Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 122 : Lelah


__ADS_3

Paul dan Isabella sangat bahagia saat melihat Abbas berdiri tegak di depan mereka, sambil tangannya mengusap-usap lembut rambut mereka.


Sang Dokter wanita itu masih menampilkan muka yang panik. "Ini keajaiban yang tidak terduga, kupikir tidak ada lagi hal yang bisa dilakukan pada tubuhnya yang sudah keras dan dingin, layaknya mayat. Tapi aku tidak menyangka, hanya dengan tetesan air dari botol itu, yang telah kuteteskan ke tenggorokannya, bisa membuatnya hidup kembali!"


"Tidak masalah! Keajaiban memang selalu ada!" balas Paul dengan senyuman lebarnya, kemudian perhatiannya difokuskan pada muka Abbas. "Dasar bodoh! Kalau tidur, jangan terlalu lama! Kau membuat kami menunggu! Brengsek!"


Abbas tersenyum tipis mendengarnya, ia lepaskan tangan-tangannya yang mengusap rambut Paul dan Isabella, dan menjawab perkataan mentornya dengan suara baritonnya yang rendah.


"Aku minta maaf," kata Abbas. "Karena telah membuat kalian menunggu lama."


"Untuk apa kau meminta maaf?" Isabella menanggapinya dengan terkikik-kikik. "Yang harus minta maaf itu lelaki ini," Isabella menyenggol lengan Paul dengan genit. "Paul lah yang membuatku menunggu terlalu lama saat dia pergi mencari penawar racun, bahkan aku sampai tidak tahan ingin menggigit ******-putingnya, karena saking kesalnya."


"DIAM!"


Isabella dan Abbas tertawa melihat reaksi Paul, sedangkan Sang Dokter hanya tersenyum simpul memandangi mereka.


"Baiklah, karena Abbas sudah pulih! Aku harus kembali ke tempat orang itu! Kalian berdua tunggu saja di sini!"


Namun, saat Paul akan bergegas pergi dari pandangan, Isabella langsung menahannya, dengan menyentuh pundak lelaki itu. "Ya ampun, menggelikan sekali," kata Isabella dengan menatap mata Paul lekat-lekat. "Jangan buat keputusan terburu-buru begitu, Paul. Itu akan membuatmu kerepotan nantinya. Kalau tiba-tiba kau tidak tahan ingin menyalurkan hasrat terpendammu di tengah jalan, bagaimana? Itu bahaya, kan? Jadi lebih baik bawa aku bersamamu, aku bisa mengatasi semuanya, terutama hal-hal yang...," Isabella meraba-raba ************ Paul dengan mendesah. "....menggairahkan."


"Hentikan itu! Brengsek! Kau menjijikan!" sergah Paul dengan menepis tangan Isabella yang nakal. Kemudian, ia berkata dengan serius. "Tidak! Kau bersama Abbas tetap di sini! Kalian hanya akan membebaniku! Jadi tetaplah di sini dan tunggu kedatanganku!"


"Tidak boleh begitu," Dengan nada mendesah, Isabella membalasnya. "Kau sudah membuatku menunggu, dan sekarang, kau mau membuatku menunggu lagi? Ayolah Paul? Jangan begitu," Isabella membujuk mentornya agar percaya padanya, sambil ia dekatkan mulutnya ke telinga Paul. "Tolonglah, tubuhku bisa basah jika terus-terusan dipaksa menunggu seperti itu. Kau tidak kasihan ya, padaku? Aku tidak tahan lagi, Paul."


Abbas juga menganggukkan kepalanya, menunjukkan bahwa dia juga ingin pergi bersama Paul.


"Oke! Terserah! Tapi aku tidak mau tanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi pada kalian!"


Isabella menyunggingkan senyumannya dengan merekah sempurna. "Jangan khawatir, lagipula aku punya payudara yang besar, setidaknya itu bisa melindungiku dari serangan lelaki-lelaki tampan, benar, kan?"

__ADS_1


Mengabaikan omongan Isabella yang mulai ngawur, Paul mengucapkan terima kasih pada Sang Dokter lalu pamit untuk pergi ke tempat Lizzie berada.


Kali ini, Paul tidak sendirian lagi.


"Wah, pagi yang cerah, ya," Isabella menghirup udara sebanyak mungkin setelah mereka keluar dari gedung rumah sakit, menikmati pemandangan pagi di Kota Barasta. "Oh, bahkan dari sini, kita bisa melihat lautan. Indah sekali, ya?"


"Ya," Abbas menanggapi ucapan Isabella. "Sangat indah."


Mereka kini berjalan beriringan di tepian jalan, menuju rumah Lizzie, Sang Pahlawan ke Sembilan. Isabella dan Abbas bercakap riang, sedangkan Paul berjalan tegap di depan mereka. Tampaknya Paul tidak sabar ingin bertemu lagi dengan Lizzie. Lebih tepatnya, ingin menaklukan gadis itu agar menjadi muridnya.


Namun, baru saja mereka melangkah beberapa meter dari gedung rumah sakit, sesuatu yang tidak mengenakkan mendadak mencekik Paul. Lebih tepatnya, saat gerombolan mobil polisi yang berisik, melintasi jalan raya. Isabella dan Abbas tetap santai seperti biasanya, tapi Paul malah menghentikkan langkahnya, ketika kerumunan mobil polisi sudah pergi jauh dari pandangan.


Paul tiba-tiba mematung, membuat Isabella dan Abbas keheranan.


"Ada apa, Paul?" tanya Isabella, menghampiri mentornya yang mendadak diam tak bergerak.


Abbas pun mengernyitkan alisnya penasaran.


Setelah itu, Paul kembali mengantongi ponselnya dan dia bersikap seperti sedang menunggu sesuatu.


"Paul? Jawab pertanyaanku." Isabella merasa ada sesuatu yang tidak beres pada diri Paul.


Beberapa detik berdiri, tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan Paul, dan lelaki itu langsung masuk ke dalam mobil tersebut, duduk di kursi belakang.


"Kalian juga masuk!" seru Paul pada Isabella dan Abbas.


"Eh?" Setelah duduk bersama Paul dan Abbas di dalam mobil tersebut, perempuan itu masih tidak mengerti pada apa yang sedang terjadi. "Mengapa kita harus naik mobil?"


"Aku tadi memesan taksi online!"

__ADS_1


"Okay," Isabella mulai paham. "Lalu, untuk apa kau memesan taksi online?


"Untuk mengejar gerombolan mobil polisi tadi!"


"Hm?" Isabella kembali tidak mengerti pada maksud Paul. "Mengapa kita harus mengejar mobil polisi?"


"SEBAIKNYA KAU DIAM SAJA!" Kemudian, Paul berseru pada Sang Sopir. "Berangkat sekarang!"


Akhirnya, mobil hitam itu bergerak, membawa Paul, Isabella, dan Abbas, mengikuti gerombolan mobil polisi.


Mobil yang Paul tumpangi terus melaju kencang, mencoba mendekati mobil-mobil polisi yang meluncur di depan. Hingga akhirnya, mobil itu sangat dekat dengan salah satu mobil polisi dan Paul terkejut saat matanya menemukan sosok punggung yang sedang duduk di kursi belakang mobil tersebut, dari warna rambutnya, postur tubuhnya, dan gerak-geriknya, tidak salah lagi.


"ITU DIA!" Refleks, Paul mendadak berteriak sendirian saat dugaannya benar. Bahwa di antara mobil-mobil polisi tersebut, ada keberadaan Lizzie di sana.


Isabella dan Abbas kaget saat Paul tiba-tiba berseru di samping mereka, tapi mereka mencoba mengikuti arah pandang mentornya dan terus fokus meneliti hingga akhirnya, mereka juga terkejut.


"Ah, ternyata gadis itu ada di mobil polisi, ya?" Isabella menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kira-kira apa yang telah ia lakukan, hingga dibawa oleh para polisi begitu?"


"Mungkin," Paul merespons perkataan Isabella. "Ada kaitannya dengan kejadian tadi malam!"


"Kejadian tadi malam? Apa maksudnya itu?" Mendadak, Isabella menyunggingkan senyuman menggoda. "Ah, jangan bilang kalian berdua melakukan hal-hal yang tak senonoh hingga berurusan dengan para polisi, ya?" Isabella terkikik-kikik membayangkannya. "Ya ampun, aku tidak menyangka kalau selera Paul ternyata perempuan-perempuan tomboi begitu? Mengejutkan."


Karena tidak suka Isabella terus-terusan mengoceh ke hal-hal yang menjijikan, terpaksa Paul menceritakan semua yang dia alami semalam bersama Lizzie, pada Abbas dan perempuan penggoda itu.


"Wah, jadi begitu, itu artinya saat ini dia dalam bahaya, dong?" kata Isabella setelah mendengar penjelasan dari Paul. "Jika dia dipenjara, maka akan sulit bagi kita untuk menjadikannya pahlawan. Sepertinya kita juga dalam kondisi yang buruk. Tidak sangka, ya?"


Beberapa menit melaju, mengikuti gerombolan mobil polisi, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Paul sampai di depan gedung kepolisian. Dan saat mereka turun, Lizzie juga ikut turun dari mobil yang ditumpanginya, tampaknya dia bersama Rara.


Lizzie dan Rara didorong oleh para polisi untuk masuk ke gedung kepolisian, Paul bersama Isabella dan Abbas, mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Di dalam hatinya, Paul menggerutu, pokoknya ia harus segera menyelesaikan ini semua secepat mungkin, agar dia bisa langsung pergi mencari pahlawan terakhir dan bisa beristirahat dengan tenang.


Jujur saja, Paul benar-benar lelah.


__ADS_2