
Melihat Cherry tersinggung pada ucapan yang Paul katakan, membuat Naomi gelisah, ia harus bisa mendinginkan emosi gadis mungil itu sebelum pertengkaran hebat tercipta di gerbong yang mereka huni, dan pastinya kalau itu terjadi, maka akan mengganggu para penghuni lain. Karena itulah, Naomi cepat-cepat angkat suara sebelum amarah Cherry semakin meledak-ledak.
"Cherry," ucap Naomi sambil meniru perlakuan Tante Elena saat menenangkan seseorang, yaitu dengan mengusap-usap pundak orang tersebut agar emosinya bisa tenang. "Paul tidak bermaksud mengejek Anda, dia hanya terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan yang kasar. Bukankah Paul memang seperti itu? Anda pun pasti lebih tahu dari saya, sebab Anda lah yang lebih lama tinggal bersama Paul dibanding saya. Jadi saya mohon, jangan marah dengan ucapan Paul, ya, Cherry."
"Jadi maksudmu!?" Cherry langsung menatap muka Naomi dengan tatapan yang bengis. "Selama itu adalah Paul, maka akan diperbolehkan untuk mengolok-olok Cherry!? Begitu maksudmu!?" Sekali lagi, Cherry memggeram layaknya seekor banteng. "Jangan kira hanya karena Cherry tinggal bersama Paul lebih lama, maka Cherry akan terbiasa dengan ejekan-ejekan seperti itu!" Cherry menggebrak meja dengan keras, hingga semua makanan dan minuman terangkat dalam sedetik. "PAUL! KAU HARUS MINTA MAAF PADA CHERRY! SEKARANG!"
Mendengar itu, Paul menyunggingkan senyuman miringnya yang tampak menjengkelkan di mata Cherry. "Minta maaf? Apanya? Aku sama sekali tidak merasa telah melakukan hal yang salah di sini, kaunya saja yang terlalu manja! Itulah mengapa kau masih seperti bocah, tingkahmu saja masih kekanak-kanakkan! Ubah dulu sikapmu itu, bocah!"
"K-Kasar sekali!" Cherry terbelalak mendengarnya, perlahan-lahan, air matanya mengucur. "HUAAAAA!!! PAUL JAHAT! JAHAT! JAHAAAAAT!" Cherry langsung melompat ke badan Naomi dan menangis tersedu-sedu di dada gadis berkerudung itu, sambil menjerit-jerit histeris. "HUAAAA! POKOKNYA PAUL JAHAT PADA CHERRY! ASAL PAUL TAHU! CHERRY INI SUDAH LIMA BELAS TAHUN! CHERRY BUKAN BOCAH LAGI, TAHU! HUAAAAAAA!"
"Tapi tingkahmu masih seperti bocah, bodoh!"
Dan akhirnya, tangisan Cherry semakin kencang saat mendengar balasan Paul yang masih saja mengejeknya. Tapi itu hanya berlangsung selama lima menit, karena Cherry memaksakan diri untuk berhenti menangis agar tidak disebut sebagai bocah lagi oleh Paul, walau napasnya masih terdengar sesenggukkan. Naomi senang melihat Cherry seperti itu, rasanya seperti melihat anak kecil yang berusaha menahan tangisannya, dan itu benar-benar menggemaskan. Sementara Paul tidak peduli pada perilaku Cherry, dia hanya lega karena akhirnya suara tangisan yang berisik dan mengganggu itu sudah usai.
Tiba-tiba, saat suasana sudah kembali hening, dinding kereta berbunyi, menyuarakan tiga bunyi bel yang khas serta suara wanita yang menyampaikan informasi bahwa saat ini kereta listrik sudah sampai di stasiun Kota Luna. Mendengar itu, Paul, Naomi, dan Cherry, bergegas keluar gerbong setelah membereskan sampah-sampah yang mereka buat di sana.
__ADS_1
Udaranya sejuk dan suasananya ramai, Paul, Naomi, dan Cherry terkagum dengan kondisi Kota Luna yang tampak hingar-bingar. Di sini--tidak seperti kota-kota sebelumnya--banyak sekali lampu temaram yang masih menyala padahal ini masih siang, lalu orang-orangnya pun--yang berlalu-lalang--terlihat mengenakkan pakaian-pakaian yang trendi dan kekinian, bahkan untuk para orang tua sekali pun. Benar-benar kota yang sangat modis.
Selain itu, suasana kotanya pun dihiasi dengan alunan lagu hip-hop yang diputar di menara tertinggi, sehingga membuat situasinya jadi terasa gaduh namun menyenangkan. Bahkan Cherry pun terlihat menikmati alunan-alunan musik yang diputar di kota ini, kaki, pinggul, tangan, dan lehernya tampak menari-nari kecil, mengikuti lantunan lagu.
Sementara Naomi malah sebaliknya, dia tampak tidak nyaman berada di sini, di kota yang orang-orangnya memakai pakaian-pakaian yang terbuka dan tidak senonoh, itu benar-benar melanggar norma kesopanan dan agama. Tapi mengapa tidak ada yang malu saat pakaian yang mereka kenakan memperlihatkan belahan dada, pantat, dan perut ke muka umum. Naomi ingin sekali merutuk pola perilaku orang-orang yang ada di sini mengenai tata cara berpakaian, tapi ia harus menahannya, apalagi di sini ada Paul dan Cherry, yang kemarin malam ia sudah berjanji untuk tidak lagi menyangkut-pautkan segala hal yang ia lihat ke dalam ajaran agamanya. Naomi harus bisa menahannya, itu harus, sangat harus.
"Di sini menyenangkan sekali! Cherry suka berada di sini! Hihihihi!"
Cherry tampak gembira saat mengungkapkan hal itu ketika mereka bertiga tengah berjalan di tepian jalan, melewati berbagai toko yang bersinar-sinar, dan berbagai macam mobil mahal yang terlihat keren dan menawan, yang melaju kencang di jalanan kota.
"Tidak buruk," kata Paul dengan cuek. "Aku tidak membenci kota ini."
"Itu artinya, Paul menyukai Kota Lunaaa! Hihihi! Cherry juga suka, kok! Soalnya kota ini benar-benar menyilaukan! Cherry sampai ingin tinggal di sini! Hihihi!"
"Paul," Naomi kembali bersuara, dengan kepala mengarah ke hadapan Paul. "Apakah Anda sudah tahu di mana Isabella berada? Kita tidak mungkin, kan? Mencari satu orang di antara luasnya kota ini? Saya harap Anda mengetahui lokasinya."
__ADS_1
"Tidak," balas Paul dengan cepat. "Aku tidak tahu dia berada di mana."
"Eh?" Naomi tercekat mendengarnya. "Lalu bagaimana cara kita menemukannya?"
Paul langsung memukul lengannya sendiri dengan menyeringai. "Itu mudah!" Paul langsung merogoh ponsel yang disimpannya di kantung celana, untuk mengambilnya. Setelah benda persegi panjang itu berada di tangan kanannya, Paul menyalakannya lalu mengunduh beberapa aplikasi.
"Anda sedang apa, Paul? Tiba-tiba menatap layar ponsel dengan serius begitu?" tanya Naomi, terheran-heran dengan tingkah Paul. Cherry juga demikian, ia tidak mengerti pada perilaku Paul yang mendadak aneh begitu.
"Mungkin Paul sedang meminta bantuan pada Roswel!? Hihihihi!" terka Cherry, dengan mengingat makhluk bernama Roswel yang sering membantu Paul dalam menyelesaikan suatu masalah.
"BUKAN!" sergah Paul, menyalahkan omongan Cherry yang asal ucap. "Untuk apa aku meminta bantuan orang itu!? Aku tidak semenyedihkan itu! Brengsek!" Paul langsung menyodorkan layar hapenya ke hadapan Naomi dan Cherry. "Aku sedang mengunduh beberapa aplikasi khusus prostitusi! Dan lihat ini!" Jempol Paul menekan satu aplikasi berwarna merah yang simbolnya bunga mawar. Ketika halaman aplikasi itu terbuka, Naomi dan Cherry terkejut karena di halaman awal, mereka bisa melihat urutan pelacur paling hits di tahun ini, dari yang paling populer sampai ke para pemula, dan sosok yang menempati posisi paling atas, adalah seorang perempuan berambut merah panjang, berwajah cantik, bertubuh langsing, dan mengenakan pakaian kelinci yang seksi, dibawah fotonya tertulis nama 'Isabella Melvana'.
"Jangan-jangan!" Cherry menutup mulutnya menggunakan tangan kiri saking kagetnya. "Pelacur yang paling populer di aplikasi 'Mawar' adalah pahlawan baru kita, Isabella!?"
Paul, dengan cengiran lebarnya, mengangguk cepat. "Bukan hanya itu! Saat kita menekan fotonya! Kita akan mendapatkan beberapa informasi mengenai gadis bernama Isabella Melvana ini! Contohnya seperti," Paul menyeringai lebar. "Nomor teleponnya!"
__ADS_1
Naomi dan Cherry terbelalak mendengarnya.