Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 69 : Bubar!


__ADS_3

Berkat omongan Jeddy, akhirnya Colin, Nico, Abbas, Paul, Elena, Cherry, dan Koko, bisa menyaksikan tangisan Naomi yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Kini, gadis berkerudung kuning itu, yang sebelumnya tampak santai dan lihai dalam berdebat, menangis hening di hadapan mereka semua, yang terdengar dari Naomi hanyalah suara isakkannya saja, yang tampak menyakitkan.


"N-Naomi!? K-Kenapa kau jadi menangis begitu!?" Colin tersentak melihat Naomi tiba-tiba menangis di hadapannya, ia benar-benar tidak menyangka kalau gadis seperti Naomi bisa mengungkapkan kesedihannya lewat sebuah tangisan, apalagi kini gadis itu sedang ditonton oleh banyak orang. Colin kira, Naomi bukan gadis semacam itu, tapi akhirnya ia tersadarkan pada suatu hal, mau sebagaimana pun, Naomi tetaplah seorang gadis. Dia pasti akan merasa sedih, takut, dan kecewa jika disudutkan oleh orang banyak seperti ini. Naluri seorang perempuan memang sensitif, begitulah menurut Colin.


Tapi, apakah memang benar Naomi menangis karena hal itu? Apa pun sebabnya, Colin jadi merasa bersalah, sangat merasa bersalah, ia pikir, ini pasti karena perkataannya yang barusan. "M-Maaf! Naomi! Aku sadar kalau kata-kataku pasti telah menyakitimu! Aku menyesal! Aku benar-benar minta maaf!," Mendadak, Colin tersadarkan akan sesuatu. "Tidak! Maksudku, aku minta maaf jika semisalnya, kata-kata yang kami lontarkan telah melukai hatimu! Kami benar-benar minta maaf! Naomi! Kami akan lebih berhati-hati dalam berucap!"


"Bukan," Di antara isakkan tangisnya, Naomi berkata, "Bukan itu yang membuat saya menangis."


Colin dan beberapa orang lainnya tercengang mendengarnya, jika memang bukan itu, lalu apa yang membuat Naomi menangis? Mereka semua benar-benar dibuat bingung oleh Naomi.


"Saya menangis karena," Naomi melanjutkan ucapannya. "Perasaan saya campur aduk. Saya merasa bimbang pada diri saya sendiri. Saya beranggapan kalau semua yang saya katakan adalah sebuah kebenaran mutlak yang didasari oleh kitab suci, tapi di sisi lain, saya merasa takut!"


"Takut?" Nico mengernyitkan alis, tidak paham pada maksud Naomi. "Kau takut pada hal apa?"


"Saya takut," Naomi sesenggukkan saat mengatakannya. "Dibenci oleh kalian semua. Saya takut dijauhi oleh kalian semua. Saya takut dianggap aneh oleh kalian semua. Saya benar-benar takut kalau kalian tidak menerima keberadaan saya di sini! Dan juga, saya sadar, bahwa apa yang saya lakukan pada Koko, adalah sebuah kesalahan. Hati saya menjerit-jerit, tidak setuju pada perbuatan saya sendiri yang berkeinginan membunuh Koko, tapi di sisi lain, saya merasa wajib membunuh Koko karena itu adalah perintah dari Tuhan, yang sudah dijelaskan dalam kitab suci Agama Blanca."


Perlahan-lahan, Naomi memandang muka Koko. "Koko, saya sebenarnya ingin memeluk Anda saat Anda becerita tentang masa lalu Anda yang menyedihkan. Saya ikut merasa iba saat Anda bilang bahwa Anda dijual oleh keluarga Anda untuk dijadikan sebagai budak, tapi saat itu, perasaan saya campur aduk. Akhirnya, saya malah memilih perasaan yang didasari oleh kitab suci, bukan perasaan yang didasari oleh rasa kemanusiaan. Saya benar-benar bimbang. Sampai saat ini pun, saya masih merasa bimbang."


Koko dan yang lainnya, terbelalak mendengar perkataan Naomi. Mereka semua menampilkan ekspresi kekagetannya masing-masing. Dan tiba-tiba, Koko merangkak ke tempat Naomi duduk, lalu ia langsung memeluk gadis berkerudung itu dengan sangat erat.


"Jangan takut...," bisik Koko di pundak Naomi, dengan tangan melingkar ke tubuh gadis berkerudung tersebut. "Aku... dan yang lainnya... tidak akan membencimu, menjauhimu, atau pun menganggapmu aneh. Kami semua... akan selalu menerimamu, Naomi. Tidak apa-apa... aku paham dengan kondisimu. Jadi, tidak apa-apa... kalau kau masih merasa bimbang. Tidak apa-apa... kalau kau punya perasaan ingin membunuhku, aku tidak keberatan. Asalkan... kau tidak melukai Paul dan yang lainnya. Jika kau ingin membunuh seseorang... maka bunuhlah aku, Naomi."

__ADS_1


Naomi terkejut saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk erat oleh Koko, yang merupakan seorang laki-laki, walaupun wajahnya cantik dan gerakannya gemulai, tapi di satu sisi, Naomi merasa senang, setelah mendengar perkataan Koko. Walaupun, Naomi sedikit tidak setuju pada bagian Koko yang memintanya untuk membunuhnya saja. Naomi tidak setuju, sebab, Naomi tidak ingin kehilangan Koko. Naomi ingin bersama Koko, tapi di sisi yang lain, ia merasa keberadaan lelaki cantik itu mengganggu dan menjijikan. Tapi di satu sisi yang lain, Naomi sangat menyayangi Koko, seperti menyayangi keluarganya sendiri.


Tampaknya, kebimbangan masih bergejolak di hati Naomi.


Sampai akhirnya, terdengar sebuah celetukkan dari bibir Paul. "Kalau kau sebimbang itu, mengapa kau lupakan saja kitab sucimu itu beserta ajaran-ajaran dari agamamu!? Kurasa, itulah yang membuatmu selalu merasa bimbang. Lebih baik, buang hal-hal yang berhubungan dengan agamamu! Dan hiduplah bebas seperti kami! Menurutku! Itu adalah solusi yang bagus untuk menghancurkan kebimbanganmu, Naomi."


Ketika Naomi menjawab omongan Paul, setelah Koko melepas pelukan pada dirinya--


"Baik, saya akan berusaha agar saya tidak lagi menyangkut-pautkan kehidupan pribadi saya dengan urusan agama saya. Saya akan mencoba untuk menjadi seseorang yang fleksibel. Saya akan menganggap dua hal itu--pertemanan dan agama--berharga! Karena itulah, saya tidak boleh membiarkan salah satunya hilang. Terima kasih, Paul, atas sarannya."


--Semua orang yang ada di ruangan tersenyum senang dan bertepuk tangan meriah, bangga terhadap Naomi yang telah mengambil keputusan bijak untuk mengatasi kebimbangan hatinya.


Tak terasa, hari sudah mulai gelap, saat melihat waktu di jam dinding, Paul kaget kalau saat ini telah memasuki pukul sembilan malam, waktu bergulir sangat cepat. Pesta pun berakhir, yang diakhiri oleh usainya pertikaian antara Koko dan Naomi. Mereka berdua kini telah jadi akrab kembali seperti sebelumnya, saling menghargai satu sama lain, layaknya sebuah keluarga.


"Jadi apa?" tanya Nico, yang sudah tak tahan ingin tidur.


"Ayoo! Cepatlah katakan! Pauuul! Cherry sudah mengantuk, nih!" Setelah mengatakan itu, Cherry menggigit permen lolipop jumbonya sampai jadi berkeping-keping, lalu ia lahap semuanya dalam sekejap.


"Aku jadi sangat penasaran nih, Bro! Hahahaha!" Jeddy tertawa renyah sambil memegangi perutnya.


"K-Kuharap bukan sesuatu yang mengerikan! Awas saja kalau kau bicara tentang hal-hal yang berbau hantu! Soalnya ini sudah malam! Hiiiiii! Membayangkannya saja membuatku merinding!" Colin mengusap-usap tengkuknya yang mulai kedinginan karena ketakutan.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Colin," Nico memasang senyum hangatnya pada Colin. "Jika Paul mengatakan hal-hal yang berbau hantu, aku akan membungkam mulutnya. Tenang saja." Mendengar itu, Colin sama sekali tidak merasa tenang.


"Jangan takut," Abbas mengusap-usap rambut Colin. "Hantu tidak jahat."


Melihat kepala Colin diusap-usap oleh Abbas, Nico berang. "Hentikan itu!" Nico langsung menepis tangan Abbas yang tengah mengelus-elus rambut Colin, dengan kasar. "Sudah kubilang, jangan menyentuh rambut Colin! Bukankah aku sudah memperingatkan itu padamu saat di Kota Cocoa!?" Mendengar itu, Abbas memiringkan kepalanya, tak ingat. Sedangkan Colin hanya menghela napasnya.


"Paul, cepat katakan saja, saya juga sudah tak tahan ingin istirahat." ucap Naomi dengan menguap lebar-lebar.


"Ya.. Naomi benar, Paul." timpal Koko, setuju pada ungkapan yang dikatakan Naomi. "Sepertinya... kami semua sudah tak tahan ingin tidur."


Jengkel menyimak omongan dari pahlawan-pahlawannya, Paul menggelengkan kepalanya. "Dasar tidak berguna!" bentak Paul pada para pahlawannya. "Ini masih jam sembilan malam, dan kalian sudah tak tahan ingin tidur!? Brengsek sekali kalian, hah!? Kalian pikir kalian itu bocah SD, hah!? Apa yang mau kuumumkan lebih penting dari nyawa kalian sendiri! Keparat!"


Terbiasa dengan makian-makian dari Paul, para pahlawan hanya memasang wajah datar. Kemudian, Paul mulai bersiap-siap untuk mengumumkan sesuatu yang penting pada mereka semua.


"Ini mengenai," Paul menarik napas dalam-dalam. "Pencarian pahlawan baru," Pandangan Paul mulai fokus ke dua sosok yang ia kehendaki. "Aku menugaskan Naomi dan Cherry, untuk menemaniku berkunjung ke Kota Luna! Esok hari! Untuk menemukan pahlawan baru kita, yaitu seorang perempuan berambut merah! Yang bernama Isabella!"


Naomi dan Cherry terkejut saat mengetahui kalau mereka lah yang terpilih, walau sebenarnya mereka sudah tahu karena sebelumnya, Jeddy pernah memberitahu soal itu pada mereka. Tapi tetap saja, rasanya berbeda kalau diberitahu secara langsung oleh Paul. Rasanya mengagetkan. Bukan hanya itu, mereka pun tidak percaya kalau pahlawan barunya adalah seorang perempuan, sama seperti mereka. Terutama Cherry, ia tampak berseri-seri saat mendengarnya.


"Waaaaaah! Seriuuuus!?" Cherry melempar tongkat bekas lolipop jumbo miliknya ke tong sampah yang ada di sudut ruangan. "Pahlawan barunya! Adalah seorang perempuan!? Waaah! Senangnya! Itu artinya! Jumlah perempuannya bertambah! Yeeey! Cherry senang sekali! Akhirnya selain Naomi, Cherry bisa punya teman lagi sesama perempuan di sini! Hihihihi!"


Naomi tersenyum melihat Cherry berjingkrak-jingkrak kesenangan. "Saya juga senang." ucap Naomi dengan senyuman ramahnya pada Cherry.

__ADS_1


"Hanya itu saja yang kuumumkan malam ini pada kalian! Kalau begitu," Paul langsung berteriak kencang pada semua muridnya. "BUBAR!"


__ADS_2