
Seketika, setelah kemunculan Roswel dari dalam lift, seisi gedung Fufirm--rumah sakit jiwa khusus gadis belia--jadi heboh, dari lantai atas hingga bawah, semua pintu-pintu yang mengurung para gadis gila terbuka secara bersamaan, membuat gadis-gadis itu keluar dari ruangannya dan mengamuk, merusak semua benda yang ada di hadapan mereka, dan Roswel melakukannya hanya dengan menjentikkan jarinya saja.
Alhasil, semua perawat di setiap lantai kerepotan mengurusi gadis-gadis gila yang mulai memberontak. Namun di lantai tujuh, tempat Roswel berdiri. Tidak seperti di lantai-lantai lainnya, para perawat di sini tidak mau bertanggung jawab untuk menenangkan pasien-pasiennya, mereka malah ingin melarikan diri dari Fufirm, tapi sayangnya usaha mereka digagalkan oleh Roswel. Karena lelaki pucat itu langsung muncul di dalam lift yang akan mereka gunakan.
Karena kesal pada Roswel yang menghalangi jalan mereka, para perawat di lantai tujuh membentak-bentaknya untuk keluar dari lift tersebut. Namun, dengan santainya, Roswel mengatakan pada mereka bahwa semua pasien yang ada di lantai tujuh sedang berlarian ke arah mereka, dan gadis-gadis perawat itu langsung menjerit-jerit histeris ketika melihat pasien-pasiennya mendatangi mereka dengan membawa pedang-pedang yang sangat tajam.
"Kalau begitu, selamat bersenang-senang, Nona-Nona." ucap Roswel pada semua perawat di sana ketika melihat mereka sedang menjerit ketakutan, dan dengan perlahan, pintu lift pun kembali tertutup, dan sebuah sihir kecil ia selipkan pada seluruh lift di gedung ini hingga semua pintunya tidak dapat terbuka. Membuat para perawat di sana akhirnya dibantai habis-habisan oleh gadis-gadis gila di tiap lantai menggunakan pedang-pedang mereka yang sangat panjang dan tajam.
"Kanibal-kanibal seperti kalian, tidak pantas terkurung di penjara. Kalian lebih pantas membusuk di tangan gadis-gadis yang kalian manfaatkan." ucap Roswel dengan tersenyum di dalam lift, kemudian keberadaannya langsung lenyap begitu saja.
Lengkingan. Jeritan. Teriakan. Menggema di lantai tujuh, para perawat di sana ditusuk, dipukul, dijambak, dirobek, dikunyah, hingga ditebas oleh pasien-pasien gila yang mengamuk, dinding-dinding di sana pun terciprat oleh darah-darah segar dari para perawat yang tubuhnya telah ditebas oleh pasien-pasien gila tersebut, lantai-lantai putih pun dibanjiri dengan warna merah yang kental, daging-daging para perawat yang telah terpotong-terpotong berjatuhan ke lantai, membuat tempat itu jadi dipenuhi dengan aroma anyir yang menjijikan.
Brak!
Paul, Jeddy, Colin, dan Cherry terkejut saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka, padahal tidak ada orang yang membukanya, membuat mereka jadi kebingungan. Kemudian, terdengarlah suara jeritan, lengkingan, dan teriakan meminta tolong dari kejauhan, Colin sampai bergidik mendengarnya. "Se-Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di luar, aku harap kita jangan keluar dulu! Lebih baik kita tunggu saja sampai suara-suara mengerikan itu menghilang!" ucap Colin dengan gemetaran dan muka memucat. "Ak-Aku tidak mau mati!"
"Bodoh!" bentak Paul pada Colin. "Ini kesempatanmu untuk menunjukkan jati dirimu sebagai pahlawan! Bukankah aku sudah bilang padamu, brengsek! Kau harus punya hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya! Apa kau melupakan hal itu!? Hah!?"
Colin tertegun mendengarnya, lalu dia teringat pada kejadian di mana dia dan Paul dihujani batu-batu raksasa di parkiran kedai, dan di tengah-tengah itu, mentornya mengatakan hal demikian padanya. Akhirnya, muka Colin jadi memerah karena dia juga teringat pada momen saat dirinya pernah berjanji pada Paul bahwa ia akan menghancurkan semua musuh-musuhnya, siapa pun itu.
"B-Baiklah! A-Ayo kita keluar!" Dengan bibir bergetar, Colin berusaha untuk bersikap berani, walau mukanya tampak ngeri. Membuat Paul dan Jeddy tersenyum melihat sikapnya, sedangkan Cherry tiba-tiba meloncat turun dari gendongan si rambut hijau dan gadis itu menarik baju Colin, membuat lelaki rambut biru itu menoleh ke Cherry.
"Jangan!" kata Cherry pada Colin dengan serius. "Kau tidak boleh keluar dengan tangan kosong, setidaknya, kau harus membawa senjata untuk melindungi dirimu sendiri!" Kemudian Cherry melepaskan cengkraman itu dan ia langsung berlari untuk mengambil pedang miliknya yang tergeletak di lantai, kemudian ia menghampiri Colin lagi, menyodorkan pedangnya pada si rambut biru. "Pegang ini! Tenang saja! Pedang ini cocok untuk dipegang oleh pecundang sepertimu. Cherry akan baik-baik saja tanpa membawa senjata, karena Cherry membawa ini!"
Tiba-tiba Cherry mengeluarkan puluhan lolipop dari gaunnya, dengan tersenyum manis ia menunjukkan permen-permen itu pada Paul, Colin, dan Jeddy, membuat mereka bertiga keheranan; memang apa gunanya sebuah permen dalam situasi bahaya seperti ini? Itulah yang terlintas di pikiran mereka setelah melihat hal tersebut. Namun, Cherry buru-buru menjelaskannya, "Sebenarnya di dalam permen-permen lolipop yang Cherry punya, semuanya ada bahan peledaknya, loh! Permen-permen ini akan meledak dalam waktu lima detik jika sudah dijilat sekali oleh lidah manusia! Hihihihi!"
Jeddy kaget mendengarnya, dia langsung mengeluarkan permen-permen pemberian Cherry yang ia simpan di saku celananya, kemudian dia berkata, "Itu artinya, tiga lolipop ini juga ada--"
"Benar sekali! Hihihi! Tiga permen itu pun telah Cherry masukan bahan peledak di dalamnya. Kalian sangat beruntung karena belum menjilatnya, hihihihi!"
"T-Teman-teman!" Colin berteriak dengan tangan yang gemetaran sembari memegang pedang pemberian Cherry. "Aku sudah sangat siap untuk menghadapi bahaya! Ayo... KITA KELUAR!"
__ADS_1
Paul menghela napasnya, kemudian dia meminta beberapa permen pada Cherry, setelah diberi, ia langsung berlari ke luar ruangan untuk melakukan aksinya. Dan hanya dalam beberapa detik, terdengarlah suara-suara ledakan yang menggaung di depan ruangan mereka. Colin terkejut karena dia tak menyangka Paul bisa seberani itu menghadapi marabahaya, sedangkan Jeddy langsung tersenyum lebar mendengar suara-suara ledakan-ledakan itu.
"Oi-oi-oi-oi-oi," kata Jeddy dengan meregangkan otot-ototnya yang mulai keram. "Sepertinya ini akan jadi sesuatu yang sangat seru! Ayo! Bro! Hahahaha!" Dan akhirnya, Jeddy pun melesat ke luar ruangan dengan tawanya yang membahana, sampai suara-suara ledakan lainnya muncul kembali. Sekarang tinggal Colin dan Cherry yang ada di ruangan tersebut.
"M-Mereka berdua sudah... gila." gumam Colin dengan lengan yang gemetaran, dia meneguk ludahnya berkali-kali, kemudian, dengan ngeri, ia menolehkan pandangannya pada Cherry. "A-Ayo kita keluar bersama, Cherry."
"Kau yakin?" tanya Cherry dengan tersenyum tipis pada Colin. "Tahu tidak? Semua gadis-gadis di Fufirm, mereka semua dipersenjatai pedang oleh Kakak-Kakak di sini, sama seperti Cherry, dan mereka juga sangat ahli dalan menggunakan pedangnya! Cherry saja sering hampir terbunuh jika bertengkar dengan mereka! Hihihi! Jadi, aku tanya padamu sekali lagi, apa kau yakin?"
"Tentu saja! Aku tidak yakin!" timpal Colin dengan keringat dingin yang menetes-netes di wajahnya. "Tapi aku tidak bisa berdiam diri saja di sini ketika Paul dan Jeddy sedang mempertaruhkan nyawanya di luar... maka dari itu, ayo Cherry, temani aku! Aku tidak berani keluar sendirian." Mendengar ungkapan Colin, Cherry pun tersenyum simpul, dan gadis itu langsung menarik lengan lelaki itu untuk keluar bersamanya. Sepertinya Colin sudah tidak menganggap Cherry sebagai gadis gila yang mengerikan.
Akhirnya mereka pun keluar dari ruangan itu, dan Colin dikejutkan dengan situasi yang sangat mengerikan di hadapannya. Banyak tubuh manusia yang terpotong-potong terbaring di lantai, banyak juga cipratan darah segar yang menodai dinding-dinding dan lantai-lantai di sana, membuat suasananya jadi penuh dengan warna merah. Karena kaget, Colin langsung menjatuhkan pedangnya secara refleks, dan ia pun duduk bersimpuh di sana dengan tatapan kosong, sampai akhirnya ia memuntahkan semua makanan yang ada di perutnya, saking mualnya menyaksikan hal tersebut.
Sepertinya para perawat maupun pasien-pasien gila yang mengamuk di lantai tujuh sudah tewas semua, yang tersisa di sana hanyalah mayat-mayat mereka yang kondisinya sudah hancur dan tergeletak di lantai. Paul dan Jeddy yang telah melakukan aksinya dalam melawan para pasien dengan menggunakan permen-permen bom milik Cherry, hanya berdiri santai melihat mayat-mayat mereka.
Kemudian, Paul, Jeddy, Colin, dan Cherry turun dari lantai tujuh menuju lantai satu menggunakan tangga, karena semua lift di gedung Fufirm sudah berhenti total. Dan setelah diamati baik-baik, mereka terkejut, karena kondisi di lantai-lantai lain pun hampir sama seperti di lantai tujuh. Penuh dengan darah, aroma anyir yang menyengat, dan potongan-potongan tubuh manusia.
"Halo, Tuan Paul," ucap lelaki itu yang ternyata adalah Roswel. "Kelihatannya Anda sedang buru-buru sekali, relaks saja, Tuan. Jangan terlalu tegang pada situasi ini. Lagipula, saya akan melindungi Anda jika ada sesuatu yang membahayakan."
"Roswel! Minggir! Brengsek!" Paul membentak Roswel yang berdiri menghalangi jalan mereka. "Aku tidak punya waktu untuk berbincang denganmu! Bajingan! Kami harus pergi dari kota ini!"
"Eh?" Cherry tampak terpesona melihat muka Roswel. "Wajahmu seperti boneka! Cherry suka!" Mendengar perkataan Paul dan Cherry, Roswel menyunggingkan tipisnya.
"Terima kasih atas pujiannya, Nona Cherry," balas Roswel pada Cherry dengan ramah, kemudian dia mengalihkan pandangannya ke Paul. "Tuan, tahan dulu sebentar. Ada sesuatu yang akan saya katakan pada Anda mengenai kota ini."
"Tunggu-tunggu!" Colin tampak kebingungan, karena dia baru pertama kalinya bertemu dengan Roswel. "Paul! Lelaki berjubah ini siapa? Kenalanmu, kah? Tapi kenapa dia terlihat--"
"Aku juga tidak tahu! Bro! Bahkan orang ini pun pernah muncul di dalam markas Kambing Gila di Kota Groen secara tiba-tiba!" timpal Jeddy dengan mengenyitkan alisnya sambil menatap wajah Roswel. "Oi? Sebenarnya kau ini siapa?"
Mendengar perkataan Colin dan Jeddy, Roswel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menahan tawanya. "Ah, kalian tidak perlu tahu tentang siapa diri saya, wahai Para Pahlawan," jawab Roswel dengan intonasi yang sangat lembut. "Siapa pun saya, itu sama sekali tidak penting. Tapi kehadiran saya ini bisa saja sangat penting bagi kalian. Baiklah, pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat pada Tuan Paul karena telah berhasil mendapatkan tiga pahlawan dalam waktu tiga hari. Itu jumlah yang sangat fantastis, Tuan. Karena mentor-mentor sebelumnya tidak pernah bisa secepat itu dalam mendapatkan seorang pahlawan.
__ADS_1
Lalu, selanjutnya, saya akan menjelaskan tentang kondisi pahlawan imut ini," ucap Roswel dengan mata yang melirik pada Cherry. "Tuan, sebenarnya Cherry ini mengidap penyakit kejiwaan yang bernama bipolar. Dia dapat merasa sangat senang, sedih, marah, takut, dalam waktu yang hampir bersamaan. Karena itulah, emosinya kadang tidak bisa dikendalikan bahkan oleh dirinya sendiri. Lalu, mengenai para perawat dan pasien-pasien gila di Fufirm, mereka semua sebenarnya adalah kumpulan kanibal, Tuan. Termasuk juga Cherry, dia pernah memakan daging manusia, dan sepertinya dia menikmatinya. Benar, kan? Nona Cherry?" Cherry langsung menganggukan kepalanya dengan polos, membuat Colin bergidik melihat anggukan kepalanya.
"Lalu, mengenai kondisi Kota Poppe, sebetulnya, penduduk asli kota ini adalah boneka, Tuan. Persis seperti yang Tuan Jeddy bilang pada Anda," Jeddy langsung sumringah mendengarnya. "Namun, tenang saja, mereka bukanlah boneka-boneka yang jahat, dan sepertinya Tuan Colin pernah dilirik sinis oleh beberapa orang di kota ini, benar, Tuan Colin?"
Colin langsung menjawab, "Tunggu sebentar!" Colin memejamkan matanya untung mengingat-ingat. "Emmm... Ah! Iya! Saat berjalan di trotoar! Beberapa pejalan kaki melirik ke arahku dengan tatapan sinis! Aku ingat itu!"
Roswel menganggukkan kepalanya. "Ya, tapi Anda tidak perlu cemas, Tuan. Karena lirikan sinis dari mereka sebenarnya bukan sesuatu yang jahat, mereka hanya tidak suka pada warna rambut Anda, Tuan. Penduduk asli Kota Poppe, Mereka punya rasa benci yang sangat besar terhadap warna biru."
"Hahahaha!" Jeddy tertawa renyah mendengarnya. "Kasihan sekali, kau, Bro!" Jeddy menepuk-nepuk punggung Colin.
"Mereka juga benci terhadap warna hijau, Tuan Jeddy." Seketika tawa Jeddy langsung lenyap. "Mereka hanya suka dan cinta pada warna merah muda. Karena penduduk asli Kota Poppe punya rasisme yang sangat tinggi terhadap orang-orang berambut non-merah muda."
"Apa kau sudah selesai bicara omong kosongnya!? Kalau sudah, menyingkirlah, aku ingin pergi dari kota menggelikan ini! Di sini terlalu menjijikan!" Paul langsung marah-marah pada Roswel.
Roswel tersenyum ramah pada Paul lalu berkata, "Silahkan, Tuan." Kemudian, Paul bersama Jeddy dan Colin keluar dari gerbang, sementara Cherry terdiam di sana, tampaknya dia masih terpesona dengan wajah Roswel.
"Katakan pada Cherry!" kata Cherry dengan suara yang manja. "Bagaimana caranya agar Cherry bisa punya wajah sepertimu!?"
"Caranya? Mari kita lihat, hmm, ah mungkin kau harus menjadi pahlawan sungguhan dulu agar bisa punya wajah sepertiku, Nona Cherry."
"Pahlawan?" Cherry mengembungkan pipinya. "Ngomong-ngomong tentang pahlawan, tadi juga, lelaki pemarah itu bilang pada Cherry soal pahlawan di kamar Cherry. Memang apa sih maksudnya? Apakah mereka sedang bermain pahlawan-pahlawanan, ya?"
Roswel menahan tawanya. "Tidak, Nona," timpal Roswel dengan halus. "Maafkan saya, tapi ini bukan tugas saya untuk memberitahukan hal itu pada Anda, jika Anda penasaran, tanyakan saja pada Tuan Paul, Nona, karena dia adalah mentor Anda."
"Eh? Paul itu lelaki yang mana? Yang rambut hitam? Rambut hijau? Atau rambut biru?" Cherry tambah kebingungan mendengarnya. "Aaah! Cherry masih belum hafal nama-nama mereka!"
"Kalau begitu, Anda bisa sekalian berkenalan dengan mereka, Nona. Ayo, kejar mereka sebelum mereka semakin jauh."
Mendengar ucapan Roswel, Cherry terkaget karena dia baru sadar kalau dirinya sudah ditinggal oleh tiga lelaki itu, kemudian dia langsung berlari kecil mengejar Paul, Jeddy, dan Colin yang sudah lumayan jauh, meninggalkan Roswel yang masih berdiri di sana.
__ADS_1
"Baiklah, sepertinya tugas Anda di kota ini sudah selesai, Tuan Paul," kata Roswel dengan memandangi punggung Paul yang sudah sangat jauh. "Kalau begitu, mari kita ke pahlawan berikutnya, Tuan."