Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 111 : Aku Bisa Tenang


__ADS_3

Di salah satu sekolah menengah atas di Kota Swart, tepatnya di sebuah ruang kelas yang dulunya merupakan kelasnya Paul, terlihatlah seorang gadis berambut hitam panjang bergelombang yang sedang membereskan alat-alat belajarnya untuk dimasukkan ke dalam tas ranselnya. Kelas tampak sepi, hanya ada gadis itu di sana. Dari luar kelas, langit sudah berwarna kekuningan, menandakkan waktu petang telah menampakkan diri.


"Seperti biasa, kau keras sekali, ya, Olivia?"


Terdengar suara seseorang dari ambang pintu kelas, membuat gadis itu menolehkan kepalanya ke sumber suara.


"Eh? Kau belum pulang?" Olivia tersentak saat menemukan salah satu teman sekelasnya sedang berdiri tegak di mulut pintu.


"Seharusnya aku yang bilang begitu padamu, bodoh." Tampaknya dia adalah seorang gadis sama seperti Olivia, rambutnya hitam namun panjangnya hanya sebahu. Dia punya banyak jerawat di wajahnya dan senyumannya agak dingin.


"Maaf, aku barusan mengerjakkan PR, saking fokusnya, aku sampai lupa kalau ini sudah sore."


"Kebiasaan sekali, dasar."


"Ngomong-ngomong," Olivia kembali bersuara setelah alat-alat belajarnya sudah dimasukan ke dalam tas, dan tasnya pun sudah digendong di punggung. "Mengapa kau masih belum pulang juga, Refana? Apakah kau juga mengerjakkan PR sama sepertiku di suatu tempat di sekolah ini?"


"Hahahahaha!" Refana, nama gadis berjerawat itu, terbahak-bahak saat Olivia menyangkanya begitu. "Mana mungkin! Aku tidak segiat dirimu yang langsung mengerjakkan PR di kelas sampai lupa waktu seperti itu. Hahaha!"


"Eh?" Olivia memiringkan kepalanya, keheranan pada tingkah Refana yang menertawakannya. "Jika bukan itu, lalu apa?"


"Masa kau sampai lupa, sih?" Refana memberengutkan mukanya seperti anak kecil yang sedang ngambek. "Aku ikut eskul, loh! Eskul basket!"


"Oh?" Olivia baru ingat soal itu. "Maaf, aku lupa."


"Tidak masalah," jawab Refana dengan senyum lebarnya. "Kau, kan memang begitu, selalu melupakan hal-hal yang menyangkut dengan diriku."


Olivia jadi terkejut. "Itu mustahil, aku tidak begitu, Refana!"


"Hahaha! Bercanda-bercanda! Aku hanya bercanda, ayolah!"


"Kau mengejutkanku, dasar."


"Hehehe!" Kemudian Refana kembali bertanya pada Olivia dari posisinya yang masih berdiri di ambang pintu, belum bergerak seinci pun dari sana. "Apa kau mau pulang? Kalau memang iya, ayo pulang bersamaku!"

__ADS_1


"Ah, terima kasih, tapi kau tidak perlu repot-repot, Refana."


"Ayolah! Kau bawa sepeda, kan? Kebetulan, hari ini aku lupa membawanya, jadi boleh, kan? Aku nebeng denganmu? Heheheh!"


"Benarkah? Kalau begitu, baiklah."


Olivia dan Refana pun pulang bersama dengan menaiki sebuah sepeda, mereka duduk di sepeda yang sama--Olivia berada di tempat penumpang sedangkan Refana jadi sopir. Suara serangga yang bercicit-cicit di pepohonan melengkapi suasana sore ini. Refana mengayuh sepeda itu sekuat tenaga, keringatnya sampai membasahi sekujur badannya. Olivia mencengkram pinggul Refana kuat-kuat agar keseimbangannya di atas sepeda tidak goyah.


"Loh? Mengapa kau mengambil jalan ini? Bukankah jalan ini membuat jarak rumah kita jadi semakin jauh?"


Olivia terheran-heran saat sepeda yang dikendalikan oleh Refana malah  masuk ke arah jalan yang berbeda.


"Tidak apa-apa, kan? Lagipula, ada sesuatu yang ingin aku bahas denganmu, dan sepertinya bakal memakan waktu yang agak lama."


"Eh?" Dari belakang Refana, Olivia berjengit mendengarnya. "Kalau memang begitu, katakan saja, aku akan mendengarnya. Tapi kumohon jangan lama-lama, ya? Soalnya aku lelah sekali."


"Kalau Olivia sampai bilang begitu, apa boleh buat. Hehehe!"


Sepeda masih bergerak lurus, menyusuri jalanan perumahan yang cukup sunyi, sinar mentari sore tampak terang, awan-awan putih yang berarak mulai terpisah-pisah membentuk sesuatu yang abstrak. Burung-burung bangau terbang melintasi langit kuning, bermigrasi ke suatu tempat. Sungguh pemandangan langit sore yang sangat menenangkan.


"Sebenarnya dari dulu aku ingin mengatakannya padamu, tapi aku selalu gagal. Jadi kupikir, berada di momen seperti ini, adalah kesempatan bagus untukku membicarakan hal itu denganmu."


Olivia membisu sesaat, menunggu Refana memulainya.


"Ini mengenai," Refana melanjutkannya dengan nada yang cukup serius, meski kakinya masih terus mengayuh sepeda. "Teman sekelas kita, yang telah dikeluarkan dari sekolah."


Pikiran Olivia langsung teringat pada sosok Paul saat Refana mengatakan itu. Entahlah, tapi yang jelas, satu-satunya orang dikelas yang telah dikeluarkan dari sekolah hanyalah Paul.


"Apakah yang kau maksud itu Paul?"


"Benar. Yang kumaksud adalah anak itu."


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan tentang Paul?"

__ADS_1


"Kalau Olivia bertanya begitu, aku jadi gugup, nih! Hehehe!"


"Ayolah Refana, serius sedikit." Olivia menepuk punggung Refana dari belakang, saking sebalnya.


"Baiklah, aku akan langsung ke intinya," Kemudian, Refana terdiam sesaat. "Olivia, kau juga tahu, kan? Aku ini salah satu orang yang pernah menyudutkan Paul di kelas, saat dia masih hadir di tengah-tengah kita."


"Sepertinya begitu, ingatanku agak kabur, sih."


"Aku tidak tahu akan seperti apa reaksimu selanjutnya, tapi aku bicara begini karena aku sangat membenci diriku sendiri," Suara Refana jadi sedikit lebih dingin dari sebelumnya. "Olivia, kau mungkin belum tahu soal ini, tapi aku akan jujur padamu."


Entah kenapa, Olivia jadi merasa tegang dari biasanya saat Refana bilang demikian. Seakan-akan ada bom waktu di dalam tubuhnya yang bisa meledak kapan saja.


"Refana, aku tidak suka ini, kau membuatku panik."


"Maaf, tapi aku tidak mau menyembunyikannya lebih lama lagi darimu," Refana meneguk ludahnya, sama-sama merasa tegang seperti Olivia. "Penyebab Paul dijauhi, dibenci, dan diejek oleh teman sekelas kita, itu semua bermula dari masalahku."


"Masalahmu? Apa maksudnya?"


"Begini," Tangan-tangan Refana yang sedang memegang erat gagang sepeda, jadi gemetaran. "Aku lah orang yang telah membuat Paul jadi dibenci oleh teman-teman sekelas. Itu semua berawal saat dia berusaha membantuku di hari pertama sekolah."


"Membantumu? Tunggu, aku tidak mengerti."


"Ketika aku dijahili oleh para senior, Paul menolongku dengan menarik tanganku untuk pergi dari hadapan para senior. Saat itu aku kaget, karena tiba-tiba ditarik begitu. Dia terus menarikku hingga akhirnya, kami berada di atap gedung sekolah. Paul, dengan kasarnya, menasehatiku untuk tidak ceroboh saat berinteraksi dengan para senior, aku yang terkejut dengan sikap kasarnya Paul, jadi marah. Bukannya terima kasih, aku malah mengatakan hal-hal yang kejam padanya. Sampai akhirnya, kami bertengkar hebat di sana, aku jadi menyimpan dendam pada Paul." Refana menghela napasnya. "Saat tahu aku sekelas dengannya, aku mulai menghasut teman-teman yang lain untuk ikut membenci Paul. Rencanaku berhasil, sebagian besar orang di kelas, mulai menunjukkan kebenciannya pada Paul. Dan busuknya, aku senang karena itu."


Olivia terbungkam setelah mendengar itu semua.


"Kesenanganku memuncak saat mendengar Paul dikeluarkan dari sekolah, di situ, aku benar-benar bahagia, rasanya seperti mendapatkan kelegaan yang luar biasa. Aku bahkan bersorak-sorai bersama teman-teman yang lain, merayakan momen dikeluarkannya Paul dari sekolah. Namun, segala kegembiraan itu sirna saat kau menyetel rekaman itu di rumah Paul, terutama saat Ibunya Paul menghujat kami habis-habisan. Itu adalah momen yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup."


"Tapi itu salahmu, kan? Kau bersama yang lain, merencanakan sesuatu yang gila. Tentu saja aku tidak bisa membiarkannya. Makanya, aku--"


"Ya, aku mengerti. Tapi bukan itu maksudku. Aku membicarakan ini bukan semata-mata curhat atau sejenisnya. Aku mengatakan ini karena aku merasa kalau aku ini manusia yang sangat menjijikan. Aku adalah orang yang tidak tahu terima kasih, sampai membuat lelaki yang menolongku, menghadapi rangkaian kejadian yang menyakitkan di sekolah. Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Jadi kumohon, Olivia."


"Apa?" Olivia bertanya karena Refana tiba-tiba memanggil namanya.

__ADS_1


"Tolong hukum aku. Hukum aku seberat-beratnya, aku adalah manusia yang kotor, aku adalah sampah. Aku benar-benar menjijikan! Jadi kumohon, hukumlah aku hingga darahku berceceran, tubuhku gemetar, napasku sesak, dan kulitku terkoyak. Aku harus melalui semua itu agar...," Refana menahan tangisnya. "... aku bisa tenang."


Olivia terbelalak mendengarnya.


__ADS_2