Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 113 : Bayi


__ADS_3

Lizzie sudah sampai di depan sebuah rumah besar yang sangat mewah dan megah. Diantara halaman depannya saja, terdapat taman bunga, kolam ikan, air mancur, pepohonan rindang, dan beberapa pos penjaga. Rumah Rara benar-benar luar biasa. Lizzie masih heran, mengapa Rara lebih suka bermain dengan orang seperti dirinya, padahal rumahnya memiliki segala keindahan seperti ini. Kalau Lizzie menjadi Rara, mungkin dia akan sangat bahagia tinggal di rumah seperti ini.


Lizzie menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, dia tidak boleh kehilangan fokus hanya karena menyaksikan kemewahan ini. Dia harus melaksanakan aksinya sebelum para penjaga keamanan di rumah ini sadar. Lizzie harus melancarkan pembantaiannya dengan halus, tanpa menimbulkan kehebohan yang percuma. Bergerak secara diam-diam, dan beraksi dalam hening. Itulah kunci utama agar misi ini sukses. Di samping itu, Lizzie juga tergiur dengan pembayaran yang akan diberikan oleh Rara. Bayangkan saja? Gadis mungil itu bakal memberikan 20 tas besar berisi kepingan emas mahal padanya! Itu sangat luar biasa! Lizzie pasti bakal jadi kaya raya dengan semua emas-emas itu.


"Baiklah, mari kita mulai."


Lizzie langsung berjalan pelan untuk masuk ke dalam rumah megah itu, seperti biasa, dia melakukannya dengan sangat apik, tanpa harus repot-repot membuka jendala atau pintu. Lizzie membawa sebuah laser panjang yang bentuknya mirip sebuah pedang. Dia arahkan pedang laser itu ke tembok dan menusuknya kuat-kuat hingga menembus ke ruangan di dalam. Lalu Lizzie ayunkan laser itu di tembok dengan membentuk lingkaran, membuat dinding yang tadi disentuh laser hancur dan jatuh, meninggalkan lubang bulat yang lumayan lebar di sana. Lizzie, dengan perlahan, masuk ke dalam melalui lubang yang ia buat di dinding.


"Sepertinya mereka semua sedang terlelap," Lizzie tersenyum saat mendengar suara-suara dengkuran nyenyak dari beberapa kamar di lantai bawah mau pun atas. "******** sekali mereka, bisa tidur pulas begitu setelah mengusir Rara dari rumah ini. Setidaknya, bersedihlah sedikit untuk Rara, keparat." Lizzie mengatakan itu dengan suara yang sangat pelan.


Kemudian, Lizzie mulai berjalan menyusuri lorong rumah ini, melintasi beberapa ruangan yang dipenuhi pernak-pernik, untuk mencari kamar-kamar dari para penghuni rumah besar ini. Kamar siapa pun boleh, yang penting, ada penghuninya. Lizzie ingin cepat-cepat menyelesaikan misinya di sini agar dia bisa kembali ke rumah untuk mendapatkan 20 tas berisi emas-emas mahal.


Ah, ketemu. Sepertinya ini kamar yang di dalamnya ada orangnya. Bagus, lebih cepat lebih baik. Dan di pintu kamarnya, terdapat foto-foto Rara yang sedang memeluk bayi kecil yang menggemaskan. Jangan-jangan penghuni yang ada di dalam kamar ini adalah bayi? Lizzie sempat terdiam sejenak saat memikirkan itu.


"Bayi? Yang benar saja," Lizzie jadi gelisah. "Apakah aku harus membunuh bayi juga? Tapi kurasa bayi tidak ikut campur dalam pengusiran Rara dari rumah ini. Tapi bayi juga salah satu anggota keluarga Rara. Kalau aku tidak membunuhnya, mau dirawat oleh siapa dia? Rara tidak mungkin mau merawatnya, baiklah. Meskipun aku tidak mau, tapi aku harus melakukannya. Ini juga termasuk ke dalam perintah Rara." Lizzie pun pelan-pelan mendorong pintu yang dihiasi gambar-gambar animasi lucu. Dan saat pintunya sudah terbuka lebar, tampaklah sebuah kasur bayi yang bentuknya seperti keranjang kotak besar, berdiri di tengah-tengah ruangan. Tanpa penjagaan dari siapa pun. Benar-benar terlelap sendiran di ruangan ini.


Dengan langkah yang pelan, Lizzie mendatangi kasur mungil itu dan astaga, ternyata benar, ada bayi yang sedang terlelap di sini. Laser yang sebelumnya digunakan untuk menjebol tembok dimatikan dan cahayanya memendek dan meredup, bentuk asalnya yang seperti papan mungil kembali disimpan ke dalam kantungnya. Kemudian Lizzie mengeluarkan pisau lipat yang ia simpan di kantung sebelah kirinya. Keringatnya jadi bercucuran saat menggenggam pisau lipat tersebut.

__ADS_1


Selama Lizzie jadi pembunuh bayaran, dia sudah beberapa kali membunuh manusia, tapi dia tidak pernah sekali pun membunuh bayi. Dan kali ini, dia diharuskan untuk membunuh bayi yang tidak berdosa. Ini berat. Berat sekali. Apalagi wajah bayi itu saat sedang terlelap sangat imut dan menggemaskan. Lizzie yang suka pada hal-hal yang imut, tidak mampu melakukan ini. Tapi mau tidak mau Lizzie harus mampu melakukannya.


Pelan-pelan, Lizzie dekatkan bagian runcing dari pisau lipat itu ke leher bayi itu. Perlahan-lahan, Lizzie terus mendekatkan bagian tajamnya ke kulit sang bayi. Lizzie terbelalak saat melihat bayi yang akan dibunuhnya, menyunggingkan senyuman tipis yang benar-benar lucu. Lizzie langsung menarik kembali tangannya dan berjalan mundur, menjauhi kasur sang bayi. Dada Lizzie kembang-kempis, dia benar-benar tegang.


"Tidak, ini tidak boleh. Membunuh bayi bukanlah hal yang patut aku lakukan. Aku hanya boleh membunuh manusia-manusia yang sudah dewasa. Ya, baiklah, aku harus pergi dari kamar ini sebelum jiwa jahatku kembali muncul."


Lizzie langsung berjalan cepat ke arah pintu untuk keluar dari ruangan ini, tapi lagi-lagi ia berhenti mendadak di tengah jalan, dan kembali menengokkan kepala ke tempat bayi itu terlelap.


"Tidak, bukan begini. Aku harus membunuh seluruh anggota keluarga Rara, termasuk bayi itu!"


Lizzie kembali mendekat ke kasur sang bayi, dan kali ini, dia telah memantapkan hatinya untuk melakukannya dengan cepat, agar tidak membuang-buang waktu lagi.


Lizzie langsung mengayunkan tangan kanannya yang mengenggam pisau lipat ke badan sang bayi.


Pak!


Ketika pisau itu nyaris menyentuh kulit sang bayi, tangan seseorang muncul begitu saja dan menghentikkan ayunan lengan Lizzie yang hendak menusuk tubuh sang bayi. Tangannya begitu keras dan kasar, sial, apakah Lizzie ketahuan oleh penghuni di rumah ini? Saat mata Lizzie mengarah ke sosok pemilik tangan keras itu, dia terkejut, benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Kau!" Lizzie langsung bersuara saat matanya menangkap wajah seorang laki-laki yang pernah berhadapan dengannya di depan rumahnya, beberapa jam yang lalu. "Mengapa kau bisa datang kemari!?"


Paul, yang tangan kanannya masih mengengkram pergelangan lengan Lizzie yang hendak melukai bayi, menatap muka gadis tomboi itu dengan sangat tajam.


"Aku sudah mendengar semuanya dari teman kecilmu itu, Lizzie." kata Paul dengan santai. "Tapi aku tidak percaya kau juga akan membunuh bayi di dalam misimu. Itu buruk sekali."


"Ini bukan urusanmu! Dasar ******** keparat!" Lizzie menepis tangan Paul dan melompat mundur, menjauhi sosok lelaki itu. "Pergilah dari sini! Kau akan menganggu tugasku!"


Paul merilekskan tubuhnya seraya menimpali ucapan Lizzie dengan tatapan dingin. "Setidaknya, aku berhasil melindungi bayi yang tidak bersalah itu dari seranganmu." Paul menggertakkan rahangnya. "Kalau aku tidak sempat, mungkin kau sudah menghabisinya."


"Katakan, apa maumu!?"


"Tidak, aku datang kemari bukan untuk apa-apa. Aku hanya ingin mengawasimu saja. Lagipula," Paul menyeringai kecil. "Penawar racun yang kubutuhkan, sudah kudapatkan, jadi, aku bisa lega sedikit."


Lizzie tercengang saat melihat Paul mengeluarkan dan menunjukkan botol penawar racun itu padanya.


"M-Mustahil!" Lizzie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan muka panik. "Seharusnya kau tidak bisa mendapatkannya! Ini mustahil!" Lizzie menggigit bibir bawahnya dengan kesal. "Katakan! Dari mana kau mendapatkan itu!?"

__ADS_1


"Rara." Paul tersenyum tipis. "Aku mendapatkannya dari Rara."


__ADS_2