Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 34 : Siapkan Dirimu


__ADS_3

Tiga pria berkaca mata hitam yang muncul dari tiga helikopter, secara serempak, mengeluarkan sebuah bazoka besar yang dipegang di tangannya masing-masing, membuat siapa pun yang melihat hal tersebut, bakal berlarian untuk melindungi diri dengan mencari tempat yang jauh dan aman dari area tersebut agar tidak terkena ledakan dari bazoka-bazoka besar itu. Namun, tidak seperti orang-orang pada umumnya, Cherry malah tampak kegirangan saat matanya melihat tiga bazoka besar di arahkan pada dirinya, seakan-akan senjata-senjata mematikan itu hanyalah mainan-mainan yang lucu dan tidak berbahaya.



"Satu, dua, tiga, TEMBAK!"



Mendengar aba-aba dari salah satu rekannya, tiga pria itu langsung melesatkan peluru besar dari bazoka yang dipegangnya untuk diluncurkan ke arah Cherry. Kilatan cahaya yang menyilaukan mulai terpancarkan dari tiga bazoka itu, membuat Cherry yang melihatnya, menutup matanya rapat-rapat, lalu terdengarlah suara gas yang meluncurkan sesuatu, hingga akhirnya, suara dentuman besar memenuhi area gadis merah muda itu berdiri. Kepulan asap putih menyelimuti halte yang merupakan tempat peristiwa itu terjadi, semua orang yang menyaksikan hal gila itu dari kejauhan, ramai-ramai menjerit, mata setiap orang memancarkan kegelisahan yang luar biasa, mencemaskan kondisi Cherry yang sepertinya sudah hancur berantakan terkena hantaman tiga bazoka. Ini terlalu gila, bahkan tidak ada ampun pada seorang gadis semungil itu, begitulah pikiran orang-orang saat menonton kejadian mengerikan tersebut.



"Apakah dia sudah mati?" tanya pria berkaca mata hitam yang ada di dalam helikopter, pada temannya yang memegang bazoka di tumpuan luar.



"Aku tidak melihatnya, asapnya menghalangi, tapi sepertinya begitu, karena ledakannya cukup besar, siapa pun yang berdiri di sana pasti akan hancur dalam kejapan mata."



"Baguslah," kata pria itu dengan perasaan yang lega. "Kalau begitu, ayo kita kembali, tugas kita di sini sudah selesai."



Ketika tiga helikopter itu pergi dari tempat tersebut, mengira semuanya telah usai, sesuatu yang mengejutkan mulai terjadi. Jika dilihat secara jelas, di dalam kepulan asap yang memenuhi area itu, Cherry masih sedang berdiri tegak, dia sama sekali tidak terluka, karena di seluruh tubuhnya, terdapat sebuah lingkaran putih yang melengkung, seperti gelembung, yang membuat dia terlindungi dari hantaman-hantaman bazoka. Namun, itu bukan ulahnya, karena Cherry pun terkejut pada kehadiran gelembung aneh ini yang tiba-tiba muncul di sekujur tubuhnya.



"Apa ini? Mengapa ada gelembung di sekitar Cherry?"



Cherry kebingungan, kedua tangannya secara refleks menyentuh permukaan gelembung dan ternyata rasanya sangat dingin dan lembut, seperti gelembung sungguhan, tapi saat jemarinya sengaja dicengkramkan, agar gelembung itu pecah, usahanya tidak berhasil. Cherry tambah bingung dan resah, apalagi suara tiga helikopter sudah terbang semakin jauh dari tempatnya berada, padahal ia masih ingin bermain-main dengan orang-orang bersenjata.



"Nona Cherry." tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tidak asing di belakangnya, memanggil namanya dengan nada yang lembut. Buru-buru  Cherry membalikkan posisi badannya ke belakang, dan tampaklah seorang pria pucat berjubah hitam yang sedang berdiri dengan senyuman ramahnya, "Ini saya, Roswel."



"Uwaah! Ada Roswel!" Sontak, raut gelisah di muka Cherry langsung tergantikkan dengan kegembiraan, dia kaget sekaligus bahagia melihat Roswel muncul di hadapannya. Karena Cherry tahu, Roswel bukan manusia biasa, orang itu punya sesuatu yang tidak ia pahami, jadi wajar jika pria pucat itu bisa tiba-tiba muncul di depannya. "Hihihihi! Biar Cherry tebak! Pasti gelembung yang menyelimuti badan Cherry adalah salah satu kekuatanmu, kan!?"



Roswel tersenyum tipis mendengarnya, dia pun melangkahkan kakinya, menghampiri Cherry. "Saya kagum Anda bisa menebaknya dengan tepat, Nona." Setelah sampai di dekat Cherry, Roswel membungkukkan badannya dan membisikkan sesuatu pada telinganya. "Lihat ini baik-baik, Nona."



Baru saja Roswel bilang begitu, suara ledakan yang menggelegar-gelegar di kejauhan tiba-tiba terdengar, dan ketika mata Cherry dipicingkan, ternyata helikopter-helikopter yang ada di langit, tampak hancur berantakan, dan secara bergiliran, mereka meliuk-meliuk jatuh menghantam gedung-gedung besar hingga menimbulkan kerusakan yang sangat parah. Cherry terbelalak melihatnya.

__ADS_1



"J-Jangan-jangan itu juga adalah ulahmu, Roswel!?" ucap Cherry dengan ekspresi yang sangat tercengang, mendengar itu, Roswel dengan santai kembali menegakkan badannya. "Apakah kali ini tebakan Cherry salah!?"



"Tidak, tebakan Anda benar lagi, Nona," kata Roswel dengan ramah. "Saya tidak bisa membiarkan mereka kabur begitu saja setelah melakukan hal kejam pada Anda, itulah alasan saya menghancurkan mereka tanpa sisa. Oh, tapi sebuah masalah tidak akan selesai jika kita tidak bertemu dengan bosnya, maka dari itu," Roswel secara aneh mengayunkan jari telunjuknya ke atas, membuat Cherry memiringkan kepalanya, keheranan pada sikap lelaki pucat itu.



"Apa yang sedang kau lakukan, Roswel!?" tanya Cherry tidak mengerti pada tingkah Roswel yang mendadak mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi. Kira-kira kali ini apa yang akan ditunjukkan Roswel pada Cherry setelah memunculkan gelembung dan menghancurkan tiga helikopter.



"T-TUNGGU! KENAPA AKU TIBA-TIBA MELAYANG BEGINI! T-TOLONG! SIAPA PUN! TOLONG! TURUNKAN AKU!" Gadis pirang bergaun mewah yang merupakan seorang pemilik budak, menjerit kaget saat tubuhnya secara mengejutkan, melayang-layang di udara, terombang-ombing tak menentu, sampai akhirnya, ia ditarik dengan paksa oleh Roswel untuk mendarat di hadapan Cherry. Setelah gadis pirang itu sudah menjejakkan kakinya di tanah, berdiri berhadapan dengan Cherry, ia langsung memekik-mekik, "Eh!? Kenapa kau masih hidup! Aku yakin sekali! Tubuhmu sudah hancur lebur terkena bazoka-bazoka dari mereka! T-Tapi kenapa kau masih utuh! Ini aneh! Dan apa itu!? Gelembung!? Maksudnya apa ini! Apa kau mau bilang bahwa gelembung lemah ini bisa tahan dari sebuah bazoka!? Yang benar saja! Dan siapa pria berjubah ini!"



Karena tampaknya menarik, Roswel pun memecahkan gelembung itu, agar Cherry bisa keluar. Saat gelembung itu lenyap dari tubuhnya, Cherry tersenyum dan langsung menjawab semua perkataan gadis pirang itu. "Eh? Apa kau baru melihat hal seperti ini? Ya ampun, kuno sekali! Hihihi! Cherry pikir teknologi seperti ini sudah ada di semua kota! Tapi rupanya Aljelvin tidak kebagian, ya? Kasihan sekali! Hihihi! Pantas saja, penduduk kotanya pun masih mempertahankan tradisi bejat memperbudak sesama manusia, jadi tidak mungkin kalian mengerti pada konsep teknologi canggih seperti gelembung tadi! Hihihihi!" ucap Cherry dengan sebuah kebohongan, dia terpaksa melakukannya karena rasanya tidak mungkin jika ia mengatakan bahwa semua itu adalah ulah Roswel.



Tapi berkat kebohongan itu, Cherry jadi punya kesempatan untuk mengejek, membuat gadis pirang itu jengkel mendengarnya. "Kurang ajar! Berani-beraninya kau mengejek kotaku!" Gadis pirang itu tampak murka, kedua tangannya mengepal kuat-kuat, hingga akhirnya,



Plak!




Cherry langsung terbahak-bahak mendengar semua yang dikatakan gadis pirang itu, dia sampai memegangi perutnya. "Hihihihi! Lucu sekali! Cherry sampai ingin," mendadak suara Cherry berubah jadi menggeram dan ia menatap wajah gadis pirang itu dengan tatapan menindas. "... membunuhmu!"



Dan sedetik kemudian, tangan kiri Cherry langsung mencengkram muka si gadis pirang dengan kuat. Gadis pirang itu melengking-lengking kesakitan, meminta dilepaskan. Namun, Cherry berkata, "Manusia busuk sepertimu harus mati." Cherry menarik muka si gadis pirang lalu ia hantamkan kepala gadis bangsawan itu ke permukaan aspal yang keras hingga berdarah-darah.



Roswel hanya tersenyum simpul memandangi hal itu, dia membiarkan Cherry melakukan semua yang diinginkannya. Karena menurut Roswel, ia tidak punya hak untuk melarang Cherry, mengingat posisinya hanyalah seorang pelayan rendahan jika dibandingkan dengan seorang pahlawan, walau kekuatannya melebihi siapa pun.



Namun, saat Cherry hendak menghantamkan lagi kepala si gadis pirang ke aspal, bunyi terompet yang nyaring dan keras melengking dari suatu tempat. Seolah-olah paham pada bunyi itu, semua penduduk segera mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak berbicara, untuk mendengar dengan khidmat suara terompet tersebut. Gadis pirang yang mukanya masih dicengkram Cherry pun yang sebelumnya menjerit-jerit kesakitan, tiba-tiba terdiam.



"Ehem! Ehem!" Saat bunyi terompet berhenti, muncul suara seseorang yang tidak asing di telinga Cherry, sedang berdehem-dehem di suatu tempat, hingga suaranya terdengar sampai ke seluruh tempat di Aljelvin. "Selamat siang, wahai para penduduk Aljelvin, maaf jika suaraku mengganggu aktivitas kalian semua di siang hari yang begitu cerah ini." Tidak salah lagi, Cherry yakin itu adalah suara Nico. Cherry pun melepaskan cengkraman di muka si gadis bangsawan untuk ikut mendengarkan apa yang akan disampaikan Nico.

__ADS_1



Di Plaza pun sedang hening, semua orang yang berlalu-lalang secara bersamaan menghentikkan langkahnya, dan berdiri tegak untuk mendengar suara tersebut. "Bukankah itu suaranya Nico!? Sedang apa dia hingga suaranya terdengar sampai kemari!?" Paul terkaget saat mendengar itu, dia sampai berdiri dari posisi duduknya, Koko pun ikut membangunkan badannya setelah cokelat dinginnya diminum sampai habis.



"Apakah orang yang bernama Nico adalah... temanmu?" tanya Koko pada Paul dengan nada yang parau.



"Bukan! Dia bukan temanku!" jawab Paul dengan tegas. "Dia adalah muridku! Sama sepertimu! Sebagai seorang pahlawan!"



Ketika Koko akan bertanya lagi pada Paul, suara Nico yang memekakan telinga kembali terdengar di seluruh penjuru Aljelvin. "Aku akan mengumumkan beberapa informasi yang sangat penting, jadi tolong dengar ini baik-baik di telinga kalian," Jeda sejenak. "Hal pertama yang akan kuumumkan adalah mengenai para pemimpin di Aljelvin. Mereka semua, telah dipecat secara tidak hormat OLEHKU! Kondisi mereka saat ini sedang terkurung di ruangan bawah tanah yang dipenuhi dengan bangkai manusia. Sebagian dari kalian pasti bakal bertanya, mengapa mereka dipecat? Tentu saja alasannya karena mereka tidak becus mengurus kota ini! Apa kalian tahu? Beberapa menit yang lalu, mereka mengadakan rapat penting, dan setelah kutanyakan apa yang dibahas di dalam rapat, salah satu dari mereka bilang bahwa rapat penting itu membahas cara untuk melegalkan seks bebas!



Bukankah itu benar-benar tolol? Jadi menurutku, pemecatan para babi itu adalah pilihan yang sangat tepat. Lalu, yang kedua, mengenai sistem PERBUDAKAN! Hari ini! Secara resmi! Praktik perbudakan di Aljelvin menjadi tindakan ILEGAL! Siapa pun yang memperbudak sesama manusia, tidak peduli siapa pun itu! Akan dipenjara minimal seratus tahun! Baiklah, kita lanjut ke pengumuman yang ketiga, mengenai hak-hak para lelaki berpenampilan perempuan dan perempuan berpenampilan lelaki! Hari ini! Mereka yang merupakan bagian dari komunitas itu, punya hak untuk mendapatkan perlindungan! Jadi, siapa pun yang mengejek, menghina, merendahkan, mengganggu, menyakiti, atau bahkan membunuh orang-orang dari komunitas itu, akan langsung diproses secara hukum! Dan bakal dipenjara minimal lima puluh tahun! Dan juga, mulai hari ini! Di Kota Aljelvin tidak akan ada lagi peraturan yang berat sebelah! Para bangsawan mau pun rakyat biasa tidak akan mendapat perlakuan spesial apa pun dari pemerintah! Semuanya sama di mata hukum! Jadi berhentilah bersikap sombong, wahai manusia-manusia sampah. Sekian pengumuman dariku, terima kasih."



Setelah mendengar pengumuman itu, secara mengejutkan, seluruh budak di Kota Aljelvin yang tadinya pasrah ditindas oleh kaum bangsawan, mulai bangkit, saling bahu-membahu, dan mereka jadi berani meminta pertanggung-jawaban atas segala tindakan kekerasan dari para majikannya. Terjadilah pertengkaran luar biasa di setiap penjuru kota. Lalu, di sisi selatan Aljelvin, para transgender; lelaki menyerupai perempuan dan perempuan menyerupai lelaki, bersorak-sorai, mereka semua saling berpelukan, menangis haru, karena akhirnya mereka mendapatkan hak-hak hidupnya.



Tidak sedikit juga para remaja yang mulai berani memberitahukan pada orang tuanya bahwa mereka memiliki orientasi seksual yang berbeda dengan kebanyakan orang, dan reaksi para orang tua bermacam-macam; ada yang memeluk anaknya, ada yang mendiamkan anaknya, ada yang memarahi anaknya, dan ada yang memukul anaknya. Tapi apa pun itu, kini di Aljelvin sudah terdapat hak-hak hidup bebas untuk semua gender, yang nantinya, para orang tua yang bersikap keji pada anaknya yang 'berbeda', bakal tertimpa hukuman berat dari pemerintah.



Nico menghela napasnya, kini ia berada di ruangan multimedia, sedang berdiri di depan pengeras suara raksasa, napasnya terengah-engah setelah memberikan pengumuman panjang tersebut, yang telah didengar oleh seluruh penduduk Kota Aljelvin.



"Sepertinya tugasku di sini sudah selesai." ucap Nico dengan dada yang kembang-kempis, dia menyunggingkan senyumannya. "Rasanya mulutku ini telah memerdekakan beberapa kelompok manusia dari penindasan." Kemudian, Nico pun melangkahkan kakinya, keluar dari gedung pemerintahan, untuk menemui Cherry dan Paul.



Di Plaza, Koko menumpahkan air matanya, setelah mendengar pengumuman itu, bibirnya sampai bergetar. "Apakah aku... tidak salah dengar?" tanya Koko pada Paul mencoba memastikan apakah telinganya masih berfungsi dengan benar atau tidak.



"Sekarang kau sudah bukan lagi makhluk menjijikan, kota ini telah mengakui keberadaanmu dan akan melindungimu," ucap Paul dengan nada yang rendah. "Apa kau senang?"



"Aku tidak tahu harus bilang apa," kata Koko sambil terisak-isak, kedua tangannya berusaha menghapus air matanya, walau air matanya terus-terusan menetes dengan deras. "Tapi aku senang."


__ADS_1


"Menangislah sepuasmu, dasar brengsek." Paul tersenyum memandangi Koko di sebelahnya. "Tapi siapkan dirimu, karena kau akan menjadi seorang pahlawan."



__ADS_2