Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 50 : Ditertawakan


__ADS_3

Paul tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat siapa sosok yang bertamu di rumah Abbas, bayangkan saja, setelah kalian membuka pintu, berdirilah sesosok kakek tua yang ditemani barisan dari pasukan berjubah putih, siapa pun pasti akan kaget melihatnya. Apalagi, si kakek dengan lancangnya mengatakan bahwa ia hendak memurnikan si pemilik rumah, bukankah itu menyebalkan sekali? Memangnya apa yang akan ia murnikan? Lagipula, apa arti dari 'memurnikan' yang ia katakan? Masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang dapat diartikan dari istilah itu, tapi yang jelas, pasti bukan sesuatu yang baik.



Karena tak tahan dengan omongan si kakek yang seakan-akan meremehkan mereka, Paul pun mulai memberanikan diri untuk bersuara, tidak peduli kalau lawannya kali ini bukan hanya sepuluh-dua puluh orang, melainkan hampir mendekati seratus orang.



"Bajingan-bajingan seperti kalian, dilarang keras memasuki rumah ini! Jadi lebih baik kalian," seru Paul dengan mata melotot dan nada yang penuh penekanan. "Enyahlah dari sini!"



Saat Paul bilang demikian, sontak para jubah putih yang berbaris rapi di belakang si kakek, mengangkat dua tangannya masing-masing, seperti hendak melemparkan batu-batu yang biasa mereka lakukan untuk menghabisi musuh. Melihat hal itu, Paul jadi agak berkeringat dingin, hampir ketakutan, dan dia sadar kalau kata-katanya telah memancing amarah para jubah putih, tapi Paul tetap bertingkah berani, dengan memasang muka bringasnya seperti biasa, agar rasa takutnya bisa disembunyikan.



"Tenanglah, Anak-Anak," Si kakek mengayunkan tangan kirinya, memberi isyarat pada rombongannya untuk tidak melakukan hal-hal yang belum diperintahkan. "Kalian tidak boleh melukai mereka, kita di sini bukan untuk membunuh manusia, kita datang kemari untuk memurnikan roh jahat yang ada di diri mereka," kata Si kakek dengan nada yang lembut, tampak seperti sedang menenangkan cucu-cucunya yang nakal. "Jadi, turunkan tangan-tangan kalian, Anak-Anak."



Mendengar itu, gerombolan jubah putih yang tadinya akan menyerang Paul, secara serentak, mengurungkan niatnya dengan menurunkan dua tangannya masing-masing ke posisi semula, bergantung di dekat pinggul.



"Sekarang, kalian mengerti, kan?" bisik Sang Kakek pada Paul dan Abbas yang berdiri di hadapannya, seolah-olah mengisyaratkan bahwa mereka harus berhati-hati padanya, karena setiap keputusan yang mereka ambil, bisa menimbulkan penyerangan brutal dari gerombolan jubah putih. Paul dan Abbas harus menjaga sikap saat berbicara dengan Si Kakek, atau mereka bisa mati konyol di sini. "Bagus jika kalian sudah mengerti," Sang Kakek tersenyum tipis memandang muka Paul dan Abbas yang jadi terlihat kaku. "Tapi, rasanya aku mencium aroma dua roh lain yang ada di dalam gubuk ini, apakah itu teman kalian?"



Paul dan Abbas tercekat mendengarnya, sekilas mereka saling melirik satu sama lain, mencemaskan kondisi Colin dan Nico yang masih ada di dalam, sampai akhirnya, Paul hanya menunjukkan muka datarnya dengan menghela napas. Suara hujan masih bergemericik di sekitar mereka, begitu deras, disertai dengan deruan angin ribut yang membuat pepohonan di sekitar gubuk tergoyang-goyang.



"Untuk apa kau menanyakan itu?" Paul mengeluarkan suaranya dengan nada yang sedikit menggeram. Tangan Paul terkepal kuat, dia sudah bersiap-siap untuk melakukan sesuatu, agar jika para jubah putih menyerangnya, ia bisa melindungi dirinya sendiri.



"Tapi tidak apa-apa," kata Si Kakek dengan mata yang menyipit, tersenyum lebar, dan Paul tahu itu hanyalah senyuman palsu. "Lagipula, mau mereka teman atau pun musuh kalian, itu bukan urusanku," kata Si Kakek dengan terkekeh-kekeh. "Karena urusanku di sini cuman untuk melenyapkan roh-roh jahat yang ada di tubuh mereka, termasuk dirimu," Si Kakek menunjuk ke muka Abbas dengan telunjuknya yang keriput. "Walau begitu, kau juga akan kami murnikan," Kini pandangan si Kakek dialihkan pada Paul. "Karena kau telah melakukan perbuatan dosa yang sangat besar, yaitu membunuh Liona, salah satu dari para ahli surgawi seperti kami."



"Surgawi?" Alis Abbas bertaut, terheran-heran dengan perkataan si kakek yang menyebut-nyebut istilah surgawi. Menurut Abbas, tidak ada manusia yang benar-benar tahu akan ditempatkan di mana mereka setelah fase kematian, entah di Surga atau pun di Neraka. Tidak ada yang tahu dengan hal tersebut, karena itu adalah sesuatu yang tidak akan para manusia tahu kebenarannya. Tapi, mengapa orang-orang berjubah putih itu begitu percaya diri sampai menganggap bahwa mereka bakal menjadi kaum ahli surga? Abbas tidak paham pada pemikiran mereka. Tapi yang jelas, Abbas tahu bahwa mereka adalah orang-orang jahat.


__ADS_1


"Ada apa, Anak Muda?" Sang Kakek penasaran dengan muka Abbas yang mendadak keheranan pada perkataannya. "Apa kau tidak tahu dengan yang namanya surgawi?"



"Tidak," kata Abbas dengan nada yang pelan. "Bukan itu."



"Lalu?"



Saat Abbas akan menjawab pertanyaan si kakek, tiba-tiba Colin muncul di samping Paul bersama dengan Nico. Napas mereka berdua terdengar tersengal-sengal. "Astaga!" Colin terkejut setelah melihat pemandangan yang ada di luar pintu. "M-Mengapa ada banyak sekali orang-orang aneh di depan rumahmu, Abbas!? Dan siapa Kakek berwajah menyeramkan ini!?"



Si Kakek berjenggot putih cukup tersentak saat dirinya disinggung oleh seorang pemuda berambut biru yang baru saja menampakkan diri dari dalam gubuk. "Maaf kalau wajahku membuatmu takut, Anak Muda," timpal sang Kakek pada Colin dengan senyuman ramahnya yang begitu terpaksa. "Tapi kau tidak boleh mengucapkan ejekan itu lagi padaku, karena aku tidak akan bertanggung jawab jika mereka," Si Kakek berjenggot itu menunjuk ke rombongan yang berdiri di belakangnya. "Melukaimu."



"M-Melukaiku!?" Colin terkejut mendengarnya, ia tidak percaya seorang lansia yang punya kulit keriput, mengancamnya dengan kata-kata yang mematikkan. "Paul! Abbas!" Kepala Colin langsung ditolehkan ke sosok dua temannya yang sedang berdiri di sampingnya. "Sebenarnya siapa Kakek-kakek ini!?" Colin tampak kebingungan dengan situasi ini. "Apakah dia Kakekmu, Abbas!?"




Nico mendengus saat mendengar percakapan itu, dan dengan pandangan menusuk dan nada yang angkuh, ia berkata pada Si Kakek, "Aku tidak mengerti mengapa orang-orang aneh seperti kalian tiba-tiba muncul di hadapan kami, tapi dari penampilan kalian, aku yakin sekali kalau kalian adalah Para Jubah Putih yang pernah Paul ceritakan padaku," Nico tersenyum miring, dengan mata yang menatap tajam ke mata Si Kakek. "Aku senang sekali, karena akhirnya, aku bisa mendapatkan giliran untuk berhadapan langsung dengan kalian," Kemudian, Nico melipat tangannya dengan angkuh. "Tapi aku cukup kecewa, sebab kupikir Para Jubah Putih akan menjadi lawan yang keren, tapi ternyata, kalian cuma sekumpulan kakek-kakek yang sudah mau mati. Mengecewakan sekali."



"Ah, ahahahaha!" Sontak, Si Kakek berjenggot putih langsung memecahkan tawanya yang begitu renyah setelah terkaget dengan omongan Nico. Tawanya jadi menular ke Para Jubah Putih yang lain, sampai akhirnya, mereka semua, yang berjumlah antara delapan puluh hingga seratus orang, menertawakan perkataan Nico.



Nico hanya memasang wajah datar melihat dirinya ditertawakan dengan begitu ramai oleh orang-orang berjubah putih, ia menunjukkan ekspresi ketidakpeduliannya. Bagi Nico, mau dirinya ditertawakan oleh semua orang di seluruh dunia pun, dia tidak akan merasa malu ataupun takut dengan itu. Karena menurut Nico, apa yang ia katakan barusan, sama sekali tidak ada yang salah, dan tentu saja, tidak lucu.



Paul, Colin, dan Abbas memandang ke arah Nico, mereka penasaran pada reaksi si lelaki berambut putih itu setelah dirinya ditertawakan oleh banyak orang. Paul tahu, Nico bukan orang yang mudah terpengaruh dengan gangguan dari luar, jadi, walaupun orang-orang menertawakannya, menangisinya, mencakarinya, atau bahkan berusaha membunuhnya, Nico tidak akan menunjukkan ketakutannya. Malah sebaliknya, menurut Paul, Nico bakal jadi lebih kurang ajar dari sebelumnya jika dirinya diremehkan oleh orang lain. Karena itulah, Paul penasaran pada respon bocah bermulut pedas itu setelah dirinya ditertawakan oleh Para Jubah Putih.



Colin pun demikian, dia tahu persis bahwa Nico bukan orang yang mudah menyerah saat dirinya direndahkan oleh orang lain. Mungkin fisik Nico terlihat lemah dan mudah dilukai, tapi, menurut Colin, jiwa Nico sangat kuat dan kokoh, seperti dinding raksasa yang tidak bisa dilewati, ditembus, ataupun dihancurkan. Dan jujur saja, Colin pun menyimpan rasa kagum dan hormat yang teramat besar pada Nico, karena dia adalah satu-satunya sosok yang punya pemikiran lebih maju dari orang lain, terutama pada sikap Nico yang ramah pada dirinya, ketika Paul, Jeddy, dan Cherry selalu mengejeknya dengan sebutan 'pecundang'. Karena itulah, Colin benar-benar ingin tahu apa yang akan Nico lakukan saat orang itu berada di situasi di mana orang-orang, menertawakan ucapan pedasnya.

__ADS_1



Abbas memang belum terlalu mengenal Nico, karena hari ini adalah hari pertama mereka bertemu. Tapi, walaupun begitu, setelah mengamati tingkah Nico saat berbicara, Abbas percaya, kalau lelaki berkaca mata itu punya kecerdasan di atas orang normal, dan Abbas yakin, lelaki jenius seperti Nico tidak akan mudah goyah hanya karena ditertawakan oleh orang lain.



Setelah menghabiskan beberapa menit, akhirnya tawa dari orang-orang berjubah putih reda, sepertinya mereka sudah kenyang menertawakan Nico.



"Sungguh," Si Kakek menghapus air mata yang keluar dari matanya setelah banyak tertawa. "Kata-katamu sangat luar biasa sekali, Anak Muda. Tapi," Sang Kakek menatap lekat-lekat ke muka Nico. "Kami lumayan tersinggung dengan ucapanmu, loh." Tiba-tiba Si Kakek berdehem dengan keras, seolah-olah memberikan suatu tanda pada para jubah putih yang lain.



Ternyata benar, gerombolan jubah putih yang ada di belakang sang kakek, mulai mengangkat dua tangannya ke arah Nico.



"Pertama-tama, kita murnikkan dulu, Anak Muda berkaca mata ini," kata Sang Kakek dengan menyeringai pada Nico. Kemudian, bola matanya mulai bergeser ke arah Paul, Colin, dan Abbas. "Setelah itu, kita murnikkan mereka bertiga."



"Jangan coba-coba," Paul berseru dengan mata yang melotot pada si Kakek. "Cari masalah dengan kami! Brengsek!"



"P-P-Paul! J-Jangan bilang begitu!" Colin gelisah. "K-Kita bisa dibunuh!"



Abbas hanya mengernyitkan alisnya dengan heran, tapi, sebetulnya, dia sedang bersiap-siap untuk bertarung melawan Para Jubah Putih, jika itu diperlukan. Karena walaupun kelihatan pendiam, tapi Abbas punya otot yang cukup kuat, dia mampu menumbangkan setidaknya tiga puluh manusia dengan badan kekarnya.



Sementara Nico, malah sedang menampilkan wajah ketidakpeduliannya, seolah-olah ia tidak peduli pada apa yang akan para jubah putih lakukan padanya.



"Kalian mau membunuhku?" ucap Nico dengan santai. "Boleh saja," Nico langsung maju selangkah dari posisinya, membuat Paul, Colin, dan Abbas terkejut melihatnya. "Kalian suka bermain-main dengan batu-batu besar, kan? Kalau begitu, silakan," Nico mulai menyeringai kecil. "Ayo, bunuh aku."



__ADS_1



__ADS_2