Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 63 : Tenaga Kuda


__ADS_3

BRUK!


Sensasi jatuh menabrak tanah keras, benar-benar menyakitkan. Nico dan Abbas baru saja muncul di tengah jalan aspal yang sepi di suatu perumahan, tampaknya kedatangan mereka lebih lambat dari Paul dan Colin. Mungkin karena mereka melakukannya dengan berpegangan tangan, sebab Abbas tidak tahu kondisi rumah Paul, membuat Nico mau tidak mau harus bersuka-rela membantu lelaki kekar itu agar datang ke Kota Swart, tepatnya ke rumah Paul. Tapi baru saja kekuatan dari permen agios yang mereka telan mulai bekerja, mereka malah dikejutkan dengan tubrukkan yang menyakitkan. Nico dan Abbas benar-benar kurang beruntung. Di saat Paul dan Colin muncul di atas rerumputan yang lembut, mereka malah muncul di permukaan aspal yang keras.


"Kita berhasil, huh?" Nico membangkitkan badannya yang tadi berada dalam posisi terjungkal di atas aspal. "Kupikir, kita akan muncul di kutub utara, atau setidaknya, di sarang buaya, tapi rupanya tidak demikian. Aku cukup kecewa." Nico mengambil kaca matanya yang tergetak di aspal lalu memakainya dengan gaya yang elegan. Lalu, Nico memandang Abbas yang malah sedang terbaring santai di atas aspal. "Kau sedang apa? Melakukan yoga di siang hari begini? Dan di atas aspal? Bodoh sekali," Nico menggelengkan kepalanya melihat kondisi Abbas. "Cepatlah bangun. Kita harus bergegas ke rumah Paul."


Nico dengan tenang, melangkahkan kakinya, tanpa peduli pada Abbas yang mengikutinya atau pun tidak. Dipikiran Nico, setidaknya dia sudah memperingatkan itu pada Abbas, jika lelaki kekar berkulit hitam itu tidak mendengarnya, maka itu bukan salahnya, itu murni salah Abbas. Karena itulah, Nico tampak santai meninggalkan Abbas. Lagi pula, dia punya alasan itu untuk mengelabui Paul dan yang lainnya.


Mendengar suara jejak kaki Nico yang kian menjauh, Abbas membangkitkan tubuhnya pelan-pelan, dari terduduk, berjongkok, sampai akhirnya berdiri sempurna. Abbas cukup kaget, karena tempat ini sangat terang, tidak seperti Cocoa yang selalu mendung dan turun hujan. Di sini, panas dan sepi. Tapi sayup-sayup Abbas mendengar kebisingan di tempat yang jauh. Saat Abbas menengok ke sumber suara, ia dengan jelas melihat siluet gedung-gedung tinggi dari kejauhan, sepertinya suara bising tadi berasal dari sana. Dari pusat kota.


"Eh?" Nico terkejut ketika Abbas tiba-tiba berjalan di sampingnya. "Energimu seperti seekor kuda, ya? Padahal aku yakin, aku sudah meninggalkanmu beratus-ratus meter jauhnya, tapi kau berhasil menyusulku hanya dalam waktu satu menit. Kau terlalu menakutkan, Abbas."


Abbas hanya tersenyum tipis sebagai respon dari ucapan yang Nico lontarkan padanya. Nico pun memakluminya, sebab orang pendiam seperti Abbas, memang tidak pandai berbasa-basi. Mereka hanya akan menunjukkan ekspresi muka sebagai respon daripada menimpalinya dengan perkataan. Orang-orang pendiam seperti Abbas, terlalu malas dalam berbicara. Lalu, mengapa mereka tidak disebut sebagai orang pemalas saja? Nico tersenyum saat memikirkan itu. Kemudian, senyumannya langsung sirna dalam seketika, ia menolehkan perhatiannya pada Abbas.


"Kita sedang berada di Kota Swart, tepatnya di sebuah perumahan yang selalu sepi, dan di antara rumah-rumah ini, terdapat rumahnya Paul. Tenang saja, aku hafal bentuk rumahnya."


Abbas mengangguk-angguk paham. Berkat penjelasan itu, akhirnya Abbas sadar bahwa tempat yang sedang dipijakkinya bukan lagi Kastil Roswel atau pun Kota Cocoa, melainkan wilayah dari Kota Swart. Jadi begini, ya, Kota Swart, indah sekali. Abbas senang dibawa ke sini, soalnya ini pertama kalinya ia kemari dan ternyata suasananya sangat cerah dan menenangkan, meskipun begitu, bukan berarti ia membenci kampung halamannya sendiri. Kota Cocoa tetap jadi nomor satu di hati Abbas, sebab banyak sekali kenangan manis, pahit, asam, dan asin di sana. Tidak mungkin Abbas melupakannya begitu saja.


Karena Abbas tidak merespon ucapannya, terpaksa Nico yang memikirkan topik pembicaraan agar situasi tidak terasa hening dan canggung. Nico terus memutar otaknya untuk mendapatkan sesuatu yang menarik untuk dibahas, apa saja boleh, yang penting bisa dijadikan bahan pembicaraan. Beberapa detik ia memeras otak, akhirnya Nico menemukan sebuah pertanyaan yang cukup penting dan menarik untuk dibahas. Cepat-cepat Nico menanyakannya pada Abbas.

__ADS_1


"Selama di Kota Cocoa, kau sama sekali belum menceritakan tentang kondisi keluargamu padaku," ucap Nico dengan intonasi tenang. "Jadi di mana keluargamu, saat kau diasingkan oleh penduduk kota? Mengapa mereka tidak datang saat kau hidup sendirian di gubuk sederhana? Apakah mereka tidak peduli pada dirimu?" Sejenak, Nico jadi teringat masa lalunya, tapi buru-buru ia melupakan itu.


Abbas tersenyum masam mendengar pertanyaan itu, Nico sedikit tidak enak melihatnya, apakah pertanyaannya terlalu menyakitkan untuk dibahas, hingga Abbas menampilkan ekspresi seperti itu? Nico jadi merasa bersalah, mungkin dia harus mengganti kata-katanya agar terdengar lebih ramah. Tapi, saat Nico hendak bersuara, Abbas lebih dulu berbicara dengan suara baritonnya yang berat.


"Mereka," kata Abbas dengan wajah yang sendu. "... telah tiada."


Saat itulah, mata Nico membelalak saking kagetnya. "A-Ah...," Nico terdiam sejenak. "Maaf kalau begitu, aku tidak tahu." Nico menggaruk-garuk belakang lehernya dengan gelisah. Jadi begitu, ya, alasan keluarga Abbas tidak menemani dirinya saat hidup sendirian di tempat yang sepi, di dalam gubuk reyot yang nyaris roboh--meski kondisi gubuknya saat ini sudah luluh-lantah terkena serangan orang-orang berjubah putih. Nico benar-benar merasa bersalah karena menanyakannya.


Tiba-tiba Abbas mengelus-elus rambut putih Nico dengan lembut, membuat sang empunya terkaget. "Tidak apa-apa," kata Abbas dengan senyuman hangatnya, mencoba menenangkan Nico dari rasa bersalah. Sebetulnya, Nico risih kepalanya diusap-usap, tapi untuk kali ini, ia membiarkan Abbas melakukannya.


Suasana kembali hening.


Nico harus mencari topik pembicaraan lagi agar suasana tidak canggung, sedangkan Abbas malah sedang santai memandang ke depan, tidak memusingkan apakah situasi sedang hening atau pun tidak. Kekuatan orang pendiam benar-benar menakutkan, pikir Nico.


"Bukankah itu," Nico sedikit lupa pada namanya, sekuat tenaga ia mencoba untuk mengingatnya, dan akhirnya ketemu. "... Koko."


Abbas menoleh pada Nico saat orang itu menyebut nama asing. "Siapa Koko?" tanya Abbas pada Nico, tampak penasaran siapa orang yang memiliki nama unik tersebut.


"Kau mau tahu?" ucap Nico dengan menampilkan raut sombongnya sambil menekan kaca mata yang agak turun di hidungnya. "Kalau begitu, lihatlah ke depan, di sana ada Koko."

__ADS_1


Menuruti ucapan Nico, Abbas menatap ke depan, dan ia tidak melihat siapa pun selain seorang gadis cantik berambut panjang yang tampak berjalan ke arah mereka. "Namanya Koko? Tapi aku tidak melihatnya, di depan kita hanya ada seorang perempuan."


Nico menepuk jidatnya kesal. "Dasar bodoh," kata Nico. "Wujud yang kau anggap sebagai perempuan itu adalah Koko, bodoh!"


Koko yang sedang berjalan sambil matanya merenung, menatap ke tanah, mendadak kaget mendengar namanya seperti dipanggil-panggil oleh seseorang. Saat Koko menegakkan kepalanya, ia bisa melihat ada dua sosok lelaki yang sedang berjalan jauh di depannya.


"Jangan-jangan...," Koko memicingkan matanya, untuk melihat lebih jeli pada dua sosok tersebut. "....itu adalah Nico dan Abbas?" Koko tahu nama Abbas disebabkan karena ia mengingat perkataan Paul yang pernah menyebut nama itu saat ia bertemu dengannya di belakang rumah. "Mereka... sudah pulang, ya." Koko cukup senang melihat kepulangan Nico dan orang yang bernama Abbas.


Tapi Koko bingung harus berkata apa, sebab hatinya sedang dilanda rasa sakit, bahkan untuk tersenyum saja, rasanya menyakitkan. Karena itulah, saat Nico dan Abbas mulai mendekat, buru-buru Koko balik arah dan lari sekencang-kencangnya dari mereka.


"Hah.. Hah..." Dirasa sudah sangat jauh, Koko mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan di bawah pohon, tepat di depan gerbang rumah orang lain. Napasnya tersengal-sengal, keringat membasahi pakaiannya. "Kurasa... aku sudah aman."


"Aman apanya?"


Tiba-tiba, Koko mendengar suara seseorang di sampingnya, saat ia menoleh, tertampaklah sesosok lelaki kekar sedang berdiri sambil menggendong lelaki berkaca mata di punggungnya. Dan mereka adalah Abbas dan Nico.


"Eh?" Koko terbelalak melihatnya. "Mustahil... seharusnya kalian tidak bisa menyusulku secepat ini."


Nico tersenyum miring digendongan Abbas, setelah mendengar omongan Koko. "Kau tidak tahu, ya?" kata Nico dengan menepuk-nepuk pundak Abbas. "Orang ini larinya sangat cepat dan dia juga punya banyak energi. Untuk mengejarmu, bukan hal yang sulit bagi Abbas."

__ADS_1


Abbas hanya tersenyum tipis saat Nico memperkenalkan dirinya pada Koko. "Aku Abbas," kata Abbas dengan suara beratnya. "Senang bertemu denganmu, Koko."


Koko tidak tahu harus bilang apa selain, "M-Mustahil!"


__ADS_2