
Saat Nico membuka pintu rumahnya, dia disambut dengan keheningan dari ruangan yang kosong. Benar-benar kosong--tanpa ada perabotan apa pun di dalamnya. Hanya ada sebuah karpet putih yang melebar di lantai dan sebuah plastik hitam yang tergolek di pojok ruangan. Selain itu, tidak ada apa-apa lagi. Dan rumahnya pun hanya ada dua ruangan saja, satu kamar utama, satunya lagi kamar mandi. Dan jika dilihat dari luar, penampilan rumah Nico sangat kecil dan mungil, tapi sangat bersih, karena halaman rumahnya tidak terlalu ditumpuki oleh salju, sedangkan halaman rumah-rumah tetangganya malah tertumpuk banyak salju.
Alasan mengapa halaman rumahnya tidak ditimbun banyak salju, mungkin karena Nico rajin membersihkan salju-salju yang menumpuk di depan rumahnya, yang membuat penampilan rumahnya jadi tampak apik dan bening, walau bentuk rumahnya sangat kecil.
Kini, Nico sedang duduk di lantai di kamar utama sambil melunjurkan kedua kakinya, kemudian, dia mengambil kantong plastik berwarna hitam yang tergolek di pojok ruangan, dan ketika dia mengeluarkan sesuatu yang ada di dalamnya, ternyata isi dari plastiknya adalah tiga buah baju lengan panjang yang warnanya putih, celana panjang yang warnanya juga putih, dan sebuah selimut tebal warna putih yang berbulu halus. Padahal masih pukul sepuluh pagi, tapi Nico sudah siap-siap untuk membaringkan badannya di atas karpet, lalu, pakaian yang sudah ia lipat dengan rapi, ia jadikan sebagai bantal. Nico tersenyum tipis saat badannya sudah terbaring di lantai, lalu tangannya menarik selimut itu untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Ketika kepala Nico sudah masuk ke dalam selimut, bukannya terlelap tidur, lelaki itu malah tetap membuka matanya lebar-lebar, menikmati kegelapan di dalam sebuah selimut sambil bergumam sendirian di sana.
"Aku ingin punya teman, tapi aku benci manusia. Aku ingin punya sahabat, tapi aku benci manusia. Aku ingin punya kawan, tapi aku benci manusia. Aku benar-benar kesepian, tapi aku tidak butuh manusia."
Saat mengatakan itu, suara Nico benar-benar terdengar sangat lembut, lalu ia terkekeh kecil, menertawakan dirinya sendiri yang labil. "Sejak kapan aku jadi aneh begini, menyedihkan. Tapi... entahlah, aku rasa otakku jadi rusak setelah bertemu dengan empat berandalan itu," Nico menghela napasnya. "Tapi sungguh, aku tidak habis pikir, mengapa mereka tiba-tiba muncul di perpustakaan, dan mengapa salah satu dari mereka mengetahui nama lahirku. Aneh sekali. Sebenarnya siapa mereka? Apa tujuan mereka mendatangiku? Seingatku si rambut hitam bilang sesuatu tentang 'pahlawan'? Apa aku salah dengar? Tapi aku tidak peduli, sih. Tidak ada gunanya juga memikirkan orang-orang tolol seperti mereka. Buang-buang waktu."
Secara tidak sadar, kelopak mata Nico meredup saat merenungkan hal tersebut sampai akhirnya matanya tertutup total. Namun,
Blar!
Sebuah suara ledakan tiba-tiba terdengar di dekatnya, membuat Nico membuka matanya kembali dan langsung keluar dari pelukan selimut. Betapa kagetnya Nico saat melihat pintu rumahnya telah hancur berkeping-keping jadi remahan papan-papan kecil yang gosong. Kepulan asap masuk ke dalam ruangannya, membuat Nico jadi terbatuk-batuk, hingga akhirnya, kedua matanya mendapati sebuah siluet manusia yang sedang berdiri di depan rumahnya, dan jika diamati lebih teliti, tubuh dari siluet itu sangat pendek dan sepertinya itu adalah tubuh dari seorang gadis karena rambutnya lebat.
Nico pun beranjak dari posisi duduknya dan dengan langkah tergopoh-gopoh, ia mendatangi siluet manusia yang sedang berdiri di depan rumahnya itu untuk memastikan siapa dalang dari ledakan itu hingga pintu rumahnya jadi hancur berantakan.
"Eh!?" Nico kaget. "Bukankah kau itu gadis yang tadi?"
__ADS_1
"Hai!" Ternyata sosok dari siluet manusia tersebut adalah Cherry, gadis itu sedang berdiri dengan menggenggam dua buah permen lolipop di tangan kanannya sambil menyunggingkan senyuman riangnya pada Nico. "Tahu tidak? Cherry diam-diam mengikutimu, loh! Dan Cherry melakukannya tanpa sepengetahuan Paul, Colin, dan Jeddy! Mungkin sekarang mereka sedang mencari keberadaan Cherry, tapi Cherry tidak peduli! Hihihi! Soalnya," Mendadak wajah dan nada riang Cherry berubah jadi muka jengkel dan suara yang menggeram. "... kau harus Cherry lenyapkan."
Terkejut, Nico mengerutkan alisnya sambil bilang, "Melenyapkanku?" Nico tampak tidak mengerti mengapa gadis semungil Cherry jadi bertingkah aneh begitu padanya. "Ngomong-ngomong siapa yang menghancurkan pintu rumahku? Apa itu ulahmu?"
"Hihihihi! Ya pastinya, dong! Itu ulah Cherry! Siapa lagi kalau bukan Cherry! Hayo? Hihihi!" jawab Cherry dengan ekspresi yang kembali ceria seperti sebelumnya. Menyaksikan perubahan emosi yang begitu cepat dari gadis di hadapannya membuat Nico jadi heran, karena baru kali ini dia menemukan orang seaneh Cherry.
Bukan hanya itu, Nico juga kesal karena Cherry mengakuinya dengan santai bahwa ialah yang telah menghancurkan pintu rumahnya. Mengesalkan sekali. Mengapa gadis ini bisa-bisanya melakukan hal segila itu, apa dia tidak tahu kalau harga satu buah pintu itu sangat mahal. Karena kekesalannya sudah memuncak, Nico langsung berkata dengan suara yang dingin. "Apa kau senganggur itu? Hingga menghancurkan pintu rumah orang lain hanya untuk mengisi waktu luangmu? Menyedihkan sekali. Begitulah perilaku buruk dari gadis berandalan. Tolol dan idiot. Dan sepertinya kau terus-terusan menyebut dirimu sendiri sebagai 'Cherry', apakah nama aslimu itu Cherry? Heh! Berandalan kotor sepertimu tidak pantas menggunakan nama itu, seharusnya namamu adalah 'sampah'. Dan satu lagi, tingkahmu yang sok imut itu, benar-benar menjijikan."
"Terserah, Cherry tidak mau mendengarnya! Hup!" Cherry langsung menutupi lubang telinganya dengan kedua telunjuknya agar ia tidak mendengar segala omongan pedas dari Nico. Kemudian Cherry dengan mata yang melotot tajam dan suara yang menggeram, mulai berkata, "Tapi apa pun yang kau katakan, intinya kau merendahkan Cherry, kan? Kalau memang begitu, lakukanlah sepuasmu. Karena sebentar lagi, kau pasti mati di tangan Cherry."
Cherry tersenyum manis. "Ternyata kau cukup cerdik juga, menyimpan sebuah senjata di celanamu, Cherry pikir kau itu lelaki lemah yang bertingkah sombong, tapi lihatlah? Ternyata kau hebat! Hihihi! Namun," Wajah riang Cherry langsung jatuh ke mode gelapnya. "... dengan pisau sekecil itu, kau ingin membunuh Cherry? Jangan membuat Cherry tertawa, dasar lemah. Lagi pula, pisau mainanmu itu tidak akan pernah bisa membunuh Cherry! Bahkan untuk menyentuh kulit Cherry pun, itu sangat mustahil!"
Setelah mengatakan itu, Cherry langsung menjilat dua lolipop di tangan kanannya, kemudian ia lemparkan permen-permen itu ke muka Nico dan,
Blar! Blar!
Terciptalah sebuah ledakan yang sangat nyaring, membuat beberapa tetangga Nico yang sedang bersantai, langsung tergesa-gesa mengintip ke jendela rumahnya masing-masing, untuk menonton sesuatu yang sedang terjadi di depan rumah si lelaki putih. Beruntungnya, Nico langsung menjongkokkan badannya saat Cherry melempar dua permen itu ke wajahnya, membuat permen-permen itu meledak tanpa mengenai badannya sedikit pun. Dan karena ia telah diserang duluan, Nico pun segera membalasnya dengan merangkak ke kaki Cherry. Lalu dengan pergerakan yang cepat, Nico langsung mengiris dua betis Cherry menggunakan pisau kecilnya, berulang-ulang kali, hingga darah mengucur deras dari kedua kaki gadis mungil tersebut.
"Hentikan! Argh! Sakit! Cherry bilang hentikan!" Karena rasa sakit mulai menjalar di kedua kakinya, membuat Cherry refleks menendang kepala Nico hingga lelaki itu terjungkal. "APA YANG KAU LAKUKAN!? Kenapa kau jadi serius melukai Cherry!? Itu sakit sekali, tahu! SANGAT SAKIIIIIT! BODOH!"
__ADS_1
Dengan muka yang lebam-lebam karena telah ditendang oleh Cherry, Nico tetap menjawab perkataan gadis itu sembari membangkitkan badannya untuk berdiri, walau tubuhnya gemetaran.
"Justru seharusnya aku yang bilang begitu. Jika kau tahu dilukai itu rasanya sangat sakit, lalu mengapa tadi kau seenaknya melemparkan permen yang bisa meledak itu ke wajahku? Kalau itu mengenai wajahku, kedua mataku akan buta! Hidungku akan hancur! Dua telingaku akan tuli! Bibirku akan cacat! Dan mukaku akan rusak!" seru Nico dengan napas yang kembang-kempis setelah dia sudah berdiri sempurna. "Tapi sepertinya berandalan kotor sepertimu tidak akan memikirkannya sejauh itu. Yang ada di pikiranmu hanyalah melampiaskan segalanya dengan kekerasan, itulah yang membuat kalian, para berandalan, begitu rendah di mataku."
Sayangnya, Cherry tidak mendengar apa yang Nico katakan, gadis itu malah sedang menjerit-jerit kesakitan karena kedua betisnya berdarah. Lalu, karena rasa sakitnya terus mencekiknya, Cherry jadi tidak tahan pada Nico, ia pun langsung berlari ke arah lelaki itu dengan melemparkan puluhan permen lolipop yang tentunya sudah dijilat.
Begitu pula dengan Nico, ia juga langsung melemparkan pisau kecil itu dengan bidikan yang sangat tepat untuk mengenai wajah Cherry. Dan akhirnya, puluhan permen-permen itu dan pisau kecil itu melayang di udara dengan arah yang berlawanan.
Hingga akhirnya, pisau kecil milik Nico bertemu dengan salah satu permen milik Cherry, menimbulkan tabrakan yang tak terduga, membuat permen itu meledak, dan secara beruntun, teman-temannya pun ikut meledak di udara. Menciptakan sebuah ledakan besar-besaran di hadapan Nico dan Cherry, mereka berdua terbelalak menyaksikannya, begitu juga dengan tetangga-tetangga yang ikut menonton di jendela rumah masing-masing.
Perlahan-lahan asap dari ledakan besar itu jadi membentuk sebuah bentuk manusia berjubah yang berdiri di tengah-tengah mereka, membuat Cherry mau pun Nico kaget melihatnya.
"Maaf mengganggu pertempuran kalian," Ternyata sosok yang muncul di tengah-tengah Cherry dan Nico adalah Roswel. "Tapi sepertinya kalian sudah sangat berlebihan, sampai ingin membunuh satu sama lain. Saya tidak bisa membiarkan kalian melakukannya lebih jauh lagi, karena kalian berdua adalah calon-calon pahlawan hebat di masa depan. Selain itu, kalian merupakan orang-orang yang Tuan Paul dapatkan dengan susah payah, jadi tidak ada alasan untuk saya membiarkan kalian saling membunuh satu sama lain. Karena bagi Tuan Paul, kalian sangat berharga."
Roswel melirik ke arah Nico dan Cherry secara bergantian dengan menyunggingkan senyuman ramahnya.
"Siapa dirimu?" Nico memicingkan matanya pada Roswel, ia kaget melihat ada pria berwajah pucat dan berjubah hitam yang mendadak muncul di depannya. "Mengapa kau bisa muncul dari dalam sebuah asap? Itu jelas-jelas melawan hukum alam. Apa jangan-jangan kau ini makhluk gaib? Dan apa yang kau bilang tadi? Calon pahlawan di masa depan? Tuan Paul? Kami sangat berharga? Sebenarnya, apa yang sedang kau bicarakan?"
Roswel tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Nico.
__ADS_1