Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 44 : Terkepung


__ADS_3

"DI MANA LETAK TOILETNYA! BRO!"



Setelah meluncur ke rumah Paul, Jeddy langsung berteriak kencang saat melihat Nico sedang berbaring santai di sofa sambil memainkan ponselnya. Mendengar ada suara Jeddy, Nico mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke sosok lelaki berambut hijau yang sedang berdiri dengan muka memucat, dua tangan memegang pantat dan berkeringat dingin. Nico pun menaikan sebelah alisnya sambil berkata, "Kau pikir ini rumah siapa? Jangan seenaknya masuk dan berteriak di rumah orang lain, idiot."



"AYOLAH BRO!" Jeddy tampak resah, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi sebuah hasrat yang memberontak ingin keluar, jika terus ditahan olehnya, pantatnya bakal meledak.



"Kau ini bodoh atau tolol? Mengapa malah menanyakan letak toilet di rumah ini sedangkan selama ini kau sudah menginap berhari-hari di sini? Dan tentu saja, kau sudah tahu di mana letaknya tanpa harus kuberitahu. Jadi," kata Nico dengan tatapan menusuk. "Cari saja sendiri, Idiot."



"INGATANKU SELALU PECAH SAAT SEDANG PANIK BEGINI, BRO! AYOLAH KUMOHON!"



"Dan kau dengan mudahnya bisa mengingat letak rumah Paul di besar dan luasnya Kota Swart, bukankah itu konyol?" timpal Nico dengan balasan yang cukup sadis. Tapi, karena merasa kasihan, akhirnya Nico menunjukkan letak toilet di rumah Paul dengan jari telunjuknya pada Jeddy, walau sebetulnya ia terpaksa melakukannya. Jeddy sangat-sangat-sangat berterima kasih pada Nico, dia pun langsung melesat ke toilet yang ditunjukkan temannya itu. Dan akhirnya, hidup Jeddy terselamatkan.



Ketika suasana sudah kembali tenang, Nico pun mulai memainkan ponselnya kembali, tapi otaknya malah berpikir ke suatu hal yang janggal, seperti; jika Jeddy bisa ada di rumah ini, itu artinya, Paul dan Koko pun telah pulang ke Swart, lantas, kalau mereka bertiga pulang secara bersaman, mengapa keberadaan dua makhluk sisanya masih tidak kelihatan? Oh, mungkin yang bakal datang bukan hanya Paul dan Koko saja, karena mereka pasti membawa sosok asing yang merupakan seorang pahlawan baru. Nico jadi sedikit penasaran pada sosok tersebut, kira-kira akan seperti apa rupa dan penampilan seseorang yang akan menjadi sosok pahlawan baru dari Kota Sablo? Nico benar-benar penasaran pada hal itu.



Selain itu, Nico juga penasaran pada beberapa hal lain, contohnya seperti; Nico heran mengapa Paul dan murid-murid idiotnya bisa pulang secepat itu? Biasanya Paul bakal pulang larut malam, kan? Sedangkan ini masih jam tiga sore, itu terlalu cepat. Dan juga, apakah Paul mengingat permintaan Nico tadi pagi, yaitu mengenai makanan khas dari Kota Sablo, karena Nico sangat ingin mencicipinya.



Lalu yang terakhir, Nico penasaran pada keberadaan ayahnya Paul, karena selama ini, ia tidak pernah melihat sosok pria dewasa di rumah ini, dan lelaki berandalan itu pun tidak menceritakan apa-apa mengenai keberadaan ayahnya. Apakah Ayahnya Paul memiliki pekerjaan berat yang membuatnya hanya bisa pulang sekali dalam setahun? Ataukah mungkin Paul adalah anak dari keluarga yang terpecah belah? Semakin Nico memikirkannya, semakin pula dirinya jatuh ke prediksi-prediksi aneh mengenai keberadaan Ayahnya Paul. Cepat-cepat Nico menghapuskan pemikirannya itu dari kepalanya, daripada terus menganalisa hal-hal yang bukan urusannya, lebih baik dia tanyakan saja nanti pada Paul.



Sontak, Nico terkejut, sebab baru saja dia memikirkan tentang Paul, orang yang bersangkutan tiba-tiba muncul di hadapannya dengan raut muka yang berapi-api. "Brengsek!" Paul menggeram pada Nico. "Jadi selama aku pergi, kau malah bermalas-malasan di rumahku, hah!?" Paul langsung mencengkram dan menarik kerah baju Nico hingga badan lelaki berkaca mata itu terangkat dari sofa. "Jika kau sesenggang itu, bantu Ibuku membersihkan rumah! Menyiram tanaman! Memasak sesuatu! Membeli sayuran! Atau hal-hal sejenis itu! Dari pada kau malas-malasan di sini!" Setelah mengatakan itu, Paul langsung melepaskan cengkramannya di kerah baju Nico, membuat lelaki berambut putih itu terjerembab kembali di permukaan sofa.



"Menggelikan," kata Nico dengan memperbaiki kaca matanya yang agak menurun. "Aku tidak mau mendengar perkataan itu dari sampah sepertimu. Lagi pula, kau sendiri pun tidak becus mengurusi hidupmu sendiri, jadi untuk apa aku harus mendengarkan nasihat bodoh dari berandalan kotor sepertimu?" Nico tersenyum miring pada Paul, menunjukkan kata-kata super pedasnya untuk membela diri. Namun, senyuman Nico sirna saat menatap sosok perempuan berkerudung yang baru masuk ke ruang tamu bersama Koko. "Apakah gadis itu adalah pahlawan barunya?"



Mendengar pertanyaan itu, Paul langsung menjawab dengan suara yang menindas, "Matilah! Aku tidak sudi menjawab pertanyaan apa pun dari lelaki brengsek sepertimu!" Kemudian, Paul mendaratkan pantatnya di kursi tamu, beristirahat sejenak setelah berjalan jauh dari halte. Melihat mentornya bersantai, Koko pun mengajak Naomi untuk ikut duduk di kursi kosong. Lalu Paul kembali berkata sambil menunjuk Nico yang sedang berbaring di sofa, "Orang ini adalah Nico, dia punya watak yang menyebalkan. Kau boleh memukulnya jika dia bersikap buruk padamu, Naomi." ucap Paul dengan suara yang tenang, mencoba memperkenalkan Nico pada Naomi.



Naomi berusaha menyunggingkan senyumannya walau saat ini ia sedang tidak ingin tersenyum. Dari balik kaca matanya, Nico melirik ke arah Naomi, kemudian dia cepat-cepat bangun dari sofa dan duduk dengan posisi yang sopan. Nico pun langsung menampilkan ekspresi dinginnya pada Naomi. "Pasti selama ini kau merasa tertekan harus bertemu dengan lelaki seberandal Paul, tapi kau tidak perlu khawatir," Nico tersenyum miring. "Aku sudah menyiapkan tutorial cara membunuh Paul dengan rapi dan aman. Kita akan melakukannya malam ini," Pandangan Nico pun dialihkan pada Koko, "Kau juga harus ikut membantuku, Koko." Mendengar namanya disebut, Koko tampak panik, bingung harus merespon apa.



"Me-Membunuh Paul!?" Naomi terkejut mendengarnya. "I-Itu bukan keahlian saya, maaf."

__ADS_1



"Tentu saja aku hanya bercanda, bodoh." timpal Nico dengan wajah yang angkuh. Namun, sedetik kemudian, keangkuhan dari wajah Nico mendadak lenyap saat melihat sebuah plastik besar berwarna hitam yang Koko letakkan di meja tamu. "Apa isinya!" Nico langsung bertanya pada Koko dengan mata yang bersinar-sinar seperti anak-anak yang kegirangan mendapatkan kado spesial dari orangtuanya.



"Isinya hanya... makanan khas dari Kota Sablo. Bukankah... kau yang memintanya pada kami, Nico?" jawab Koko dengan suara yang lembut dan muka terheran-heran. Mendengar jawaban dari Koko, Nico langsung merenggut plastik hitam itu untuk didekatkan ke wajahnya. Lalu, pelan-pelan Nico membuka plastiknya dan terciumlah aroma sedap yang keluar, membuat hidung lelaki berkaca mata itu tergoda dengan aromanya. Buru-buru Nico mengambil makanan yang tersimpan di dalam plastik itu untuk diletakkan di meja. Dan ternyata bentuk makanan yang dibeli oleh Koko yaitu bulat dan datar, bukan hanya itu, tampilannya pun seperti parsel tapi berasal dari adonan terigu dan beraroma kayu manis. Penasaran dengan rasanya, Nico mengambil satu, dan langsung melahapnya. Tiba-tiba wajah Nico tampak kaget, matanya melotot dan mulutnya berhenti mengunyah, ekspresinya jadi seperti lelaki yang dimabuk cinta.



"Aku benci mengatakannya, tapi serius, ini lezat sekali," Nico pun langsung bertanya pada Koko. "Katakan padaku, apa nama dari makanan ini?"



"Namanya Katayef," Bukan Koko yang menjawab, melainkan Naomi. Karena Naomi lah yang tahu betul dengan nama dari segala makanan di Sablo. "Itu adalah makanan yang biasa kami santap di siang hari, rasanya memang lezat, tapi saya sendiri sudah bosan memakannya."



"Jadi namanya Katayef, ya?" Nico benar-benar senang mendengarnya. "Terima kasih, aku akan mengingat nama itu selama hidupku." Nico pun kembali menyantap makanan itu dengan muka yang berseri-seri. Sadar semua orang sedang menatapnya, Nico pun cepat-cepat menampilkan wajah dinginnya kembali. "Kenapa kalian semua malah memandangku? Kalau mau, ambil saja. Jangan bertingkah seperti idiot yang hanya memandangi orang yang sedang makan, bodoh."



Mendengar ucapan Nico, Naomi hanya menggelengkan kepala, menolak karena ia sudah terlalu sering memakan katayef, Koko hanya tersenyum tipis sambil bilang, tidak terima kasih. Sedangkan Paul pura-pura tidak mendengar, dia memejamkan matanya, ingin mengistirahatkan badannya yang kelelahan, lagi pula perutnya pun tidak sedang lapar. Lalu, perhatian Nico mulai tertuju pada perban yang terbalut di kening Naomi.



"Apa dahimu terluka? Kenapa sampai diperban begitu?"




"Jelaskan kejadian yang sebenarnya, Naomi!" Paul tiba-tiba memotong ucapan Naomi dengan keras, membuat gadis berkerudung itu kaget. "Kau tidak perlu menutup-nutupinya, karena posisi Nico sama sepertimu, dia bukan orang lain."



Awalnya Naomi ragu, sebab dia merasa kalau menjelaskan kejadian yang sebenarnya itu akan terdengar sangat tidak masuk akal dan seperti khayalan semata. Tapi karena Paul bilang begitu, Naomi pun mulai mengungkapkan kejadian yang sebenarnya pada Nico, dia menjelaskan dari awal pertemuan dengan Paul, sampai ke bagian diserang oleh gerombolan jubah putih. Nico tercengang setelah mendengar semua yang dijelaskan Naomi, dia sampai tidak sadar kalau katayef yang akan dimasukkan ke dalam mulutnya, terjatuh.



"Jubah Putih? Apa itu? Apa mereka berasal dari sebuah organisasi yang terlarang? Dan mereka bisa mengeluarkan batu-batu besar dari telapak tangannya? Apakah kau sedang bergurau? Itu aneh sekali," Nico memandang ke muka Paul. "Jelaskan, mengapa aku tidak pernah bertemu dengan orang-orang semacam itu saat berkelana denganmu, sedangkan Naomi, Jeddy, dan Koko sudah berhadapan dengan orang-orang berbahaya seperti itu? Bukankah itu tidak adil? Dan sebenarnya, apa tujuan mereka mengincar Naomi?"



"Mereka adalah Para Pembunuh Roh," balas Paul dengan santai, matanya masih tertutup rapat. "Ini juga pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan Para Pembunuh Roh, dan sepertinya mereka juga adalah dalang di balik peristiwa 'hujan batu' yang terjadi di kedai tempat kerja Colin. Dan apa tujuan mereka mengincar Naomi? Tentu saja karena mereka ingin melenyapkan roh kunang-kunang yang ada di dalam tubuhnya! Sekaligus membunuh nyawa Naomi! Lalu, dengar ini! Mereka bukan hanya mengincar Naomi, mereka juga mengincar kalian! Bahkan Jeddy pun sempat diincar oleh mereka! Jadi mulai saat ini, kalian harus waspada."



Naomi, Koko, dan Nico merenungkan hal itu, masing-masing dari mereka tampak mencemaskan hal yang berbeda-beda; Naomi gelisah karena dia takut jika kondisinya bisa membuat keluarganya atau para penduduk Kota Sablo dijadikan objek sasaran dari para jubah putih. Koko jadi menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu lemah, karena jika dirinya diincar duluan oleh para jubah putih, mungkin itu akan membuat Paul dan yang lainnya kerepotan. Sementara Nico cemas pada kondisi Colin yang sedang bekerja di kedai, dia khawatir kalau para jubah putih bakal mengepung Colin saat pulang dari kedai.



Karena hal-hal itulah, Koko, Naomi, dan Nico memucat secara bersamaan, lalu dengan serempak, mereka berseru pada Paul.

__ADS_1



"Aku... tidak bisa terus-terusan membuat kalian kesusahan melindungi orang lemah sepertiku, maka dari itu! Tolong... bimbing aku agar menjadi lelaki yang kuat, Paul!" kata Koko dengan berdiri dari kursinya, membuat rambut ungu panjangnya bergoyang-goyang di punggungnya.



"Paul, apa yang harus saya lakukan jika Para Jubah Putih mengincar keluarga saya di Sablo!?" Naomi tampak resah saat mengatakannya.



"Tunggu sebentar, lalu bagaimana jika Colin diserang lagi oleh orang-orang itu? Apalagi dia tidak sedang bersama kita! Dia sendirian dan dia bisa dibunuh oleh mereka! Satu-satunya cara yang efisien agar dia bisa selamat adalah, kita harus menjemput Colin kemari!" ucap Nico dengan tergesa-gesa.



Mendengar seruan-seruan dari mereka bertiga, membuat kelopak mata Paul terbuka, dan ia pun langsung menatap satu persatu wajah gelisah dari Naomi, Koko, dan Nico. Kemudian, Paul berbisik pada mereka, "Aku tidak mengerti mengapa kalian jadi heboh begitu, tapi, jika kalian butuh jawaban," Paul pun langsung menunjuk ke arah Jeddy yang baru saja muncul di hadapan mereka. "Tanyakan saja pada orang ini. Aku ngantuk."



"Eh? Tanyakan saja padaku? Memangnya ada apa, Bro!?" Jeddy tampak tidak paham pada ucapan Paul yang menunjuk dirinya, membuat perhatian Naomi, Koko, dan Nico tertuju padanya. Karena Jeddy tidak suka memusingkan hal yang rumit, akhirnya ia mengambil kesimpulan sendiri. "Hmmm. Jangan-jangan kalian ingin bertanya seberapa tampannya diriku, ya? Hahahah! Baiklah-baiklah, aku akan menjelaskannya dengan detail dari ujung rambut hingga ujung kakiku! Dan aku juga akan akan memberikan rahasia untuk menjadi lelaki tampan sepertiku! Jadi dengarlah kisah ketampanan dari seorang lelaki bernama Jeddy! Hahahaha!"



Ketika Jeddy terbahak-bahak, Paul langsung bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan mereka semua untuk masuk ke dalam kamarnya. Di kasurnya, Paul langsung terlelap dengan nyenyak, padahal ini masih pukul lima sore.



Sementara itu, di rumah Olivia, Cherry tampak sedang berbaring lemah di kasur berselimut tebal, wajahnya pucat dan kulitnya panas, dia sedang demam. Olivia pun sedang duduk di samping Cherry, ia memeras kain kompresan untuk diletakkan di kening gadis mungil tersebut.



"Semoga kau cepat sembuh, ya, Cherry, aku rindu pada suara berisikmu, loh. Paul dan yang lainnya pun pasti rindu padamu, karena kau, kan sering menghabiskan waktu bersama mereka. Maka dari itu," Olivia meletakkan kain kompresan itu ke dahi Cherry dengan hati-hati. "Kau harus sembuh."



"T-Tenang saja. C-Cherry bukan gadis lemah, kok. D-Demam tidak akan membuat Cherry jadi lemah. C-Cherry akan berusaha untuk cepat sembuh agar Cherry bisa bertemu lagi dengan Paul, Nico, Colin, Jeddy, dan Koko," Cherry menyunggingkan senyuman tipisnya. "Soalnya, Cherry juga rindu pada mereka."



Olivia mengusap-usap rambut Cherry sambil bilang, "Jika kau ingin cepat sembuh dan bertemu lagi dengan mereka, maka kau harus banyak makan, Cherry."



"Tidak mauuuuuuu. Makanannya terasa pahitttt! Cherry tidak sukaaaaa!"



Cherry menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir yang mengembung, tanda saat dirinya sedang menolak sesuatu dengan sikap manja.



"Pokoknya kau harus makan."


__ADS_1


Kemudian, pada keesokan harinya, tiba-tiba Paul terbangun dengan kondisi yang mengejutkan, mulutnya disumpal oleh kain, tubuhnya diikat dengan tali nilon dan ada beberapa sosok manusia yang sedang berdiri tegak, mengelilingi ranjangnya.



__ADS_2