Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 35 : Perbuatan yang Sangat Mulia


__ADS_3

Setelah menerima pengumuman dari Nico, seluruh tempat di Kota Aljelvin jadi heboh, para bangsawan merasa terpojokkan karena budak-budaknya berani melawan bahkan mengancamnya, orang-orang dari kalangan miskin, kalangan transgender, kalangan bangsawan, dan kalangan budak turun ke jalan, mereka semua saling melempar batu, merendahkan satu sama lain, bahkan tidak sedikit juga yang terluka akibat peristiwa itu, hingga para polisi datang, kericuhan itu bisa teratasi dengan aman.



Namun, karena keributan itu, jalanan di Kota Aljelvin jadi dipenuhi dengan kerikil-kerikil dan batu-batu bekas masyarakat yang saling timpuk, membuat jalanan yang sebelumnya bersih jadi berantakan tidak terurus. Mendadak, rumah sakit dan sel penjara jadi penuh, berita-berita di internet pun hari ini banyak yang menyoroti kondisi Kota Aljelvin. Suara-suara sirine mobil polisi, mobil ambulan, klakson-klakson angkutan umum, dan raungan mesin mobil-mobil para bangsawan yang kebut-kebutan menggaduhkan suasana jalan raya. Insiden ini akan menjadi peristiwa bersejarah di Kota Aljelvin, karena untuk pertama kalinya, setelah berabad-abad penantian, akhirnya sistem perbudakan dan aturan-aturan busuk di kota tersebut sudah resmi dihapuskan dan diganti dengan peraturan-peraturan yang adil bagi setiap kalangan.



Sementara itu, di tengah gemparnya keadaan kota, di halte bagian timur kota Aljelvin, tampaklah Cherry bersama Roswel sedang berdiri, mereka berdua sedang berbincang-bincang, membicarakan sesuatu yang tidak jauh-jauh dengan situasi kota.



"Mengapa Anda membiarkan gadis itu pergi, Nona? Bukankah Anda ingin membunuhnya?" tanya Roswel dengan menyunggingkan senyuman ramahnya pada Cherry yang ada di sampingnya.



"Eh? Memangnya Cherry pernah bilang begitu, ya? Bukankah membunuh itu tindakan yang jahat? Cherry tidak mungkin membunuh orang! Hihihi! Walaupun Cherry dulu pernah membunuh dan memakan puluhan daging manusia, sih! Hihihi!" jawab Cherry dengan riang sambil menjitak kepalanya sendiri. "Dari pada itu, Cherry lebih khawatir pada kondisi Nico dan Paul! Apa mereka baik-baik saja, ya? Apalagi kota ini sedang banyak keributan di setiap tempat, Cherry harap mereka berdua bisa kembali ke sini dengan selamat! Tapi tetap saja! Cherry masih mencemaskan keadaan mereka! Bagaimana ini, Roswel!? Apakah kau bisa mendeteksi keberadaan mereka!? Kalau iya, cepat beritahu Cherry di mana mereka sekarang!?"



"Tenang saja, Nona," ucap Roswel dengan nada yang lembut pada Cherry. "Saya yakin sebentar lagi mereka akan datang."



"Mengapa kau bisa seyakin itu!?"



Baru saja Cherry bertanya begitu, sosok Nico muncul di samping kiri halte, dan sosok Paul bersama Koko muncul di samping kanan halte, mereka bertiga tampak terengah-engah, setelah berlari kencang dari suatu tempat untuk sampai ke sini. Keringat membasahi pakaian mereka, dada mereka pun tersengal-sengal. Cherry sumringah melihat teman-temannya telah datang, sementara Roswel hanya tersenyum tipis hingga akhirnya ia menghilangkan keberadaannya tanpa disadari oleh siapa pun.



"Roswel! Kau benar! Mereka sudah datang!" Dan Cherry terkejut saat menyadari kalau Roswel sudah tidak ada di sebelahnya, hilang begitu saja tanpa permisi. "Eh!? Dia menghilang?"



"Kalian berdua! Kemari!" teriak Paul setelah duduk di bangku panjang yang disediakan oleh halte tersebut, ia duduk di sana bersama Koko tentunya. Mendengar sang mentor memanggilnya, Cherry dan Nico pun segera mendatangi Paul. "Kapan jadwal pemberangkatan bus berikutnya?"



"Aku tidak tahu," jawab Nico dengan dingin pada Paul, kemudian bola matanya bergeser ke arah Koko yang sedang duduk di samping mentornya. Matanya menelisik penampilan Koko, dari ujung kepala hingga ujung kaki, sampai akhirnya Nico berkata, "Jadi ini orangnya? Pahlawan baru kita?"



Dipandangi oleh Nico dan Cherry, Koko menundukkan kepalanya, tidak berani memandang balik, tangannya sampai gemetar karena malu dan takut, rambut ungu panjangnya terjuntai, menyentuh tanah.



"Uwaaah! Ternyata benar!" Bola mata Cherry berbinar-binar melihat sosok yang ada di samping Paul. "Dia sangat cantik! Cherry hampir mengira dia perempuan sungguhan! Soalnya Cherry pikir penampilannya bakal seperti waria-waria bertubuh perkasa yang sering Cherry lihat di pinggir jalan! Tapi ternyata Cherry salah! Penampilannya walaupun mengenakan kaos kotor khas budak, tapi wajahnya, lekukan tubuhnya, kulit putihnya, gaya malu-malunya, rambut panjangnya, benar-benar mirip seperti perempuan sungguhan!" Kemudian Cherry melebarkan kedua tangannya, dan langsung memeluk tubuh Koko dengan erat. "Cherry senang bisa bertemu denganmu! Koko! Hihihi!"



Koko terbelalak saat badannya tiba-tiba dipeluk oleh gadis mungil berambut merah muda yang bahkan ia tak tahu siapa gadis itu sebenarnya. Alhasil, Koko berkata, "Kenapa kau... memelukku?" Dengan suara yang begitu pelan, Koko mulai memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, menatap dua wajah yang sangat asing di matanya. Cherry segera melepaskan pelukan hangatnya, lalu kembali berdiri di depan Koko, bersama Nico.



Kemudian, Cherry menjawab pertanyaan Koko dengan ekspresi ceria. "Cherry memelukmu karena Cherry sudah menganggapmu sebagai teman! Hihihi!" jawab Cherry dengan menggebu-gebu, lalu pandangannya ia alihkan pada Paul. "Paul! Paul! Paul! Cherry punya saran! Bagaimana kalau setelah ini, kita beli pakaian yang layak untuk Koko? Cherry tidak tega melihat lelaki secantik Koko memakai pakaian kusam seperti itu!"



"Hah?" Paul langsung mengerlingkan bola matanya ke arah Cherry dengan kesal, namun karena apa yang dibilang gadis mungil itu benar, penampilan Koko memang tidak bagus, maka dengan terpaksa, ia pun menjawab, "Lakukan sesukamu! Tapi belanja bajunya di Swart saja! Jangan di sini! Kau lihat? Kota ini masih sedang ricuh!"



Mendengar perkataan Paul, Cherry langsung gembira, dia sangat senang karena mendapat izin dari mentornya untuk mendandani lelaki cantik di hadapannya. "Uwaaah! Cherry tidak sangka kalau Paul bisa sebaik itu! Cherry pikir Cherry bakal dibentak! Hihihi!" Dan perhatian Cherry kembali ke Koko. "Bagaimana? Kau senang, kan? Koko? Sebentar lagi kami akan membelikanmu pakaian yang bagus-bagus! Agar kecantikanmu bisa terpancarkan dengan sempurna! Seperti Cherry! Hihihi!"



"Kau ini berisik sekali, ya," Nico langsung menyenggol lengan kiri Cherry agar gadis itu menyingkir dari hadapannya, setelah itu, ia memandang muka Koko dengan dingin. "Ngomong-ngomong, namaku Nico, kau pasti sudah tidak asing lagi mendengar suaraku, karena akulah manusia di balik suara yang tadi memberikan pengumuman besar di kota ini, jadi, salam kenal, Koko," Nico menyodorkan tangan kanannya pada Koko, ingin berjabat tangan, tapi lelaki berambut panjang itu tidak berani melakukannya. Alhasil, Nico kembali menarik tangannya. "Oh, aku baru sadar, bukankah kau ini seorang budak? Lalu, di mana rantai emas yang membelenggu lehermu? Kelihatannya sudah hilang, ya?"


__ADS_1


"Aku sudah melepaskan rantai sialan itu!" timpal Paul dengan tegas, sembari beranjak dari bangku panjangnya. Dan saat angkutan umum yang mereka tunggu telah tiba di depan halte, Paul langsung berkata, "Busnya sudah datang! Kalian cepatlah masuk!"



Cherry meloncat-loncat gembira, dan Nico yang tadinya mau melontarkan pertanyaan lain pada Koko, jadi bungkam seketika, dan mereka berdua pun masuk ke dalam bus setelah mendengar perintah dari Paul. Sedangkan Koko masih duduk terdiam di bangku halte, dia sepertinya berat untuk meninggalkan kota Aljelvin. "Koko! Cepat masuk! Kau mau kutinggal!? Hah!?" bentak Paul pada Koko.



"Baiklah... aku akan masuk." Koko pun dengan gemetar, mengangkat pantatnya dari bangku panjang, dan berjalan memasuki pintu bus. Setelah masuk ke dalam kabin bus, Koko terkejut karena bangku kosong yang tersisa tinggal sedikit, dan cerobohnya, ia secara tidak sadar, malah memilih duduk di samping om-om berbadan kekar yang mukanya tampak mesum, bahkan saat Koko duduk di sana, orang itu tidak henti-hentinya melirik ke arahnya, membuat ia jadi tak nyaman.



Saat bus sudah berjalan, ketidak-nyamanan Koko semakin bertambah saat tangan kanan dari om-om berbadan kekar itu diam-diam menyentuh pahanya, ia ingin sekali pindah ke tempat duduk yang lain. Namun Koko terlalu takut untuk meminta bantuan. Sampai akhirnya, rasa tidak nyamannya benar-benar memuncak ketika om-om itu, dengan sengaja, meremas selangkangannya. Alhasil, karena tidak bisa mengucapkan pertolongan ke orang lain, Koko langsung mengambil pensil yang tergeletak di jendela dan,



CRAT!



Ia tusukkan bagian paling runcing di pensil itu tepat ke bola mata bagian kanan dari om-om tersebut, hingga akhirnya, "AARGH! MATAKU! MATAKU!" Orang itu menjerit-jerit kesakitan karena mata sebelahnya tertusuk oleh sebuah pensil yang masih menancap, darah segar langsung menyemprot dengan deras dari mata yang ditusuk, membuat pakaian kusam Koko terkena cipratannya. Para penumpang lain menolehkan pandangannya ke tempat om-om itu menjerit, dan mereka semua kaget melihat ada pensil yang tertancap di mata kanan orang itu. Cherry, Nico, dan Paul pun tersentak menyaksikan kejadian itu, karena tidak kuat terus-terusan jadi pusat perhatian, Koko pun berdiri dari kursinya dan berteriak,



"M-Maafkan aku! Tapi pria ini melecehkanku! D-Dia dengan sengaja meremas-remas p-penisku! Jadi karena takut, aku menusuk matanya! M-Maaf jika perbuatanku terlalu berlebihan! T-Tapi aku sungguh--" Namun, omongannya terpotong, karena keterkejutan para penumpang semakin bertambah saat Koko menyebut nama alat kelamin laki-laki, sedangkan penampilan dirinya saat ini seperti perempuan, alhasil, dia jadi bahan olokan dari beberapa penumpang.



"Hah? *****? Lalu kenapa kau mengenakan pakaian perempuan, bodoh!"



"Malang sekali pria itu, ditusuk oleh makhluk menjijikan seperti dia!"



"Pria itu mungkin mengira kalau korbannya adalah perempuan, dia tertipu!"




"Keluarkan saja perempuan palsu itu dari bus ini! Aku jadi mual melihat wajahnya!"



Mendengar segala hujatan-hujatan itu, kedua mata Koko membelalak, dia pun menundukkan kepalanya, rambut ungu panjangnya berjatuhan, bibirnya bergetar, ia terguncang pada reaksi orang-orang saat dirinya terkena pelecehan seksual, sampai tidak sadar, air matanya menetes-netes. Melihat Koko meneteskan air matanya, beberapa penumpang menertawakannya, melempar botol-botol kosong pada kepalanya, dan terus menghujat-hujatnya tanpa ampun.



Puk!



Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Koko, saat ia melihat siapa orangnya, ternyata itu adalah Paul, yang sedang berdiri di belakangnya bersama Nico dan Cherry. "Tidak apa-apa. Kita turun saja dari bus busuk ini." ucap Paul pada Koko dengan tatapan yang serius.



Akhirnya, Koko, Paul, Nico, dan Cherry meminta pada sang supir untuk turun di tengah jalan, bahkan saat mereka berempat hendak keluar dari pintu bus pun, semua penumpang terus-terusan melempari  mereka dengan benda-benda ringan dibarengi kata-kata yang penuh kebencian.



Akhirnya, mereka kembali menjejakkan tanah di Kota Aljelvin. Koko merasa menyesal karena perbuatannya telah membuat teman-teman barunya ikut terusir dari bus.



"Maafkan aku. Karena ulahku, kalian jadi--"



"Lupakan soal itu!" Perkataan Koko langsung dipotong oleh bentakan Paul. "Lagi pula! Masih banyak angkutan umum di kota ini! Bahkan, jika semua angkutan umum menolakmu! Kita akan jalan kaki bersama-sama! Jadi jangan menangis! Kau tidak sendirian di sini!"

__ADS_1



"Apa yang dikatakan Paul benar!" ucap Cherry dengan tersenyum manis pada Koko. "Cherry akan tetap bersamamu! Walau semua orang membencimu! Hihihi!"



Nico menghela napasnya. "Jalan kaki? Tapi seingatku, jarak Swart dengan Aljelvin sekitar dua puluh lima kilometer, sebelum sampai di Swart, kita sudah tewas duluan, bodoh."



Saat Nico bilang demikian, tiba-tiba muncul gerombolan motor yang dikendarai para lelaki berandalan--ah tidak, walaupun penampilannya seperti lelaki, mereka semua adalah perempuan--dan para perempuan berandalan yang mengendarai motor gagah khas lelaki, menghentikan lajunya tepat di depan Koko yang sedang berdiri di tepi jalan. Mereka semua berjumlah sekitar tujuh orang, berpenampilan seragam; rambut hitam pendek, mengenakan kaos bergambar tengkorak, dan celana jins sobek-sobek.



Salah satu dari mereka turun dari motornya dan menghampiri Koko dengan sumringah. "Hey? Kau bukan perempuan sungguhan, kan? Kau laki-laki, kan?" tanya perempuan berwajah sangar itu pada Koko. Mendengar pertanyaan ganas itu, Koko hanya menganggukkan kepalanya dengan jantung yang berdegup kencang, ketakutan. Melihat Koko menganggukkan kepalanya, sontak, para perempuan yang masih duduk di motornya masing-masing, secara kompak, mengangkat kepalan tangannya ke atas.



"HIDUP ALEXIS!" teriak perempuan-perempuan tomboi itu secara bersamaan.



Koko mengeryitkan alisnya. "Alexis? Apa itu?"



"Hey! Kau tidak tahu soal itu? Padahal kau bagian dari komunitas itu! Hahaha! Kau ini!" Perempuan sangar yang ada di hadapan Koko terbahak-bahak mendengar pertanyaan itu. "Alexis itu sebuah nama yang melambangkan kaum gender yang spesial seperti kita! Kau paham? Maka kau harus bangga dengan itu! Tapi sepertinya kau habis menangis, ya? Ada apa memangnya? Apakah orang-orang itu mengganggumu?" Perempuan itu menunjuk ke arah Paul, Nico, dan Cherry dengan tatapan menindas.



Mendengar sang ketua bilang begitu, bawahan-bawahannya yang masih ada di motornya masing-masing, mengambil celurit, sabit, dan pedang tajam yang terikat di pinggang mereka.



"T-Tidak! Mereka tidak menggangguku! Mereka adalah teman-temanku!" Koko langsung gelisah saat perempuan-perempuan tomboi itu mengangkat senjata-senjata tajamnya, seperti bersiap untuk perang.



"Lalu? Kenapa kau menangis?"



"Aku baru saja terusir dari bus, karena para penumpang di bus itu membenci penampilanku. Tapi karena hal itu, teman-temanku ikut terusir. Jadi aku merasa bersalah pada mereka."



"Apa-apaan itu!" Perempuan garang yang ada di hadapan Koko tampak kesal mendengarnya. "Katakan padaku! Bus nomor berapa yang mengusir kalian! Akan kami bakar bus bajingan itu!"



"J-Jangan!" Koko terkejut mendengarnya. "Kalau kalian melakukannya, kalian akan menyakiti mereka. Jadi, kumohon, jangan."



"O-Oke," ucap perempuan tomboi itu dengan kaget, dan mendadak, ia mendapatkan sebuah ide. "Ah! Bagaimana kalau kau bersama tiga temanmu itu, kami antar ke tempat tujuan kalian! Karena sesama Alexis harus saling menolong, benar, kan? Heheh! Jadi katakan pada kami! Ke mana kalian akan pergi! Kami siap mengantar kalian ke mana pun!"



Koko bahagia sekali mendengarnya. "K-Kami akan pergi ke Kota Swart."



"Oke!" Kemudian perempuan sangar itu membalikkan badannya ke arah teman-temannya. "AYO KITA ANTARKAN LELAKI ALEXIS INI! BERSAMA TEMAN-TEMANNYA! KE KOTA SWART! KALIAN OKE!?"



"OKEEEEE!" jawab teman-temannya dengan semangat yang membara.



Dan akhirnya, Koko, Paul, Nico, dan Cherry pulang ke Kota Swart dengan menumpang pada gerombolan perempuan-perempuan tomboi yang mengendarai motor besar. Perempuan-perempuan itu pun tampak senang karena Koko adalah bagian dari komunitasnya, karena menurut mereka, sesama Alexis harus saling menolong, karena itu adalah perbuatan yang sangat mulia.

__ADS_1



__ADS_2