
"Permen? Meledakkan tubuh semua orang di kota ini?" Gadis pirang bergaun mewah itu segera berdiri dari posisi duduknya di aspal, lalu dia menatap muka Cherry di hadapannya dengan murka. "Kau akan menyesal karena telah membuatku marah!" Kemudian, gadis itu mengeluarkan ponsel lipat yang dilapisi oleh emas berkilau, dan dia pun membuka ponsel itu dan mengetikkan sesuatu dengan sangat cepat. Setelah selesai mengetik, dia memasukan kembali ponsel itu ke dalam gaun mewahnya, dan gadis pirang itu menyunggingkan senyuman liciknya pada Cherry. "Tamatlah riwayatmu, Bocah!"
Cherry memiringkan kepalanya, terheran-heran. "Tamat? Apanya yang tamat? Cherry tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi intinya, kau sedang mengancam Cherry, kan?" Sejenak Cherry terdiam, kemudian dia langsung terkikik-kikik. "Hihihi! Apa-apaan itu? Jadi maksudnya,"
Tiba-tiba datanglah tiga buah helikopter yang meluncur ke atas halte, mereka langsung terbang tepat di atas kepala Cherry, berputar-putar, dengan suara baling-baling yang berisik, seperti tiga elang kelaparan yang terbang memutari mangsanya; yaitu seekor itik mungil. Namun, bukannya ketakutan, Cherry malah tersenyum memandangi helikopter-helikopter itu, "Jadi maksudnya ini, ya? Ancamannya?" Ketika semua orang yang ada di halte menjerit-jerit takjub melihat tiga helikopter yang mendadak muncul di langit, Cherry malah berjalan tenang menghampiri gadis pirang di depannya dengan senyuman tipis. "Kau pikir Cherry akan takut dengan mainan-mainanmu itu?"
PLAK!
Dengan kencang, gadis pirang itu langsung menampar pipi Cherry, setelah mendengar omongan itu, membuat kepala Cherry terhempas ke samping, lalu dengan emosi yang meluap-luap, gadis itu mulai bersuara, "Berhentilah meremehkanku! Aku ini adalah seorang bangsawan! Yang punya derajat tinggi! Kau, sebagai rakyat jelata, wajib menghormatiku! Aku akan mengampunimu jika kau mau mencium kakiku! Tapi jika kau masih melawan, aku tidak akan bertanggung jawab jika para bawahanku yang ada di dalam tiga helikopter itu, menembaki tubuhmu sampai hancur berkeping-keping!"
"Heee?" Cherry menahan tawanya. "Menakutkan sekali."
Jengkel mendengar respon Cherry, yang seperti meremehkannya, akhirnya, si gadis pirang langsung berteriak pada tiga helikopter yang sedang terbang di langit. "LAKUKAN SEKARANG! TEMBAK GADIS MERAH MUDA INI HINGGA HANCUR BERKEPING-KEPING! JANGAN SISAKAN DAGING ATAU TULANG SEDIKIT PUN DARINYA! BUAT TUBUHNYA JADI ENCER DAN MENYATU DENGAN ASPAL PANAS!"
Sedetik kemudian, gerombolan pria berkaca mata hitam secara bersamaan menonjolkan kepalanya dari jendela tiga helikopter itu, mereka semua mengeluarkan pistol-pistol panjang yang kelihatannya sangat mematikan. Dan dalam hitungan detik, pistol-pistol itu menembakkan peluru-pelurunya dengan cepat ke sosok Cherry yang sedang berdiri di depan gadis pirang itu.
BRAK!
Nico mendorong pintu agung dari gedung pemerintahan Aljelvin dengan kaki kirinya, hingga pintu besar itu terbuka dengan menimbulkan suara gebrakan yang sangat kencang, membuat orang-orang penting yang sedang rapat di meja bundar terkejut mendengarnya.
"Tidak perlu khawatir, tetap lanjutkan rapatnya, biar aku yang periksa."
Ucap seorang pria berkumis dan berpakaian rapi pada rekan-rekan kerjanya yang sama-sama berkumis. Kemudian, pria tua itu keluar dari ruangan meja bundar, untuk memeriksa siapa yang telah membuka pintu agung dengan kasar begitu.
Baru saja dia akan menuruni tangga mewah, matanya menemukan sesosok pemuda berambut putih yang sedang berjalan naik, mengundaki tangga yang sama dengannya. Akhirnya mereka saling menatap dari ujung tangga yang berlawanan. "Ada apa, Nak?" Pria itu mulai menyunggingkan senyuman ramahnya pada Nico, dia mengasumsikan bahwa pemuda itu adalah anak bangsawan yang hendak mencari ayahnya di sini, karena penampilan sang pemuda tampak begitu tampan dan elegan, kulitnya sangat bersih, wajahnya sombong dan matanya sangat menusuk, khas seorang bangsawan.
__ADS_1
"Aku ingin menemui--" Perkataan Nico langsung disela oleh pria tersebut.
"Mau menemui Ayahmu, ya? Maaf, Nak, tapi tunggulah di sini sebentar. Ayahmu sedang mengikuti rapat penting. Mungkin sekitar lima menit lagi, rapatnya akan selesai, tidak apa-apa, kan?"
Mendengar kalimat itu, membuat Nico memicingkan matanya. "Ayahku? Mengikuti rapat penting?" Nico langsung tersenyum angkuh mendengarnya, dia mulai mengikuti alurnya. "Ya, aku ingin menemui Ayahku! Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, aku sudah bosan duduk di mobil, jadi, katakan padaku, di ruangan mana Ayahku mengikuti rapat pentingnya?"
"Tapi, Nak, kau akan mengganggu rapatnya." Pria itu tampak resah mendengar permintaan Nico, dia jadi bingung harus bagaimana, apalagi anak itu adalah seorang bangsawan, dia tidak bisa mengusirnya dengan sembarangan. "B-Baiklah! Tapi kau harus janji, jangan ganggu rapatnya, okay?"
Nico menyeringai mendengarnya. "Tidak masalah, aku tidak akan mengganggu rapatnya. Kalau begitu, antar aku ke sana!"
"Baik. Ikuti aku, Nak."
Dengan kebodohan dari si pria berkumis itu, Nico mendapatkan kesempatan emas untuk melancarkan aksinya. Sungguh, beruntung sekali dirinya hingga disangka sebagai seorang bangsawan. Nico tidak tahan lagi, dia jadi ingin menertawakan betapa bodohnya pria tua yang sedang menuntunnya ke ruang rapat tersebut, ini jadi seperti seekor tikus sedang mengajak seekor ular berbisa untuk masuk ke dalam sarangnya. "Akan kuhancurkan kota bobrok ini sampai ke akar-akarnya," kata Nico dengan suara yang rendah, memandangi punggung si pria berkumis itu.
Setelah sampai di sebuah plaza yang cukup ramai, Paul membeli sebungkus roti serta segelas cokelat dingin, dan menyodorkan makanan itu pada Koko yang terduduk di undakan tangga di tengah-tengah Plaza, tepatnya di bawah pohon kelapa rindang yang sengaja ditumbuhkan di sana. Mencium aroma yang enak, Koko menolehkan pandangannya ke sebuah tangan yang menggenggam makanan dan minuman, dan dia pun tersentak. Koko-lelaki berparas cantik dengan rambut panjang berwarna ungu-- seketika menggeser pantatnya jauh-jauh dari Paul, ketika lelaki asing itu duduk di dekatnya. Paul kebingungan, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Koko.
"Cepatlah ambil ini! Kau harus makan!" Dengan beringas, Paul menyodorkan makanan dan minuman yang baru dibelinya semakin dekat pada Koko, yang membuat lelaki berambut panjang itu ketakutan. Bukannya mengambil makanan dan minuman yang disodorkan Paul, Koko malah beranjak dari duduknya dan berlari ke belakang pohon kelapa, berlindung dari lelaki asing yang kasar tersebut. Sesekali Koko mengintip ke arah makanan dan minuman yang masih digenggam oleh Paul, tapi saat orang yang menggenggamnya menatapnya, dia cepat-cepat menenggelamkan kembali kepalanya ke belakang pohon kelapa. "Sebenarnya, apa yang dia lakukan?" Paul mengernyitkan alisnya, terheran-heran pada tingkah Koko.
Namun, karena malas membujuknya, akhirnya Paul meletakkan roti dan cokelat dingin itu di permukaan tempat yang tadi diduduki oleh Koko. Kemudian, bola mata Paul dialihkan ke keramaian orang-orang yang berseliweran di Plaza. Dan setiap kali Paul memandang, dia selalu menemukan beberapa orang berpakaian mewah sedang berjalan santai di Plaza dengan tangan menarik sebuah rantai emas yang mengikat seorang budak yang berjalan lemas di belakang orang tersebut. Itu benar-benar pemandangan yang memilukan. Kemarahan Paul selalu memuncak jika melihat hal tersebut.
Saking kesalnya, Paul sampai tidak sadar bahwa saat ini di sampingnya, diam-diam Koko sedang mengunyah roti yang tadi disodorkannya, tampaknya lelaki cantik itu sudah agak tenang dari sebelumnya. Dia sudah berani untuk duduk di dekat Paul, mungkin karena perutnya keroncongan, jadi dia terpaksa melakukannya. Tapi Koko terlihat menikmati sekali roti tersebut, dia mengunyahnya dengan pelan, seolah-olah tidak ingin menghabiskan makanannya terlalu cepat, wajahnya tampak berseri-seri. Hingga akhirnya Paul mendengar suara kunyahan itu dan memalingkan pandangannya ke samping, menyaksikan Koko yang sedang memakan roti pembeliannya. Paul tersenyum saat melihat ekspresi Koko yang begitu bahagia.
"Kau suka rotinya?" Paul bertanya dengan suara yang rendah, di tengah kebisingan Plaza yang ramai, membuat Koko menolehkan kepalanya sedikit dengan canggung. "Ah, tidak apa-apa, kau tidak perlu menjawab pertanyaanku. Habiskan saja rotimu dulu, lalu minumlah cokelat dingin itu agar tenggorokanmu segar." kata Paul dengan bersikap lembut pada Koko.
__ADS_1
Kilauan emas dari rantai panjang yang membelenggu leher Koko membuat Paul menyipitkan matanya, menelisik lebih dalam, untuk mencari cara agar benda itu bisa lepas dari tubuh si lelaki berambut panjang itu. Soalnya Paul risih melihat leher Koko yang masih terikat dengan rantai emas milik si gadis pirang sialan. Tapi sepertinya akan sulit untuk melepaskannya, karena di tiap sudut rantai, tidak ada lubang kunci atau semacamnya, membuat wajah Paul jadi muram.
"Mengapa kau... membawaku ke sini?"
Tiba-tiba Koko mengeluarkan suaranya, dengan nada yang sangat lemas dan tidak bertenaga, tatapannya pun masih sayu, dan sepertinya roti yang tadi dimakannya sudah habis. Mendengar itu, Paul segera menjawabnya dengan cepat.
"Memangnya kenapa? Kau tidak suka pada tempat ini?" Jawaban Paul membuat Koko tersenyum getir.
Hembusan angin yang lumayan kencang datang, membuat helaian ungu dari rambut Koko berkibar-kibar, menari-nari mengikuti hembusan itu. Kemudian, dengan suara yang parau, Koko bersuara kembali, tapi wajahnya tidak memandang Paul, matanya terus menatap ke depan, dengan tatapan yang tenang.
"Apa kau... tidak jijik padaku?"
Kaget, kedua alis Paul terangkat secara bersamaan saat mendengar pertanyaan itu, dia pun langsung menjawabnya dengan intonasi yang tegas. "Hah!? Apa kau berbicara mengenai penampilanmu yang kotor?" Paul mendecih. "Dengar ini! Hanya karena penampilanmu kotor, aku tidak akan jijik padamu! Jangan samakan aku dengan para bangsawan busuk di kota ini!"
"Bukan itu," kata Koko dengan menundukkan kepalanya, membuat helaian ungu dari rambutnya berjatuhan ke pangkuannya. "Ini mengenai... diriku sendiri."
Paul terdiam, masih tidak paham pada apa yang dibicarakan Koko. Kedua alisnya mengernyit, matanya memicing, dan bibirnya mengerucut. "Sebetulnya apa yang sedang kau bicarakan! Aku tidak mengerti!" ucap Paul dengan mengacak-acak rambut hitamnya, saking jengkelnya karena tidak bisa memahami apa yang dikatakan Koko. "Katakanlah sesuatu dengan jelas!"
Dengan suara yang bergetar, Koko mulai menjelaskan apa yang tidak dimengerti oleh Paul. "Ini mengenai... sosok lelaki yang menyerupai perempuan," Koko pun menatap muka Paul dengan intens, angin kembali mengibarkan rambut panjangnya, membuat sosoknya bagaikan seorang dewi yang sangat cantik. "Maaf jika aku tiba-tiba menanyakan hal itu padamu. Aku hanya... takut. Karena selama ini, aku selalu dianggap sebagai makhluk yang menjijikan oleh semua orang, bahkan katanya, derajatku lebih rendah dari kotoran. Dan, keluargaku membenciku, aku dianggap sebagai anak pembawa sial, sampai akhirnya, mereka menjualku ke orang lain sebagai seorang budak."
Paul terbelalak mendengarnya, matanya membulat, napasnya jadi tidak beraturan, dan hawa panas mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Tapi, Paul belum mau menjawab, karena sepertinya, Koko masih belum menyelesaikan ucapannya. Karena itulah, Paul berusaha menahan segala amarahnya dan kembali mendengarkan ucapan Koko.
Perlahan-lahan, Koko mengangkat mukanya, memandangi awan-awan yang berarak di langit, dia menyunggingkan senyumannya dengan gemetar. "Jika Tuhan itu ada, aku selalu ingin bertanya padanya, mengapa aku dilahirkan seperti ini? Aku ingin seperti manusia-manusia lainnya, menjadi lelaki atau perempuan seutuhnya. Bukan seperti ini, yang membuatku tidak punya tempat untuk hidup di dunia ini. Semua orang di dunia ini tidak suka pada sosok seperti ini. Bahkan, aku pernah lihat di televisi, banyak sekali orang-orang sepertiku dipukuli, dimutilasi, dipenjara, dipasung, ditelanjangi, bahkan dibunuh. Dan anehnya, tidak ada satu orang pun yang mau menolong mereka. Padahal, mereka tidak melakukan kejahatan apa pun. Mereka hanya hidup menjadi diri mereka sendiri. Tapi, semua orang menolaknya. Karena itulah. Aku... takut."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, air mata Koko menetes-netes, membasahi pakaian lusuhnya, tapi bibirnya masih tersenyum. Matanya terus menatap luasnya biru langit yang membentang di atas kepalanya. Kemudian, Koko menoleh pada Paul dengan mata yang sangat hangat. "Jadi, aku ulangi pertanyaanku," kata Koko dengan senyuman yang lembut pada Paul. "Apa kau... tidak jijik padaku?"