Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 115 : Malang Sekali


__ADS_3

Di rumah sakit, tepatnya di ruangan Abbas yang sedang dirawat, Isabella tampak terkejut saat mengingat sosok bernama Roswel yang tiba-tiba muncul di depannya dan menghilang begitu saja tanpa jejak setelah urusannya selesai. Ia masih mengingatnya dengan jelas, sosok itu bukanlah manusia atau pun penyihir, Isabella malah menganggap Roswel seperti monster yang sangat misterius.


Namun, meskipun begitu, Isabella bisa menilai kalau Roswel bukan sosok jahat yang dapat membahayakan manusia. Malah sebaliknya, dari caranya berbicara dan bersikap, Isabella menduga Roswel adalah sosok yang baik.


Tapi itu tidak penting untuk sekarang.


Isabella menolehkan kepalanya pada tubuh Abbas yang sedang terbaring kaku di kasur ruangan ini, wajah lelaki kekar itu sangat pucat dan saat disentuh, kulitnya sangat dingin. Membuktikan kalau saat ini Abbas memang benar-benar telah tiada.


Itulah yang membuat Isabella terpukul, ia berharap Paul yang sedang berjuang di luar sana, bisa berhasil mendapatkan penawar racunnya. Karena sosok yang bernama Roswel sempat bilang bahwa nyawa Abbas masih bisa diselamatkan dengan penawar racun tersebut. Maka dari itu, Isabella sangat-sangat-sangat berharap Paul bisa kembali kemari dengan membawa penawar racunnya, karena kalau tidak, maka tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain membiarkan Abbas pergi untuk selamanya.


"Aku percayakan segalanya pada Paul." Isabella mencoba meyakinkan dirinya sendiri dengan mantap. "Dia pasti akan kembali," Senyumannya mengembang, Isabella tampak sungguh-sungguh. "Dengan membawa penawar racunnya untuk Abbas."


Dokter wanita itu tersenyum di samping Isabella, saat mengamati tingkah gadis itu yang tampak sedang meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap tenang. Baru kali ini ia menemukan orang-orang yang seperti ini, meski temannya sudah dinyatakan telah meninggal oleh seorang dokter yang sangat berkompeten, tapi mereka tampak tidak menyerah begitu saja. Malah, mereka berusaha mencari cara agar temannya bisa kembali hidup.


Walau terdengar konyol, tapi sungguh, itu sangat mengharukan.

__ADS_1


Karena itulah, karena tidak bisa menahan rasa harunya, Dokter wanita itu menghampiri Isabella dan menyentuh pundak gadis tersebut dengan lembut. "Aku kagum pada teman lelakimu yang barusan pergi," Dokter itu tersenyum tipis pada Isabella. "Padahal sudah tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan, karena lelaki ini," Sang Dokter menunjuk Abbas yang sedang terbaring. "Telah meninggal. Tapi dia masih saja beranggapan kalau lelaki ini belum mati, bahkan ia kini sedang mencari penawar racunnya untuk membangunkannya kembali. Itu benar-benar mengagumkan."


Mendengar semua itu, Isabella tersenyum hampa. "Ya, begitulah Paul." Isabella menghela napasnya dengan berat. "Aku juga, diam-diam, sangat mengaguminya." kata Isabella dengan suara yang rendah. "Walaupun wataknya sangat keras dan kasar, tapi dia sangat peduli terhadap orang-orang di sekitarnya, terutama orang-orang yang dekat dengannya."


"Tapi," Sang Dokter membalas ucapan Isabella dengan cepat. "Kau lebih mengagumkan darinya, Nona."


Terkejut, Isabella langsung menatap mata dokter itu lekat-lekat dengan pandangan bertanya-tanya. "Eh? Apanya yang mengagumkan dari diriku?" Isabella menahan tawanya. "Seperti yang terlihat, aku di sini tidak melakukan apa pun selain menunggu kedatangan Paul, dan rasanya itu bukan hal yang patut dikagumi."


"Tidak, Anda salah," sela Dokter itu dengan lembut. "Menemani temanmu yang sudah dinyatakan telah meninggal dengan sabar, menurutku itu sangat mengagumkan. Bahkan, kau pun menahan diri untuk tidak bersikap panik atau pun menangis, tadi saja, kau sempat menenangkan lelaki bernama Paul yang murka karena tidak terima lelaki ini kunyatakan sudah meninggal. Jadi menurutku," Dokter itu mengusap-usap punggung Isabella dengan halus. "Kaulah yang paling tegar di sini, dan itu sangat luar biasa, Nona."


Entah kenapa, mendengar itu, Isabella langsung memandang wajah Abbas dan sedetik kemudian, matanya berkaca-kaca menahan gumpalan air yang hendak keluar. "Ya ampun, ada-ada saja ya?" Isabella tersenyum tipis saat air matanya berlinang di pipinya. "Berkat ucapan itu, aku jadi tidak bisa menahannya lagi, Dokter."


"Tidak apa-apa, menangislah," Sang Dokter memeluk tubuh Isabella yang menangis di pundaknya. "Kau pasti selalu menahannya selama ini, dan itu pasti sangat menyesakkan."


Puas dengan kehangatan itu, Isabella melepaskan pelukan itu, dan menyunggingkan senyuman parau. "Terima kasih," ucap Isabella dengan suara yang sangat pelan. "Aku bukan tipe orang yang cengeng seperti ini, tapi entahlah, untuk sekarang, rasanya aku tidak peduli tentang bagaimana diriku ini. Tapi ya ampun, dari tadi aku penasaran," Tiba-tiba Isabella meremas-remas payudara Dokter itu dengan liar. "Mengapa harus gundukan ini yang menjadi penghalang di sesi pelukan kita, Dokter?"

__ADS_1


Dokter wanita itu tercengang saat Isabella memain-mainkan payudaranya tanpa permisi. "He-Hentikan!" Merasa tidak nyaman, Dokter itu langsung memundurkan posisi, menjauhi Isabella untuk melindungi harta suaminya. "Me-Mengapa kau mendadak jadi begitu?"


Kali ini, Isabella tersenyum tipis, air matanya sudah kering sepenuhnya. Dia sudah kembali menjadi sosok Isabella yang biasanya, liar dan menggoda. "Tapi aku benar-benar berterima kasih padamu, Dokter." Gadis berambut merah itu membungkukan badannya, menghormati Sang Dokter yang telah berbuat baik padanya. "Karena telah memberikan tempat untukku meluapkan emosi, tapi tolong," Isabella mengedipkan sebelah matanya dengan genit. "Kecilkan sedikit payudaramu, jujur saja, itu bertubrukan dengan punyaku."


Sang Dokter, yang awalnya ketakutan pada sikap Isabella, kini mulai memahaminya dan ia pun tertawa kecil mendengar ucapan gadis itu.


"Aku permisi sebentar ya," Isabella melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. "Sepertinya 'bibir keduaku' ingin memuntahkan cairan urinnya."


"Vulgar sekali, tapi silakan," Dokter itu menganggukkan kepalanya, mempersilakan Isabella untuk pergi ke kamar kecil.


Setelah Isabella sampai di dalam kamar kecil rumah sakit, bukannya buang air kecil atau sejenisnya, dia malah memandangi pantulan dirinya di cermin dengan hening. Perlahan-lahan, air matanya kembali mengalir. Kali ini cukup banyak, banyak sekali. Napasnya sampai terengah-engah sementara bibirnya bergetar. Tampaknya, Isabella masih sangat terpukul dengan keadaan Abbas. Dia masih tidak percaya kalau lelaki itu benar-benar sudah meninggal.


"Astaga, apa ini?" Suaranya bahkan kali ini terdengar cukup menyesakkan. "Ini bukan aku yang kukenal. Ini bukan Isabella Melvana. Ini siapa? Mengapa air mataku tidak bisa berhenti? Astaga, apa-apaan ini?" Isabella menundukkan kepalanya dengan meremas dadanya yang terasa sakit. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bingung."


Isakan demi isakan terus menggema di kamar kecil itu, Isabella benar-benar terluka saat ini.

__ADS_1


Isabella menghembuskan napasnya, perlahan-lahan ia menegakkan kembali kepalanya dan menyunggingkan senyuman tipisnya. Setelah itu, ia keluar dari kamar kecil itu untuk kembali ke ruangan Abbas yang dirawat.


"Ya ampun," Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya di lorong menuju ruangan Abbas. "Malang sekali diriku ini."


__ADS_2