Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 28 : Gempar


__ADS_3

Berbondong-bondong para wartawan menghampiri Paul dan Colin yang baru datang dari suatu tempat, beberapa wartawan gembira dengan kedatangan mereka, karena tidak sia-sia menunggu selama berjam-jam. Sambil berlarian ke arah Paul dan Colin, para wartawan langsung menyalakan alat perekam video, kamera digital, perekam suara, dan alat tulis untuk melaksanakan tugasnya. Sementara Colin malah ngeri melihat banyak wartawan mendatanginya, seakan-akan dia akan dikeroyok oleh orang-orang itu. Sungguh, padahal tadi pagi, Colin diperintahkan cuti kerja oleh atasan untuk menghindari para wartawan, tetapi sekarang, ia malah dipaksa oleh Paul untuk menghadapi para wartawan. Colin jadi pusing memikirkannya, apalagi beberapa dari para wartawan pasti akan menyiarkan momen ini ke layar televisi, dan wajah Paul dan dirinya pasti akan terpampang di seluruh kota.



"Bolehkah kami menanyakan beberapa hal pada Anda, Tuan-Tuan!"



"Mengenai video yang sempat viral di internet, yang isinya dua lelaki memukul batu-batu besar yang terlempar ke parkiran kedai, apakah dua lelaki itu adalah kalian?"



"Apakah video itu asli atau palsu? Tolong berikan kami keterangan, Tuan-Tuan!"



"Sebenarnya, siapa yang telah melempari batu-batu besar itu pada kalian? Apakah benar batu-batu itu jatuh dari langit?"



"Menurut info, salah satu dari Anda adalah pekerja di kedai itu, apakah itu benar?"



"Apa kedua tangan kalian tidak terluka saat memukul batu-batu besar itu? Bisa beri kami penjelasan?"



Beragam pertanyaan bermunculan dari para wartawan itu, dengan menyodorkan alat perekam suara dan ponsel pintar ke dekat mulut Paul dan Colin, tubuh mereka berdua pun dikelilingi oleh wartawan-wartawan tersebut, membuat Jeddy, Nico, dan Cherry tidak bisa mendekatinya, alhasil, mereka bertiga hanya berdiri diam, menunggu hal itu berakhir. Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, Paul menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan, membuat Colin yang ada di sampingnya tersentak. Colin bisa menebak, Paul akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dan itulah yang membuatnya jadi semakin takut, karena nada Paul saat berbicara terkesan kasar dan brutal, itu akan membuat banyak orang yang menyaksikan mereka di televisi atau internet, terkejut dan pasti bakal membenci tingkah temannya.



Makanya, sebelum mulut Paul benar-benar akan terbuka untuk menjawab, Colin buru-buru bersuara dengan lantang. "M-Maaf! Sebelum kami menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, bolehkah kami masuk sebentar ke rumah? Sebetulnya, kami baru saja kembali dari luar kota, jadi, kami terlalu lelah untuk menjawabnya. Bisa beri kami waktu? Mungkin kami akan beristirahat selama satu atau dua jam, b-bolehkah?"

__ADS_1



Para wartawan menampilkan ekspresi terkejutnya masing-masing, mereka tidak menyangka hasilnya akan seperti ini, padahal mereka sudah menunggu kedatangan dua narasumbernya itu berjam-jam, dan sekarang, mereka diperintahkan untuk menunggu lagi selama dua jam? Bukankah itu terlalu kejam. Apalagi langit sudah mulai gelap, dan beberapa rumah telah menyalakan lampu luarnya, mendandakan waktu sudah mendekati pukul enam sore. Tapi, belum sempat mereka akan menjawab perkataan Colin, Paul langsung bersuara dengan suara yang sangat menggelegar.



"Kalian hanya butuh jawaban, bukan!? Hah!? Baiklah! Akan kuberikan! Dengar ini!" Paul menyeringai, membuat para wartawan terpaku mendengarnya. "Zaman sudah berubah! Era kepahlawanan akan dimulai! Jadi jangan terkejut jika kalian menemukan hal-hal yang tidak masuk akal! Dan jika kalian menyiarkannya ke televisi! Itu bagus! Sekalian juga! Aku ingin berkata kepada semua orang di negara ini! HOOOY! KALIAN SEMUA! PARA BAJINGAN YANG SEDANG MENONTON INI! DENGARLAH! AKU PAUL! BERSAMA TEMANKU! COLIN! AKAN MEMBUAT NEGARA INI GEMPAR!--AH! BUKAN!--BUKAN HANYA KAMI BERDUA YANG AKAN MENGGEMPARKAN NEGARA INI! MEREKA JUGA AKAN TERLIBAT!" Tiba-tiba alat perekam video yang disorot ke muka Paul dan Colin langsung ditarik dan dibawa oleh Paul ke arah Cherry, Nico dan Jeddy yang sedang berdiri diam. Alhasil, karena alat perekam itu menyoroti muka mereka, Cherry kegirangan, dan langsung mendekati alat tersebut dan berkata,



"Uwaaah! Haloooo! Ini Cherry! Hihihi! Cherry harus berkata apa, ya? Hmmm... Oh! Seperti yang Paul katakan, Cherry bersama teman-teman akan menggemparkan negara ini! Bukan hanya itu, loh! Cherry juga sebagai pahlawan akan melindungi negara ini! Tapi tahu tidak? Paul itu bukan pahlawan! Paul hanya mentor yang tugasnya membimbing para pahlawan! Daaaan! Jumlah seluruh pahlawan ada sepuluh! Tapi Paul baru mendapatkan empat pahlawan yang meliputi aku! Jeddy! Colin! Dan Nico! Hihihi! Jadi Paul masih punya tugas untuk menemukan enam pahlawan lagi! Benar, kan? Cherry tidak salah hitung, kan? Hihihi!"



Lalu, alat perekam video itu dialihkan dengan kasar oleh Paul ke muka Jeddy. "Katakan sesuatu! Brengsek!" sergah Paul pada Jeddy. Mendengar hal itu, akhirnya Jeddy berusaha menunjukkan jati dirinya di hadapan alat tersebut. "Hahaha! Baik-baik-baik! Hmm.. Halo! Siapa pun yang menonton ini! Aku Jeddy! Aku salah satu manusia yang terpilih jadi pahlawan! Hahaha! Aku berasal dari Kota Groen! Jadi, untuk masyarakat Groen yang menonton! Ini aku! Hahaha! Aku berjanji akan mengharumkan nama kotaku dengan menjadi pahlawan! Dan, aku minta maaf atas kesalahan keluargaku! Aku senang kotaku telah kembali damai! Tunggu kepulanganku! Hahaha!"




"Aku tidak mengerti mengapa aku diharuskan untuk berbicara di depan alat ini, tapi baiklah, karena alat ini akan disiarkan ke televisi, dan akan ditonton oleh banyak orang di negara ini. Maka, aku akan mengeluarkan segala keluhanku mengenai negara bobrok ini," Nico terdiam. "Untuk dirimu! Yang menjabat sebagai pemimpin negara, wali kota, dan semacamnya. Aku sebagai anak muda yang berasal dari Vineas, memerintahkan kalian untuk mengundurkan diri dari jabatan kalian.



Kau tanya alasannya? Tentu saja karena kalian tidak becus mengatur, mengelola, dan memimpin sebuah negara. Dan untuk dirimu! Yang bekerja sebagai penulis dari buku-buku apa pun itu. Teruslah berjuang, aku sebagai salah satu pemuda yang kutu buku, menghargai karya-karya kalian. Aku tunggu buku-buku kalian di toko-toko buku. Dan terakhir, untuk kalian, keluargaku yang telah membuangku, ini aku, Nico, akan menampar kalian dengan kerja kerasku sebagai pahlawan, walau aku sendiri kurang suka dengan sebutan pahlawan, tapi aku tidak peduli. Intinya, aku akan membuat kalian menyesal karena telah membuangku. Terima kasih."



Setelah Nico selesai mengutarakan keluhannya, kemudian Paul membawa alat itu, ke muka Colin yang kini sedang memucat. "Sekarang! Giliranmu! Cepat bodoh!" Para wartawan tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Paul, hingga mereka mematung sembari menyaksikannya, membiarkan bocah itu melakukan aksinya. Dengan gugup, Colin mulai berani untuk menjadi pusat perhatian, dan ia pun berkata,



"Emmm... Aku Colin, salah satu sosok yang kalian lihat di video viral itu. Sebelumnya, aku ingin meminta maaf atas semua yang dikatakan oleh Paul, Cherry, Jeddy, dan Nico, maafkan mereka! Mereka memang orang-orang yang cukup aneh, tapi walau begitu, mereka adalah temanku. Jadi, aku hanya ingin menjelaskan mengenai video yang sempat viral tersebut. Jika kalian bertanya apakah video itu nyata atau rekayasa, itu nyata. Saat itu, aku bersama Paul memang dihujani oleh batu-batu yang besar dari entah langit atau atap gedung. Jujur aku tidak mengingatnya. Tapi, mengenai siapa yang melempar batu-batu itu, aku dan Paul pun tidak mengetahuinya.

__ADS_1



Kami juga penasaran dengan itu, tapi kami sudah melupakannya. Jadi aku mohon, siapa pun yang telah mengunggah video itu di internet, tolong hapus. Agar tidak terjadi kehebohan lagi. Lalu, mengenai kata-kata 'pahlawan' yang dikatakan teman-temanku, itu tidak benar, kami hanya bermain-main saja sebagai pahlawan, jadi jangan dianggap serius. Kalau begitu, aku mohon pamit." Setelah mengatakan itu, Colin dengan gesit menekan salah satu tombol di tubuh alat perekam video itu, yang membuat alatnya mati. Membuat Paul yang memegangnya, langsung dilemparkan kembali ke wartawan yang memilikinya.



"Sudah puas?" ucap Paul di depan para wartawan. "Jika belum, dengan senang hati aku akan menghajar muka kalian!" Mendengar perkataan Paul, para wartawan langsung berlarian memasuki mobilnya masing-masing dan pergi dari gerbang rumah Paul.



Menyaksikan kepergian para wartawan itu, Jeddy bersuara, "Sepertinya sebentar lagi, wajah kita akan dikenal oleh semua orang di negara ini, Bro!" Jeddy tertawa setelah mengatakannya. Nico menghembuskan napasnya.



"Tapi itu tidak buruk," ucap Nico dengan tenang. "Karena ada sisi positifnya dikenal banyak orang. Seperti contohnya, kau bisa mendapatkan penggemar, atau hal menggelikan lainnya."



"Dan sisi negatifnya," Kini Colin bersuara. "Kita bisa diincar oleh beberapa agen, bahkan bisa dibunuh!" Bola mata Colin bergeser ke arah Nico. "Terutama saat kau melontarkan kata-kata pedas pada pemimpin negara, bukankah dampaknya akan sangat buruk pada dirimu sendiri? Mengapa kau--"



Nico langsung memotong ucapan Colin dengan tersenyum ramah. "Jangan khawatir," kata Nico dengan menyunggingkan senyumannya pada Colin. "Aku tidak akan mati semudah itu, biarpun ada pembunuh bayaran yang akan mengejarku, aku tidak akan mati. Jadi tenang saja," Kemudian Nico menghampiri Colin dan bertanya, "Apa kau lapar?" Mendengarnya, Colin menganggukkan kepalanya. Dan dengan sigap, Nico menatap muka Paul dengan dingin. "Apa kau tidak lihat? Colin kelaparan. Cepat bawa kami masuk ke dalam rumahmu dan berikan kami makanan. Dasar sampah."



"Cherry juga lapaaaar! Hihihihi!"



Alhasil, dengan menahan kekesalannya terhadap omongan Nico, Paul mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan baru saja masuk ke dalam pintu depan, Paul dikejutkan dengan sesuatu.


__ADS_1


__ADS_2