
"Ngomong-ngomong," Mendadak, Naomi mengubah arah pembicaraan, dengan nada yang terdengar datar. "Apa Tante tidak memperhatikannya? Pakaian yang dikenakan Paul? Bukankah kemeja dan celana yang ia pakai terlalu mewah? Karena seingat saya, ketika Paul berangkat ke Kota Cocoa, ia tidak memakai pakaian seperti itu. Lantas, mengapa sepulangnya dari Cocoa, Paul mengenakan pakaian khas bangsawan? Apakah dia membelinya sebagai oleh-oleh?"
"Ah, benar juga," Elena--Ibunya Paul--tersadarkan setelah mendengar ucapan Naomi, ia tadi terlalu fokus memarahi Paul hingga tak sempat menanyakan hal itu. Sebetulnya, dari awal Paul masuk lewat pintu belakang pun, Elena sudah tahu dan kaget dengan penampilan anaknya yang tampak mewah dan berkilau, tapi sayangnya, ia langsung mengabaikan hal itu saat perhatiannya difokuskan pada muka Paul. "Aku lupa menanyakan itu, tapi tak apa, aku akan menanyakannya nanti." Elena mengangkat mangkuk berisi sup bayam, dan meletakkannya di meja makan, yang di sana ada Koko sedang duduk sendirian.
"Tapi menurutku...," Koko turut serta dalam pembicaraan, saat mendengar Naomi dan Elena membahas pakaian yang dikenakan oleh Paul. "Tidak ada yang salah dengan itu, soalnya... Paul sangat cocok memakainya."
"Iya saya tahu. Tapi," timpal Naomi dengan menolehkan kepalanya, menatap Koko yang tengah duduk di dekat meja makan. "Saya hanya penasaran, dari mana Paul mendapatkan pakaian semewah itu? Dari bahannya saja, saya tahu kalau harganya itu lumayan tinggi, apalagi ditambah dengan kerah bajunya yang dilapisi pernak-pernik kristal sungguhan, belum lagi celana dan sepatunya. Maaf, tapi saya benar-benar penasaran." Kemudian, pandangan Naomi dialihkan pada Elena. "Apakah Tante adalah tipe orang tua yang tidak segan-segan memberikan uang tebal pada anaknya?"
"Jangan bercanda, Naomi," Elena terkekeh dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah mendengar omongan Naomi yang tidak masuk akal. "Jangankan memberinya uang tebal, memberikan semangkuk nasi merah kesukaannya saja, itu jarang. Lagian, jika aku melakukan itu, maka Paul akan tumbuh menjadi bocah yang manja dan sombong, aku tidak mau Anakku jadi seperti itu. Yah, tapi bukan berarti tidak melakukan itu, maka Paul secara instan jadi anak baik, tidak, malah sebaliknya, Paul jadi anak nakal, yang hobinya suka membentak-bentak orang lain, dan itu juga adalah kesalahanku. Karena mendidiknya terlalu keras."
__ADS_1
Koko termenung dalam seketika setelah mendengar ungkapan dari Ibunya Paul, ia tidak sangka kalau mentornya semasa kecil mendapatkan pola asuh yang keras, pantas saja sikap Paul tampak selalu marah-marah, ternyata itu dampak dari masa kecilnya yang kurang mendapatkan kelembutan.
Naomi pun tampak kaget mendengarnya, padahal tadi sedang membahas tentang pakaian mewah yang dikenakan Paul, tapi sekarang malah jatuh ke curhatan seorang ibu yang merasa bersalah dalam mengasuh anak. Naomi bingung harus menjawab apa, tapi akhirnya ia paham pada alasan dari Paul yang begitu kasar pada orang lain. Tentunya segala hal pasti ada sebabnya, bahkan hidup Naomi pun tidak semulus yang semua orang kira, dan kondisinya saat ini, tentu saja hasil dari pengalaman-pengalamannya di masa lalu.
"Tante... Paul tidak nakal, kok," Tiba-tiba Koko merespon ucapan Elena dengan suara yang begitu halus. Koko pun menyunggingkan senyuman tulusnya pada Elena, seakan-akan mencoba untuk menenangkan kekhawatiran seorang ibu yang menganggap dirinya salah dalam mendidik anak. "Walau kelihatannya begitu, Paul itu orang yang sangat baik," Koko berdiri dari kursi, dan rambut ungunya yang begitu panjang, tergerai dan terombang-ambing oleh angin yang masuk lewat pintu. "Tante tahu tidak? Sebenarnya, Paul itu adalah satu-satunya orang yang membebaskanku dari rantai perbudakkan, di saat semua orang membenciku. Aku masih ingat pada momen ketika Paul mematahkan rantai yang membelenggu leherku, dia terlihat berani saat melakukannya, padahal waktu itu, di Aljelvin ada aturan mengenai siapa pun yang tidak punya izin membebaskan seorang budak, maka akan dihukum mati oleh pemerintahan. Tapi Paul tetap melakukannya." Mata Koko tampak berbinar-binar dibarengi dengan air mata yang menggunduk. "Bukankah... Paul sangat pemberani?"
"Benar, Tante," Koko menganggukkan kepalanya. "Sebetulnya, aku terlahir dari rahim seorang bangsawan, dan tentu saja, awalnya aku adalah seorang bangsawan. Aku punya harta yang berlimpah, rumah yang sangat besar, dan memiliki banyak pelayan," Saat mengatakan itu, muka Koko tampak sendu, ia terlihat sedih, membayangkan masa lalunya yang begitu indah. "...Tapi semua kemewahan itu tiba-tiba sirna saat aku punya kecenderungan yang berbeda dari kebanyakan orang. Aku... tidak bisa mengatakannya."
Naomi langsung menyelanya dengan cepat. "Katakan saja! Tidak apa-apa, saya ingin mendengarnya." Elena pun mengangguk dengan senyuman yang mulai merekah.
__ADS_1
Koko meneguk ludahnya, dan mulai melanjutkan ucapannya lagi, dengan suara yang bergetar. "Keluargaku... Para pelayanku... teman-temanku... Guru-guruku... dan semua orang yang mengagumiku...mereka semua tiba-tiba membenciku saat mendengar rumor bahwa aku suka mengenakan gaun, senang bermain boneka, pandai menari balet," Koko menundukkan kepalanya, membuat helaian ungunya berjatuhan. "Itu adalah masa-masa kelamku. Hingga suatu hari, aku terbangun di sebuah kamar asing yang berantakan, dengan leher yang dibelenggu rantai emas, dan pada saat itulah, aku paham. Bahwa aku sudah dijual oleh keluargaku pada orang lain untuk menjadi seorang budak."
Naomi dan Elena terperanjat mendengarnya, mereka tampak menunjukkan keterkejutannya masing-masing, dengan mata yang berkaca-kaca dan muka menegang. Sementara Koko, kembali menegakkan kepalanya dan tersenyum tipis memandang wajah Naomi dan Elena.
"Koko...," Elena berkata dengan mata yang hampir menangis. "Di sini, di rumah ini, kau boleh melakukan apa pun sesukamu. Kau tidak perlu takut lagi, tidak ada orang yang membencimu di sini. Kami menerimamu. Bahkan dari ceritamu saja, aku yakin Paul juga tidak keberatan pada keadaanmu. Tenang saja, aku juga dari kecil sudah menanamkan pada Paul untuk menghargai perbedaan."
"Sebenarnya...," Naomi ikut berkata, dengan suara yang lembut, dan senyuman hambarnya. "Di Kitab Suci Agama Blanca, saya pernah mendengar bahwa orang-orang seperti Anda, adalah manusia-manusia yang melebihi batas dan wajib dibunuh," tiba-tiba Naomi mengambil pisau yang tergeletak di dekat kompor. "Bolehkah saya melakukan sesuatu pada Anda?"
Elena menjerit melihat gadis berkerudung yang berdiri di sampingnya, mengambil pisau dan mulai mendatangi Koko. "Naomi! Berhenti! Apa yang akan kau lakukan dengan pisau itu!?" Elena langsung mencengkram pergelangan tangan Naomi untuk mengentikkan pergerakkan gadis berkerudung itu.
__ADS_1