Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 117 : Perang


__ADS_3

Mereka semua terkejut saat mendengar seruan Lizzie, mereka tidak menyangka kalau gadis itu adalah sosok yang berbahaya di sini. Mereka kira Lizzie adalah salah satu korban pembunuhan yang dilakukan oleh lelaki berambut hitam itu, yang punya wajah angkuh dan seram. Tapi ternyata dugaan mereka salah, dari omongan Lizzie saja, sudah jelas kalau gadis itu bukan korban, melainkan pelaku dalam aksi berdarah di rumah ini.


"A-Apa!? K-Kau mau membantai kami semua!?"


"Ini mengerikan! Mengerikan sekali!"


"Dia Lizzie tetangga kita, kan!?"


"Iya! Dia Lizzie! Dan sepertinya dia sudah gila!"


"Aku tidak menyangka dia punya pemikiran jahat seperti itu!"


Masing-masing dari anggota keluarga Rara, saling sahut-menyahut, memberikan reaksi mereka terhadap omongan Lizzie yang begitu mengancam. Mereka semua tampak mulai panik, terlihat dari ekspresi-ekspresi wajahnya yang menegang dan ketakutan.


"Hahahahahaha! Teruslah seperti itu!" Lizzie sangat senang menyaksikan tampang-tampang mereka yang mulai resah, mereka semua tampak gelisah, bingung harus melakukan apa. "Aku suka wajah-wajah ini! Kalian benar-benar membuatku sangat bersemangat! Ini akan menjadi momentum yang mendebarkan! Aku tidak sabar melihat mimik muka kalian ketika tubuh-tubuh itu kupotong menjadi irisan daging yang lezat! Hahahahaha!"


Meski saat ini kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk beraksi, karena lengan kanannya patah oleh tendangan dari Paul, tapi rasanya Lizzie tidak melembek, malah ia jadi kelihatan begitu bersemangat. Paul yang memandangi tingkah Lizzie, jadi terheran-heran. Sebenarnya apa yang bisa dilakukannya, dengan lengan patah seperti itu?


"Sekarang!" Lizzie membungkuk, mengambil pisau yang sebelumnya terlempar oleh tendangan Paul, dan menggenggamnya kembali di tangan kirinya. "Aku akan memulainya!"


Sontak, melihat Lizzie berusaha mendekat, membuat orang-orang itu kalang-kabut, pergi ke segala ruangan untuk melindungi diri dari serangan yang akan dilakukan oleh gadis tomboi itu. Senang dengan situasi itu, Lizzie tertawa-tawa layaknya tokoh jahat di film-film pembunuhan yang sering Paul tonton di televisi.

__ADS_1


"Konyol sekali," Paul berkata dengan suara yang sengaja dinyaringkan, agar Lizzie dapat mendengarnya. Dan ternyata benar, gadis berdada rata itu menengok sedikit ke arah Paul saat mendengar suaranya. "Kau tidak akan bisa melakukan aksi-aksi jahatmu dengan kondisi seperti itu. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri, bodoh!"


Lizzie mendecakkan lidahnya jengkel, lagi-lagi orang itu mengganggu di saat-saat yang menyenangkan seperti ini. Karena muak dan bosan menimpali omongan Paul, Lizzie mencoba mengabaikannya dan tetap berjalan pelan untuk melancarkan aksi pembantaiannya.


"Kau itu sekarang sedang lemah, Brengsek!" Tidak suka diabaikan begitu, Paul kembali bersuara, mengingatkan Lizzie pada kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik. "Tangan kananmu bisa rusak jika kau paksakan seperti itu! Kau juga pasti kesakitan, kan!? Sudahlah cukup! Hentikan tingkah bodohmu itu! Kau tidak akan bisa membantai siapa pun di sini!"


"KURANG AJAR!" Seketika, amarah Lizzie melonjak drastis, pisau yang digenggamnya secara refleks ia bantingkan ke lantai, dia tidak bisa mengabaikan ucapan Paul yang barusan, kata-kata itu telah menjatuhkan harga dirinya. "SEBENARNYA APA MAUMU! ********! UNTUK APA KAU MASIH DI SINI! BUKANKAH TUJUANMU MENEMUIKU HANYA INGIN MENDAPATKAN PENAWAR RACUNKU ITU, KAN!? DAN KAU SUDAH MENDAPATKANNYA! JADI PERGILAH! AKU SUDAH TIDAK PEDULI LAGI DENGAN BENDA ITU! PERGILAH DARI SINI! SELAMATKAN TEMANMU YANG SUDAH MENINGGAL ITU!" Lizzie memberi jeda sedikit, untuk mengatur napasnya yang mulai tak beraturan, kemudian, ia kembali melanjutkan. "ENYAHLAH DARI PANDANGANKU! ********!"


Mendengar amukan Lizzie, Paul hanya menghela napasnya dengan raut muka yang begitu datar, dan saat ia mau membalas pekikan itu, tiba-tiba saja, sesuatu yang mengejutkan terjadi begitu saja di depannya.


"KAULAH YANG AKAN MATI DI SINI!"


"AAAAAAARGH!" Selain rasa nyeri di belakang kepalanya, Lizzie juga merasakan rasa sakit yang sangat gila di lengan kanannya yang patah. Itu benar-benar sangat menyakitkan saat tulangmu yang patah, dibenturkan ke permukaan lantai yang keras.


Sang Nyonya pun kembali ambruk setelah memukul Lizzie, kondisinya pun sama-sama sedang lemah. Tapi sepertinya ia tidak tahan dengan sikap Lizzie hingga akhirnya nekat menghajar gadis tomboi itu.


Paul, yang menyaksikan kejadian itu, terbelalak. Dia tidak sangka kalau wanita itu masih bisa berdiri bahkan memukul seseorang dengan sekuat tenaga, padahal keadaan tubuhnya sedang sangat kritis. Benar-benar mengejutkan. Di sisi lain, Paul kagum dengan hal tersebut, tapi di sisi lainnya lagi, itu adalah tindakan yang sangat bodoh.


Karena mau bagaimana pun, Lizzie bukan gadis yang sekali pukul langsung mati, buktinya, gadis itu kembali membangunkan dirinya sendiri dengan perlahan. "Tak pernah kusangka kalau kau bisa bangkit lagi," Bola-bola mata Lizzie langsung menyoroti tubuh wanita yang barusan memukulnya dengan sangat kuat, tengah tergeletak lagi di lantai dengan lemas. "Berani juga ya, kau, menghajar seorang pembunuh bayaran sepertiku! Heh! Kau telah membuatku marah!" Kaki kanan Lizzie diangkat tinggi-tinggi, kemudian, BUG! Menginjak perut wanita itu dengan sangat kencang.


Wanita itu terbatuk-batuk saat perutnya diinjak oleh Lizzie. "Uhuk-Uhuk! Argh!" Wanita itu, dengan mata yang sayu, menatap wajah Lizzie dengan intens. "Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan keluargaku!"

__ADS_1


"Dan menurutmu, untuk siapa aku melakukan semua ini, hm?" Lizzie menginjak lagi perut wanita itu dengan hentakan yang sangat keras. "Tentu saja ini untuk kebahagiaan Rara! Putri Kandungmu! Dan dia juga anggota keluargamu!"


Cepat-cepat Paul mendatangi Lizzie. "Singkirkan kaki kotormu dari perutnya!" berang Paul dengan galak.


Lizzie langsung menolehkan lehernya ke muka Paul yang berada di sampingnya. "Jadi kau masih belum pergi juga ya, ********!"


"Aku tidak akan pergi sebelum kau mau mendengarkan perintahku!"


"Hahahaha!" Lizzie tertawa terbahak-bahak mendengar itu. "Dan dengan kau terus berada di sini, temanmu yang sudah kubunuh itu! Tidak akan bisa diselamatkan, bahkan oleh penawar racun milikku sekalipun! Karena," Lizzie menyeringai pada Paul. "Seiring berjalannya waktu, racun itu akan menyebar ke seluruh badan temanmu dan akan membekukan semua organ-organnya. Jadi, mau pakai cara apa pun, itu hanya akan sia-sia! Karena dia sudah benar-benar mati!"


Paul menegukkan ludahnya, tampaknya apa yang dikatakan oleh Lizzie ada benarnya juga. Jika dia tetap berada di sini, menghabiskan banyak waktu hanya untuk menghentikan tindakan Lizzie, itu akan membuat kondisi Abbas semakin memburuk atau bahkan tak bisa diselamatkan oleh penawar racun sekali pun.


Gawat, Paul jadi panik sekarang.


Paul harus memutuskannya sekarang juga, sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada hidupnya.


Namun, ketika Paul sedang resah tak karuan, dan Lizzie tertawa-tawa sambil menginjak-injak perut Sang Nyonya Rumah, hal yang tak terduga tiba tanpa disadari oleh mereka berdua.


Ternyata itu adalah beberapa anggota keluarga Rara yang sebelumnya melarikan diri, muncul kembali, dengan masing-masing dari mereka, membawa senjata-senjata yang cukup mengerikan.


"Eh?" Seketika tawa Lizzie berhenti saat merasakan aura yang tidak mengenakkan. Pelan-pelan, ia menengokkan kepalanya ke belakang dan tertampaklah pemandangan yang sangat mengejutkan. "Heh? Apa ini?" Lizzie menahan tawanya. "Kalian mau berperang denganku?" Lizzie menyunggingkan senyuman mengejeknya. "Baiklah, ini bakal jadi sangat menarik. Ayo, kemarilah, bunuh aku!"

__ADS_1


__ADS_2