Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 42 : Pilihan yang Tepat


__ADS_3

Brak!



Koko dan Naomi terkejut saat mendengar suara keras dari pintu restoran, sepertinya ada orang asing yang menggebrak pintu dengan seenaknya. Alhasil, Koko dan Naomi pun menoleh, ternyata dugaan mereka memang benar, ada seorang laki-laki yang masuk ke dalam restoran dengan amarah yang menggebu-gebu, seperti ingin melampiaskan kemarahannya di sini. Namun, Koko terbelalak saat sadar bahwa laki-laki tersebut adalah Paul, sebenarnya ada apa dengan mentornya itu? Kelihatannya perasaan Paul sangat buruk, tampak jelas dari ekspresi wajahnya yang terpahat, seakan-akan lelaki itu hendak menggigit siapa saja yang mendekatinya.



"Ada apa... Paul?" tanya Koko dengan suara yang halus, mencemaskan kondisi Paul.



"Sudah kuduga kau datang kemari!" ucap Paul dengan nada yang tinggi, dia pun mendatangi meja yang dihuni Koko dan Naomi. Setelah sampai di meja itu, Paul menatap ke wajah Koko dengan tatapan tajam. "Mengapa kau tidak memilih tempat yang lebih bagus dari restoran kumuh ini!? Bukankah sudah kubilang untuk mencari tempat yang aman!?"



Mendengarnya, Koko terdiam sejenak, merenung, hingga akhirnya ia pun menjawab dengan hati yang resah. "Karena aku pikir... tempat ini cukup aman," Koko menundukkan kepalanya. "Tapi... jika pilihanku salah dan membuatmu marah, aku minta maaf."



"Sudahlah! Lupakan!" Paul mengacak-acak rambut hitamnya dengan kesal, lalu ia menoleh, memandang penampilan Naomi yang sebagian besar tubuhnya dibaluti perban. "Bagaimana kondisimu? Apa masih ada yang sakit, hah!?" tanya Paul, menatap mata Naomi dengan intens. Mendengar itu, Naomi menghela napasnya.



"Terima kasih sudah menanyakan itu, tapi Anda tidak perlu khawatir, karena saya baik-baik saja," jawab Naomi dengan muka yang tenang, lalu ia melirik ke penampilan Paul. Saat itulah, Naomi kaget, mengingat Paul telah menghadapi gerombolan Jubah Putih yang sangat kejam, tapi mengapa lelaki itu tampak baik-baik saja, di tubuhnya hanya terdapat luka-luka ringan saja, tidak seperti dirinya yang sangat parah sampai harus diperban. Lantas, karena terheran-heran, Naomi pun bertanya pada Paul, "Apakah orang-orang berjubah itu tidak melakukan apa pun pada Anda?"



Mendengar itu, Paul mendengus. "Aku sudah membunuh pemimpinnya! Jeddy masih berada di sana, sedang mengurus sisanya! Dan siapa bilang bajingan-bajingan itu tidak melakukan apa pun pada kami!? Tentu saja bajingan-bajingan itu menyerang kami! Tapi kami berhasil mengalahkan mereka!" Naomi tertegun, dia tidak percaya ada orang yang mampu mengalahkan orang-orang aneh yang dapat mengeluarkan batu besar dari telapak tangannya, lantas, Naomi jadi penasaran terhadap suatu hal.



"Lalu, bagaimana cara Anda mengalahkan mereka?"



"Daripada menjawab itu! Lebih baik aku menjelaskan padamu mengenai siapa dirimu yang sebenarnya!" Sontak, Naomi terkejut mendengar perkataan Paul. Paul pun mengambil kursi dan duduk di meja yang sama dengan Koko dan Naomi. "Kau adalah seorang pahlawan, Naomi."



Kedua mata Naomi membelalak. "Pahlawan?" Naomi masih belum mengerti pada hal tersebut, tapi dia mulai mengingat sesuatu. "Bolehkah saya memastikan sesuatu?" Paul mengangguk dengan cepat. "Jika saya adalah seorang pahlawan, lantas, mengapa orang-orang berjubah itu berkata bahwa saya adalah seorang bidak iblis dan kelak akan menjadi musuh umat manusia? Namun, asal Anda tahu, sebenarnya saya tidak mempercayai dua hal itu, entah saya adalah iblis maupun pahlawan, tapi saya ingin memastikan saja, karena akhir-akhir ini, saya merasa ada yang aneh pada diri saya sendiri."



Koko dan Paul terkejut mendengar hal tersebut. "Bidak Iblis? Musuh umat manusia?" Paul menimbang-nimbang pemikirannya selama beberapa detik hingga akhirnya ia mendapatkan kesimpulan. "Aku paham sekarang," Paul menatap mata Naomi dengan serius. "Mereka adalah para pembunuh roh."



Naomi mengernyitkan alisnya, "Pembunuh Roh? Apa lagi itu?" Semakin ke sini, pembahasannya semakin sulit untuk dimengerti, Naomi sampai harus memutar otak untuk mendapatkan pencerahan. "Tapi," Naomi teringat sesuatu. "Jika Anda menyebut mereka dengan 'pembunuh roh', saya setuju. Soalnya, mereka pernah bilang tentang roh-roh yang harus dibasmi dan mereka juga mengatakan bahwa di tubuh saya, ada roh iblis yang nantinya bakal membahayakan umat manusia, apakah itu benar?"

__ADS_1



"SALAH!" Paul langsung menggebrak meja dengan kasar, ia pun menggemeletukkan giginya karena jengkel. "Malah sebaliknya! Kau bakal menjadi sosok yang akan melindungi umat manusia! Yaitu menjadi seorang pahlawan! Karena di dalam tubuhmu, ada roh kunang-kunang! Dan asal kau tahu, roh itu tidak memilih manusia dengan sembarangan! Dia memilihmu karena kau adalah manusia yang layak untuk dijadikan sebagai sosok pahlawan!"



"Be-Benarkah?" Naomi terperanjat mendengar omongan Paul, dia sedikit tersipu, tapi buru-buru dia bertanya hal yang lain pada lelaki itu. "Tadi Anda bilang roh kunang-kunang? Apa maksudnya itu, apakah bentuk rohnya seperti kunang-kunang? Dan mengapa--"



"Dengar! Akan kujelaskan dari awal! Jadi kau harus mengingatnya!" Kemudian, Paul pun mulai menjelaskan semuanya tentang roh kunang-kunang, mentor, sepuluh pahlawan, sosok pembunuh roh, siapa saja yang terpilih jadi pahlawan sebelum dirinya, dan juga tentang Roswel. Sampai akhirnya, Naomi tidak henti-hentinya terkejut mendengar penjelasan dari Paul, tapi ia mulai paham sekarang.



Naomi pun menoleh pada Koko, "Jadi Anda juga termasuk manusia-manusia yang terpilih menjadi seorang pahlawan?" Koko mengangguk sambil tersenyum. "Saya tidak menyangka kalau dunia ini ternyata menyimpan banyak hal yang menakjubkan," Kemudian, pandangan Naomi difokuskan pada Paul. "Karena Anda adalah seorang mentor, maka tugas Anda adalah membimbing para pahlawan seperti saya untuk menjadi sosok pahlawan sejati, begitu?"



"Ya!" kata Paul dengan semangat. "Maka dari itu! Kau harus tunduk padaku, Naomi! Karena aku adalah mentormu!"



Tiba-tiba, Naomi menundukkan kepalanya dengan tubuh yang gemetar. "Sebelum itu, saya ingin meminta maaf pada Anda, Paul," kata Naomi dengan suara yang rendah. "Karena tadi pagi, saya dengan kasarnya merendahkan Anda hanya karena Anda adalah seorang Eris. Saya benar-benar menyesal karena telah bersikap demikian."




Awalnya Naomi gelisah, karena pilihan yang dibuat oleh Paul punya resikonya masing-masing. Seperti contohnya, jika Naomi memilih untuk ikut bersama Paul ke Swart, maka resikonya adalah, dia harus meninggalkan kota tercintanya, keluarganya, teman-temannya, dan segala kenangan yang diciptakannya sedari kecil di tanah kelahirannya. Dan jika Naomi memilih untuk tetap tinggal di Sablo, maka resikonya adalah, dia harus menghadapi orang-orang berjubah putih itu, para pembunuh roh, yang memiliki kekuatan sakti dan dapat melenyapkan nyawanya dalam hitungan detik. Karena itulah, Naomi bingung harus memilih yang mana.



Namun, baru saja Naomi akan memberikan jawaban, tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari seseorang. "BROOO!" Masuklah seorang lelaki berambut hijau dan berbadan tegap ke restoran kumuh ini sambil berteriak memanggil seseorang. Lelaki itu langsung mendatangi meja yang dihuni Naomi, Koko, dan Paul sembari cengengesan. "Bro!" Lelaki itu menepuk pundak Paul dengan sikap sok akrab, membuat Naomi mengernyitkan alisnya. "Aku sudah membereskan sisanya! Mereka benar-benar lemah sekali, Bro! Kupikir aku akan dikeroyok setelah kau pergi dari gang itu, hahahahaha!" Dan yang lebih anehnya, lelaki itu malah tertawa mendengar omongannya sendiri, benar-benar menakutkan, pikir Naomi.



"Dia adalah Jeddy!" kata Paul pada Naomi, mencoba memperkenalkan Jeddy. "Dia sama sepertimu, salah satu manusia yang terpilih menjadi seorang pahlawan. Tapi kau harus berhati-hati dengannya, karena dia adalah lelaki super mesum!" Naomi terbelalak mendengarnya, dia pun langsung menggeser kusinya jauh-jauh dari Jeddy, sambil menampilkan senyuman hambar.



"O-Oh, begitu, ya, hehehe, tidak apa-apa, saya tidak masalah dengan itu." ungkap Naomi berusaha bersikap ramah pada Jeddy walau sebetulnya dia sangat tidak nyaman dengan lelaki hijau itu. Jeddy tersenyum lebar melihat Naomi.



"Woah! Ternyata saat melihat wajahmu dari dekat, kau tampak luar biasa, Naomi! Tidak salah aku menganggapmu sebagai 'Naomiku tersayang', hahahaha!"



Kedua alis Naomi terangkat, dia kaget mendengar sebutan yang Jeddy buat untuk dirinya. "A-Apa maksud Anda menyebut diri saya dengan sebutan begitu, J-Jeddy?" Jeddy menggaruk-garuk lehernya dengan cengengesan.

__ADS_1



"Hahaha! Tidak ada maksud apa-apa, kok! Aku hanya ingin menyebutmu begitu saja! Agar kesannya kita ini punya hubungan yang kuat! Hahahaha!"



Koko menahan tawa mendengar hal itu, begitu pula dengan Paul. Sementara Naomi kesal, karena dirinya merasa dipermalukan di depan Koko dan Paul, sedangkan Jeddy hanya tertawa-tawa saja tanpa merasa bahwa ucapannya itu mendatangkan atmosfir yang tidak mengenakkan. Tapi sejenak kemudian, Paul berdehem.



"Jadi bagaimana? Kau pilih yang mana, Naomi!? Aku ingin mendengar jawabanmu sekarang!" Mendengar itu, Koko dan Jeddy pun terdiam, menatap fokus pada muka Naomi yang akan merespon pertanyaan Paul. "Jangan sampai pilihanmu membuatmu menyesal pada kemudian hari, Naomi."



"Baiklah," kata Naomi dengan menarik napasnya dalam-dalam. "Saya bersedia untuk ikut bersama kalian ke Kota Swart, karena saya penasaran pada sosok bernama Colin, Nico, dan Cherry, yang merupakan manusia-manusia yang terpilih, sama seperti saya. Itulah alasan yang membuat saya ingin ikut bersama kalian."



Mendengar jawaban Naomi, membuat Paul, Koko, dan Jeddy, mengembangkan senyumannya dengan lebar.



"Syukurlah...," Koko merasa lega setelah mendengar jawaban Naomi. "Aku senang kau mau ikut bersama kami, Naomi."



"Hahahahaha!" Jeddy terbahak-bahak. "Dugaanku benar! Kau pasti akan rindu padaku! Makanya kau memilih ikut bersama kami! Hahahaha!" Mendengarnya, alis Naomi berkedut karena jengkel.



"Bagus!" Paul tampak menyeringai senang. "Kau telah memilih pilihan yang tepat, Naomi," Paul pun berdiri dari kursinya. "Kalau begitu, tugas kita di sini sudah selesai! Waktunya pulang!" Namun, saat Paul hendak pergi, Koko langsung menarik tangannya.



"Kau... melupakan sesuatu, Paul," kata Koko dengan cemas. "Kau ingat? Saat kita akan pergi ke Sablo, ada seseorang yang bilang ingin mencicipi makanan khas kota ini, karena itulah, sebaiknya... kita beli cemilan dulu di restoran ini, Paul."



"Maksudmu, Nico, ya!?" Paul pun teringat pada omongan Nico saat dirinya hendak berangkat ke Kota Sablo. "Ya sudah, belikan makanan yang banyak untuk dia! Jeddy, tugasmu cari halte bus! Dan Naomi, siapkan barang-barangmu yang harus dibawa ke Swart!"



Koko pun segera memesan makanan khas Kota Sablo yang akan dibungkus pada pramusaji untuk dijadikan oleh-oleh. Jeddy langsung berlari ke luar restoran untuk mencari halte bus terdekat, sedangkan Naomi pamit pulang ke rumahnya, untuk membawa beberapa barang yang harus dibawa, seperti alat-alat untuk ibadah, segala macam kerudung, dan sejenisnya.



Dan tugas Paul hanyalah duduk manis di kursi, menunggu ketiga muridnya menyelesaikan tugasnya masing-masing.


__ADS_1


__ADS_2