Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 94 : Menarik


__ADS_3

"Sebelum itu," Tiba-tiba Nico bersuara, saat semua orang akan beranjak pergi ke kamar Tante Elena untuk memeriksa keberadaan Paul. "Dua plastik besar warna hitam yang ada di atas meja, itu milik siapa? Dan isinya apa? Jujur saja, aku penasaran dengan eksistensi benda itu dari pertama kali melihatnya."


Alhasil, semua orang langsung memfokuskan perhatiannya ke benda yang dimaksud Nico, dan Isabella tersenyum mendengarnya. "Kau mau tahu, ya?" kata Isabella dengan menyunggingkan senyuman tipis mempesona. "Baiklah, biar kuberitahu," Isabella menyaringkan suaranya agar bisa didengar dengan jelas oleh orang-orang yang ada di ruang tamu. "Dua plastik ini, tentu saja milikku. Dan isi dari plastik-plastik itu adalah uang kertas senilai seratus juta lumion."


Sontak, Nico, Abbas, Jeddy, dan Koko terkejut, mereka berempat tampak kaget--super duper kaget--pada penjelasan yang dikatakan oleh Isabella tentang isi dari plastik-plastik hitam tersebut. Nico mengernyitkan alisnya, terlihat merenung heran. "Tunggu, tadi kau bilang apa? Seratus juta lumion?" Nico memicingkan matanya pada Isabella. "Jangan bilang kalau itu adalah hasil dari pekerjaan kotormu? Apa aku salah?"


"Selamat," Isabella menepuk tangannya sendirian, setelah mendengar tebakan Nico. "Kau seratus persen benar, aku terkesan sekali. Kau memang hebat, Nico."


"Jadi, itu benar?" Nico mencoba memastikan lagi.


"Ya, itu benar," jawab Isabella, menganggukkan kepala. "Kau mau melihat isinya? Silahkan."


Senang diberi izin oleh sang pemilik, Nico pun berjalan mendatangi dua plastik hitam yang tergolek di meja tamu, pergerakan lelaki berkaca mata itu diamati oleh teman-temannya, yang meliputi Isabella, Cherry, Naomi, Abbas, Jeddy, dan Koko. Mereka semua, kecuali Isabella, Cherry, dan Naomi, tampak penasaran pada isinya. Sedangkan untuk sisa orang yang sudah tahu isinya, hanya memasang wajah datar saja, seolah-olah itu bukan lagi hal yang mengejutkan.


"Ini cukup mencengangkan," kata Nico setelah melihat dengan jelas isi dari dua plastik hitam tersebut. "Kau membawa uang sebanyak ini tanpa pengawalan khusus? Bodoh sekali."


"Itu tidak perlu," jawab Isabella dengan tenang. "Selain itu, uang ini akan kugunakan untuk sesuatu yang sangat menyenangkan."

__ADS_1


"Menyenangkan?" Jeddy memiringkan kepalanya, mencoba menduga apa yang akan Isabella gunakan pada uang-uangnya. "Ah! Pasti kau akan menghabiskan uangnya untuk pergi ke tempat-tempat 'menyenangkan', ya!? Wah! Aku ikut dong kalau begitu! Sudah lama sekali aku tidak bermain di tempat-tempat seperti itu! Hahahaha! Semenjak aku tinggal di kota ini! Aku tidak punya waktu untuk bermain-main ke tempat menyenangkan! Aku sedikit jenuh, nih! Hehehehe!"


"Hm?" Isabella, dan yang lain, melirik ke wajah Jeddy saat lelaki berambut hijau itu mengatakan hal-hal yang terdengar ambigu. "Ke tempat-tempat yang menyenangkan?" Isabella mulai memahami apa yang dimaksud Jeddy, dan itulah yang membuat senyumannya semakin mengembang. "Kau pikir aku akan menghambur-hamburkan uangku untuk menengguk minum-minuman keras, menari-nari di bawah lampu gemperlap yang diiringi musik hip-hop, dan bermain-main bersama para lelaki, begitu?" Tawa Isabella langsung pecah dalam beberapa detik. "Kau lumayan juga, ya? Sampai bisa memikirkan ke tempat-tempat menyenangkan seperti itu, dan kedengarannya, kau juga salah satu penghuni dari tempat seperti itu, ya? Suatu kebetulan bisa bertemu dengan spesies yang sama sepertiku. Aku cukup senang," Isabella mendesah. "Brooooo~"


Mendengarnya, Jeddy sumringah. Ia berpikir kalau tebakannya benar, dan ia gembira karena akhirnya bisa menghabiskan waktu di pub-pub malam seperti dulu. Jeddy rindu sekali dengan suasana bar yang berisik. Bukan hanya itu, Jeddy juga sudah lama sekali tidak melakukan 'itu' bersama wanita-wanita seksi seperti Isabella. Dia benar-benar tidak tahan ingin melakukannya lagi.


Namun kegembiraannya sirna saat Isabella melanjutkan perkataannya, "Tapi sayangnya, aku tidak berniat menghabiskan uang-uangku dengan hal itu, Jeddy." Isabella mulai memalingkan perhatiannya dari Jeddy ke teman-temannya yang lain. "Aku, Paul, Cherry, dan Naomi, berencana akan menyewa sebuah hotel dengan uang ini, yang akan digunakan untuk tempat tinggal kita sementara. Apa kalian senang dengan itu?"


Lagi-lagi, Nico, Jeddy, Abbas, dan Koko, terkejut dengan apa yang disampaikan Isabella. Mereka berempat tampak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat mendengar hal demikian. Terutama Nico, yang terlihat sangat tercengang.


"Loh, mengapa?" Isabella bertanya-tanya pada Nico, saat mendengar perkataan yang tidak masuk akal. "Bukankah jika kalian terus-terusan berada di sini, itu hanya akan membebani keluarga Paul, kan? Apa kalian tidak keberatan dengan itu?" Isabella tersenyum. "Kalau aku sih, tidak mau."


Seketika, Nico termenung, ia sedikit tertampar oleh ucapan Isabella. Ia mulai merasa kalau selama ini dirinya telah ikut andil dalam membebani kondisi keluarga di rumah Paul. Bodoh sekali Nico baru memikirkan ini setelah tinggal di sini hampir sebulan, seharusnya dia sadar dari awal, agar momen seperti ini tidak terjadi. Akhirnya, Nico hanya terdiam.


Melihat Nico tidak menunjukkan tanda-tanda akan merespon ucapannya, Isabella pun menggeserkan pandangannya ke wajah-wajah yang lain. "Bagaimana dengan kalian? Aku ingin tahu tanggapan kalian, jadi jawablah."


Abbas langsung menanggapi ucapan Isabella dengan nada yang sangat tenang dan santai. "Aku mau," kata Abbas dengan muka seriusnya. "Tinggal di hotel," Perlahan-lahan, Abbas tersenyum tipis. "Asalkan bersama kalian."

__ADS_1


Semua orang tersentuh saat mendengar bagian terakhir dari kata-kata yang Abbas ucapkan, membuat Jeddy pun ikut bersuara. "Aku juga!" Jeddy mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Selama itu bersama kalian, tinggal di hotel akan jadi menyenangkan! Heheheheh!"


"Bolehkah... aku ikut juga?" ucap Koko dengan sedikit mengacungkan tangannya dengan kepala tertunduk. "Aku... tidak ingin menambah masalah di rumah ini. Dan aku... cukup sadar bahwa tidak ada manfaatnya Paul menampungku di rumahnya, karena aku memang tidak berguna, aku hanya bisa menyiram tanaman, itu saja. Tapi... aku tetap ingin tinggal bersama kalian, walaupun bukan di rumah Paul," Koko mengangkat kepalanya, dan tersenyum memandang wajah-wajah yang ada di depannya. "Jadi, aku sangat senang dengan ide tinggal bersama kalian di hotel, itu membuatku merasa hangat dan menyenangkan."


"Cherry juga!" Cherry melompat-lompat dengan mengacungkan tangan kanannya, bersemangat. "Walau tidur di rumah Olivia cukup menyenangkan, tapi Cherry sebenarnya lebih ingin tidur bersama kalian! Hihihihi! Jadi, ide tinggal di hotel bersama kalian, sangat Cherry dukung! Karena itu akan sangat menggembirakan! Cherry sukaaa! Hihihihi!"


Nico mendengus dengan membuang mukanya ke arah lain. "Kalau kalian semua setuju untuk tinggal di sana, mau tidak mau aku juga harus ikut." Nico menekan kaca matanya. "Walaupun tinggal di hotel bukanlah gayaku, tapi demi kalian, aku akan memaksakan diri. Jadi berterima kasihlah padaku, wahai para idiot."


Karena semua orang yang ada di ruang tamu, mengucapkan tanggapannya perihal tinggal di hotel, akhirnya Naomi pun ikut berbicara juga untuk melengkapi semua itu. "Saya pun sangat menantikan itu," ucap Naomi dengan tersenyum bahagia. "Saya tidak bisa membayangkan jika kita terus-terusan tinggal di rumah ini untuk waktu yang lama, pasti itu akan memberatkan pihak dari keluarga Paul. Apalagi kita rata-rata belum memiliki pekerjaan tetap seperti Colin, jadi ibaratnya, kita itu hanya benalu di sini. Maka dari itu, saat rencana menyewa hotel muncul, saya sebenarnya sangat gembira. Itu akan jadi dobrakan untuk kita--murid-murid Paul--agar berhenti menyusahkan keluarganya. Begitulah, menurut saya."


Isabella senang mendengar tanggapan demi tanggapan yang terlontar dari mulut teman-teman anyarnya itu, mengenai penyewaan hotel yang akan dijadikan sebagai tempat tinggal baru mereka. Semua tanggapannya tidak ada yang negatif, semuanya positif, dan itu membuat Isabella menghembuskan napas lega.


"Baguslah, aku senang mendengarnya," jawab Isabella, merespon berbagai ucapan dari teman-temannya. Namun, ia merasa ada yang asing di ucapan yang Naomi kemukakan barusan. "Ngomong-ngomong, siapa itu Colin?"


"Dia juga salah satu teman kita," jawab Naomi cepat-cepat. "Colin adalah pahlawan pertama yang Paul temukan, rambutnya biru, dan dia sudah punya pekerjaan tetap sebagai pelayan di sebuah kedai, itu yang saya dengar darinya."


"Oh? Menarik." Isabella tersenyum nakal.

__ADS_1


__ADS_2