
Baru saja Koko keluar dari kamar Tante Elena, ia dikejutkan dengan kehadiran sosok perempuan berambut merah yang sedang berbincang hangat bersama teman-temannya yang lain di sofa tamu. Mereka semua tampak sedang membicarakan hal-hal yang sepele, tapi terdengar menyenangkan hingga gelak tawa selalu tercipta. Koko jadi bingung harus apa, soalnya dia ini sangat malu kalau berhadapan dengan orang asing. Tapi, kalau Koko terus-terusan berdiam diri di sana, orang-orang di sofa pasti akan mengetahui keberadaannya dan pastinya akan menyapanya. Maka dari itu, dari pada disapa duluan oleh mereka, lebih baik Koko mendatangi saja pada tempat mereka mengobrol.
Walau dengan wajah tertunduk dan kaki gemetaran, Koko terus memaksakan diri untuk melangkah dan melangkah, untuk mendekat ke perkumpulan para manusia yang tengah tertawa-tawa dengan serunya. Lalu, pada langkah kesekiannya, tiba-tiba kepala Koko--yang masih tertunduk--menubruk punggung seseorang yang sedang berdiri.
"Eh?" Jeddy kaget saat punggungnya serasa ditabrak oleh sesuatu, dan ia pun menoleh ke belakang untuk memeriksa. "Koko?" dari warna rambutnya, Jeddy menyebut nama orang yang dia pikirkan. "Ah, ternyata benar! Itu kamu, Bro! Hahaha!" kata Jeddy setelah membungkuk sejenak untuk melihat wajah dari orang yang sedang menunduk.
Mendengar Jeddy berisik, membuat semua perhatian langsung tertuju padanya--tidak, lebih tepatnya tertuju pada sesuatu yang ada di belakang Jeddy.
"Itu Koko? Wah! Cherry ingin melihat wajahnya, dong! Hihihi!" ungkap Cherry dengan riang, sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya di sofa.
"Ada apa dengan Koko?" Naomi sedikit cemas. "Saya tidak mengerti mengapa dia tidak mau memperlihatkan dirinya di hadapan kita?"
"Tidak apa-apa," Abbas tersenyum pada Naomi. "Koko juga anak baik."
"Bukan itu yang saya takutkan!" bentak Naomi pada Abbas dengan sedikit terpaksa. Kemudian, Naomi beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Koko. "Maaf? Anda kenapa, Koko? Mengapa Anda--"
"Aku... malu." ucap Koko sembari menyembunyikan diri di punggung Jeddy. Sementara Jeddy sendiri hanya tertawa-tawa melihat Koko tidak mau lepas dari punggungnya.
"Anda tidak perlu malu," Naomi, dengan pelan-pelan, menggenggam pergelangan tangan kanan Koko, seraya menariknya untuk keluar dari punggung Jeddy. "Di sini, Anda tidak perlu malu pada siapa pun. Kami semua bukan orang yang menakutkan, kok." kata Naomi, dengan melupakan fakta bahwa dirinya lah yang pernah menunjukkan aksi menakutkan pada Koko. "Ayo, perlahan-lahan, Anda pasti akan terbiasa."
__ADS_1
Akhirnya, Koko berhasil lepas dari perlindungan punggung Jeddy, menampilkan penampilan tubuh langsingnya pada semua orang yang ada di sana, terutama pada Isabella yang terkesan takjub dengan keindahan yang melekat di diri lelaki cantik tersebut.
"Tunggu," Isabella sedikit terkecoh dengan keindahannya hingga lupa pada hal yang tidak selaras. "Dia perempuan, kan? Tapi, mengapa kalian menyebutnya dengan Koko? Bukankah itu nama yang biasa digunakkan untuk laki-laki?"
Nico tersenyum miring melihat raut bingung yang ditampilkan Isabella. "Kau belum tahu, ya?" ucap Nico dengan menekan kaca matanya. "Apa kau ingin meminta penjelasan mengenai kejanggalan itu?"
Isabella melirik ke muka Nico, dan ia pun sedikit tertarik untuk masuk ke dalam permainan yang diciptakan oleh lelaki berkaca mata itu. "Oh, tentu saja," jawab Isabella dengan menyunggingkan senyuman menggodanya. "Tolong jelaskan kejanggalan itu padaku, Nico."
"Tapi tidak gratis," timpal Nico dengan mendengus angkuh. "Informasi adalah hal yang berharga. Dengan informasi, kau bisa memenangkan berbagai pertarungan, pertikaian, dan peperangan. Dengan informasi juga, kau bisa menciptakkan teknologi-teknologi canggih yang luar biasa. Jadi, jika kau menginginkannya, maka kau harus berani membayarnya."
"Membayarnya?" Isabella mendesah nikmat saat mengatakannya. "Boleh, aku tidak keberatan. Tapi, kalau aku dikejutkan fakta bahwa semua uangku habis, maka bolehkah aku membayarnya dengan," Isabella meremas payudaranya sendiri dengan gaya menggoda. "... tubuh rapuhku?"
Dan Isabella tertawa mendengar respon Nico yang terkesan menolak.
"Biar Cherry saja yang menjelaskannya! Hihihi!" Cherry bangkit dari sofanya dengan tangan kanan menunjuk ke arah Koko dan badan yang menghadap pada Isabella. "Jadi, walau bentuk tubuhnya seperti seorang perempuan, dia itu adalah seorang lelaki, loh! Dan namanya Koko! Bukan hanya itu! Koko punya wajah yang sangat cantik! Dan sikapnya pun sangat lembut! Walau sedikit pemalu, sih! Hihihi! Tapi Cherry suka sekali pada Koko! Dia itu sangat baik hati!"
Isabella tersenyum setelah mendengar informasi yang dijelaskan oleh Cherry mengenai kondisi orang yang bernama Koko. "Jadi begitu, ya? Terima kasih, Cherry, atas penjelasan singkatnya." Kemudian, bola mata Isabella bergeser ke sosok Koko yang masih sedang berdiri di samping Naomi dan mukanya masih tengah menunduk malu. "Namamu Koko, ya? Aku merasa kalau kau kurang cocok memakai nama itu, dari penampilanmu, kau lebih cocok dinamai dengan nama Krystal, karena warna rambutmu, lekukan tubuhmu, gerak-gerikmu, mirip seperti sebuah kristal. Cantik dan elegan." Isabella memandangi Koko dengan senyuman yang masih mengembang. "Ah, bagaimana kalau aku memanggilmu dengan Krystal saja? Bolehkah? Ngomong-ngomong, namaku Isabella, kau pasti sudah mendengarnya dari Paul, kan? Aku pahlawan baru yang tinggal di Kota Luna. Jadi, sebagai sesama pahlawan, mengapa tidak kau tegakkan kepalamu dan berbicaralah padaku dengan berani, Krystal."
"K-K-Krystal!?" Naomi dan Cherry terkejut mendengar nama Koko diubah seenaknya oleh Isabella. "Itu tidak boleh!" pekik Naomi dengan berapi-api. "Saya tahu Koko memang cantik seperti perempuan, tapi dia itu seorang laki-laki! Jadi, saya tidak ingin nama Koko diubah jadi Krystal! Itu tidak boleh! Saya tidak setuju!"
__ADS_1
"Cherry juga tidak setujuuuuuu!" teriak Cherry dengan mengembungkan pipinya, sebal. "Cherry tidak mau Koko jadi Krystal! Koko tetaplah Koko! Titik!"
"Hm?" Isabella mengernyitkan alisnya, dengan menahan tawanya. "Mengapa jadi kalian yang berisik?" Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya ampun, kalian ini benar-benar aneh, ya? Lagipula, nama itu hanya boleh disebutkan oleh diriku saja. Terserah kalian mau menyebutnya dengan nama Koko atau apa pun, yang penting, aku ingin menggunakan Krystal sebagai panggilan untuknya."
"Hei," Nico bersuara, saking kesalnya mendengar perdebatan tidak penting itu. "Jangan buat suasana jadi makin runyam. Aku benci itu."
"Aku juga! Hehehe!" jawab Jeddy dengan gelak tawa, disusul anggukkan dari Abbas.
Dan perlahan-lahan, Koko memberanikan diri untuk menegakkan kepala, kemudian, dia berkata, "Aku datang kemari hanya ingin... mengantarkan ini pada Jeddy." Koko menyodorkan plastik putih yang digenggamnya pada Jeddy.
"Wah! Benar juga! Aku hampir kelupaan itu! Hahahaha! Terima kasih, Bro!" Jeddy langsung meraih plastik putih itu dan tertawa-tawa.
"Itu apa?" tanya Abbas sedikit penasaran pada isi dari plastik putih yang digenggam Jeddy.
"Ini pistol mahal yang tadi siang kubeli di toko persenjataan! Hehehe!" Jeddy langsung mengeluarkan dan menunjukkan pistol keren itu pada teman-temannya. "Bagaimana? Bagus, kan!? Hahahaha!"
"Biasa saja." jawab Nico dengan wajah datar dan Jeddy terbahak-bahak mendengarnya.
"Ngomong-ngomong," Isabella berbisik pada semua orang yang ada di sana, membuat semuanya memperhatikannya dengan terdiam. "Sejak tadi Paul tidak keluar dari ruangan sebelah, bagaimana kalau kita periksa bersama-sama? Aku takut kalau," Isabella mendesah dengan nakal. "... dia masturbasi sambil membayangkan tubuhku yang menindih tubuhnya. Itu gawat, kan?"
__ADS_1