
Ketika Naomi membuka pintu ruangan yang mereka tempati, untuk menyambut seseorang yang barusan mengetuk, ternyata saat pintunya terbuka, sosok yang mereka lihat hanyalah seorang wanita petugas kereta yang mengenakan seragam berwarna biru dengan dua tangan membawa meja beroda yang di atasnya terdapat berbagai macam makanan dan minuman lezat.
"Maaf mengganggu," kata wanita itu dengan tersenyum, melongokkan kepalanya untuk masuk ke dalam pintu. "Saya kemari untuk menawarkan ini pada kalian, mungkin kalian sedang lapar atau kehausan, silahkan, ambil saja."
Naomi, Cherry, dan Paul, terpesona dengan makanan dan minuman yang wanita petugas kereta itu bawa pada mereka, sungguh, dari aromanya saja terasa nikmat, apalagi dimasukkan ke dalam mulut, mungkin tubuh mereka bakal meleleh saking enaknya. Tapi, Cherry dan Naomi ingat kalau mereka berdua sama sekali tidak membawa uang sepeser pun, alhasil, mereka secara kompak menatap ke arah Paul dengan menampilkan mata yang berkaca-kaca, seolah-olah memohon pada sang mentor untuk dibelikan makanan dan minuman tersebut.
"Kalian ini!" Paul beranjak dari bangkunya dan mendekati makanan dan minuman itu, yang disimpan di permukaan meja beroda. "Berapa harganya?" tanya Paul setelah berdiri di depan wanita petugas kereta, sembari merogoh kantung celananya.
"Tergantung makanan dan minuman yang Anda pilih."
Mendengar itu, Paul menoleh pada Cherry dan Naomi. "Kalian dengar itu? Jadi cepatlah pilih apa yang kalian suka!" Naomi dan Cherry gembira mendengar intruksi yang Paul katakan, mereka langsung tergesa-gesa mendatangi meja tersebut, untuk memilih makanan dan minuman yang mereka suka.
"Asyiiiik! Paul baik sekali!" Cherry langsung mengangkut beberapa makanan dan minuman yang disukainya untuk dipindahkan ke meja ruangan. "Cherry pilih ini semua, ya! Hihihihi! Tidak apa-apa, kan!? Paul!?"
"Terserah!"
__ADS_1
"Saya benar-benar berterima kasih, Paul," Naomi dengan lembut memungut makanan dan minuman yang dipilihnya untuk diangkut ke meja ruangan, bergabung dengan makanan-minuman pilihan Cherry di sana. "Hanya ini yang saya pilih, terima kasih atas tawarannya, Paul."
"Ya!"
Setelah itu, Cherry dan Naomi kembali duduk di bangkunya masing-masing untuk menyantap santapan yang terhidangkan di meja ruangan. Sementara Paul, masih sedang berdiri, kelihatannya lelaki itu pun tengah memilih makanan dan minuman yang disukainya, sampai akhirnya, ia pun membayar semua yang dirinya dan teman-temannya ambil, ke wanita petugas kereta. Setelah itu, wanita petugas kereta itu pamit untuk pergi menawarkan barang bawaannya ke ruangan selanjutnya.
"Sialan! Ternyata harganya mahal-mahal sekali!" Paul menggerutu sambil mengunyah paha ayam yang digenggamnya dengan keras. "Kalau tahu begitu, lebih baik kita bawa saja makanan dari rumah!" Paul terlihat sangat kesal. "Ini juga salah kalian! Mengambil banyak sekali makanan dan minuman! Kalian pikir aku ini gudang uang, hah!?"
Cherry terkikik mendengarnya. "Hihihihi! Bukankah tugas seorang Mentor itu melayani para pahlawannya!? Menurut Cherry, ini tidak ada bedanya, kok! Jadi itu sudah menjadi resiko seorang Mentor dalam membimbing para pahlawannya! Benar, kan, Naomi!?" Saat Cherry menoleh, meminta persetujuan pada Naomi, gadis berkerudung itu dengan semangat, menganggukkan kepalanya.
"Itu tepat sekali, Cherry," balas Naomi dengan wajah berseri-seri. "Saya pikir, itu sudah termasuk ke dalam tugas seorang Mentor dalam membimbing, mengarahkan, dan melayani para pahlawannya untuk menjadi pahlawan sejati. Bagi saya, menjajani para pahlawan adalah tindakan yang sangat mulia, itu kelak akan mendapatkan balasan yang setimpal di Mata Tuhan, saya yakin itu."
Cherry dan Naomi tercekat mendengarnya, mereka tampak kaget setelah menyadarinya kalau sebentar lagi sudah akan berganti bulan, yang artinya, satu bulan sudah hampir usai. Kalau Paul tidak cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dalam mencari pahlawan, maka ia akan dihukum.
"Tenang saja!" Cherry menjulurkan tangan kanannya ke hadapan Paul, dengan jemari melipat, membentuk jempol di atas. "Cherry selalu siap untuk membantu! Apa pun itu! Pasti akan Cherry bantu! Jadi Paul tenang saja! Hihihihi!"
__ADS_1
"Saya jadi merasa cemas setelah mendengarnya," ucap Naomi dengan memasang wajah risaunya pada Paul. "Tapi Anda tidak perlu khawatir, saya juga akan ikut membantu, agar tugas Anda sebagai Mentor dalam menemukan sepuluh pahlawan, bisa tercapai dengan baik."
Paul terdiam mendengar perkataan Cherry dan Naomi yang terkesan menyemangatinya, meskipun itu tidak membuat perasaan kesalnya hilang, tapi setidaknya, Paul jadi sedikit--hanya sedikit--merasa tenang.
Sambil mengunyah keripik pedas rasa barbekyu, Cherry melontarkan pertanyaan lain pada Paul, dengan muka yang terlihat serius. "Cherry penasaran," kata Cherry dengan suara yang cukup berat. "Apakah seorang pelacur itu hanya untuk para perempuan? Apakah tidak ada laki-laki diantara para pelacur? Soalnya dari pertama kali Cherry dengar soal nama itu, Cherry jadi penasaran dengan kondisi para pelacur! Kedengarannya menjijikan, sih! Tapi Cherry penasaran sekaliiiii!"
"Ada, kok," Yang menjawabnya bukan Paul, melainkan Naomi, membuat perhatian Cherry langsung dipalingkan ke arah gadis berkerudung hitam tersebut. "Tapi untuk seorang laki-laki, namanya bukan pelacur, mereka lebih dikenal dengan sebutan gigolo."
"GIGOLOOO!?" Cherry tampak histeris saat mendengarnya. Dia kaget sekaligus senang karena mendapatkan pengetahuan baru dari Naomi. "M-Mengapa namanya bisa berbeda!? Bukankah pekerjaan mereka sama saja!? Melakukan seks dengan para pelanggannya, iya, kan!?"
"Sebenarnya pelacur mau pun gigolo, tidak serta merta, melakukan seks saja dalam pekerjaannya," ucap Naomi dengan menyeruput segelas teh hijau dingin di genggamannya. "Terkadang, dari yang saya dengar, mereka bersedia untuk dibayar menjadi seorang kekasih, teman berdansa, teman bepergian, atau bahkan dalam suatu kasus, mereka pun mau untuk dijadikkan sebagai budak, tapi tentu saja, bayarannya pasti akan sangat mahal."
Paul hanya menghela napas mendengar penjelasan-penjelasan yang Naomi katakan pada Cherry. "Untuk ukuran perempuan agamis sepertimu, aku heran, mengapa kau bisa sangat tahu tentang hal-hal semacam itu?" tanya Paul yang mulai keheranan pada Naomi yang serba tahu mengenai dunia pelacuran.
"Eh?" Naomi terkejut mendengar pertanyaan itu. "Apakah Anda berpikir orang-orang seperti saya tidak diperkenankan untuk mengetahui hal-hal sepele semacam itu?" Naomi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Walaupun saya terlihat sangat agamis, tapi saya tidak buta tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan duniawi, lagi pula, saya mengetahui itu dari bangku sekolah, semua itu berkat guru-guru saya yang menjelaskan mengenai berbagai aspek di dunia ini. Jadi menurut saya, itu wajar-wajar saja."
__ADS_1
"Benarkah? Kalau memang benar, ya sudah! Lagipula aku hanya heran saja, lanjutkan saja penjelasanmu, agar bocah itu bisa memahaminya dengan baik." timpal Paul dengan menyandarkan punggungnya ke punggung kursi, dengan melipatkan kedua lengannya di dada.
"Hah?" Tiba-tiba Cherry menggeram dengan meremas kemasan keripik pedas rasa barbekyunya hingga menimbulkan bunyi gemerisik yang cukup nyaring. "Tadi kau bilang apa? Bocah? Siapa yang kau maksud dengan sebutan itu? Bukan Cherry, kan, yang kau maksud?" Mata Cherry mendelik ke muka Paul dengan tatapan yang sangat-sangat-sangat ganas, layaknya banteng yang siap menyeruduk targetnya.