
Ketika Paul, Nico, dan Colin sampai di sebuah ladang rumput yang luas nan basah di Kota Cocoa, mereka dikejutkan dengan kehadiran sesosok lelaki bertubuh kekar yang tiba-tiba muncul di belakang sembari memayungi mereka dengan payung besar yang digenggamnya. Lelaki itu tidak mengenakan pakaian apa pun, ia hanya memakai celana pendek saja, membuat badan atletisnya yang begitu perkasa dapat terlihat dengan jelas. Lelaki itu pun memiliki kulit yang sangat hitam, tapi walaupun begitu, wajahnya terlalu tampan, hingga Paul, Nico, dan Colin pun kalah telak jika dibandingkan dengan ketampanannya. Rambutnya abu-abu, matanya cokelat gelap, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Sungguh lelaki yang rupawan.
Namun, Colin tidak berpikiran demikian, ia malah ketakutan melihat sosok tersebut, karena dipikirannya, lelaki itu adalah orang jahat. Bayangkan saja, saat kau berada di tengah ladang di antara derasnya hujan, tiba-tiba muncul seseorang bertelanjang dada yang memayungimu dari belakang, bukankah itu cukup mengerikan? Dan bagaimana jika orang itu berpura-pura bersikap baik dan ramah padamu, tapi ternyata ia punya alibi dalam tindakan baiknya. Entah kenapa, Colin jadi tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan jika lelaki telanjang yang memayunginya ini bakal bertindak sama seperti yang dipikirkannya.
Padahal Nico sudah berkata pada Colin bahwa lelaki kekar itu bukan orang jahat, karena telah memayungi mereka di saat sedang kedinginan terguyur hujan. Tapi tetap saja, Colin tidak mendengarkan apa yang Nico katakan, karena menurutnya, tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini. Semua orang pasti punya alasan di dalam sikap baiknya, dan Colin pun berpikir bahwa lelaki kekar itu tidak jauh berbeda dengan manusia lain. Dia pasti punya alasan tersendiri dalam tindakannya memayungi Colin, Nico, dan Paul. Intinya Colin menganggap lelaki kekar itu adalah orang yang jahat.
Tapi, keterkejutan Colin tidak sampai di situ, karena tiba-tiba, Paul berseru di sampingnya dengan suara yang sangat keras. "Orang ini..., kau Abbas, kan!?"
Nico, Colin, dan lelaki kekar itu terkejut mendengar apa yang diserukan oleh Paul. Mereka semua memasang raut muka kagetnya dengan ekspresi yang berbeda-beda. Nico tidak percaya kalau kebetulan seperti ini bisa terjadi dengan sebegitu cepatnya, padahal baru saja mereka sampai di Kota Cocoa, dan Paul sudah menemukan pahlawan yang dicarinya, bahkan, pahlawan itulah yang malah mendatangi mereka. Nico benar-benar terkesan dengan kejadian ini. Sedangkan Colin tidak berpikir seperti itu, dia malah tercengang mendengar seruan Paul.
Ini tidak bagus, sangat tidak bagus.
Mengapa harus lelaki aneh ini yang menjadi pahlawan berikutnya. Mengapa bukan orang lain saja? Colin merasa ada yang tidak beres dengan lelaki kekar tersebut. Lihat saja, dia tidak memakai baju di cuaca buruk seperti ini, apakah dia itu salah satu spesies yang memiliki tubuh tahan terhadap dingin? Itu Mustahil! Ataukah dia sengaja tidak memakai baju karena ingin memamerkan otot-otot hasil latihan fitnesnya selama berbulan-bulan agar bisa dinikmati oleh semua orang? Itu terlalu menggelikan! Colin sampai tidak sadar kalau mukanya saat ini sedang memucat total ketika memikirkan itu semua.
Sementara Abbas kaget karena orang-orang yang ia tolong ternyata telah mengetahui namanya, padahal ia belum sempat memperkenalkan diri tapi tiga lelaki itu sudah tahu duluan nama aslinya, Abbas jadi bingung harus bilang apa. Akhirnya, Abbas hanya mampu memberikan senyuman tipisnya pada mereka bertiga, senang karena orang-orang itu sudah mengenalinya. Jadi, Abbas tidak perlu repot-repot menjelaskan siapa dirinya pada mereka, karena ia pikir, mereka pasti sudah lebih tahu tentang dirinya.
"D-Dia tersenyum!" Colin tercekat melihat ekspresi wajah Abbas yang tiba-tiba tersenyum pada mereka, itu sangat-sangat-sangat mengerikan. Sesuai yang Colin duga, pasti Abbas punya alibi di dalam tindakan baiknya. Maka dari itu, Colin harus cepat-cepat memberitahu Paul sebelum mentornya terkena jebakan dari Abbas. "Hey, Paul!" bisik Colin pada kuping Paul dengan napas yang menderu. "Kau yakin orang ini pahlawan baru kita? B-Bukankah dia cukup menakutkan? M-Maksudku, lihatlah wajahnya, dia tiba-tiba tersenyum pada kita! Itu aneh sekali, kan? Kurasa, lelaki ini bukan pahlawan baru kita, kau pasti salah orang, Paul."
Mendengar bisikan dari Colin, Paul mendengus kesal. "Diam saja kau!" sergah Paul dengan menyikut dagu Colin hingga lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang. "Instingku tidak pernah salah! Aku yakin seratus persen! Bahwa lelaki ini adalah Abbas! Dia tersenyum karena dia senang ada orang asing yang memanggil namanya!" Paul menoleh pada Abbas. "Benar, kan!?"
Dengan wajah yang masih tersenyum, Abbas menganggukkan kepalanya, merespon ucapan Paul. "Tapi," Kini Nico yang bersuara. "Mengapa tiba-tiba kau datang menemui kami, dengan membawa payung sebesar ini, seolah-olah kau tahu kalau kami pasti akan lewat ke arah sini?" Pertanyaan Nico cukup masuk akal di telinga Colin dan Paul, tapi sangat tidak masuk akal di kuping Abbas.
__ADS_1
Abbas pikir, ia tidak perlu menjawab pertanyaan itu, karena kedatangannya menemui mereka bukan terencana seakan-akan ia tahu mereka akan berjalan di sekitar ladang. Karena kenyataannya, Abbas pun baru pergi dari suatu tempat, dan hendak pulang ke rumahnya. Dan kebetulan, ia melihat ada tiga lelaki yang sedang berjalan di tengah ladang tanpa membawa payung sama sekali, akibatnya tubuh mereka terguyur hujan, merasa kasihan, langkah Abbas dipercepat agar bisa mendekati mereka. Setelah cukup dekat, Abbas langsung menggerakan payung yang ia pegang ke arah tiga lelaki tersebut. Dan akhirnya, mereka pun saling bertatap muka. Begitulah, kronologi aslinya. Tapi sayangnya, Abbas tidak bisa menjelaskan sesuatu sedetail itu, jadi ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda respon dari pertanyaan lelaki berkaca mata itu.
Menyaksikan Abbas menggelengkan kepala, Paul pun berkata dengan muka yang teramat jengkel, "Dari tadi, kau hanya menggerakkan kepalamu saja, sebenarnya kau bisa bicara tidak, hah!?" Colin dan Nico pun berpikir demikian, mereka juga penasaran mengapa Abbas tidak sedikit pun mengeluarkan suaranya untuk menjawab segala pertanyaan yang diarahkan padanya.
Lagi-lagi Abbas hanya menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa ia menjawab 'ya, aku bisa bicara'. Tapi itu tidak membuat keadaan jadi baik, malah sebaliknya, Paul jadi tambah jengkel melihat pertanyaannya hanya dijawab dengan anggukkan kepala. Paul pun langsung berteriak, "Jika kau memang bisa bicara, maka bicaralah! Brengsek!"
Abbas langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar perkataan Paul, sebagai tanda bahwa ia menjawab 'tidak, aku tidak siap untuk berbicara sekarang', membuat kejengkelan Paul jadi makin membludak. "Mungkinkah kau ini," Colin memberanikan diri untuk bersuara pada Abbas. "orang yang pendiam?" Mendadak, ekspresi Abbas jadi tampak bahagia mendengar ucapan Colin. "Eh? Apakah tebakanku benar?"
Melihat reaksi Abbas yang terlihat gembira, Nico pun segera merespon perkataan Colin. "Sepertinya begitu," kata Nico dengan nada yang pelan. "Dari ekspresinya, dia mengatakan bahwa tebakanmu tepat, dia memang seseorang yang bisa bicara, tapi terlalu enggan untuk bersuara, itulah definisi orang pendiam menurutku."
"B-Begitu, ya." Colin mengangguk-anggukkan kepalanya, mulai paham dengan apa yang dijelaskan oleh Nico. "Tapi hey! Sampai kapan kita berdiri di sini!? Lebih baik kita cari tempat yang nyaman untuk berbicara!"
Abbas yang berjalan di paling depan, terus menyunggingkan senyumannya, tidak merasa terganggu sedikit pun pada keributan yang sedang terjadi di belakangnya. Abbas senang karena akhirnya ia bisa pulang ke rumah ditemani oleh orang sebanyak itu. Sudah lama sekali sejak dia diasingkan dari penduduk Kota Cocoa untuk hidup sendirian. Makanya, Abbas sangat bahagia bisa bertemu dengan orang-orang seperti Paul, Nico, dan Colin. Karena biasanya, semua orang yang ia temui pasti langsung menjauhinya, dan menganggap bahwa keberadaannya tidak diinginkan di muka bumi ini. Abbas sedih jika mengingat hal itu.
Hujan masih turun dengan sangat deras, dan sepertinya tidak akan mereda sampai kapan pun. Itulah takdir yang terjadi di Kota Cocoa, sebab wilayah ini merupakan area yang dipenuhi awan mendung, itulah mengapa hujan selalu turun tiap waktu, dan sudah menjadi sesuatu yang biasa bagi penduduk asli Kota Cocoa.
Ketika mereka sampai di depan sebuah gubuk reyot di pojok ladang yang sangat sepi, Paul, Colin, dan Nico terkejut, karena Abbas tiba-tiba menghentikkan langkahnya dengan membalikkan badannya. Lalu, dengan senyuman tipis yang tercetak di wajahnya, ia ayunkan tangan kanannya ke arah gubuk tersebut, seolah-olah sedang menyambut mereka bertiga untuk masuk ke dalam rumahnya.
"I-Ini rumahmu?" Setelah paham dengan maksud Abbas, Colin langsung melontarkan pertanyaan itu untuk memastikan apakah tebakannya benar atau salah. "T-Tapi mengapa rumahmu berada sangat jauh dari pusat kota? Apa yang membuatmu harus tinggal di tempat sepi seperti ini? Dan mengapa kau harus tinggal di dalam bangunan seperti itu?" Tiba-tiba Colin tersentak mendengar perkataannya sendiri, karena secara tidak sadar, omongannya terdengar seperti kata-kata penghinaan terhadap Abbas, Nico dan Paul pun kaget mendengarnya. Karena itulah, buru-buru Colin membetulkan perkataannya. "Tidak! Aku tidak bermaksud menghinamu, aku hanya penasaran mengapa kau tidak tinggal bersama penduduk-penduduk lain di pusat kota! Sungguh! Maafkan aku jika kata-kataku menyinggungmu! Tapi aku sama sekali tidak ada niatan untuk merendahkanmu!"
__ADS_1
Abbas menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, seolah-olah ia berkata, 'tidak apa-apa, aku tidak terganggu dengan ucapanmu'. Dan entah kenapa, Colin jadi lega melihat Abbas menggelengkan kepalanya. Kemudian, senyuman Abbas mendadak memudar, matanya mulai sayu.
"Kau kenapa!?" Paul penasaran mengapa ekspresi Abbas jadi berubah. Colin dan Nico pun penasaran dengan hal itu.
Tiba-tiba, Abbas mengangkat lengan kirinya, yang di pergelangan tangannya terdapat sebuah gelang merah yang melingkar. Saat Paul, Nico, dan Colin memicingkan matanya untuk melihat angka yang tertulis di gelang tersebut, mereka bertiga, secara bersamaan, terkejut setengah mati.
Itu disebabkan karena angka yang tertulis di gelang Abbas menunjukkan 0,1, yang artinya sisa hidupnya tinggal satu bulan lagi sebelum gelang tersebut meledak di tangannya.
"Sekarang aku paham mengapa kau tinggal di tempat sepi seperti ini!" ucap Colin dengan muka yang memucat.
Nico menganggukkan kepalanya. "Ya, bisa dibilang, Abbas telah diasingkan dari penduduk kota, untuk tinggal di tempat ini sendirian, agar saat gelang itu meledak, ledakannya tidak menimbulkan masalah pada orang lain."
Mendengar itu semua, Paul langsung merebut payung yang digenggam oleh Abbas, dan dengan brutal, ia patahkan benda itu hingga hancur berkeping-keping di hadapan sang pemiliknya. Colin, Nico, dan Abbas terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Paul.
Kemudian, dengan rahang yang bergelemetuk, mata melotot, urat-urat menonjol, dan tangan terkepal kuat, Paul berseru pada Abbas, "Mengapa kau diam saja saat dunia mencampakkanmu seperti itu! Brengsek! Seharusnya kau tidak perlu menuruti kemauan mereka untuk membuatmu tinggal di tempat sepi seperti ini! Kau punya hak untuk hidup bersama orang lain!" Paul menggeram. "Persetan dengan gelang merah sialan itu! Jika mereka takut pada ledakan! Mengapa mereka tidak bekerja sama saja untuk menghilangkan ledakan yang akan terjadi di gelangmu! Bukan malah mengusir dan mengasingkanmu di tempat seperti ini! Mereka semua benar-benar BAJINGAN!"
Abbas tidak mengerti mengapa Paul jadi semarah itu setelah melihat sisa waktu yang tertulis di gelangnya. Padahal, Abbas kira mereka akan langsung menjauhinya, seperti yang orang-orang kota lakukan padanya, setelah ia menunjukkan sisa waktunya pada mereka, tapi ternyata tidak seperti itu. Paul, Nico, dan Colin malah kelihatan kaget sekaligus geram pada masyarakat yang mengasingkan Abbas hanya karena persoalan gelang yang bisa meledak.
Sampai akhirnya, Abbas secara refleks, mengeluarkan suara baritonnya yang sangat jantan, membuat Paul, Nico, dan Colin kaget saat mendengarnya.
__ADS_1
"Aku senang." Abbas tersenyum tipis. "Terima kasih."