Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 66 : Jangan Abaikan Kami


__ADS_3

"WOAH!"


Ketika Jeddy baru keluar dari gerbang rumah Paul, ia dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki kekar, berambut abu-abu dan berkulit hitam yang sedang membawa dua sosok yang familiar di matanya. Itu adalah Nico dan Koko. Jeddy tersenyum lebar saat melihat Koko ada di tangan si lelaki kekar tersebut.


"Jeddy, ya?" Nico melompat turun dari punggung Abbas, lalu ia berjalan mendatangi lelaki berambut hijau itu, yang tampak gembira melihat kedatangannya. "Mau ke mana kau? Oh, ngomong-ngomong di mana Naomi? Aku ingin berbicara dengannya."


Mendengar nama itu, Jeddy terkejut. "Jangan bilang kau juga sudah mengetahuinya, Bro!?" Jeddy membuka mulutnya lebar-lebar saking kagetnya. "Tapi siapa orang itu? Pahlawan baru kita, ya, Bro!? Wow! Kelihatannya gagah sekali! Badannya juga lebih berotot dariku!"


Abbas tersenyum pada Jeddy setelah menurunkan tubuh Koko pelan-pelan ke tanah. Abbas pikir, Jeddy adalah orang yang cukup menyenangkan.


"Ya, tentu saja," kata Nico memimpali pertanyaan Jeddy. "Dia adalah pahlawan baru yang kami temukan di Kota Cocoa. Walau penampilannya begitu, dia itu orang yang sangat pendiam."


"Woah! Begitu, ya! Hahaha!" Jeddy langsung berjalan cepat mendekati Abbas, lalu ia menjulurkan tangan kanannya untuk berjabat-tangan dengan lelaki kekar tersebut. "Namaku Jeddy! Kuharap kita bisa akrab dan jadi sahabat, ya, Bro! Hehehehe!"


Abbas menerima jabatan tangan itu dengan ramah, ia pun menjawab sambutan Jeddy dengan suara beratnya. "Aku Abbas," jawab Abbas sembari berjabat-tangan dengan Jeddy. "Terima kasih telah menerimaku."


Setelah mereka berdua selesai dalam sesi jabat tangannya, Jeddy langsung kembali ke hadapan Nico lalu berkata, "Naomi ada di dalam, Bro! Bersama Paul dan Colin! Sedangkan Cherry sedang menemani Tante Elena di kamar," Kemudian pandangan Jeddy dialihkan pada Koko yang sedang sedang berdiri sambil menundukkan kepalanya, membuat untaian ungunya berjatuhan. "Akhirnya aku menemukanmu! Koko! Hahahahaha! Kukira kau sudah pergi jauh! Aku sempat cemas tadi, Bro!"


Koko tidak menjawab ucapan Jeddy, ia tidak mau memandang wajah orang yang terlibat dalam pertengkarannya dengan Naomi saat di dapur. Koko masih malu.

__ADS_1


"Kalau begitu, ayo kita sama-sama ke dalam," ucap Nico pada Jeddy, Abbas, dan juga Koko. "Kita harus bergerak bersama agar masalah ini bisa selesai dengan cepat. Karena orang yang akan kita hadapi adalah Naomi, dia pasti akan menentang kata-kataku yang didasari oleh kaca mata sains, dengan pandangan agamanya. Karena itulah, kalian juga harus ikut membantu."


Mendengar itu, Jeddy dan Abbas, secara serentak, menganggukkan kepala. Sementara Koko hanya membisu, dia ragu untuk merespon ucapan Nico, walau sebetulnya dia senang karena mereka semua mau membantu masalahnya dengan Naomi. Tapi tetap saja, Koko merasa dirinya lah yang menyebabkan ini semua terjadi, sehingga melibatkan banyak orang ke dalam masalahnya. Koko merasa bersalah. Ia mulai berpikir, mungkin jikalau dari awal Paul tidak memilihnya sebagai pahlawan, dan tanpa ada dirinya di rumah itu, masalah seperti ini tidak akan pernah ada. Namun, karena eksistensinya yang masih dianggap tabu dan memalukan oleh banyak orang, membuat keberadaannya menimbulkan masalah.


"Andai saja... aku tidak dilahirkan, mungkin--"


"KOKO! AYO MASUK!" ucapannya terpotong saat Nico berseru pada dirinya setelah mereka semua sudah berada di ambang pintu, sedangkan dirinya sendirian di luar gerbang. Perlahan, Koko sempat kepikiran untuk kabur lagi, tapi kalau dia melakukannya, maka masalah tidak akan pernah selesai, dan itu hanya akan membuat masalah makin besar. Karena itulah, Koko memberanikan diri untuk melangkahkan kaki, untuk masuk ke dalam rumah Paul, dan bertemu lagi dengan Naomi.


Mengejutkan, saat Nico, Abbas, Jeddy, dan Koko masuk ke dalam ruang tamu, mereka dikejutkan dengan kehadiran Paul, Colin, Cherry, Tante Elena, dan Naomi, yang sedang bersimpuh di lantai dengan posisi memutari makanan yang tersimpan di tengah. Tampaknya, untuk sementara, kursi tamu tidak dibutuhkan di sana. Sebab, mereka sepertinya akan memulai acara makan-makan secara berlesehan, di dalam ruang keluarga yang terhubung dengan ruang tamu, dan di sana pun hanya ada tikar putih yang tertata di atas lantai sebagai alas untuk duduk.


Tentu saja, Nico, Abbas, Jeddy, dan Koko terbelalak menyaksikan pemandangan itu, mereka tidak mengerti mengapa Paul dan yang lainnya membuat pesta seperti ini, di saat masalah antara Naomi dan Koko belum diusaikan.


"Kalian juga sudah berhasil kembali, ya?" sindir Paul pada Nico dan Abbas yang sedang berdiri di antara Koko dan Jeddy. "Ayo! Cepat duduk! Brengsek! Sebentar lagi pesta akan segera dimulai!" Paul menepuk-nepuk permukaan tikar yang kosong pada mereka yang baru datang.


Mendengar itu, Abbas hanya tersenyum kikuk. Kemudian, mereka semua yang baru datang, secara berurutan, duduk di permukaan tikar yang masih kosong, untuk bergabung, menikmati pesta makan besar yang akan dimulai sebentar lagi. Setelah duduk di tempatnya, Nico melirik ke arah Naomi, ternyata gadis itu sama seperti Koko, sedang menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajah murungnya dari orang-orang.


"Tapi aku masih tidak mengerti," Kini, Tante Elena, wanita berambut hitam keriting, yang bersuara. "Mengapa kalian berempat mengenakkan pakaian yang sama persis? Ada apa ini sebenarnya? Apakah kalian habis pulang dari suatu program drama musikal? Atau mungkin tari-tarian? Atau jangan-jangan kalian--"


Cepat-cepat Paul memotong ucapan ibunya yang semakin melantur ke mana-mana.

__ADS_1


"DIAMLAH! BU!" bentak Paul pada Elena. "Ibu tidak perlu tahu! Lagi pula itu bukan urusan Ibu!"


Elena mengernyitkan alisnya menatap Paul dengan bengis. "PAUL!? TADI KAU BILANG APA!? TENTU SAJA ITU ADALAH URUSAN IBU JUGA! KARENA AKU ADALAH IBU KANDUNGMU! WAJAR KALAU SEORANG IBU KHAWATIR PADA KEGIATAN ANAKNYA YANG TIDAK JELAS SEHARI-HARINYA!"


"TAPI TETAP SAJA ITU BUKAN URUSAN IBU! AKU SUDAH BESAR BU!"


"DI MATAKU KAU MASIH TERLIHAT SEPERTI ANAK-ANAK! PAUL! KAU MASIH MEMBUTUHKAN BIMBINGAN ORANG TUA! SIKAPMU SAJA MASIH BEGITU! DASAR ANAK KURANG AJAR!"


Menonton pertengkaran antara ibu dan anak, membuat Colin, Cherry, Nico, Jeddy, dan Abbas, tertawa terbahak-bahak. Sementara Koko dan Naomi, masih ragu untuk menegakkan kepalanya masing-masing.


Tampaknya, mereka masih malu-malu untuk bergabung dalam kehangatan tersebut.


"Tanpa basa-basi! Ayo kita serang makanannya! BROOOO!" Jeddy lah yang paling pertama mengambil makanan, membuat yang lainnya tidak mau kalah. Akhirnya, terciptalah perebutan daging, sayuran, buah-buahan, dan sejenisnya, dengan sangat riuh dan menyenangkan.


Kecuali, Koko dan Naomi, yang masih belum mengambil piring sama sekali.


Namun, sekilas, mereka berdua saling memandang satu sama lain, tapi cepat-cepat menundukkan kepala kembali. Sepertinya orang-orang yang di sana pun sengaja mengabaikan keberadaan Koko dan Naomi, agar mereka berdua dapat berinteraksi sendiri, dan tentu saja, berbaikan seperti sebelumnya.


Paul, Elena, Nico, Cherry, Jeddy, Colin, dan Abbas, mengobrol dengan heboh, membicarakan segala hal, dan mereka secara serentak, menganggap eksistensi Koko dan Naomi, seperti tidak ada di sana. Layaknya udara kosong. Tanpa ada yang mau menawarkan salah satunya untuk mengambil makanan, tampaknya, mereka semua kompak membiarkan dua sosok itu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Koko mau pun Naomi sudah tak kuat lagi merasa diabaikan seperti itu. Mereka berdua, secara serempak, bangun dari posisi duduknya, lalu berteriak,


"TOLONG! JANGAN ABAIKAN KAMI!"


__ADS_2