
"Ada sesuatu di hidungmu, Rara."
Lizzie langsung menghapus kotoran kecil yang menempel di hidung Rara, kemudian menatap mata anak itu dengan senyuman cerah.
"Ada apa di hidungku, Lizzie!?" Rara jadi resah, khawatir ada sesuatu yang mengerikan di hidungnya.
Karena akhir-akhir ini dia memang sering kedapatan serangga kecil yang hinggap di hidung tanpa disadarinya, bahkan kasus yang paling parah, serangganya masuk ke lubang hidung dan sukses membuat Rara bersin-bersin seminggu penuh. Rara tidak mau hal itu terulang kembali, dia sudah kapok.
Lizzie tersenyum dan menggeleng pelan. "Bukan apa-apa, kok. Hanya kotoran kecil--Oh! Lihat!" Lizzie tercengang saat melihat sesuatu yang melompat-lompat di permukaan laut.
Kini, mereka berdua sedang duduk di atas dermaga, dengan badan menghadap ke arah laut sambil mengayun-ayunkan kaki, mencoba untuk menyantaikan pikiran yang semrawut. Ah, ternyata sesuatu yang melompat-lompat adalah kawanan lumba-lumba, Lizzie dan Rara tak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat menyaksikan hewan-hewan itu meloncat di permukaan laut. Kota Barasta memang terkenal dengan lautnya yang menyimpan banyak hewan lucu. Bahkan untuk sekelas hiu pemangsa pun, bentuknya sangat menggemaskan, seperti ada tanda hati di punggungnya atau bisa menari-nari di permukaan, pokoknya hal-hal yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung.
Lizzie dan Rara tidak pernah bosan memandangi lumba-lumba yang melompat-lompat di permukaan laut, walau hampir tiap hari mereka melihatnya, tapi rasanya tetap menyenangkan seperti pertama kali melihat.
Matahari mulai terbenam dan Lizzie mengajak Rara untuk pulang ke rumahnya. Ngomong-ngomong, Rara bukanlah keluarga kandung dari Lizzie, anak itu hanyalah tetangganya. Sedari kecil, Lizzie dan Rara selalu bermain bersama, meski usia mereka saling berjauhan, tapi dua gadis itu tidak memikirkannya dan tetap menjadi seorang sahabat.
Di jalan pulang, Lizzie bertanya dengan nada yang gelisah. "Apa tidak apa-apa," Lizzie meneguk ludahnya dengan gusar. "bermain bersamaku seperti ini?" Rara langsung menoleh saat mendengar pertanyaan itu. "Bukankah mereka melarangmu bermain bersamaku? Yang kumaksud adalah keluargamu. Aku tidak mau keberadaanku menjadi masalah buatmu, Rara."
__ADS_1
"Lagi-lagi seperti itu!" Rara tampak kesal. "Sudah kubilang, jangan pikirkan tentang itu, Lizzie! Aku tidak mau berpisah denganmu! Aku ingin terus bermain bersamamu! Kau sudah kuanggap sebagai keluargaku!"
"Iya, aku tahu!" Lizzie jadi sedikit berseru. "Tapi, kan? Aku tidak bisa membiarkanmu terus seperti ini! Membangkang perintah keluarga itu bukan sesuatu yang baik! Kau harus mematuhinya, Rara!"
"Aku tidak membangkang! Selama ini aku sudah menuruti kemauan mereka! Aku sudah pandai menyanyi! Pandai melukis! Pandai menari! Pandai berkomunikasi! Dan sebagainya! Padahal usiaku masih kecil! Tapi mereka selalu memaksaku untuk melakukan ini dan itu! Dan sebagai hadiahnya, karena telah menjadi gadis yang patuh, aku ingin bermain bersamamu! Tapi mereka malah memarahiku! Mengatakan bahwa Lizzie bukan gadis yang baik! Dan hal-hal buruk lainnya! Aku muak! Makanya, aku diam-diam selalu keluar dari rumah untuk bermain bersamamu!"
Lizzie menghentikkan langkah ketika Rara mengungkapkan semua kegondokannya. Lizzie tidak menyangka Rara melakukan itu hanya untuk bermain bersamanya, padahal apa yang dikatakan oleh keluarga gadis itu adalah hal yang benar. Lizzie bukan gadis yang baik, dia bukan sosok yang layak untuk dijadikan sebagai sahabat atau pun keluarga. Dan Lizzie sendiri pun menyadari itu, ia memang tidak pantas untuk ditemani.
"Untuk besok, kau tidak perlu lagi melakukan itu, Rara."
Seketika, Rara terbelalak, matanya membulat lebar-lebar seperti lingkaran. "A-Apa!?" Rara tidak pernah menduga Lizzie bakal menyuruhnya untuk berhenti, padahal selama ini dia sudah berjuang mati-matian untuk bermain bersamanya. "Lizzie! Jangan bertingkah seperti itu! Aku tidak mau! Kau jadi terlihat seperti mereka! Orang-orang di rumahku! Berhenti bersikap seperti itu!"
"Tapi kau juga keluargaku!"
"Tidak," Lizzie menggeleng pelan dengan senyuman masam. "Aku bukan keluargamu. Aku hanya orang yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumahmu. Hanya sebatas itu, Rara."
Rara mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan menahan tangis. "M-Mengapa kau jadi jahat begitu, Lizzie!?" Air matanya jadi mengucur saking kecewanya. "Apakah selama ini kau tidak pernah menganggapku sebagai keluargamu? Atau paling tidak, sebagai sahabat atau temanmu!? Kau tidak menganggapku begitu!?" Bibir Rara jadi bergetar. "Kau jahat! Lizzie! Kau jahat!" Rara langsung berlari meninggalkan Lizzie. "Aku membencimu!"
__ADS_1
Memandangi punggung Rara yang semakin jauh, Lizzie meratapinya dengan hati yang pilu. Menghembuskan napasnya sejenak, Lizzie kembali melangkah untuk pulang ke rumahnya.
Tak terasa, hari sudah semakin gelap, awan-awan putih dan langit biru telah tergantikan dengan warna hitam pekat. Bintang-bintang kecil bertaburan di kegelapan langit malam, menghiasi suasana malam yang menyeramkan.
Lizzie sudah sampai di depan pintu rumahnya, dia mendorong pintu kayu itu dan terdengarlah suara deret dari pintu yang terbuka. Keheningan mulai terasa, ia langkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan gelap dari dalam rumahnya. Tak lupa mengunci pintunya kembali. Lizzie berjalan dan berjalan sendirian, di kegelapan ruangan yang sunyi. Setelah masuk ke dalam kamar pribadinya, ia langsung melompat ke atas kasur dan membenamkan kepalanya di bantal empuk.
"Hidup sendirian di sebuah rumah itu menyedihkan sekali, sial." Lizzie merutuki kehidupannya yang malang. "Tapi itu lebih baik daripada harus hidup bersama dua orang itu!" Lizzie langsung membangunkan badannya untuk duduk di atas ranjang. "Sedang apa mereka sekarang? Menikmati hidup gemerlapnya karena telah merampas segalanya dari Ibu!?" Lizzie menggertakkan giginya. "Mereka itu! Aku akan membunuhnya suatu saat!"
Awalnya, Lizzie hidup di rumah ini bersama ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya. Setiap harinya rumah ini selalu ramai, dipenuhi dengan canda dan tawa. Lizzie masih mengingatnya dengan jelas, saat ayahnya selalu memeluknya ketika ia sedang bersedih. Saat ibunya selalu membuatkan makanan kesukaannya ketika makan malam bersama. Saat kakak laki-lakinya selalu mengajaknya untuk menonton film bersama pada tengah malam. Semua itu, masih membekas dalam ingatannya. Hal-hal yang menyenangkan dan mengharukan. Namun, semua itu berubah saat suatu masalah muncul.
Suatu hari, sang ibu terlilit hutang pada seorang rentenir, dan jumlah hutangnya sangat besar. Alhasil, semua anggota keluarga jadi terlibat ke dalam masalah itu, sang ayah, sang kakak, berusaha mencari cara untuk melunasi hutang-hutang itu. Mereka bekerja siang dan malam demi menutupi semua hutang keluarga. Namun, bertahun-tahun mereka bekerja, hutangnya tidak pernah terlunasi, malah sebaliknya, bunganya malah makin membengkak.
Sampailah perasaan sang ayah dan sang kakak pada titik jenuh, mereka berdua sudah lelah bekerja banting tulang tapi tidak mendapatkan hasil yang baik. Yang ada, masalah makin membesar. Semua yang mereka lakukan percuma, tidak ada lagi yang harus dilakukan karena apa pun pasti akan menjadi sia-sia.
Kemudian, karena marah dan kesal, sang ayah dan sang kakak menyalahkan habis-habisan pada sang ibu, mereka memarahi, membentak, menyudutkan wanita itu dengan kata-kata yang sangat kejam. Lizzie mendengar semua itu, mereka selalu melakukannya tanpa henti pada sang ibu. Padahal, Lizzie tahu sang ibu berhutang pada seorang rentenir, itu untuk kebutuhan keluarga, banyak sekali kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan sebenarnya, hutang sang ibu pun tidak terlalu banyak, hanya sekitar 5000 lumion saja, tapi yang membuatnya jadi gila adalah bunga dari hutang itu. Kian hari, selama hutangnya tidak dibayar dengan cepat, bunganya bakal terus melonjak tinggi, dan itu benar-benar mengerikan.
Hingga pada suatu waktu, Lizzie menyaksikan kejadian yang menyesakkan, yang pernah terjadi sekali dalan seumur hidupnya. Kejadian yang tidak ingin ia lihat, yang tidak ingin ia tahu, yang tidak ingin ia ingat.
__ADS_1
Kejadian ketika sang ibu dibunuh dalam tidurnya oleh sang ayah dan sang kakak, dan Lizzie memandanginya dari celah-celah pintu, karena itu terjadi pada malam hari, saat ia seharusnya sudah terlelap ke alam mimpi.