Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 15 : Gadis yang Licik


__ADS_3

Pagi itu, ketika sinar matahari masih belum begitu menyengat, tiga remaja laki-laki tampak baru turun dari sebuah bus antar kota, mereka mendarat di Kota Poppe, sebuah tempat yang penuh dengan nuansa merah muda. Gedung-gedung pencakar langit, rumah-rumah penduduk, marka jalan di zebra cross, hingga daun pepohonan terlihat sangat cantik karena memiliki warna yang serupa, yaitu merah muda. Entah apa yang ada di pikiran masyarakat di Kota Poppe hingga mewarnai seluruh kotanya menjadi merah muda. Paul saja sampai kaget karena ini adalah pertama kalinya dia ke tempat yang seperti ini di negaranya.



Sebenarnya Paul sering melihat suasana Kota Poppe di televisi dan internet, karena kota ini termasuk ke dalam kota-kota yang rajin mempromosikan 'kecantikan'nya ke media agar dapat dikunjungi oleh para wisatawan di berbagai dunia, tapi dia tidak menyangka kalau aslinya ternyata semenggelikan ini. Bahkan, Paul bisa melihat kalau semua pejalan kaki yang berseliweran di jalanan kota mengenakan pakaian berwarna merah muda, dan kelihatannya banyak sekali manusia dari ras yang berbeda-beda di sini, ada kulit hitam, kulit putih, kulit kuning, serta berbagai bentuk badan yang unik-unik. Paul benar-benar geli memandangi suasana tempat ini, bulu kuduknya sampai berdiri.



Saat Paul merasa aneh dan geli dengan kondisi kota ini, Jeddy dan Colin malah sebaliknya, mereka tampak terpukau dengan kecantikan Kota Poppe, mata mereka berdua berbinar-binar, terpesona pada setiap hal di kota tersebut. Karena jijik mengamati tingkah mereka, Paul melangkahkan kakinya, meninggalkan Jeddy dan Colin yang masih terkagum-kagum dengan keindahan kota Poppe.



Sadar ditinggalkan oleh Paul, Jeddy dan Colin buru-buru berlari kencang, mengejar mentornya yang sudah sangat jauh. Setelah berhasil mengejar Paul, mereka berdua tampak kelelahan karena telah berlari kencang. Paul yang menyadari kedatangan mereka hanya terdiam, mengabaikan mereka.



"Hey! Paul!" Colin berjalan di samping kiri Paul sambil terengah-engah. "Mengapa kau meninggalkan kami?"



Paul tidak merespon pertanyaan itu dan terus melangkahkan kakinya ke depan, mukanya tampak datar. Lalu, Jeddy ikut-ikutan bersuara di samping kanannya. "Bro! Setelah berkunjung langsung ke kota ini, entah mengapa, segala pikiran negatif yang tadinya hinggap di kepalaku mengenai Kota Poppe, jadi lenyap semua! Bro!" ucap Jeddy dengan tersenyum lebar pada Paul, walau keringat membasahi badannya. "Hahaha! Sekarang, aku jadi malu sendiri karena telah menganggap kota ini sebagai tempat yang mengerikan, padahal kenyatannya, Kota Poppe sangat indah! Benar, kan? Bro!"



Mengamati sikap Paul yang sepertinya mengabaikan mereka membuat Colin berkata, "Percuma saja, Paul tidak akan menimpali perkataanmu, Jeddy." Dan Jeddy hanya tertawa mendengarnya.



Mereka bertiga terus berjalan di trotoar, menyusuri kota ini bersama-sama, melewati berbagai tempat yang dipenuhi warna merah muda, entah itu toko-toko, lapangan golf, taman bermain, hingga tempat khusus pemenggalan kepala. Tapi sebenarnya, mereka bertiga akan menuju ke sebuah tempat yang sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh Jeddy mau pun Colin, karena Paul dari awal memang belum memberitahukan tujuan aslinya pergi ke kota ini pada mereka.



"Ngomong-ngomong," Colin mulai bersuara ketika mereka bertiga masih berjalan di trotoar kota. "Kalian sadar tidak? Dari tadi, orang-orang yang kita jumpai, entah kenapa, selalu saja melirik ke arah kita dengan tatapan sinis."



Mendengar perkataan itu, membuat Paul dan Jeddy menolehkan pandangannya ke Colin. Kemudian, Jeddy menjawabnya dengan nada yang santai, "Hahaha! Kau ini! Ada ada saja! Menurutku tidak ada yang aneh dengan orang-orang di sekitar kita, lihat, Bro?" Jeddy melebarkan tangannya ke arah orang-orang yang berlalu-lalang di sekelilingnya. "Mereka semua hanya orang-orang baik, tidak ada yang sinis padaku, iya, kan!? Bro!? Hahaha!"



Apa yang dikatakan Jeddy memang benar, ketika dia melebarkan tangannya ke hadapan orang-orang, mereka semua tampak bersikap acuh tak acuh, dan itu normal. Tapi, apa yang diucapkan Colin pun bukanlah kebohongan, karena sebelumnya, beberapa orang memang sesekali memandang ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam dan sinis. Sedangkan Paul hanya menghela napas menyaksikan percakapan mereka berdua.



"Jangan banyak omong!" bentak Paul pada Jeddy dan Colin. "Sebentar lagi kita akan sampai! Brengsek!" Membuat Colin mau pun Jeddy agak kebingungan dengan ucapan Paul.



"Benar juga, ya!" kata Colin dengan alis yang mengkerut, terheran-heran. "Sebenarnya kau akan membawa kami ke mana, Paul? Sampai kita jauh-jauh pergi mengunjungi kota ini, aku jadi penasaran. Soalnya kau tidak mau memberitahukan pada kami soal tempat tujuan kita."



Namun sayangnya, segala pertanyaan yang diajukan oleh Colin maupun Jeddy tidak ditanggapi oleh Paul, dia terus melanjutkan perjalanannya. Sampai akhirnya, Paul pun berhenti di sebuah gerbang dari gedung yang bertuliskan 'FUFIRM : Rumah Sakit Jiwa Khusus Gadis Belia', membuat Colin dan Jeddy ikut berhenti dan memandangi nama gedung tersebut. Dan mereka berdua pun tersentak setelah membacanya, lalu dengan tergesa-gesa Colin menghampiri Paul dan berseru, "Paul! Jangan bilang kalau pahlawan berikutnya adalah---"



"YA!" Dengan mendelikan matanya ke Colin, Paul menjawab pertanyaan itu dengan keras. "Pahlawan berikutnya adalah seorang pasien di tempat ini! Bagaimana!? Rasa penasaran kalian sudah tersalurkan, kan!? Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam!"

__ADS_1



Sungguh, wajah Colin jadi pucat, dia benar-benar tidak percaya kalau orang yang akan jadi pahlawan berikutnya adalah pasien di rumah sakit jiwa, bukan hanya itu, dia juga punya rasa takut yang berlebihan terhadap orang gila. Rasanya dia jadi ingin pulang ke Kota Swart untuk kembali bekerja di kedai daripada harus masuk ke gedung yang dipenuhi orang gila.



Sedangkan Jeddy hanya berjalan santai di belakang mereka berdua, dia meregangkan otot-otot lengannya yang agak keram, dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Kelihatannya Jeddy tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang akan jadi pahlawan berikutnya. Karena tampaknya, Jeddy diam-diam menyunggingkan senyuman mesum yang mengerikan, dia pun mulai berpikir; Apa pun bentuknya, gadis tetaplah gadis, dan di dalam gedung ini pasti banyak sekali gadis belia cantik yang mengidap gangguan kejiwaan, terima kasih, Bro! Karena telah membawaku ke tempat ini! Hehehehe! Jeddy terus cengar-cengir sendirian, membayangkan gadis-gadis belia yang mengidap gangguan jiwa akan memeluk dan memukul-mukul badannya dengan manja.



"Ada yang bisa saya bantu?"



Seorang wanita yang berjaga di meja pelayanan tamu bertanya dengan sopan pada Paul yang berjalan di depan Jeddy dan Colin. Dengan kaku, Paul menjawabnya, "Apakah ada pasien yang bernama Ch-Che-Cherr-Cherra di sini?"



"Oh, tunggu sebentar," Kemudian wanita itu membuka sebuah buku tebal yang berjudul 'daftar nama pasien' lalu jari telunjuknya membuka halaman demi halaman di buku tersebut, mencari nama yang disebut oleh Paul. Beberapa detik kemudian, dia mengangkat kepalanya, menatap Paul dengan nada yang ramah. "Maaf, tapi pasien yang bernama Cherra tidak ada di daftar kami."



Paul terkejut mendengarnya. "Be-Benarkah!?" Kemudian, dia mulai gelisah. Mengapa nama Cherra tidak ada di daftar rumah sakit ini, apakah ada yang salah? Dan tiba-tiba Paul mengingat sesuatu.



"Cherry! Oh, benar! Namanya Cherry!"



"Baik, akan saya periksa kembali," Dan hanya memakan sedikit waktu hingga akhirnya si wanita itu kembali memandang muka Paul dari bukunya. "Pasien yang bernama Cherry ada di kamar dua ratus empat, di lantai tujuh. Anda akan didampingi oleh perawat untuk menuju ke sana."




Di dalam lift menuju lantai tujuh, perawat berambut pirang itu tersenyum pada Paul, Jeddy, dan Colin, lalu ia bertanya dengan suara yang begitu lembut, "Apakah kalian bertiga adalah keluarganya Cherry?"



Colin langsung menggelengkan kepalanya dengan muka ketakutan, Jeddy hanya menganggukan kepalanya dengan pipi yang memerah, karena terus-menerus memandangi payudara si perawat. Dan Paul langsung menjawab pertanyaan itu dengan tegas, "Tidak, kami bukan keluarganya. Kami hanyalah tiga berandalan yang ingin meminta maaf pada Cherry karena pernah mengusiknya." ungkap Paul dengan sebuah kebohongan, membuat Jeddy dan Colin terkejut mendengarnya.



"Begitu, ya," kata si perawat dengan muka kaget. "Baguslah. Aku senang mendengarnya."



Kemudian, dengan tergagap-gagap Colin bertanya pada si perawat, "Emm... Ap-Apakah para pasien di rumah sakit ini sering mengamuk seperti yang ada di film-film?"



Seketika, si perawat terkikik-kikik mendengar pertanyaan dari Colin. "Kadang ada beberapa pasien yang begitu, tapi hanya sedikit. Apakah Anda takut pada orang gila yang mengamuk?" Muka Colin langsung pucat total mendengarnya.



"Ahahaha! T-Tidak begitu takut, kok! hahaha!" jawab Colin dengan tawa yang hambar.

__ADS_1



"Aku juga ingin bertanya sesuatu, boleh?" Kini Jeddy yang bersuara, dan si perawat hanya mengangguk. "Semua pasien di rumah sakit ini gadis, kan? Nah, apakah mereka adalah gadis-gadis yang cantik?"



Si perawat terkikik-kikik lagi mendengar pertanyaan lucu tersebut. "Aku kerja di Fufirm baru empat bulan, dan setelah aku merawat berbagai pasien di sini, menurutku, sebagian besar dari mereka memiliki wajah yang cantik, tapi ada beberapa pasien yang punya paras yang sangat cantik, sampai para dokter pun jatuh hati pada mereka, hehehe!"



"Wow! Serius!?" Jeddy terbelalak mendengarnya, dibalas dengan kikikan si perawat. Kemudian, Jeddy bertanya lagi, "Lalu? Bagaimana dengan Cherry!? Dia masuk ke golongan yang mana? Cantik atau sangat cantik?"



Si perawat pirang itu mengernyitkan alisnya, keheranan. "Loh? Bukankah kalian bertiga adalah orang-orang yang pernah mengusik Cherry? Lalu, kenapa menanyakan soal itu? Pasti kalian tahu wajahnya, kan?" Mendengar perkataan si perawat, membuat Jeddy tertawa-tawa, karena lupa pada kebohongan yang diciptakan Paul.



"Ahahaha! Benar juga, ya!" ucap Jeddy dengan terbahak-bahak sambil memukul keningnya sendiri, kemudian dia melanjutkan kata-katanya. "Mungkin, karena aku sudah jarang bertemu dengannya, jadi aku agak lupa pada wajahnya! Hahaha!"



Si perawat hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Kalau dibanding dengan pasien-pasien yang lain, Cherry mungkin menduduki peringkat paling atas dalam hal kecantikan, tapi walau begitu, kalian harus berhati-hati jika berada di dekatnya."



"Kenapa!?" Kini Colin yang bertanya dengan muka yang gelisah. "Apa dia akan mengamuk jika ada orang yang mendekatinya?"



Ting!



Lift berbunyi, yang menandakan mereka sudah sampai di lantai tujuh. Setelah pintu lift terbuka lebar, mereka pun keluar dan berjalan mengikuti arahan si perawat, hingga melupakan pertanyaan yang barusan Colin tanyakan. Sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah pintu bertuliskan 'Kamar 204 : Cherry'. Paul, Jeddy, dan Colin menatap lekat-lekat pintu tersebut hingga akhirnya si perawat mendorong pintunya hingga terbuka, menimbulkan suara derikan pintu yang cukup mengerikan.



Dan ketika pintunya sudah terbuka lebar, mereka disuguhkan dengan aroma permen yang sangat manis dan pemandangan dari sebuah ruangan yang dipenuhi dengan boneka-boneka beruang, lilin-lilin kecil yang tersebar di lantai, dan juga seorang gadis mungil yang sedang duduk di jendela, dengan gaun pendeknya, dia memandangi pemandangan kota dari sana. Sadar ada seseorang yang membuka pintu ruangannya, gadis mungil berambut merah muda itu menolehkan kepalanya ke arah pintu, menatap setiap wajah yang ada di sana. Kemudian, dengan imutnya, dia turun dari jendela, dan berjinjit-jinjit menghampiri manusia-manusia baru yang mengunjungi ruangannya.



Kemudian, dia mengeluarkan tiga buah permen lolipop dari gaunnya dan menyodorkannya pada Paul, Jeddy, dan Colin dengan tersenyum manis.



"Mau lolipop?" tawar Cherry pada Paul, Jeddy, dan Colin dengan muka polos. "Jangan khawatir, walau Cherry memberikan permen-permen ini pada kalian. Cherry tidak akan kehabisan permen lolipop, kok! Karena Kakak-Kakak di sini selalu mengirimi Cherry banyak lolipop! Hihihi!"



Mendengar hal itu, Paul hanya menghela napasnya, mukanya tampak datar. Colin merinding ketakutan, tubuhnya gemetaran. Sementara Jeddy senyam-senyum sendiri pada Cherry, menunjukkan senyuman mesumnya yang mengerikan.



Perawat pirang itu tiba-tiba menyeringai licik di belakang mereka, "Kalau begitu, selamat bersenang-senang, Tuan-Tuan." Dan dia mendorong punggung Paul, Jeddy, dan Colin dengan lembut untuk masuk ke ruangan itu, dan dengan gesit, ia mengunci pintunya rapat-rapat agar mereka tidak bisa keluar.


__ADS_1


Sebelum pergi, si perawat berkata, "Semoga kali ini, Cherry memberikan jantung mereka padaku, aku bosan makan paha manusia terus," kemudian dia terkikik. "Tapi korbannya ada tiga, sepertinya malam ini Fufirm akan berpesta ria! Yey! Hahaha!"



__ADS_2