
"Maaf, Olivia," kata Paul dengan nada yang pelan pada Olivia. "Sebenarnya Ibuku baik-baik saja, aku meneleponmu karena aku membutuhkan bantuanmu."
Baru kali ini, Olivia mendengar Paul meminta bantuan padanya, sungguh, ini sangat mengejutkan. Soalnya, Olivia sudah hafal sekali dengan sifat Paul karena dia telah sekelas dengan lelaki itu dua tahun. Dan menurut Olivia, Paul itu orang yang sangat individualis, tidak suka meminta bantuan pada orang lain, dan lebih suka mengerjakan sesuatu sendirian. Tapi sekarang, Paul menunjukkan sisi yang jarang ia perlihatkan pada Olivia.
Karena penasaran, Olivia mencoba meredam kekesalannya karena telah dibohongi oleh Paul dan mulai bertanya, "Lalu, jika Ibumu baik-baik saja, kau mau minta bantuan soal apa padaku, Paul?" Mendengar pertanyaan itu, Paul sedikit mendecih, lalu ia pun melirik ke arah Jeddy, Colin, dan Cherry yang sedang berdiri di sampingnya.
"Sebelum itu, aku ingin memperkenalkan mereka padamu," ucap Paul dengan santai, sambil lengannya menyentuh pundak Jeddy. "Jadi, mereka ini adalah teman-temanku yang berasal dari kota-kota yang berbeda, yang rambut biru, namanya Colin, pelayan kedai, dia tinggal di daerah sini. Sedangkan Yang rambut hijau, namanya Jeddy, berasal dari Kota Groen, dia lelaki yang sangat konyol jika kau ingin tahu. Dan gadis berambut merah muda ini, namanya Cherry, dia berasal dari Kota Poppe, dia gadis yang berisik."
Olivia menganggukkan kepalanya, lalu merespon perkataan Paul dengan senyuman kecut. "Lalu?" tanya Olivia dengan mengedikkan bahunya, penasaran pada maksud Paul. Karena jujur, Olivia tidak begitu suka bertatap muka dengan orang asing. Bahkan ketika Paul memperkenalkan tiga temannya pada Olivia, gadis itu hanya melirik sekilas saja pada muka Colin, Jeddy, dan Cherry. Selebihnya Olivia terus memandang muka Paul.
"Aku ingin kau membawa Cherry untuk menginap di rumahmu," ucap Paul dengan santai, membuat Olivia sangat kaget saat mendengarnya. "Soalnya mulai hari ini, dia akan tinggal di Kota Swart, tapi karena Ibuku tidak mungkin mengizinkanku membawa masuk seorang gadis ke kamar, jadi aku membutuhkan bantuanmu, Olivia."
Olivia langsung menimpali ucapan Paul dengan nada yang melengking. "Kenapa kau tiba-tiba bilang begitu, Paul? Maksudku, kalau kau tahu Ibumu tidak akan mengizinkanmu, lalu untuk apa kau mengundangnya ke kota ini? Jika urusanmu memang sangat penting sampai harus mengajaknya kemari, setidaknya kau harus--"
"Diamlah!" Paul memotong kata-kata Olivia dengan bentakannya, membuat gadis itu terdiam sesaat. "Jadi intinya kau mau atau tidak!?" Padahal Paul telah berusaha untuk tidak marah-marah pada Olivia karena saat ini posisinya sedang membutuhkan pertolongan, tapi kurang ajar sekali gadis itu sampai menceramahinya segala. Membuat Paul jengkel mendengarnya. Jika Olivia memang tidak mau menolongnya, seharusnya dia tinggal bicara langsung ke intinya saja, tidak perlu jadi sosok penasihat dadakan, begitulah menurut Paul.
"Eh!?" Cherry terkejut mendengar pembicaraan tersebut. "Apa ini? Jadi maksudnya Cherry akan tidur bersama gadis ini di rumahnya!? Uwaaaah! Pasti rasanya seru sekali! Kami berdua bisa mengobrol seputar masalah gadis di kasur, lalu perang bantal, begadang bersama, dan melakukan hal-hal gadis lainnya! Hihihihi!"
Mendengar itu, akhirnya Olivia menatap muka Cherry, kemudian dia memandangi penampilan gadis mungil itu dari atas sampai bawah. Lalu, Olivia pun berkata, "Baiklah, sepertinya tidak masalah, lagi pula dia cukup imut, menurutku," Kemudian, Olivia tersenyum pada Cherry. "Senang berkenalan denganmu, Cherry."
"Uwaaah! Terima kasih karena sudah mengizinkan Cherry untuk menginap di rumahmu! Ah, tadi Paul menyebut nama 'Olivia' ya? Jadi namamu Olivia? Uwaaah! Cherry suka! Namamu sangat cantik seperti nama Cherry! Hihihihi!" Cherry meloncat-loncat kegirangan, sementara Olivia hanya kikuk melihatnya, dia tidak mengerti mengapa gadis itu begitu bahagia hanya karena hal sepele. Tapi sepertinya Cherry adalah gadis yang baik, pikir Olivia.
"Tunggu sebentar!" Colin tiba-tiba berseru pada Paul dengan muka cemas. Lalu ia langsung menghampiri Paul dan berbisik padanya. "Apa kau yakin ini akan baik-baik saja? Kau tahu, kan? Cherry punya penyakit jiwa, aku takut dia secara tidak sengaja melukai atau bahkan memakan temanmu!? Soalnya Cherry itu seorang kanibal, kan!? Paul! Aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada gadis bernama Olivia!"
Setelah mendengar bisikan dari Colin, Paul hanya menghela napasnya. "Bodoh," kata Paul dengan suara yang kecil, lalu ia menatap mata Colin dengan tajam. "Orang macam apa kau hingga berpikiran yang tidak-tidak pada temanmu sendiri?" Mendengar itu, Colin tersentak dan akhirnya ia pun sadar dan terdiam.
"Hahahaha!" Jeddy menepuk-nepuk punggung Colin dengan terbahak-bahak. "Aku tidak tahu apa yang sedang kau bisiki pada Paul, tapi sepertinya kau mengkhawatirkan sesuatu, benar, kan, Bro? Hahaha! Ayolah, Bro! Dinginkan kepalamu, agar kau bisa menikmati hidupmu dengan lebih santai, sepertiku contohnya, Bro! Hahahaha!"
Colin hanya menghembuskan napasnya, tidak merespon perkataan Jeddy. Sedangkan Olivia, yang mendengar apa yang dikatakan Jeddy langsung menyimpulkan bahwa; sepertinya Colin si rambut biru punya kecemasan yang tinggi terhadap sesuatu, sebenarnya apa yang dia cemaskan? Olivia jadi sangat penasaran. Tapi sayangnya dia tidak berani menanyakannya karena ia masih belum terlalu akrab dengan mereka.
"Kalau begitu, sampaikan salamku pada Ibumu, ya Paul!" ucap Olivia ketika dia sudah menaiki sepedanya bersama Cherry yang duduk di belakangnya.
"Dadaaaaaah! Jangan lupakan Cherry, ya! Coooolin! Jeeeeddy! Pauuuuul! Sampai bertemu lagiiiii! Hihihihi!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Cherry bersama Olivia pergi meninggalkan Paul, Jeddy, dan Colin dengan menaiki sebuah sepeda.
Saat keberadaan Cherry dan Olivia sudah menghilang di depan mereka, akhirnya Paul lega karena beban pikirannya sudah berkurang, karena sebelumnya, dia benar-benar kebingungan harus menitipkan gadis mungil itu ke siapa. Namun beruntungnya Paul punya kenalan seperti Olivia di hidupnya, jadi dia bisa memanfaatkan gadis itu untuk menampung Cherry di rumahnya.
__ADS_1
"Oi, Bro!" Tiba-tiba Jeddy menepuk pundak Paul saat lelaki itu akan membuka pintu gerbang rumahnya. "Bolehkah aku menginap lagi di rumahmu malam ini?" Mendengar itu, Paul mendecakkan lidahnya, kemudian ia langsung menatap Jeddy dengan beringas.
"Apa perlu aku jawab pertanyaanmu, hah!?" Jawaban kasar Paul malah membuat Jeddy jadi tersenyum lebar. Sepertinya Jeddy paham pada maksud ucapan Paul, dia pun langsung tertawa renyah.
"Hahahahaha! Terima kasih, Bro! Kau benar-benar baik sekali padaku!" Mendengar perkataan itu, Paul pura-pura tidak mendengarnya. Setelah pintu gerbang rumahnya sudah terbuka secara sempurna, akhirnya mereka bertiga pun masuk ke dalam.
Namun, baru saja sampai di depan pintu depan, Colin langsung bersuara, "Emm.. Aku datang ke rumahmu hanya ingin mengambil seragam kedaiku saja yang masih tertinggal di kamarmu, dan juga aku ingin mengembalikan pakaianmu yang sedang kupakai ini. Aku tidak akan menginap, soalnya besok aku harus bangun pagi untuk kerja."
"Oh, tidak masalah." kata Paul dengan dingin. "Tapi itu artinya, besok kau tidak ikut pergi bersama kami untuk mencari pahlawan berikutnya, Colin."
Colin langsung memucat mendengarnya, entah kenapa, dia jadi sedikit trauma jika mendengar 'pergi mencari pahlawan berikutnya' karena dipikirannya mereka pasti akan menghadapi situasi yang lebih mengerikan lagi di kota lain hanya untuk mendapatkan 'pahlawan baru'. Oleh sebab itu, Colin jadi tidak terlalu tertarik untuk ikut pergi mencari pahlawan-pahlawan berikutnya.
"Se-Sepertinya kali ini aku tidak bisa ikut bersama kalian, kerjaanku bisa berantakan jika terus-terusan mengambil cuti, hehehehe! Mungkin, aku hanya akan mendoakan kalian saja agar kalian bisa pulang dengan selamat dan berhasil mendapatkan pahlawan baru." ucap Colin dengan tersenyum kaku dan muka yang berkeringat.
Mendengar hal itu, Jeddy terkejut. "Yah! Kenapa harus begitu, sih, Bro!? Padahal pergi bersamamu seru sekali! Soalnya aku bisa melihat ekspresi konyolmu saat sedang ketakutan! Hahahaha!"
Colin mendengus sebal mendengar perkataan Jeddy. Dan setelah Colin memakai seragam kedainya lagi, ia pun pamit untuk pulang pada Paul dan Jeddy. Sampai akhirnya tinggal Paul dan Jeddy saja yang ada di kamar, kini mereka berdua sedang merebahkan badannya di permukaan kasur sembari matanya memandang langit-langit kamar.
Tidak ada yang mau bersuara di antara dua lelaki itu, sampai akhirnya terdengarlah suara dengkuran. Paul menoleh ke samping dan ternyata Jeddy sudah tertidur pulas di kasurnya. Paul terus memandangi wajah Jeddy yang sedang mendengkur, dia pun mulai berpikir; mengejutkan, padahal tadi siang dia selalu tertawa terbahak-bahak dan selalu bersikap positif, tapi apa-apaan ini? Saat tidur, dia malah meneteskan air matanya. Apa dia sedang memimpikkan sesuatu sampai menangis begitu? Apa jangan-jangan dia merindukan kampung halamannya? Atau keluarganya? Mungkin besok aku akan berbicara padanya. Karena kurasa, dibanding dengan Colin, Jeddy malah terlihat lebih lemah di mataku.
Setelah memikirkan hal tersebut, secara tidak sadar, Paul tertidur di samping Jeddy. Dan ternyata bukan hanya Jeddy yang tidur sambil meneteskan air mata, bahkan Paul pun sama saja.
"Pauuuuuuul! Jeeeeeeeedyy! Banguuuuuuuun!"
Badan Paul dan Jeddy digoyang-goyangkan oleh Cherry yang sudah ada di dalam kamar. Mendengar ada suara seorang gadis di dalam kamarnya, Paul langsung membuka matanya lebar-lebar dan betapa kagetnya saat ada wajah Cherry di depan mukanya, dekat sekali sampai hidung mereka bersentuhan.
"Akhirnyaaaa! Paul sudah bangun! Selamat pagiiiii! Ini Cherry, loh! Cherry sengaja datang ke rumahmu pagi-pagi karena Cherry tahu laki-laki selalu bangun siang! Hihihi!" kata Cherry dengan riang, hidung mereka masih bersentuhan. "Tenang saja! Cherry tidak datang sendirian, kok! Ada Olivia di ruang tamu! Dia akan berangkat sekolah! Tapi dia mau mengantarkan Cherry ke rumah Paul! Baik sekali, ya! Dan tahu tidak? Semalam Cherry bersama Olivia--"
"MENJAUH DARIKU!" Paul langsung mendorong jauh-jauh muka Cherry hingga gadis itu terjungkal dari kasur ke lantai dengan posisi mukanya mencium permukaan ubin. "Sial! Kenapa kau bisa ada di dalam kamarku!? Bagaimana kalau Ibuku mengetahuinya! Aku bisa dima--"
"Tenang saja, Paul, Ibu ada di sini, kok." Dan munculah sesosok wanita dewasa yang sedang berdiri menyenderkan pundaknya di pintu sambil memakai celemek. "Tapi sungguh, Ibu tidak tahu kalau ternyata tipemu itu gadis mungil seperti Cherry, ya?"
Mendengar itu, Paul terkejut. Tidak salah lagi, itu adalah sebuah penghinaan yang paling menjijikan. Tipe? Gadis mungil? Mendengarnya saja membuat Paul ingin muntah. "KENAPA IBU MEMBIARKAN GADIS ANEH INI MASUK KE DALAM KAMARKU!?"
__ADS_1
"Eh? Mengapa kau jadi marah begitu pada Ibu? Itu salahmu sendiri karena tidak mengunci pintu kamarmu semalam! jadi dengan itu, kau sama saja mengizinkan siapa pun untuk masuk ke dalam kamarmu! Ibu benar, kan?" Setelah mengatakan itu, wanita itu langsung pergi begitu saja, membuat Paul yang melihatnya jengkel sekali.
"Aw! Sakit sekali! Kenapa kau malah menjatuhkan Cherry, sih!? Lihat, nih!" Cherry menunjukkan bibirnya yang membiru karena terhantam ubin. "Bibir Cherry sampai berubah warna begini! Kau harus bertanggung jawab, Paul! Padahal Cherry hanya ingin membangunkanmu saja agar kau tidak kesiangan, tapi bukannya berterima kasih! Kau malah menyakiti Cherry! Jahat sekali!"
"Bisakah kau pergi dari kamarku? Aku muak melihat wajahmu!" Dan Paul langsung turun dari kasurnya dan menarik Cherry keluar dari kamarnya. Setelah berhasil, ia langsung mengunci pintunya rapat-rapat. "Gadis brengsek! Dia bisanya cuma mengganggu saja!"
"Oi-oi-oi-oi, ada apa ini? Kedengarannya ribut sekali, Bro?" Jeddy telah bangun dari tidurnya dan ia beranjak dari posisi terbaringnya untuk duduk di sisi kasur. "Hahhhh... tapi kamarmu nyaman sekali, ya, Bro. Aku selalu mimpi indah saat tidur di sini."
"Tadi ada Cherry masuk ke kamarku dengan sembarangan! Sialan sekali! Dan kau bilang apa tadi? Mimpi indah saat tidur di kamarku? Omong kosong!"
Jeddy hanya tertawa mendengar respon Paul, setelah itu mereka pun bersiap-siap untuk mandi. Dan hanya dalam waktu singkat, akhirnya mereka berdua sudah tampak rapi dengan Paul yang memakai jaket hitam tebal berbulu lebat dan celana jins pendek, dan Jeddy memakai kaca mata hitam, topi hijau, baju pendek berwarna hijau tua, serta celana panjang berwarna hijau terang dengan pola ombak di tiap sisi-sisinya.
"Uwaaaah! Kalian jadi terlihat keren sekali! Cherry sampai terpesona melihatnya! Hihihihi!" Cherry memekik-mekik saat melihat kedatangan Paul dan Jeddy dengan penampilan yang berbeda. Cherry sampai melompat-lompat di ruang tamu.
"Tadi kau bilang, kau datang kemari bersama Olivia? Lalu mana orangnya?" tanya Paul dengan tegas pada Cherry, karena dia pikir bakal ada Olivia sedang duduk di kursi tamu, tapi ternyata tidak ada.
Cherry mengembungkan pipinya. "Olivia sudah berangkat ke sekolah! Katanya sebentar lagi dia bakal terlambat, jadi Olivia cuma titip salam pada Cherry untuk kalian berdua! Hihihihi!"
"Yahhh, padahal aku ingin melihatnya lagi! Hahaha!" kata Jeddy dengan tawa yang renyah. Maksud dari 'ingin melihatnya lagi' adalah Jeddy ingin melihat payudara dan pantatnya Olivia yang sangat seksi.
"Oh, begitu? Tidak masalah!" kata Paul dengan menaikan sebelah alisnya. "Itu artinya, sekarang yang akan menemaniku pergi menemui pahlawan berikutnya adalah kalian berdua, benar?" tanya Paul mencoba meyakinkan Jeddy dan Cherry.
"Eh?" Cherry tampak keheranan. "Colin kemana!? Kenapa dia tidak ada di sini!?"
"Dia bekerja, jadi hari ini dia tidak bisa ikut." jawab Paul dengan singkat.
"EEEEEEH!? Padahal Cherry ingin mengejeknya lagi!" Wajah Cherry langsung kecewa mendengar penjelasan Paul. Tapi sedetik kemudian, wajah Cherry kembali riang. "Tapi tidak apa-apa! Masih ada Paul dan Jeddy bersama Cherry! Jadi Cherry bisa mengejek kalian! Hihihihi!"
"Hahahah! Jangan mengejekku ya, Cherry!" Jeddy mengusap-usap rambut Cherry dengan lembut. Kemudian, Paul langsung mengatakan sesuatu yang membuat mereka berdua terdiam.
"Aku tidak tahu kita akan pergi ke kota mana untuk menemukan pahlawan berikutnya, kita tunggu Si Roswel menghubungiku, tapi sebelum itu, aku ingin tanya pada kalian," kata Paul dengan nada yang rendah dengan mata yang melirik Jeddy dan Cherry. "Apa kalian siap mempertaruhkan nyawa kalian saat pergi bersamaku?"
Mendengar itu, Jeddy dan Cherry langsung menyunggingkan senyuman tipisnya masing-masing.
__ADS_1