
Perlahan-lahan, Colin membuka kelopak matanya, ia merasa suhu dingin yang tadi mencekik lehernya sudah berangsur-angsur hilang, tergantikan dengan kehangatan dari sinar mentari yang menyengat kulit, rerumputan yang menusuk-nusuk kakinya, dan udara segar yang memanjakkan hidungnya. Karena hal itu, Colin memberanikan diri untuk membuka mata sepenuhnya, dan senyuman tercetak di wajahnya saat melihat sebuah bangunan familiar di depannya.
"Ini tepat di halaman belakang rumah Paul! Aku berhasil! Aku berhasil!" Colin berjingkrak-jingkrak saking bahagianya karena permen agios yang ia telan telah mengirimkan tubuhnya ke tempat ini, bukan ke suatu tempat yang mengerikan, seperti hutan belantara atau pun rumah kosong. Colin sangat lega, tidak ada yang lebih menyenangkan selain berhasil pulang dengan selamat. Bahkan Colin ingin merayakan keberhasilannya ini dengan pesta meriah, walau hanya sekedar lamunan semata.
"Baiklah, sekarang aku harus memastikan keadaan dulu," Colin memperhatikan sekitar, melirik ke segala arah, apakah ada orang yang melihatnya muncul di sini atau tidak, termasuk rumah-rumah tetangga yang berjejer di tiap sisi. Lima menit melirik ke sana-kemari, akhirnya Colin dapat memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya. Ini bagus. "Syukurlah! Aku kira akan ada orang yang melihatku, kalau begitu, aku harus cepat-cepat masuk ke rumah Paul!" Colin menjejakkan langkah cepatnya menuju pintu belakang rumah Paul. Saat tahu pintunya terbuka lebar, ia tersenyum senang, karena dengan itu, ia tak perlu lagi mengetuk-etuk pintu.
"Eh?" Colin tersentak melihat banyak orang yang sedang berada di dapur, berdiri tegak dengan menampilkan muka tegang seperti habis dikejar-kejar oleh hantu, sebenarnya ada apa dengan mereka? Colin bisa melihat ada Jeddy yang sedang menodongkan pistol ke arah kepala Cherry dan Naomi, lalu ada Paul juga yang tampak panik dan ada Elena--Ibunya Paul-- yang sedang terduduk di lantai samping anaknya. "A-Ada apa ini? K-Kenapa kalian semua bertingkah aneh?" Pandangan Colin difokuskan pada Jeddy. "Dan mengapa kau mengarahkan selongsong pistolmu pada Cherry dan Naomi? K-Kau kenapa J-Jeddy!?" Dan leher Colin diputar ke arah Paul yang sedang berdiri di dekat Elena yang terduduk di lantai. "P-Paul!? Katakan! Apa yang terjadi di sini!?"
Colin benar-benar resah menyaksikan pemandangan itu, ia menduga kalau saat ini Jeddy lah yang jadi masalah utama, mungkin lelaki itu mendadak jadi jahat dan berniat memeras, mengancam atau bahkan membunuh orang-orang yang ada di sini demi keuntungannya sendiri, soalnya hanya Jeddy yang terlihat mencurigakan di sini, lihat saja, hanya dia yang memegang senjata api, sementara yang lainnya, seperti sedang ketakutan padanya. Ini gawat, Colin harus mencari cara agar Jeddy tidak membuat ulah di sini, jika terjadi sesuatu yang membahayakan, maka reputasi rumah ini akan buruk dan kasus kriminal bakal menghebohkan seluruh kota di Negara Madelta.
Ketika Colin masuk lewat pintu belakang, Paul kaget sekaligus bersyukur karena orang itu berhasil pulang dengan selamat, tapi rasa senang itu langsung sirna saat mengingat Koko yang mendadak menghilang dari dapur. Kecemasan kembali memusingkan kepalanya.
"Colin!" Jeddy, Cherry, dan Naomi serentak menyebut nama itu saat melihat kemunculan Colin yang mengejutkan. Paul dan Elena hanya tertegun melihat kedatangan Colin, setelah itu, mereka berdua kembali panik seperti sebelumnya.
"Hey!? Ayolah! Sebenarnya ada apa ini!? Mengapa Jeddy menodongkan pistol pada kepala Cherry dan Naomi!? Apa yang sedang terjadi di sini!?"
__ADS_1
Muka Colin jadi memucat saat mengatakan itu, kakinya bergetar, ketegangan yang luar biasa mulai mengganggu pernapasannya. Jika terus begini, Colin bisa pingsan.
"T-Tenang saja, Bro! Kau jangan takut padaku! Aku hanya--"
"Tidak!" Colin memundurkan langkahnya saat melihat Jeddy menimpali ucapannya. "Jangan tembak aku! Jeddy!" Colin mengangkat dua telapak tangannya di depan wajahnya, seperti orang yang terkena cahaya menyilaukan. "Aku akan melakukan apa pun! Asalkan kau jangan menembakku! Tidak, kau juga jangan menembak mereka semua! Aku mohon! Jeddy!"
Jeddy ingin sekali terbahak-bahak setelah mendengar seruan Colin yang ketakutan padanya, tapi sayangnya, ia harus menahan tawanya, sebab ia harus bersikap agak serius di situasi ini, jika tidak, maka Naomi dan Cherry akan kembali bertengkar panas.
"Jeddy," Paul bersuara dengan suara beratnya yang khas. "Turunkan pistol-pistolmu," Paul pun mulai melangkahkan kakinya, mendekati punggung Cherry dan Naomi. Kemudian, Paul menepuk pundak dua gadis itu dengan pelan, Colin yang melihatnya, tampak kebingungan. "Cherry," Paul menatap punggung Cherry. "Aku kagum padamu, tapi kau terlalu berlebihan, jadi aku pinta, berhentilah. Daripada kau bertengkar dengan Naomi, lebih baik kau bawa Ibuku ke kamar, saat ini jiwanya terguncang melihat pertengkaran ini. Cepat."
Sebetulnya Cherry kesal pada perintah Paul, karena dia masih belum puas memojokkan Naomi, ia telah menganggap gadis berkerudung itu sebagai musuhnya. Sebab, Naomi sudah melakukan hal yang keterlaluan pada Koko, dan Cherry tidak suka pada hal tersebut. Naomi sangat menjengkelkan, di mata Cherry, gadis berkerudung itu hanyalah manusia dungu yang maniak pada kitab suci agamanya, sampai-sampai tidak punya akal sehat dalam menafsir tiap isi dari kitab tersebut. Menurut Cherry, Naomi bukan gadis yang baik, juga bukan gadis yang jahat, dia itu seperti gadis bodoh yang menganggap kitab suci agamanya sebagai tuntunan hidup.
Itu benar-benar memuakkan.
"Baik, Cherry mengerti," Dengan dingin, Cherry memalingkan badannya, bergerak pelan, mendatangi Elena yang masih sedang bersimpuh lemas di lantai dan mengangkat tubuh wanita itu agar berdiri tegak, lalu Cherry menarik lengan Elena untuk dikalungkan ke lehernya agar wanita itu tidak terjatuh saat berjalan. "Cherry akan mengantarkan Tante Elena ke kamar, sesuai perintahmu, Paul. Tapi," Tiba-tiba Cherry menggeram dengan mata yang menelisik ke arah Naomi. "... kau harus buat dia menyesal karena telah menyakiti hati Koko!"
__ADS_1
Paul memijit-mijit keningnya dengan wajah yang datar. "Lakukan saja apa yang kuperintahkan, jangan banyak omong."
Cherry pun perlahan-lahan pergi dari dapur dengan membawa Elena di sampingnya, meninggalkan Paul, Naomi, Jeddy, dan Colin di sana. Mendadak ruangan dapur jadi hening setelah kepergian Cherry dan Elena, seolah-olah suasana jadi membeku, tidak ada yang berani bersuara duluan, hanya ada bunyi gesrekkan pistol yang dimasukkan ke kantung celana.
"M-Mengapa tatapan Cherry terlihat sangat tajam saat memandang wajah Naomi? Ayolah! Kumohon! Jelaskan padaku, apa yang terjadi!"
Dan ternyata, Colin lah yang bersuara duluan di sana, membuat semua perhatian terpusat pada lelaki berambut biru tersebut, yang sedang kebingungan pada keadaan rumah ini. Colin pikir, dugaannya yang menganggap Jeddy sebagai dalang di balik peristiwa aneh ini, sepertinya salah, karena lelaki rambut hijau itu masih menurut pada perintah Paul, untuk menurunkan dan memasukkan pistol-pistolnya kembali ke kantung celananya. Jika memang seperti itu, lantas siapa dalangnya? Apakah Cherry? Colin pikir jika dalangnya adalah Cherry, itu masuk akal, sebab gadis pendek itu memang menyeramkan kalau sedang marah.
Tapi Colin mempertimbangkan dulu, soalnya saat Cherry hendak pergi dari dapur bersama Elena, gadis mungil itu sempat mengatakan sesuatu yang menjelaskan bahwa Naomi telah menyakiti hati Koko. Tentu saja Colin terkejut, karena gadis sopan seperti Naomi, tidak mungkin menyakiti seseorang. Bahasanya saja saat bicara sangat formal, Colin pikir, itu sangat-sangat-sangat mustahil. Namun, mendadak Naomi bersuara dengan suara yang lembut dan sorotan mata menusuk pada Colin, menimpali pertanyaan yang tadi ditanyakan oleh si lelaki penakut itu.
"Anda tidak perlu bingung begitu, Colin," kata Naomi dengan senyuman kecut. "Sebelum Anda datang, di sini sempat terjadi pertengkaran ringan antara saya dan Cherry, hanya itu saja. Selebihnya, tidak ada yang penting."
"Lalu, apa yang kalian debatkan dalam pertengkaran ringan itu!?" Colin kembali bertanya, karena rasa penasaran mulai menggelitik kepalanya.
"Kami hanya beradu argumen tentang Koko," jawab Naomi lembut. "Di saat saya meminta Koko untuk melepas rok yang ia pakai dan memintanya untuk pergi dari Negara Madelta, Cherry malah mengamuk pada saya, dia menjelek-jelekkan saya dan mengutuk saya selayaknya saya adalah manusia rendahan. Saya benar-benar kaget."
__ADS_1
"T-Tunggu! Tadi kau bilang apa!?" Colin tercengang mendengar penjelasan Naomi, ia merasa ada sesuatu yang janggal di sana. "Kau menyuruh Koko untuk melepaskan rok yang sedang ia pakai? Dan juga mengusirnya dari negara ini?" Colin mengerjap-erjapkan matanya.
Naomi mengangguk, "Tentu saja, memangnya kenapa?"