Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 125 : Sebuah Janji


__ADS_3

Mentari bersinar terang, naik tepat ke atas ubun-ubun kepala manusia, yang menandakan waktu sudah tengah hari.  Suara desiran ombak yang berkeluk-keluk menabrak batu karang serta menyapu tepian pantai, Burung-burung laut yang beterbangan di cakrawala melintasi lautan luas, mercusuar yang berdiri kokoh di atas tebing, kapal-kapal besar yang bergerak di permukaan laut, para nelayan yang bergerombol menaiki perahu-perahu kecil, dan keramaian penduduk yang berlalu-lalang di pusat kota, turut menghiasi keindahan Kota Barasta.


Banyak hal yang Paul dapatkan di sini, dan itu akan menjadi pengalaman yang berharga.


“Hah... melelahkan,” Kini, Paul bersama Isabella, Abbas, Lizzie, dan Rara sedang duduk berjejer di atas dermaga, memandangi lautan biru yang membentang luas di depan mereka. “Aku tidak sangka kalian bisa dipenjara begitu, seharusnya kalian memberontak pada polisi-polisi keparat itu! Mereka itu cuma manusia-manusia bodoh yang hanya melakukan tugas tanpa mengerti pada situasi yang sebenarnya! Aku benci para polisi!”


Lizzie dan Rara hanya saling pandang, kemudian gadis tomboi itu membalas perkataan Paul. “Aku juga muak pada para polisi itu! Tapi aku lebih muak pada keluarga Rara yang telah memanggil mereka! Bayangkan saja! Mereka sudah ada di sekitar rumahku, mengepung segala titik, di saat aku baru saja terbangun dari tidurku! Itu menjijikan sekali!”


“Dan itu juga,” Rara ikut berbicara. “Membuat kami panik dan terpaksa meninggalkan 20 tasku yang sangat berharga di rumah Lizzie.”


“Tapi sudahlah!” Paul mencoba melupakan semua hal buruk yang telah terjadi di Barasta. “Yang penting kalian sudah bebas dan bisa menghirup udara segar bersama kami! Bukankah itu lebih dari cukup?” Paul mengangkat dagunya, tampak berlagak sombong. “Berterima kasihlah pada kami! Bodoh!”


Jujur saja, Lizzie sebetulnya masih membenci Paul, dia ingin menghajar wajah lelaki itu sampai babak belur, tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan itu di depan Rara. Sahabat mungilnya ini malah akrab dan menganggap tiga orang yang duduk di sampingnya ini sebagai sahabat barunya. Lizzie jadi tidak bisa menunjukkan kebenciannya seperti sebelumnya.


“Ya ya ya, terima kasih banyak!” ucap Lizzie dengan mendengus sebal.


“Ngomong-ngomong,” Isabella tersenyum, matanya fokus pada lengan kanan Lizzie yang diikat dan dihimpit dengan kayu. “Apa yang telah terjadi sehingga lengan kananmu patah begitu? Apakah kau terlalu bersemangat saat melakukan masturbasi sampai tulangmu patah?” Isabella terkikik sendiri. “Ya ampun, pasti menyenangkan sekali, ya?”


“Ini semua karena dia!” Lizzie langsung menunjuk Paul dengan tangan kirinya. “Dia mematahkan tulangku saat aku sedang sibuk membantai keluarga Rara!”


“Oh? Benarkah?” Isabella pura-pura terkejut, kemudian pandangannya bergeser ke sosok Paul yang duduk di sebelahnya. “Astaga Paul, kau ini nakal sekali, ya?”


“DIAM!” Kejengkelan Paul jadi muncul kembali saat mendengar ucapan Isabella. “Aku melakukan itu karena dia terlalu keji saat menyiksa orang lain! Aku tidak bisa membiarkannya! Aku lebih suka menyerang seseorang sekali mati! Bukan menyerangnya berkali-kali dan ternyata orangnya belum mati! Itu terlalu gila!”


Refleks, Isabella terbahak-bahak mendengar omongan itu. “Ya ampun, aku tidak menyangka kalau kau ini ternyata...,” Isabella mendekatkan bibirnya ke kuping Paul dengan hembusan napas yang menggoda. “...punya hati selembut sutra.”


“Menjauhlah dariku! Brengsek!” Mendapat perlakuan sensual, Paul langsung mendorong secara kasar kepala Isabella agar jauh-jauh darinya.

__ADS_1


Lizzie tampak tidak peduli, sedangkan Rara tertawa renyah menonton tingkah Isabella dan Paul yang konyol. Kemudian, bola mata Lizzie bergeser pada kehadiran Abbas yang sedari tadi hanya diam dan tersenyum di sini.


“Baru kali ini ada orang yang bisa dihidupkan kembali saat racun mematikanku sudah membuatnya tewas secara total, padahal aku yakin, kau tidak akan bisa diselamatkan bahkan oleh penawar racunku sekali pun. Karena sebetulnya, penawar racunku masih dalam tahap pengembangan,” Lizzie terkekeh angkuh sambil matanya memandangi Abbas. “Beruntung sekali dirimu, ya. Bisa hidup lagi setelah berada di ambang kematian.”


Paul, Isabella, dan Rara terdiam, mereka tampaknya ingin mendengar langsung reaksi Abbas terhadap ucapan Lizzie yang terkesan mengejeknya.


Abbas menatap lekat-lekat muka Lizzie dengan sorotan mata yang sangat tenang. “Tidak apa-apa,” jawab Abbas dengan suara beratnya yang begitu halus. “Itu artinya, aku belum boleh mati. Aku masih punya tugas sebagai seorang pahlawan di dunia ini, jadi,” Abbas menyunggingkan senyuman tipisnya pada Lizzie. “Aku harus tetap hidup.”


Terkesan dengan perkataan Abbas, Lizzie sampai terbisu dalam sesaat, dia tidak menyangka kalau lelaki kekar itu punya pemikiran yang sangat mengagumkan. Bukan hanya Lizzie, wajah Rara pun sampai melongo mendengarnya.


“Kau ini lelaki yang tidak banyak bicara, tapi sekalinya bicara...,” Rara meneguk ludahnya, terpesona pada sosok Abbas. “...kau mampu menaklukan banyak jiwa!”


Abbas hanya tersenyum dan tersenyum, tidak menanggapi ucapan Rara. Sementara Rara makin terpukau dengan senyuman-senyuman itu, sepertinya gadis mungil itu mulai jatuh hati pada sosok lelaki pendiam seperti Abbas.


Paul terheran-heran pada tingkah Rara, sementara Isabella terkikik-kikik memperhatikan itu. “Baiklah,” ucap Isabella dengan suara lembutnya, ia bangun dari posisi duduknya, dan saat dirinya berdiri, angin menerpa wajahnya, membuat rambut merahnya yang panjang terayun-ayun mengikuti hembusan angin. “Karena Lizzie sudah bersedia menjadi pahlawan, bagaimana kalau kita langsung saja pulang? Aku sudah rindu sekali pada yang lainnya,” Isabella mendelik ke arah Paul yang masih terduduk santai. “Kau juga pasti rindu, kan, Paul?”


“Aku juga,” Abbas beranjak bangun, berdiri bersama Paul dan Isabella. “Sangat rindu pada mereka.”


Lizzie dan Rara, yang tidak begitu paham pada omongan tiga orang itu, yang mendadak berdiri secara bergiliran, membuat mereka jadi seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa.


“Rindu?” Lizzie menaikan sebelah alisnya, tampak heran pada omongan-omongan tersebut. “Sebenarnya kalian rindu pada siapa?”


“Tenang saja,” balas Paul dengan menyunggingkan seringaian kecil di bibirnya. “Sebentar lagi kau juga akan menemui mereka.”


“MENEMUI SIAPA!?” Entah kenapa, Lizzie jadi kesal. “Aku curiga, jangan-jangan kau mau mempertemukanku dengan orang-orang aneh lainnya seperti kalian!?” Lizzie menggertakkan giginya, lalu bangun dengan gesit, dan memandang tajam pada muka Paul. “Cepat katakan padaku! Siapa ‘mereka’ yang kau maksudkan itu?”


Belum sempat Lizzie mendengar jawaban Paul, tiba-tiba saja muncul suara gemuruh dari suatu mesin yang terbang di atas langit. Suaranya semakin dekat dan dekat, hingga akhirnya Lizzie dan Rara mendongakkan kepalanya, dan mereka terbelalak saat melihat ada sebuah helikopter besar akan mendarat di tepian pantai, tepat di depan mereka.

__ADS_1


“H-HELIKOPTER!” Rara kegirangan saat melihat sebuah helikopter turun di depan matanya, itu benar-benar menakjubkan. “I-ITU HELIKOPTER!”


“Besar sekali,” Lizzie sampai dibuat terpaku. “Aku baru pertama kali melihatnya secara langsung.”


Setelah helikopter itu mendarat sempurna, Isabella berjalan santai menghampiri benda itu, diikuti oleh Paul dan juga Abbas. “Ayo, kalian juga naiklah!” Seru Isabella dengan melambai-lambaikan tangannya pada Lizzie dan Rara yang masih diam di tempat.


“Tunggu, mengapa kami harus naik bersama kalian?” Lizzie tidak mengerti mengapa dirinya dan Rara dipinta untuk naik ke dalam helikopter tersebut.


“Lizzie,” Rara menyentuh lengan kiri Lizzie dengan lembut. “Kau ini sudah direkrut oleh mereka untuk menjadi seorang pahlawan, jadi kau harus ikut bersama mereka.”


“Itu artinya, kau juga harus ikut bersamaku, benar, kan?” Lizzie tersenyum pada Rara. “Kalau begitu, ayo kita pergi!”


Mendadak, saat Lizzie menarik lengan Rara, gadis mungil itu tidak bergerak. “Tidak,” Rara menggelengkan kepalanya, membuat Lizzie kaget. “Aku di sini saja, kau tidak perlu cemas, Lizzie! Meskipun aku tidak ikut bersamamu, aku akan terus menghubungimu! Jadi, kau harus aktifkan terus ponselmu, ya! Aku akan mendukungmu dari sini! Pokoknya saat kita bertemu lagi, kau harus sudah menjadi pahlawan hebat!”


Rasanya menyakitkan. Menyakitkan sekali. Saat mendengar sahabat yang paling kau sayangi, mengucapkan kata-kata perpisahan seperti itu. Bibir Lizzie langsung bergetar, matanya berkaca-kaca, tanpa ba-bi-bu lagi, gadis itu langsung memeluk Rara dengan sangat erat, bahkan kali ini lebih erat dari pelukan-pelukan sebelumnya.


“AKU MENYAYANGIMU! RARA!”


Rara tersenyum di pundak Lizzie. “Ayo Lizzie, mereka sedang menunggumu.”


“Tidak-tidak-tidak! Pokoknya kau harus ikut denganku!”


“Lizzie, aku marah loh!” Rara langsung melepas pelukan itu dan memandang wajah Lizzie dengan bibir yang cemberut. “Kau membuat mereka menunggu lama, loh!”


Dengan berat hati, akhirnya Lizzie memantapkan hatinya, meski perih, untuk pergi menuju helikopter itu, meninggalkan Rara di dermaga sendirian. Gadis mungil itu tersenyum lebar saat melihat Lizzie sudah masuk ke dalam helikopter, ia melambaikan-lambaikan tangannya.


Dan ketika helikopter itu mulai naik dan naik, melayang di langit, Lizzie langsung menyembulkan kepalanya di jendela dan berteriak sangat kencang, ke titik kecil jauh di bawah, yang merupakan keberadaan Rara.

__ADS_1


“AKU BERJANJI! AKU AKAN KEMBALI DAN MEMELUKMU LAGI, RARAAAAAAAAA!”


__ADS_2