"TENTU SAJA!" Cherry, Naomi, dan Paul, secara serentak menjawab demikian, saking semangatnya mendengar Isabella menerima ajakan itu.
"Tapi bohong," ucap Isabella dengan memecahkan tawanya yang sedari tadi ditahan-tahan. "Ya ampun, kalian ini lucu sekali. Menawariku untuk menjadi seorang pahlawan? Jangan bercanda, aku tidak punya waktu melakukan hal-hal semacam itu, seperti yang kalian tahu, hidupku disibukkan dengan dunia pelacuran. Setiap waktu aku harus bekerja dan bekerja, memuaskan hasrat para lelaki, bahkan terkadang juga perempuan."
"P-P-Perempuan juga?" Naomi terbelalak mendengarnya.
Isabella tersenyum saat melihat wajah Naomi yang tampak kaget. "Kenapa? Kau terkejut? Itu sudah sesuatu yang biasa di duniaku. Apa kalian pikir aku hanya melayani para lelaki saja? Tidak, klienku tidak sesempit itu. Aku melayani manusia. Selama dia adalah manusia, dan tentunya punya uang berlimpah, aku bersedia melayaninya, tidak peduli dia itu laki-laki, perempuan, atau gender lainnya."
"S-Saya baru tahu! Saya pikir para pelacur wanita hanya melayani para lelaki saja! Saya pikir para perempuan hanya dilayani oleh para gigolo! Tapi--"
"Tidak semua perempuan punya orientasi seksual yang sama, terkadang ada juga perempuan yang suka terhadap sesamanya, jadi itu sudah menjadi hal yang lumrah di duniaku. Daripada itu," Kepala Isabella ditolehkan pada Paul. "Aku lebih penasaran pada bagaimana caramu membayar jasaku dengan tarif 500 juta? Apa kau punya uangnya? Jika iya, itu sangat menakjubkan. Baru kali ini aku dibayar semahal itu. Sejauh ini, yang paling mahal membayarku berada di sekitar nominal 100 juta, tapi kau berani membayarku 500 juta? Itu angka yang sangat menakjubkan, Paul."
__ADS_1
Mendengar perkataan Isabella, membuat Naomi langsung menimpalinya dengan nada yang gelisah. "Itu adalah masalah yang sedang kami hadapi saat ini," kata Naomi dengan menundukkan kepalanya. "Sebenarnya, Paul tidak punya uang sebesar itu, dia menyebut angka 500 juta karena marah dengan sindiran-sindiran yang dikatakan muncikarimu, yang seolah-olah menganggap Paul tidak mampu membayarmu dengan harga yang tinggi. Dan akhirnya, 500 juta menjadi masalah baru."