Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 92 : Tersedak


__ADS_3

"Uhuk!" Elena terbatuk saat kelopak matanya dibuka. Saat sudah terbuka dengan lebar, Elena bisa melihat bahwa ada dua orang yang familiar di dalam kamarnya, sedang duduk di sisi-sisi ranjang, mengawasi dirinya yang tengah terbaring di ranjang. Elena tersenyum saat tahu kalau dua orang yang kehadirannya sempat buram, adalah Koko dan Paul. Mereka tampak seperti sedang menunggu Elena bangun dari tidurnya. Dan dugaan itu benar, Paul dan Koko terlihat gembira melihat Elena yang terbangun. "Paul?" Elena menggeserkan pantatnya ke tepian tembok dan membangkitkan dirinya untuk duduk di ranjang sembari menyandarkan punggung di tembok kamarnya. "Kau sudah pulang, ya? Lalu, di mana Cherry dan Naomi? Apa mereka pulang bersamamu?"


"Jangan katakan apa pun!" sergah Paul dengan muka yang serius. "Jangan katakan apa pun, Bu!"


"Eh?" Elena bingung saat mendengar omongan Paul yang cukup aneh. "Mengapa begitu?"


"Dari pada Ibu nyerocos tidak jelas! Lebih baik," Paul mengambil semangkuk bubur yang sudah tersedia di nakas dekat ranjang--itu adalah bubur buatan Koko yang merupakan makanan pertama yang ia buat dalam hidupnya, disertai dengan cara otodidak--dan Elena menerimanya dengan perlahan. "Makan ini!" kata Paul, melanjutkan kata-katanya. "Bubur ini masih hangat dan rasanya mungkin enak! Jadi cepatlah makan, Bu!"


Elena memegang mangkuk hangat berisi bubur yang masih panas, ia pun tersenyum seraya menatap muka Paul dan Koko. "Kalian perhatian sekali. Aku senang." Elena pun menyentuh sendok yang tersedia di atas bubur, dan ia pun mulai menggerakan sendok itu untuk mengambil segunduk bubur untuk dimasukkan ke dalam mulut. "Rasanya lumayan, siapa yang membuatnya?"


Koko, dengan malu-malu, mengacungkan lengan kanannya. "Itu... aku yang membuatnya. Aku senang kalau rasanya enak. Padahal... itu masih dalam tahap percobaan."


"Tahap percobaan?" Elena tersenyum mendengarnya. "Apa maksudnya itu?"


"Selama ini... aku belum pernah memasak apa pun, jadi, aku masih sangat asing dengan dunia dapur. Tapi... melihat Tante Elena sakit, aku tidak bisa berdiam diri saja. Hanya dengan air kompresan, menurutku... itu masih belum cukup. Jadi, aku mencoba memikirkan makanan yang biasa dimakan oleh orang yang sedang sakit. Dan... aku mengingat tentang bubur," Koko berhenti sejenak. "Tapi... aku tidak tahu bagaimana cara membuat bubur. Jadi... aku terpaksa melakukan percobaan untuk membuat bubur. Aku menuangkan ini, memasukan itu, mengaduk ini, mencairkan itu, hingga akhirnya, terciptalah bubur pertama buatanku. Dan sebetulnya... aku masih khawatir, aku takut buburnya tidak enak dan membuat demam Tante jadi tambah parah. Tapi setelah mendengar Tante Elena bilang rasa buburnya lumayan, aku jadi... sangat bahagia."

__ADS_1


Koko menampilkan senyuman tipisnya yang begitu hangat pada Elena dan Paul, menunjukkan kalau dirinya saat ini benar-benar senang.


"Baik hati sekali kamu ini, Koko," Elena menelan bubur panas itu ke dalam kerongkongannya dengan tersenyum pada Koko. "Aku benar-benar berterima kasih padamu. Terima kasih banyak."


Koko mengangkat dua alisnya dengan kaget. "E-Eh? T-Tidak usah berterima kasih. Aku masih... belum pantas untuk mendapatkan rasa terima kasih dari orang lain. Karena usahaku... tidak sebanding dengan usaha orang lain. Aku tidak ada apa-apanya."


"Tidak, kau salah," ucap Elena dengan suara yang begitu halus dan menenangkan. "Kau sangat pantas mendapatkan terima kasih dariku, karena usaha kerasmu dalam menyembuhkanku, sangat luar biasa," Elena mendadak berbisik pada Koko dari tempatnya. "Bahkan Paul pun tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu." Walau suara bisikannya terdengar jelas oleh Paul.


"Aku bisa mendengarnya!" Paul menggebrak permukaan kasur dengan kesal, Elena terkikik-kikik melihat reaksi anaknya, dan Koko hanya menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman bahagia yang terukir di wajahnya, dengan membiarkan helaian-helaian ungunya berjatuhan di atas ranjang.


"Hah?" Paul mengikuti arah pandang Elena dan menemukan sebungkus plastik yang tersimpan di atas nakas. "Itu bukan milikku!"


"Itu...," Koko bersuara saat kepalanya sudah ditegakkan lagi. "... milik Jeddy."


"Jeddy?" Elena mengernyitkan alisnya, kebingungan. "Sejak kapan?"

__ADS_1


"Kurasa... sejak Tante Elena masih terlelap," kata Koko, menjelaskan apa yang ia ingat pada Elena dan juga Paul. "Soalnya... saat Jeddy baru pulang, dia langsung masuk kemari karena mencium aroma dari tanaman herbal yang kumasukkan ke dalam air kompresan. Dia masuk dengan tangan membawa plastik itu. Dan saat Jeddy bilang kalau dirinya lapar, dia meletakkan plastiknya ke nakas ini, lalu pergi ke dapur. Begitulah."


"Dasar," Elena menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalau begitu, kembalikan saja pada Jeddy. Bisa saja di dalamnya adalah barang berharga."


"Baik, Tante." Koko pun mengangguk dan bangkit dari sisi ranjang, lalu ia pungut plastik yang tergolek di atas nakas dan bilang permisi sejenak pada Elena dan Paul untuk keluar.


Setelah Koko pergi keluar untuk mengantarkan barang yang terbungkus plastik putih kepada Jeddy, penghuni ruang kamar itu hanya menyisakkan Paul dan Elena. Seorang ibu dan seorang anak yang tampak saling menyayangi satu sama lain, walau terkadang perasaan itu tidak diperlihatkan dengan gamblang oleh mereka.


"Tadi pagi, kau pergi ke mana, Paul?" tanya Tante Elena, memecahkan kesunyian yang sempat tercipta di kamar tersebut. "Belakangan ini, kau jadi sering membawa orang baru ke rumah. Sebenarnya, Ibu senang melihat dirimu yang sebelumnya selalu sendirian, bisa berkawan dengan orang seusiamu. Tapi," Muka Elena jadi tampak serius dari sebelumnya. "Dari hari ke hari, jumlah mereka terus bertambah dan bertambah. Sejujurnya itu tidak masalah, selama mereka menginap untuk satu atau dua hari, tapi yang jadi masalahnya, sampai hari ini, tidak ada satu pun temanmu yang pulang ke rumahnya. Maaf Paul, bukannya Ibu menolak keberadaan mereka, hanya saja, kau tahu," Raut wajah Elena jadi tampak murung. "Persediaan bahan makanan di rumah jadi makin menipis, dan jika itu sampai habis, maka mau pakai apa untuk memberi makan teman-temanmu itu?"


Sontak, Paul terperanjat mendengar omongan ibunya yang cukup mengejutkan. Kata-kata Elena berhasil menampar Paul, menyadarkan anak itu tentang kondisi rumahnya yang tidak sempurna. Akhirnya, Paul jadi murung.


"A-Aku," Bahkan Paul jadi tampak gugup. "Aku baru pulang dari Kota Luna, dan seperti tebakan Ibu, lagi-lagi, aku membawa orang baru ke rumah, dan kali ini seorang perempuan," Mendengar itu, Elena menghela napas dengan memijit keningnya. "Aku minta maaf, Bu," kata Paul dengan mata yang melirik ke arah lain, tidak berani memandang wajah ibunya. "Karena telah seenaknya membawa orang baru ke rumah dan membuat beban di pundak Ibu bertambah. Aku tidak menyadarinya. Brengsek sekali aku ini," Paul meringis kesal. "Tapi!" Seketika Paul mulai berani memandang wajah ibunya. "Kali ini berbeda! Aku sudah berdiskusi dengan sebagian dari mereka! Dan kami sepakat! Bahwa kami akan menyewa sebuah hotel untuk dijadikan sebagai tempat tinggal sementara!"


Dalam seketika, setelah mendengar perkataan Paul, Elena tiba-tiba tersedak bubur yang barusan ditelannya.

__ADS_1


__ADS_2