Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 106 : Martabat Perempuan


__ADS_3

"Lagi-lagi kau memakiku dengan sebutan itu, dasar ******** keparat!" Lizzie gondok saat mendengar omongan Paul yang terus-menerus menghinanya dengan cacian menyebalkan, ia tidak mau mendengar dirinya dihujat seperti itu oleh orang lain. "Jangan meremehkanku! Meskipun aku ini perempuan! Aku lebih hebat darimu! Kau tidak sebanding denganku! Laki-laki sepertimu, sebaiknya tenggelam saja di laut!"


Kemudian, amarah Lizzie dipadamkan, digantikan dengan seringaian jahatnya lagi. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Setelah salah satu temanmu mati oleh seranganku yang kau anggap gagal? Apa kau terluka? Kau menderita? Kau benci? Kau dendam? Ungkapkan semuanya padaku! Aku ingin melihatnya! Wajah manusia yang sedang merana! Itu menyegarkan! Menyegarkan sekali! HAHAHAHAHA!"


Paul langsung menghantamkan kepalan tangan kanannya, pada hidung Lizzie, hingga terdengar bunyi retakan tulang yang patah, perempuan tomboi itu, sekali lagi, terhempas oleh pukulan lawannya. Menyebabkan Lizzie kembali tersungkur ke tanah, bahkan saat badannya melayang, gunting beracun yang ia pegang terlepas dari genggamannya dan terlempar entah kemana. Kondisinya jadi semakin parah dari sebelumnya, Lizzie bahkan bisa merasakan rasa nyeri yang teramat pedih di seluruh badannya, terutama pada bagian hidungnya. Rasanya tulang hidungnya patah, dan itu benar, karena darah segar terus menetes-netes tanpa henti dari lubang hidungnya.


"Jangan membuatku marah!" raung Paul pada Lizzie dengan urat-urat yang menonjol di wajah dan lehernya. "Akan sangat berbahaya jika kemarahanku meledak-ledak, bahkan pembunuh bayaran sepertimu pun, tidak akan mampu menghentikanku!"


"S-Sakit! Sialan!" Lizzie sedang terduduk sembari memegangi hidungnya yang terus-terusan mengucurkan darah.


"Maka berhentilah, berhentilah menertawakan temanku yang sedang sekarat!"


Mendengar itu, Lizzie langsung menatap muka Paul dengan bergairah. "Lebih! Lebih! Pasang wajah penderitaanmu yang lebih malang dari itu! Cepat! Lakukan! Itu masih kurang! Kau harus terlihat menyedihkan di mataku! Bayangkan! Bayangkan teman-temanmu terbunuh oleh racunku! Bencilah padaku! Dendamlah padaku! Lalu penuhilah wajahmu dengan penderitaan yang memilukan!"


"Kau ini sedang bicara apa, Brengsek!?" Paul muak mendengar ucapan-ucapan yang Lizzie lontarkan. "Mengapa kau sangat terobsesi melihat wajah orang yang sedang menderita!? Itu benar-benar aneh!"


Lizzie tersenyum lebar saat Paul penasaran dan bertanya pada hobinya melihat wajah orang yang menderita. "Itu tidak penting, tidak usah dibahas! Yang lebih penting! Kau harus memasang muka malangmu! Itu saja sudah cukup untuk membuatku lupa pada rasa nyeri yang berdenyut-denyut di seluruh tubuhku! Jadi cepatlah! Pasang wajah malangmu dengan sempurna! Aku akan senang jika kau melakukannya sembari memancarkan aura kebencian yang kuat padaku! Haha!"


"Justru!" Paul menggertakkan rahangnya dengan keras. "Kaulah di sini yang terlihat sangat malang! Bodoh!"

__ADS_1


Mendadak, Lizzie terbelalak. "Ap--Keparat! Apa yang kau katakan!? Aku tidak malang! Aku adalah seorang pembunuh bayaran! Aku tidak pernah menampilkan kelemahanku di hadapan orang lain! Aku ini hebat! Aku adalah perempuan terhebat! JANGAN MACAM-MACAM DENGANKU!"


Walau kondisinya babak belur, Lizzie masih mampu melontarkan kata-kata sombongnya dengan bangga, tanpa sedikit pun takut pada Paul yang telah menghajar wajahnya. Di samping itu, Lizzie tampak punya harga diri yang sangat tinggi, dia menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain, dan tidak terima jika orang lain menghinanya.


"Apanya yang hebat dari seorang gadis yang bisanya hanya nyerocos sambil bilang bahwa dirinya paling hebat dari yang lain, padahal aksi yang dia lakukan hanya sekedar menyerang musuh menggunakan racun biasa." Paul mengejek Lizzie untuk memancing amarahnya. "Apanya yang hebat dari itu, hah?"


"SEKALI LAGI KAU BILANG BEGITU! AKU AKAN--"


"Apanya yang hebat dari seorang gadis yang terobsesi melihat wajah orang menderita, padahal wajah dirinya sendiri lebih malang dari orang lain! Dan bodohnya, dia tidak menyadari itu sama sekali!" Paul mendecih dengan jijik. "Apanya yang hebat dari itu, hah!?"


"TERBURUK! KAU TERBURUK! KAU ADALAH ORANG YANG PALING TERBURUK DI DUNIA INI!"


"Lalu memangnya kenapa!?" Paul menaikan sebelah alisnya dengan melipat dua tangannya di dadanya, bersikap tenang. "Aku tidak peduli apakah aku yang terbaik, yang terburuk, atau yang lainnya! Aku tidak peduli pada itu semua! Itu tidak penting!" Paul menampilkan muka menindasnya pada Lizzie, seakan-akan perempuan itu hanyalah serangga rendahan yang menjijikkan. "Daripada kau terus-terusan mengoceh hal-hal yang tidak penting, lebih baik," Paul menjulurkan tangan kanannya, dengan posisi seperti meminta sesuatu. "Berikan penawar racunnya padaku. Aku membutuhkannya. Cepat."


Lizzie langsung bangkit dari tempatnya duduk dan lari secepat mungkin dari hadapan Paul, hingga keberadaannya sudah tidak nampak lagi. "Dia tidak memberikan penawarnya, sial!" Paul gelisah memikirkan kondisi Abbas yang terinfeksi racun mematikan, jika tidak cepat diberikan penawar racun, lelaki kekar itu bisa tewas mendadak. Sambil memikirkan cara mengatasi racun yang menginfeksi tubuh Abbas, Paul melangkahkan kakinya, mencari lokasi Isabella dan Abbas beristirahat. "Sepertinya, pahlawan kali ini bakal sangat sulit untuk bergabung denganku."


"LIZZIEEEE!" Seorang bocah perempuan yang usianya sekitar 10 tahun berlari-lari kecil saat melihat Lizzie keluar dari pepohonan rimbun. Bocah itu mengenakan gaun pendek berwarna putih dan rambutnya lurus sebahu berwarna cokelat matang. "Apa kau baik-baik saja!? Aku menunggumu dari tadi! Ngomong-ngomong, apa misimu berhasil!?"


Lizzie berjalan di atas pasir putih halus, dia terus melangkah dan melangkah, meninggalkan jejak kaki yang sangat jelas di belakang. Bunyi ombak yang memecah di tepi pantai, membuat perasaan Lizzie jadi lebih tenang dari sebelumnya.

__ADS_1


Pelan-pelan Lizzie tersenyum tipis dengan mendatangi bocah itu yang tampaknya sudah menunggunya. "Jangan khawatir! Aku baik-baik saja, Rara!" Lizzie langsung memeluk badan mungil Rara dengan sangat erat. "Mengenai misinya, aku gagal. Mereka sangat kuat! Aku hanya bisa membunuh lima orang! Sedangkan mereka berjumlah lima puluh orang! Dan semuanya laki-laki! Bahkan mereka sempat meremehkanku hanya karena aku ini seorang perempuan! Sialan!"


Rara langsung melepaskan pelukan itu dan bertanya dengan raut muka kaget. "Benarkah!? Mereka jahat sekali! Lagi-lagi seperti itu! Aku benci jika orang-orang meremehkanmu hanya karena kau adalah perempuan! Tenang saja, Lizzie! Aku tidak akan menganggapmu seperti itu! Kau adalah yang terhebat! Perempuan yang terhebat!"


"Rara," Mata Lizzie jadi berkaca-kaca saat bocah itu menghiburnya, ia jadi sangat terharu. "Kau imut sekaliiiii! Bolehkah aku membunuhmu!?"


"Jangan, dong!"


"Hanya bercanda, hehehe!" Lizzie pun kembali melepaskan pelukannya. "Oh, ya! Kau pasti terkejut mendengarnya! Tahu tidak? Sepulang dari misi! Aku memergoki tiga orang yang melakukan mesum di pekarangan tempatmu biasa bermain! Dua laki-laki saling berciuman! Dan gadis satunya mengabadikannya lewat kamera ponsel! Bukankah itu menjijikan!? Melakukan mesum di tempat umum seperti itu!"


"Benarkah!?" Rara berjengit jijik mendengarnya. "Kenapa orang-orang dewasa selalu bodoh, sih!? Menjijikkan!"


"Bukan hanya itu! Mereka juga menyerangku! Kau lihat? Hidungku tadi sempat berdarah! Walau sekarang sudah baikan! Sungguh! Mereka jahat sekali! Padahal aku sedang lelah karena baru bertarung melawan gerombolan gengster! Dan sekarang! Mereka malah menyerangku! Sepertinya mereka marah karena tertangkap basah olehku!"


Rara terbelalak mendengarnya. "Benarkah!?" Rara tidak menyangka Lizzie akan melalui hari yang merepotkan seperti itu. "Kalau begitu, kita harus membalasnya!"


Lizzie menganggukkan kepalanya. "Ayo kita bunuh tiga orang mesum itu bersama-sama! Rara!"


"Ya! Demi martabat perempuan, benar, kan!? Lizzie!?"

__ADS_1


"BENAR! Demi martabat perempuan! Tapi Rara! Lagi-lagi kau imut sekaliiiiii!"


"Hentikan! Jangan memelukku erat-erat! Lizzie!"


__ADS_2