
"Oh, jadi seperti itu," Isabella mengangguk-angguk setelah mendengar penjelasan yang disampaikan oleh Paul mengenai sepuluh pahlawan, mentor, dan yang lainnya. Isabella tampak ber-oh-ria sembari menyerap semua yang dijelaskan oleh Paul, meskipun begitu, ia masih sedikit meragukan penjelasan itu.
Sebab, bagi Isabella, semua itu terdengar seperti sebuah cerita fiksi dan tidak masuk akal, terutama pada bagian tentang Roswel, manusia macam apa yang bisa memiliki kekuatan sakti segila itu? Hingga bisa membekukan seseorang dan melompat ke berbagai lokasi hanya dengan mengemut permen. Itu sangat tidak masuk akal. Tapi, Isabella mencoba untuk menenangkan pikirannya, dan berusaha percaya pada apa yang disampaikan oleh Paul, mau bagaimana pun, ia bisa melihat keseriusan di mata mentornya saat menjelaskan semua itu. Tidak etis kalau Isabella meremehkannya, atau bahkan menertawakannya, itu akan membuat Paul sakit hati, mungkin saja.
"Kalau kau bisa langsung percaya, itu bagus! Jadi aku tidak perlu repot-repot memaksamu agar percaya!" jawab Paul dengan menatap tajam wajah Isabella. "Lalu, sekarang kita akan pergi ke mana dengan helikoptermu ini, Isabella!? Kau tidak berniat membawa kami ke tempat yang aneh-aneh, kan!? Awas saja kalau kau punya pemikiran seperti itu!"
Paul, Isabella, Cherry, dan Naomi, masih sedang duduk di dalam sebuah helikopter yang tengah terbang di udara. Dari kaca jendela yang terdapat di tiap sisi badan helikopter, mereka bisa melihat keindahan Kota Luna dari atas, yang terdiri dari berbagai macam gedung dan jalanan, membuat suasana kota tersebut jadi tampak riuh dan menyenangkan. Bahkan dentuman-dentuman musik hip-hop yang berasal dari beberapa gedung dapat terdengar dari ketinggian yang dicapai helikopter.
"Mengapa tidak kau tebak saja, akan dibawa kemana kita oleh helikopter ini? Hm?" Isabella menyunggingkan senyuman menggodanya pada Paul. "Kita main tebak-tebakan lagi, bagaimana? Kau tertarik?"
"Cherry tertariiiiiiik!" Cherry yang duduk di kursi belakang bersama Naomi, memekik histeris, ingin bergabung ke dalam permainan tebak-tebakan yang kembali dibuat oleh Isabella untuk memeriahkan suasana. Isabella dan Paul menoleh pada Cherry. "Boleh, kan!? Cherry ikut serta!? Hihihihi!"
"Mengapa tidak?" jawab Isabella dengan menganggukkan kepala, menerima permintaan Cherry dengan senang hati. Sementara Paul tampak merengut kesal, dari wajahnya saja, dia menunjukkan penolakan pada hal tersebut.
"Untuk apa bocah ini ikutan! Aku tidak mau! Dia hanya mengganggu!"
"Eeeeh!? Apakah Cherry seburuk itu di mata Paul? Paul jahat! Paul jahat! Paul jahaaaaaat!" Sembari mengatakan itu, Cherry menjambak-jambak rambut hitam Paul dengan kencang, karena kecewa pada penolakan lelaki itu terhadap dirinya. "Isabella! Pokoknya Cherry ikutan! Cherry yakin bisa menebaknya dengan baik! Cherry bukan pengganggu di sini!" ucap Cherry sambil menjewer telinga kanan dan kiri Paul dengan dua tangannya.
"Ah! Sakit! Sakit bodoh! Apa yang sedang kau lakukan!? Hentikan! Brengsek!" Merasakan nyeri saat kuping-kupingnya dipelintir bahkan ditarik-tarik oleh tangan Cherry, membuat Paul mengangkat dua lengannya untuk mengusir tangan-tangan gadis mungil itu yang sedang mengoyak dua telinganya. Alhasil, Cherry langsung menarik dua tangannya dari telinga Paul sebelum lengan-lengan kasar milik lelaki itu menyentuhnya. Isabella tertawa lepas melihat kejadian itu, sedangkan Naomi hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Cih! Kalau kau semau itu, terserah! Isabella! Kita mulai permainannya!"
__ADS_1
Mendengar intruksi dari Paul, Isabella cepat-cepat menghentikkan tawanya dan mulai serius ke dalam permainan yang ia buat. "Baiklah, kita mulai saja, ya?" Isabella melirik ke wajah Paul, Cherry, dan Naomi.
Merasa dirinya ikut dilirik, Naomi mengernyitkan alisnya heran. "Maaf, saya tidak ikutan. Jangan paksa saya untuk ikut ke dalam permainan konyol itu, Isabella." Naomi memasang ekspresi tenang saat mengatakannya. "Kecuali kalau Anda memberikan hadiah pada setiap jawaban yang benar."
"Oh tentu saja, aku akan memberikan hadiah bagus untuk kalian yang dapat menebaknya dengan tepat. Bagaimana?" tawar Isabella dengan menaikan sebelah alisnya pada Naomi. "Kau tertarik?"
"Baik, saya ikut."
Dan permainan pun dimulai, Cherry, Naomi, dan Paul, menyiapkan diri masing-masing untuk mendengar pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Isabella. Suasananya jadi seperti perang dingin, yang melibatkan tiga kubu yang saling bersaing demi mendapatkan kemenangan mutlak. Isabella terkikik-kikik menyaksikan ekspresi Paul, Cherry, dan Naomi yang tampak serius tidak ingin kalah satu sama lain, mereka bertiga menampilkan kemantapan hati yang sangat jelas untuk bersiap-siap menjawab segala pertanyaan yang akan tiba.
"Diawali dengan pertanyaan, kemana helikopter ini membawa kita?" ucap Isabella, melontarkan pertanyaan pertama dengan senyuman tipisnya, ia melemparkan pandang ke arah Paul, Cherry, dan Naomi, untuk melihat bagaimana reaksi tiga orang itu saat berpikir. Dan binggo! Wajah mereka bertiga sukses membuat Isabella kembali terbahak-bahak, sungguh, itu lucu sekali.
"Ummm... ke Kota Swart, mungkin?" tebak Cherry dengan memiringkan kepalanya.
"Jangan-jangan Anda akan membawa kami ke suatu tempat yang mengerikan? Seperti ke kediaman para bangsawan sombong, mungkin?" Naomi berusaha menebaknya dengan hati-hati, walau jawabannya mendapatkan--
"Salah,"
--Ketidaksesuaian.
"Satu-satunya jawaban yang tersisa hanyalah rumahmu! Kau pasti akan mengajak kami ke rumahmu, kan!?" terka Paul dengan suara yang keras, disertai tatapan menindas. "Tebakanku pasti benar, kan!? Iya, kan!? Cepat katakan!"
__ADS_1
"Sayang sekali," Isabella menahan tawanya melihat Paul seyakin itu pada tebakannya. "Kau juga salah, Paul."
Karena semua prediksi yang dikatakan oleh Cherry, Naomi, dan Paul, tidak tepat, Isabella menyunggingkan senyuman nakalnya dengan menatap satu-persatu wajah tiga orang tersebut. "Kalian penasaran pada jawabannya? Baiklah, akan kukatakan," Isabella menyilangkan kakinya dan memain-mainkan rambut merahnya dengan lembut. "Kita akan pergi ke Bank."
"Ke Bank? Untuk apa?" Cherry bertanya-tanya, ia juga tidak paham pada istilah tersebut. "Memangnya Bank itu tempat seperti apa?"
"Ya ampun, kau ini polos sekali, ya?" Isabella mendelik ke arah Cherry dengan menghela napas. "Kau tidak tahu Bank? Seseorang, tolong jelaskan apa itu Bank pada gadis ini."
"Biar saya saja," Naomi mengajukan diri untuk menjelaskan tentang Bank pada Cherry. Setelah memperoleh anggukkan kepala dari Isabella, Naomi pun mulai melempar pandang pada Cherry dan berkata, "Cherry, dengarkan ini. Bank itu sebuah lembaga keuangan yang umumnya didirikan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang, dan menarik uang. Contoh sederhananya seperti menabung dan meminjam uang. Anda paham?"
"Oooooooh! Jadi intinya tentang uang, ya!?" Kedua mata Cherry tampak berbinar-binar setelah mendengarkan penjelasan itu. "Cherry baru tahu soal itu! Hihihi! Maaf, ya! Soalnya hampir seluruh hidup Cherry dihabiskan di Fufirm! Jadi Cherry tidak tahu-menahu soal dunia luar! Hihihihi!"
"Fufirm? Apa itu?" Kini giliran Isabella yang tampak kebingungan.
"Rumah sakit jiwa!" kata Paul dengan tegas, membuat Isabella dan Naomi memandangnya kaget. "Sebelum dibawa olehku, Cherry adalah salah satu pasien di rumah sakit jiwa yang bernama Fufirm di Kota Poppe."
"Wah, tidak kusangka," Isabella tertegun, dia benar-benar baru dengar soal itu. Isabella pun menatap Cherry dan bertanya, "Dan kau sudah sembuh dari penyakit jiwamu, begitukah?"
"Penyakit jiwa?" Cherry tersenyum mendengar itu. "Tenang saja! Cherry bukan orang gila, kok! Hihihi! Cherry hanya sedikit berbeda dari orang lain! Tidak apa-apa, kan!?"
"Tentu saja, aku tidak keberatan, tapi," Isabella melirik pada Paul dengan sedikit penasaran. "Kau yakin ini tidak masalah?"
__ADS_1
"Jangan khawatir!" ungkap Paul dengan melipat tangannya. "Selama ini, Cherry tidak pernah melakukan sesuatu yang aneh dan tetap bersikap normal seperti kebanyakan orang! Jadi, tidak usah cemas! Namun," Paul mengerlingkan bola matanya ke arah Isabella dengan tatapan waspada. "Beda cerita kalau dia sedang marah."