Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 97 : Pelayan Kedai


__ADS_3

"Berani-beraninya kalian mendahuluiku! Brengsek!" Paul membentak Abbas dan Isabella setelah dirinya sampai di aula terbuka di lantai dasar. Di sini suasananya cukup ramai, banyak pengunjung yang berlalu-lalang di tengah aula, meskipun begitu, mereka tidak berisik, sangat tenang dan tertib, hanya terdengar suara langkah sepatu saja yang mengetuk-ngetuk lantai. "Lagi pula, tidak perlu menungguku pagi-pagi begini! Aku tidak pernah bilang kita bakal berangkat pada pukul setengah enam pagi! Karena biasanya aku selalu berangkat pukul tujuh atau delapan! Dan kalian malah membuatku malu! Kesannya aku seperti orang yang telat di sini! Brengsek!"


Isabella dan Abbas--yang tengah duduk berendeng di kursi besi yang disediakan di tepian tembok aula--menolehkan pandangannya pada Paul yang baru datang, dan anehnya, lelaki itu malah memarahi mereka seakan-akan mereka berdua telah melakukan hal yang salah. Alhasil, Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya sembari merespon ucapan Paul dengan nada yang menggoda.


"Ya ampun, kau ini ada ada saja, ya?" Isabella menyunggingkan senyuman tipisnya dengan kesan terheran. "Padahal kami sudah berusaha bangun lebih awal, karena kami telah terpilih untuk menemanimu ke Kota Barasta, dan tentu saja kami berjuang sekuat tenaga untuk bangun lebih pagi dari biasanya agar tidak mengecewakanmu. Tapi apa ini? Kau malah memarahi kami dengan begitu ganasnya? Seharusnya kami mendapatkan pujian karena bisa datang lebih awal darimu," Isabella mendecakkan lidahnya dengan tatapan datar. "Kalau kau masih saja seperti itu," Isabella menjilat bibirnya dengan penuh nafsu. "Aku akan menggigit tongkat yang menggantung di selangkanganmu itu, hingga tak tersisa."


Paul tersentak mendengarnya, sambil membayangkan alat vitalnya digigit oleh Isabella hingga patah, rusak, hancur, dan berdarah-darah. Paul cepat-cepat menggelengkan kepala dengan cepat, agar imajinasi mengerikan itu lenyap dari kepalanya. Ia pun langsung menoleh pada muka Abbas, untuk mendengar respon yang mungkin akan diberikan padanya. Tapi sayangnya, Abbas hanya diam dan diam, dengan memasang muka 'biasa saja' pada Paul. Alhasil, Paul kembali bersuara untuk membalas perkataan Isabella.


"Baiklah! Aku minta maaf!" kata Paul dengan blak-blakan meminta maaf pada mereka, membuat dua muridnya itu terkejut, terutama Isabella yang tidak pernah menyangka orang sekasar Paul bisa meminta maaf secara langsung pada orang lain. "Pokoknya aku berterima kasih karena kalian telah bersedia menemaniku berkunjung ke Kota Barasta!" Paul memandang muka Isabella dan Abbas, bergiliran. "Sekarang! Ayo kita berangkat!"


Paul langsung memandu Abbas dan Isabella untuk keluar dari area hotel. Dan sesampainya di teras hotel, Paul berseru pada mereka berdua, "Sebelum itu, kita harus sarapan dulu! Aku tahu kalian pasti belum sempat sarapan, kan!? Maka dari itu! Ayo kita mampir ke Kedai Colin!"


"Ah, sarapan, ya?" Isabella tersenyum tipis. "Kalau begitu ayo kita ke sana, sekalian juga," Isabella terkikik. "Aku ingin bertemu dengan orang yang bernama Colin." Isabella memasang muka penasaran. "Kira-kira seperti apa, ya? Dia itu?"

__ADS_1


"Kurang lebih! Colin itu seorang pecundang! Pengecut! Tak berguna! Dan berisik!" jawab Paul dengan tegas, mendeskripsikkan kepribadian Colin pada Isabella--walau yang disebut hanya keburukannya saja.


Isabella mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berkata, "Hmmm, jadi begitu, ya?" Isabella menoleh pada Abbas. "Bagaimana menurutmu, Abbas?" kata Isabella meminta respon dari lelaki berbadan kekar yang berdiri di sampingnya. "Apakah Colin itu memang seperti pecundang, pengecut, tak berguna, dan berisik, di matamu? Hm?"


Mendengar pertanyaan itu, Abbas langsung menggelengkan kepalanya dengan mengatakan, "Tidak," Abbas memasang muka tenang. "Colin tidak begitu di mataku," Abbas mulai menyunggingkan senyuman tipisnya pada Isabella. "Di mataku, Colin adalah sosok yang sangat baik."


"Dia memang menganggap semua orang itu baik!" sergah Paul, membuat Isabella dan Abbas menatapnya. "Jangan meminta pendapat dari orang ini! Dia tidak bisa melihat keburukan orang lain! Itulah yang membuatnya tidak bisa jujur dalam menilai seseorang!"


"Tapi," Isabella menampilkan senyuman mengejek pada Paul. "Kau juga sama, kan?" Paul terkejut mendengarnya. "Ya ampun, ada ada saja, ya?" Isabella menggeleng-gelengkan kepala, seolah-olah apa yang dikatakan Paul itu tidak masuk akal. "Kau dengan mudah menganggap penilaian Abbas tidak bagus, karena dia hanya melihat sisi kebaikan orang lain saja. Dan di sisi yang sama, kau juga tidak jauh berbeda dengan Abbas. Kau hanya bisa melihat sisi keburukan orang lain saja. Aku benar, kan? Paul?"


"Hahh, sia-sia saja, ya? Berbicara dengan kalian," Isabella langsung melangkahkan kakinya mendahului Paul dan Abbas yang masih berdiri dalam diam. "Aku sudah mengontak pilotku, dan sebentar lagi helikopter pribadiku akan tiba. Jadi, cepat antarkan kami ke kedai Colin, Paul. Hanya kau yang tahu letaknya, kan?" Isabella tersenyum nakal. "Jujur saja, yang aku tahu di kota ini hanya letak ************ para lelaki saja, jadi menyerahlah. Jangan andalkan aku dalam mencari lokasi kedai itu."


Paul--dengan muka yang tampak jengkel--mulai berjalan cepat, mengarahkan Isabella dan Abbas, menuju kedai tempat Colin bekerja, untuk sarapan sebentar di sana--yang kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari gedung hotel yang mereka tempati.

__ADS_1


"Ini kedainya?" Isabella mengernyitkan alis setelah Paul berhenti di depan sebuah kedai mungil yang cukup sederhana.


"Ya! Ini kedainya!" jawab Paul dengan tegas. "Ayo masuk! Perutku sudah keroncongan!"


Paul pun langsung mendorong pintu kedai, menimbulkan suara gemerincing bel yang menggantung di atap pintu. Isabella dan Abbas mengekori Paul dari belakang, dan akhirnya duduk di meja yang dipilih sang mentor. Paul menengadah, menghirup aroma kedai yang sudah lama tak dikunjunginya. Terakhir kali dia mengunjungi kedai ini saat petualangan pertama mencari pahlawan, yang telah mendapatkan Colin sebagai pahlawan pertama di sini.


Suasana kedainya cukup ramai dan bising, banyak sekali pelanggan yang tertawa-tawa dengan rekan-rekannya di setiap meja di ruangan ini. Pelanggan-pelanggannya pun tidak hanya orang dewasa saja, ada anak kecil, remaja, bahkan lansia. Semuanya terlihat sedang menikmati makanan dan minuman yang tersaji di meja masing-masing, banyak juga pelayan yang tampak sibuk, mondar-mandir membawa nampan yang berisi makanan mau pun minuman untuk diantarkan ke meja pemesan.


"Ramai sekali, ya?" Isabella menolah-noleh ke tiap sudut di ruangan kedai, sembari menyunggingkan senyuman tipisnya yang dibaluti lipstik merah. Kemudian, Isabella kembali memutar kepalanya untuk memandang muka dua lelaki yang duduk di meja yang sama dengannya. "Jadi, kalian akan pesan apa?" Isabella mengambil selembar kertas yang tergolek di meja yang berisi daftar menu. "Kalau aku, sih. Hmmm. Sepertinya ini enak, aku pesan ini saja. Dan minumannya, aku pilih ini." Setelah menunjuk-nunjuk apa yang ingin dilahapnya, di kertas menu tersebut, Isabella langsung memanggil pelayan yang sedang mondar-mandir. Alhasil, pelayan yang merupakan seorang lelaki berambut biru tersebut mendatangi meja yang Isabella tempati.


"Ada yang bisa saya bantu?" kata pelayan berambut biru itu, yang tidak lain tidak bukan, adalah Colin.


Isabella dengan tampang menggoda, menunjukkan pesanan-pesanan yang dipilihnya pada Colin. Kemudian, saat muka Colin beralih pada muka dua lelaki yang duduk di seberang Isabella, ia terkejut.

__ADS_1


"Paul!? Abbas!?" Colin tersentak, bahkan sampai menggebrak meja. "Kalian sedang apa di sini!?"


__ADS_2