
"Apa ini, Roswel?"
Paul terheran-heran saat Roswel tiba-tiba membagikkan sebuah permen pada dirinya, Nico, Colin, dan Abbas. Permen itu berbentuk seperti telur, dan berwarna ungu cerah, ada kilauan tersendiri pada warnanya, terlihat seperti sebuah mutiara. Mereka berempat masih sedang berada di dalam kastil Roswel, tepatnya di sebuah kamar yang ditempati oleh Abbas. Setelah perbincangan mengenai pahlawan berikutnya yang merupakan seorang pelacur telah usai, mendadak, Roswel memberikan beberapa permen pada mereka. Sontak, mereka kaget dengan hal tersebut.
"Itu adalah permen, Tuan."
Roswel menjawab pertanyaan Paul dengan senyuman ramahnya yang begitu hangat. Namun, jawaban itu tidak membuat Paul dan yang lainnya merasa puas. Sebab, apa yang ingin mereka tahu, bukan nama dari benda itu, melainkan alasan dari Roswel yang membagikkan permen-permen itu pada mereka. Mereka penasaran pada hal tersebut. Sepertinya permen yang sedang mereka pegang, bukan permen biasa.
"Lalu, mengapa kau tiba-tiba memberikan permen-permen ini pada kami?"
Paul kembali bertanya dengan alis yang mengerut, dengan pandangan terfokus pada muka Roswel. Bukan hanya Paul, yang lainnya pun sama, mereka semua menatap wajah Roswel dengan penuh harap.
"Dulu saya pernah bilang pada Anda, bukan? Tentang permen yang dapat memindahkan tubuh seseorang ke suatu tempat yang jauh, setelah permen itu dimakan. Apakah Anda mengingatnya, Tuan Paul?"
Nico, Colin, dan Abbas, secara bersamaan, terkejut. Mereka langsung mengalihkan perhatiannya pada Paul, ingin memastikan apakah yang diucapkan oleh Roswel adalah sebuah kebenaran atau sebuah kebohongan. Tapi apa pun itu, mereka tidak peduli, yang mereka inginkan hanyalah mendengar tanggapan dari Paul perihal hal tersebut.
Paul sendiri sedang berusaha mengingat apa yang dikatakan oleh Roswel saat pertama kali mereka bertemu, matanya terpejam, urat-urat di kening dan lehernya menonjol, bibirnya mengerecut, dan keringat mengalir dengan deras di wajahnya. Paul terus dan terus berusaha untuk mengingatnya, sampai akhirnya, ia dapat menemukannya dengan jelas. Ingatan itu.
"Aku ingat!" Mata Paul langsung terbuka lebar-lebar. "Permen Agios! Kau pernah mengatakan padaku soal permen itu! Saat pertama kali kita bertemu!" Paul menyeringai. "Brengsek! Seharusnya kau sebut nama permen itu dari awal! Agar aku tidak perlu repot-repot mengingatnya lagi!"
__ADS_1
Roswel bertepuk tangan sendirian, mencoba memeriahkan hal itu, ia tampaknya senang pada keberhasilan Paul dalam mengingat nama dari permen tersebut. Suara tepuk tangannya bergema di ruangan itu.
"Saya senang Anda dapat mengingatnya, Tuan." Roswel menyunggingkan senyuman hangatnya pada Paul. Kemudian, ia menghentikkan tepuk tangan itu dan perhatiannya dialihkan pada wajah Nico, Colin, dan Abbas, yang tampak kebingungan, tidak mengerti pada apa yang sedang terjadi saat ini. "Akan saya jelaskan secara terperinci, Tuan-Tuan," kata Roswel pada Nico, Colin, dan Abbas. "Permen yang sedang kalian pegang adalah Agios, sebuah permen yang dapat memindahkan tubuh seseorang ke sebuah tempat yang jauh, tentu saja, setelah permen itu dimakan oleh kalian."
"Maaf," Colin langsung menimpali ucapan Roswel dengan cepat. "Tapi bukan itu yang membuat kami bingung, Roswel."
Roswel tersentak dengan perkataan Colin, ia tidak sangka kalau tebakannya tidak tepat. Ia kira, Nico, Colin, dan Abbas, kebingungan pada permen tersebut. Tapi nyatanya, bukan itu yang membuat tiga lelaki itu bingung.
"Eh?" Baru kali ini Roswel melakukan kesalahan dalam menebak pikiran seseorang, biasanya apa pun yang manusia biasa pikirkan, ia dapat menebaknya dengan sangat tepat. "Lantas, apa yang membuat kalian kebingungan, Tuan Colin, Tuan Nico, Tuan Abbas?"
"Sebenarnya," Nico mengangkat suaranya, dengan intonasi yang super dingin. "Kami lebih penasaran pada pertemuanmu dengan Paul, yang melibatkan Permen Agios," kata Nico dengan kaca mata yang berkilat-kilat, terpantul oleh cahaya mentari. "Kami akan lebih senang jika kau menjelaskan soal itu pada kami, Roswel." Seperti punya pemikiran yang sama, Colin dan Abbas mengangguk secara serempak.
"Terlalu singkat," desis Nico dengan mendengus sebal. "Tapi tidak masalah, setidaknya kau menjawab pertanyaan kami dengan baik. Kami berterima kasih."
"Sama-sama, Tuan," Roswel membungkukkan badannya pada Colin, Nico, dan Abbas. Lalu, ia kembali menegakkan badannya dan berkata, "Kalau begitu, mari kita langsung saja ke sesi pemberangkatan, Tuan-Tuan," kata Roswel dengan suara yang nyaring. "Sekarang, saya minta, masukkan permen Agios itu pada mulut kalian, tidak apa-apa kalau Anda ingin mengunyahnya dulu atau langsung menelannya, yang penting, Anda memasukkan permennya ke dalam mulut."
Mendengar penjelasan dari Roswel, Paul, Nico, Colin, dan Abbas, secara serentak memasukkan permen yang mereka pegang, ke dalam mulut masing-masing. Paul mengunyahnya terlebih dahulu untuk menghancurkan tubuh permen tersebut. Nico langsung menelan permen itu ke dalam tenggorokannya, baginya lebih cepat lebih baik.
Colin membiarkan permen tersebut diam di lidahnya, ia masih tidak ingin melenyapkan permen itu dari dalam mulutnya, sebab rasa dari permen itu sangat manis dan akan sangat disayangkan jika ia menghancurkannya atau pun langsung menelannya. Sedangkan Abbas terbatuk-batuk setelah menelan permen itu secara langsung, seperti yang dilakukan oleh Nico, tampaknya permen itu sedikit menyentuh permukaan kulit yang sensitif di dalam tenggorokannya, membuat Abbas jadi merasa gatal dan akhirnya terbatuk-batuk.
__ADS_1
Roswel tersenyum tipis memandang Paul, Nico, Colin, dan Abbas, yang telah memasukkan permen pemberiannya ke dalam mulut masing-masing. Setelah puas menyaksikan hal itu, Roswel kembali bersuara.
"Selanjutnya, saya minta, kalian harus membayangkan tempat tujuan kalian di kepala masing-masing, tapi karena tempat tujuan kalian sama, yaitu rumah Tuan Paul di Kota Swart, maka bayangkanlah sesuatu yang berhubungan dengan rumah Tuan Paul, boleh gerbangnya, halaman depannya, ruang tamunya, wajah Ibunya, atau hal-hal semacam itu, silakan."
"Maaf," Colin mengangkat tangan kanannya setelah mendengar hal tersebut. "Bagaimana dengan dia?" Colin menunjuk ke arah lelaki bertubuh kekar yang berdiri di sampingnya. "Bukankah Abbas sama sekali belum pernah mengunjungi Rumah Paul, jadi, bagaimana cara dia mengingat hal-hal yang berhubungan dengan rumah itu? Bahkan aku yakin, Abbas pun belum pernah pergi ke Kota Swart."
"Jangan khawatir, Tuan Colin," jawab Roswel dengan suara yang begitu halus pada Colin. "Untuk menangani kasus Tuan Abbas, saya punya solusinya," Roswel diam sejenak. "Saya minta, Anda pegang tangan Tuan Abbas, sebetulnya apa pun itu, selama itu bagian dari tubuh Tuan Abbas, Anda boleh memegangnya, agar saat Anda menghilang menuju rumah Tuan Paul, Tuan Abbas bisa terbawa ke sana. Sementara Tuan Abbas sendiri, saya minta, Anda jangan bayangkan tempat apa pun, karena jika Anda semisalnya membayangkan sebuah padang rumput, di saat Tuan Colin memegang tangan Anda, maka itu akan membuat pergeseran, yang membuat kalian jadi terpisah-pisah. Bahkan, akhir yang paling buruk, tubuh kalian pun bisa terpotong-potong ke tempat yang berbeda-beda. Sampai sini apakah kalian paham, Tuan-Tuan?"
Wajah Colin langsung memucat mendengar hal itu, "I-Itu mengerikan!" Mendadak, Colin menolehkan pandangannya ke muka Abbas yang ada di sampingnya. "Kumohon, jangan bayangkan tempat apa pun saat aku memegang tanganmu. Kumohon, Abbas. Kumohon." Colin sampai mengucapkan permohonan itu pada Abbas dengan mata yang berkaca-kaca, seakan-akan jika Abbas menolak hal itu, maka nyawanya yang bakal jadi taruhan.
Abbas menggangguk paham sembari mengelus-elus rambut Colin dengan lembut, seperti sedang mengelus seekor kucing. "Aku mengerti." kata Abbas dengan suara baritonnya, mencoba menenangkan Colin yang terlihat ketakutan. "Jangan cemas."
Menyaksikan rambut Colin dielus-elus oleh Abbas, Nico langsung berang, ia pun mendatangi mereka berdua dengan perasaan yang menggondok. "Bisa kau hentikan itu, Abbas? Aku tidak suka melihatnya." Nico menepis dan menjauhkan tangan Abbas yang hendak mengelus-elus rambut Colin lagi. Sontak, Abbas terkejut. "Kau tidak boleh menyentuh rambutnya Colin, paham?" Kemudian perhatian Nico dipalingkan ke muka Colin yang sedang tersentak pada aksinya. "Dan Colin, kau tidak perlu melakukannya," ucap Nico dengan tatapan serius pada Colin. "Biar aku yang melakukannya, memegang tangan Abbas. Jadi, kau tidak perlu lagi takut terhadap resikonya. Karena aku yang akan melakukannya. Kau mengerti?"
"Apa-apaan itu?" Paul mendecih melihat Nico yang terkesan cemburu pada kedekatan antara Colin dan Abbas. "Sudahlah! Cepat lakukan! Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah!" Kemudian, Paul langsung memejamkan matanya dan berusaha membayangkan tiap lekuk dari rumahnya sendiri.
Colin pun demikian, ia memejamkan matanya dan mencoba mengingat-ingat pemandangan rumah Paul. Sementara Nico, dengan kasar, meremas tangan Abbas sambil memejamkan matanya. Awalnya Abbas tersentak dengan cengkraman itu, tapi dia mencoba berpikiran positif dan ikut menutup matanya rapat-rapat, tanpa membayangkan tempat apa pun.
"Sebentar lagi, permen itu akan bereaksi, kalian akan dibawa ke tempat yang kalian bayangkan di kepala masing-masing," Roswel tersenyum melihat Paul, Colin, Nico, dan Abbas, menutup matanya secara bersamaan. "Kalau begitu, sampai jumpa di lain waktu, Tuan-Tuan."
__ADS_1