
"Dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi," ucap seorang dokter wanita, menjelaskan kondisi Abbas pada Paul dan Isabella di ruangan khusus pasien. Abbas terpejam di atas ranjang yang disediakan di ruangan ini. Isabella dan Paul terbelalak saat mendengar ucapan sang dokter. "Racunnya telah menggerogoti seluruh tubuh lelaki muda ini, dia sudah tidak bisa tertolong. Jantungnya pun sudah berhenti berdetak."
"I-Itu tidak mungkin! Jangan berkata seolah-olah dia sudah mati! Itu tidak mungkin! Periksa sekali lagi! Aku yakin dia masih hidup! Dia belum mati! Aku yakin itu!"
Paul tidak mau menerima pernyataan dari dokter itu dengan mudah, pasti ada kesalahan. Pasti ada kekeliruan. Pasti ada kejanggalan. Orang seperti Abbas, tidak mungkin mati semudah itu. Paul percaya seratus persen pada keyakinannya.
"Paul, tenanglah," Isabella menyentuh pundak Paul dengan lembut. "Aku tahu, rasanya pasti menyakitkan, kan? Saat temanmu dianggap telah mati oleh seorang dokter. Aku mengerti perasaanmu. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dokter mengatakan itu, mau tidak mau, kita harus mempercayainya. Karena setiap ucapan dari seorang dokter, telah melalui pengecekan, pemeriksaan, dan penelitian, tentunya sesuai dengan fakta yang sedang terjadi. Jadi, kita harus menerimanya, Paul."
Paul langsung menepis sentuhan tangan Isabella yang mendarat di pundaknya, lalu menoleh ke wajah Isabella dengan ekspresi yang mengerikan. "Aku benci pada orang yang percaya begitu saja pada pernyataan orang lain. Diamlah atau kuremukkan tulang-tulangmu, Isabella."
Isabella tercekat, ia langsung menarik kembali tangan kanannya yang tadi menyentuh pundak Paul dan membungkamkan mulutnya untuk tidak lagi berbicara apa pun. Situasinya sedang tidak memungkinkan, Paul tidak sedang dalam mode normal. Dia sedang dalam mode murka, dan itu cukup menakutkan.
Wanita itu, yang telah menjabat sebagai dokter selama puluhan tahun, terkejut dengan sikap Paul yang tidak terima pada pernyataannya. Baru kali ini ia melihat seseorang marah dan tidak terima pada ucapannya, bahkan menganggap pekerjaannya pasti ada kesalahan. Itu sangat tidak wajar.
"Maaf," Wanita itu tetap berpegang teguh pada penelitiannya yang telah dilakukan bersama para perawat di ruang operasi. "Saya sudah berusaha sebisa mungkin untuk melenyapkan racun-racun yang ada di organ-organ lelaki ini, tapi, itu belum cukup. Racunnya sudah menghancurkan banyak sekali organ-organ vital, dan jantungnya pun berhenti berdetak karena terganggu oleh aktivitas racun tersebut. Saya berat untuk mengatakannya pada kalian, tapi hanya itu yang bisa kami lakukan. Dan saya bersama para perawat yang lain, telah memutuskan, bahwa lelaki bernama Abbas, sudah tiada."
Entah kenapa, Paul terguncang pada perkataan sang dokter, rasanya dunia jadi berputar-putar di kepalanya, memusingkan sekali. Ah, ini menyakitkan. Ini menyesakkan. Ini menyedihkan. Paul tidak mau lagi meneteskan air matanya.
"Tidak...," Paul menghapus air matanya yang hampir menetes dan menatap tajam ke muka sang dokter. "Dia belum mati! Abbas belum mati! Dia masih hidup! Abbas masih hidup! Tarik kembali ucapan itu! Cepat!"
"Maaf. Tapi memang begitu kenyataannya."
__ADS_1
"BRENGSEK!" Paul langsung mengayunkan kepalan tangannya ke arah wajah sang dokter, pikirannya tidak terkendali, dia melakukan itu secara refleks saking jengkelnya pada fakta yang dijelaskan oleh sang dokter.
"Hentikan, Tuan." Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang, tepatnya dari balik pintu. Suaranya sangat familiar. Bahkan Paul sampai menghentikkan pergerakan tangannya yang nyaris menghajar wajah seorang dokter. "Jangan menyakiti orang yang tidak bersalah, Tuan."
Isabella, sang dokter, dan Paul langsung menoleh ke arah pintu, mengamati sebuah bayangan yang sedang berdiri di balik pintu.
"Siapa itu?" Isabella tersentak. "Mengapa dia menyebut Paul dengan sebutan 'tuan'?"
"R-Roswel!?" Paul teringat pada seseorang. "Itu suaramu, kan!?"
"Roswel?" Isabella memandangi Paul dengan kaget. "Kenalanmu?"
Pintu pun perlahan-lahan terbuka, menampilkan sebuah kaki yang dibaluti jubah hitam yang memekat sempurna, perlahan-lahan tampaklah wujud dari seorang pria tinggi berkulit putih pucat, berambut hitam, bermata dingin, dan berwajah ramah. Dengan halus, ia melangkah masuk ke ruangan, mendatangi orang-orang yang hadir di ruangan tersebut.
Isabella terpukau dengan penampilan elegan nan misterius dari pria itu, sungguh, bukan hanya tampan, tapi auranya pun sangat memikat. Perasaan dingin langsung menguar, memenuhi ruangan ini, saat pria berkulit pucat itu masuk. Hawanya jadi terasa sejuk dan menenangkan.
"Kita berjumpa lagi, Tuan Paul," Bola mata Roswel bergeser ke arah Isabella dan Abbas. "Ah, senang bertemu denganmu, Nona Isabella," Isabella terkejut saat pria itu bisa mengetahui namanya. "Dan saya turut berduka cita atas kematian Tuan Abbas."
Paul menggertakkan rahangnya saat Roswel bilang demikian. "Abbas belum mati! Brengsek! Dia masih hidup!"
"Tapi dia memang telah mati, Tuan. Apa yang dikatakan oleh wanita itu," Roswel menunjuk posisi sang dokter dengan lirikan mata. "adalah kebenaran. Tuan Abbas memang telah tiada, dia sudah meninggal beberapa jam yang lalu. Namun," Roswel mulai menyunggingkan senyuman tipisnya, membuat Paul, Isabella, dan sang dokter, keheranan. "Saya punya cara agar Tuan Abbas bisa kembali."
__ADS_1
"Cara?" Isabella dan sang dokter tertegun mendengarnya, hingga mengucapkan hal yang sama dengan bebarengan.
"Katakan caranya padaku! Apa pun akan kulakukan!"
Roswel senang mendengar jawaban Paul yang sangat bersemangat, seolah-olah siap menghadapi segala rintangan demi menghidupkan kembali salah satu muridnya, yaitu Abbas.
"Anda harus mendapatkan penawar racunnya, Tuan. Itulah cara yang paling mudah dari segala cara yang ada." Roswel memperhatikan kondisi Abbas yang sedang terbaring di ranjang ruangan ini. "Dan penawar racunnya berada di tangan Lizzie, Anda harus mengambilnya secepat mungkin, Tuan. Sebelum pagi kembali menyingsing."
Sontak, Paul langsung lari untuk keluar dari ruangan itu, menubruk banyak sekali bahu orang lain di lorong, ia terus berlari kencang untuk pergi ke lokasi Lizzie berada. Ketika keberadaan Paul hilang, Isabella bertanya pada Roswel, karena ada sesuatu yang janggal dalam pembicaraan barusan.
"Sebenarnya, siapa dirimu, Roswel?" tanya Isabella, yang baru pertama kali bertemu dengan sosok itu. "Kau mengatakan seakan-akan kau tahu pada semua hal yang telah kami lalui. Padahal kau sama sekali tidak bersama kami. Kau mengetahui namaku, mengetahui kondisi Abbas, mengetahui nama perempuan tomboi itu, dan mengetahui penawar racunnya. Kau sangat misterius. Kurasa kau bukan manusia seperti kami. Katakan, siapa dirimu. Roswel?"
Mendengar pertanyaan itu, Roswel menoleh pada Isabella dengan santai, kemudian tersenyum hangat. "Saya bukan siapa-siapa, Nona." ucap Roswel dengan ramah pada Isabella. "Saya hanyalah seorang pelayan rendahan. Yang lebih rendah dari segala hal di dunia ini. Begitulah."
"Meski kau bilang begitu pun," Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tetap saja terasa aneh. Ayolah, katakan yang sejujurnya padaku, siapa dirimu, Roswel?"
"Suatu saat Anda akan mengetahuinya. Kalau begitu," Roswel langsung menyibakkan jubahnya. "Sampai nanti, Nona." Dan keberadaannya pun langsung lenyap dari hadapan Isabella dan sang dokter.
Dua perempuan itu terkesiap saat melihat wujud manusia yang tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangan, itu terlalu ajaib.
"D-Dia pasti penyihir." ucap wanita itu yang merupakan seorang dokter. "Apakah temanmu berhubungan dengan para penyihir?"
__ADS_1
"Penyihir? Kurasa tidak," ucap Isabella, merespon pertanyaan sang dokter. "Dan aku tahu aroma seorang penyihir tidak seperti itu, aku pernah bercinta dengan laki-laki penyihir, dan orang yang bernama Roswel tadi, tidak memiliki aroma khas penyihir. Dia sepertinya bukan penyihir atau pun manusia," Isabella menyunggingkan senyuman getirnya. "Mungkinkah dia monster?"