
Ruangan itu jadi hening seketika, setelah Koko dan Naomi berteriak secara serentak, dengan mengatakan 'Tolong! Jangan abaikan kami!' sambil berdiri tegak di hadapan mereka yang sedang duduk memutar, yang mulutnya sibuk menyantap makanan. Alhasil, berpasang-pasang mata langsung tertuju ke arah Koko dan Naomi, dengan mengheningkan suasana.
Tentu saja, Koko dan Naomi pun terkejut pada hal tersebut, mereka tak menyangka kalau kegelisahan di hati mereka, bisa sama persis seperti itu, bahkan saat berteriak pun, mereka berdua mengatakan hal yang sama. Sungguh, ini tidak direncanakan sama sekali, tapi mengapa Koko dan Naomi bisa kompak seperti itu? Paul dan yang lainnya jadi terheran-heran dengan tingkah mereka berdua, padahal saat ini, semua orang tahu bahwa Koko dengan Naomi sedang terlibat masalah internal, tapi mengapa mereka bisa mengatakan kata-kata yang sama begitu?
Jeddy menahan tawa melihat kejadian itu, ia tidak pernah menduga kalau Naomi dan Koko bisa mengatakan hal yang sama secara bersamaan begitu, bahkan gerakan badan mereka ketika mau berdiri pun, terlihat selaras. Jeddy benar-benar penasaran pada tingkah mereka berdua, rasanya seperti ada sesuatu yang harus dijelaskan, walau ia tidak terlalu mempedulikannya, karena baginya, apa pun alasan mereka bisa seperti itu, pasti sesuatu yang baik. Dan itu bagus, semoga saja dengan hal ini, Koko dan Naomi bisa akur seperti dulu, karena pertengkaran yang berlarut-larut, sangat tidak bagus.
"Mengabaikan kalian?" Paul menimpali ucapan Koko dan Naomi, dengan menaikan sebelah alisnya, tampak bertanya-tanya. "Siapa yang kalian maksud? Aku? Atau kami semua?" Paul melirik ke mata Koko dan Naomi secara bergilir. "Apa kalian merasa diabaikan? Hah? Lucu sekali! Tidak ada yang mengabaikan kalian di sini! Justru, kalian sendirilah yang mengabaikan kami! Saat semua orang bersenang-senang, kalian malah sibuk menundukkan kepala, memikirkan masalah kalian sendiri! Seharusnya kalian lupakan dulu soal masalah kalian! Kita di sini sedang berpesta! Itu pun kalau kalian mengerti situasi!"
Koko mau pun Naomi, terbelalak secara bersamaan, mereka tersadarkan akan hal itu oleh Paul. Apa yang dikatakan Paul, benar-benar masuk akal, seharusnya mereka jangan memikirkan masalah yang tadi, tapi karena terlalu dipikirkan, akhirnya mereka jadi tidak bisa menikmati suasana. Dan berakhir dengan kesalahpahaman yang menyangka kalau semua orang mengabaikan mereka, padahal sebenarnya, mereka sendirilah yang mengabaikan semua orang.
__ADS_1
"Paul benar!" Cherry ikut bersuara, sambil menyimpan lolipop jumbonya di pahanya sendiri. "Cherry juga merasa kalau kalian terlalu serius dalam menanggapi suatu masalah! Padahal saat ini kita sedang berpesta! Sayangnya kalian malah terus-terusan menundukkan kepala! Cherry jadi merasa segan untuk mengobrol dengan kalian, soalnya kalian kesannya jadi seperti mengasingkan diri, sih!" Mendadak, muka Cherry jadi ceria kembali. "Karena itulah! Mulai saat ini! Kalian harus bergabung bersama kami di pesta ini! Jadi, ayo! Ambil piring! Ambil daging! Ambil sayuran! Ambil buah-buahan! Lalu makan sama-sama! Bukankah itu lebih menyenangkan daripada terus-terusan menundukkan kepala, benar, kan!? Hihihihihi!"
Tertohok, Naomi dan Koko membisu mendengar omongan Cherry yang sesuai dengan kenyataan. Mereka berdua jadi merasa bersalah, atas sikap yang telah mereka lakukan saat di dalam sebuah pesta makan-makan. Bukannya ikut memeriahkan suasana, mereka malah sibuk mengurusi masalahnya masing-masing, membuat suasana pesta jadi sedikit keruh oleh tingkah mereka berdua.
"Sebenarnya, itu terserah kalian," kata Colin dengan nada yang datar. "Mau kalian murung, sedih, gelisah, takut, atau pun malu, itu hak kalian. Tapi, kenapa tidak simpan dulu semua perasaan itu di dalam hati masing-masing, dan fokuslah ke pesta ini? Benar, kan? Tapi itu kembali lagi pada diri kalian masing-masing. Apakah mau terus seperti itu, atau mengubah sikap? Tergantung, sih, menurutku."
"Colin benar, aku setuju dengan pendapatnya, setuju seratus persen." ucap Nico dengan memasang muka dinginnya pada Koko dan Naomi, mendukung pendapat yang dikemukakan oleh Colin.
"Tidak apa-apa," Kini, yang bersuara adalah Tante Elena--Ibunya Paul--dengan suara yang rendah. "Jika kalian merasa diabaikan, maka aku sebagai perwakilan dari semua orang yang ada di sini, meminta maaf pada kalian. Namun, menurutku, daripada kalian terpaksa harus berpura-pura menikmati suasana pesta, di saat hati kalian masih terasa sakit dan kepanasan, mengapa kalian tidak menyelesaikan masalah itu saat ini juga, selagi kita sedang berkumpul seperti ini. Aku yakin, karena di sini ada banyak kepala, pasti kalian akan mendapatkan banyak saran, kritik dan masukkan dari pemikiran orang yang berbeda-beda, dalam menyelesaikkan masalah yang tengah terjadi di antara kalian. Bagaimana? Apa kalian mau? Untuk melakukannya?"
__ADS_1
Awalnya Naomi dan Koko bingung harus merespon apa dari perkataan yang Elena ucapkan, tapi perlahan, mereka berdua saling memandang, kemudian--seperti paham pada kemauan masing-masing--mereka menganggukkan kepala, setuju dengan saran yang dikatakan oleh Tante Elena, mengenai penyelesaian masalah tersebut. Melihat Naomi dan Koko menganggukkan kepalanya secara berbarengan, Paul dan yang lainnya, tersenyum senang, karena akhirnya mereka berdua mau mengakhiri ketegangan itu, agar suasana bisa kembali seperti dulu lagi.
Pelan-pelan, Naomi dan Koko menurunkan pantat masing-masing untuk kembali duduk di atas tikar, lalu mereka menyiapkan diri untuk menghadapi muka lawan masing-masing. Koko sedikit gugup saat menatap mata Naomi, ia merasa kalau hanya dirinya yang tak diuntungkan di sini, sebab, Koko tidak punya kemampuan untuk berdebat dengan orang seperti Noami, yang pastinya bakal lebih pandai dan lihai dalam bersilat kata.
Sementara Naomi, malah merasa resah, karena dia juga merasa kalau dirinya tidak diuntungkan di sini, sebab, menurutnya, semua orang yang ada di sini, berpihak pada Koko. Tentu saja, walau Koko terlihat tidak akan mampu dalam berdebat, tapi apa pun yang Naomi katakan, pasti bukan Koko yang akan menjawabnya, melainkan orang-orang yang ada di sini.
Jujur saja, Naomi tidak bisa melawan orang sebanyak ini, yang punya pemikiran kritis berbeda-beda. Contohnya saja Nico, Naomi sangat paham dengan karakteristik lelaki berkaca mata itu, orang itu menonjol sekali dalam berkata-kata, dan kata-katanya pasti akan terdengar menusuk dan tidak asal ucap. Lalu, ada Paul juga, yang merupakan tuan rumah di sini, Naomi tidak bisa melawan lelaki kasar itu, karena ia adalah orang yang sangat berpengaruh di sini.
Dan orang-orang selain Nico dan Paul pun tidak bisa diremehkan begitu saja oleh Naomi, sebab, Colin, Cherry, Jeddy, Abbas, dan Tante Elena, pasti punya kepintarannya masing-masing dalan berpendapat. Naomi jadi bingung harus bagaimana dalam mempertahankan pendapatnya yang merupakan berasal dari ajaran agamanya. Menurut Naomi, semua yang ia katakan adalah sebuah kebenaran. Orang-orang seperti Koko, tidak layak untuk hidup bebas di muka bumi ini, itu sudah dijelaskan di dalam kitab suci, dan itu mutlak.
__ADS_1
Karena itulah, satu-satunya cara agar Naomi menang dalam adu pendapat, adalah berdoa pada Sang Maha Kuasa, untuk dimudahkan segala urusannya, dan ia pun memohon pada Tuhan, semoga orang-orang yang ada di sini, tersadarkan akan kesalahannya, dan bersedia untuk berubah, terutama untuk Koko.
"Baiklah," ucap Paul, setelah semua orang sudah menyimpan piring kosongnya masing-masing ke lantai dan telah bersiap untuk fokus pada perkara yang akan diselesaikan. "Mari kita mulai dan akhiri, masalah antara Naomi dan Koko."