Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 23 : Lelaki yang Kesepian


__ADS_3

Ketika Cherry melontarkan sebuah kata-kata ancaman pada Nico, suara klakson dari mobil truk yang lewat di jalan raya langsung terdengar sangat kencang, membuat suasana jadi semakin menegang. Mereka berlima--Paul, Jeddy, Colin, Cherry, dan Nico--sedang berdiri di pinggir jalan, itulah mengapa suara-suara mobil yang berseliweran di jalan raya seolah-olah jadi musik latar belakang dari apa yang sedang terjadi di antara mereka.



Sesekali Nico mengusap darah yang keluar dari lubang hidungnya, sebelum akhirnya, dia memberanikan diri untuk menanggapi ancaman yang dikemukakan Cherry padanya. Dengan senyuman miring, Nico mulai berkata, "Rendahan sekali," desis Nico dengan mata yang menatap tajam pada Cherry yang ada di depannya. "Jika kau sangat ingin merobek, meremas, memotong, membanting, memukul, menginjak, menarik, menusuk, dan menghancurkan mulutku ini, aku dengan senang hati akan menerimanya. Kau tak perlu sungkan, lakukan saja keinginanmu itu, tapi aku tidak mau bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi setelah kau melakukan itu semua padaku."



Cherry terkejut mendengarnya, giginya bergemeletuk saking kesalnya. Karena di dalam kata-kata Nico, tersisip sebuah pesan di mana Cherry akan mendapatkan masalah besar jika ia melakukan keinginannya untuk menyakiti lelaki itu. Ancaman yang Cherry lancarkan pun tidak berpengaruh sama sekali pada Nico, lelaki berkaca mata itu malah membalasnya dengan sebuah ancaman lagi, membuat gadis itu sedikit tersentak.



"Hentikan, bodoh!" Paul tidak suka terhadap apa yang Cherry lakukan, dia merasa gadis itu sangat mengganggu. "Kau tidak perlu ikut campur! Biar aku saja yang menjinakkan orang ini! Kau hanya akan membuat situasinya jadi makin rumit, bodoh!"



Tatapan Cherry langsung dialihkan pada Paul, dia menampilkan wajah kecewa. Padahal yang sedang Cherry lakukan saat ini bertujuan untuk membela harga diri Paul yang dari tadi diinjak-injak oleh Nico, tapi apa ini? Bukannya terima kasih, Paul malah membentak-bentak Cherry dengan galak, seolah-olah yang ia lakukan saat ini hanya mengganggu saja. Oleh sebab itu, Cherry langsung berseru, "KAU DIAM SAJA PAUL!" Cherry jeda sejenak, kemudian melanjutannya, "Cherry tidak suka pada orang ini karena dia terus-terusan meremehkanmu! Hanya karena penampilanmu terlihat seperti berandalan! Dia adalah tipe orang yang sangat Cherry benci! Orang seperti dia seharusnya tidak dilahirkan di dunia ini!"



Tiba-tiba, Nico terbelalak mendengarnya, entah kenapa, kali ini perkataan Cherry sukses menusuk hatinya. Sampai Nico hampir kehabisan kata-kata untuk membalas karena ia kaget dengan ucapan yang baru saja gadis itu serukan. Namun, kekagetannya mulai memudar, digantikan dengan kemarahan yang super-super besar, hingga akhirnya, Nico berucap dengan suara yang lumayan nyaring.



"Kau tadi bilang, bahwa orang sepertiku seharusnya tidak dilahirkan di dunia ini, begitu?" Nico menahan amarahnya sedikit, lalu menyunggingkan senyuman tipis, walau hatinya sedang sangat kesal sekarang. "Aku jadi penasaran, sebenarnya, berdasarkan apa sampai kau menilai bahwa orang-orang sepertiku seharusnya tidak dilahirkan di dunia ini? Bisakah kau jelaskan padaku dengan lebih detail mengenai hal itu? Kalau bisa berikan juga keterangan-keterangan lainnya agar aku bisa memahami pendapatmu itu dengan baik, wahai sampah," Kemudian perhatian Nico dialihkan ke Paul. "Dan juga, aku heran padamu, kenapa kau malah memarahi gadis itu? Bukankah dia sedang berusaha membelamu? Kau ini tidak peka atau memang tolol? Apa tidurmu kurang nyenyak? Heh! Dasar berandalan."



Mendengar Cherry dan Paul direndahkan di depan matanya, Jeddy tidak terima, dia langsung maju ke tempat Nico dan menepuk bahu lelaki itu dengan keras. Membuat Nico menolehkan kepalanya pada Jeddy. "Oi-oi-oi-oi?" kata Jeddy dengan mengerutkan alisnya, ia tampak tak suka pada Nico. "Apa-apaan ini? Sepertinya kau sudah keterlaluan, Bro?"

__ADS_1



Melengkungkan senyuman tipisnya, Nico pun kembali bersuara dengan nada yang tenang pada Jeddy, "Memangnya kenapa? Sampah-sampah seperti kalian sudah sewajarnya diperlakukan begitu, jika tidak, kalian akan semakin congkak. Dan itu sangat menjijikan," ucap Nico dengan mengerjapkan matanya. "Apa kau tidak suka pada kata-kataku? Kalau iya, tidak apa-apa jika kau ingin menghajar wajahku, silahkan. Lagi pula dihajar seratus kali oleh sampah-sampah seperti kalian tidak akan membuat derajatku turun atau derajat kalian naik, karena sampah tetaplah sampah. Dan berlian tetaplah berlian. Sesederhana itu."



"Dan kau menyebut dirimu sendiri sebagai sebuah berlian, begitu?" Kini Colin mulai berjalan mendatangi Nico dengan hidung yang kembang-kempis, amarahnya jadi meledak-ledak. "Jadi intinya, kau menganggap bahwa dirimu sendiri adalah seseorang yang sangat berkualitas, begitu? Maaf, tapi aku ingin bertanya sesuatu padamu, apa kau tidak punya malu sedikit pun? Maksudku, kelihatannya kau ini termasuk ke dalam tipe-tipe orang yang jenius, tapi dari cara bicaramu, kau malah memperlihatkan kebodohanmu dengan jelas pada kami. Karena aturan utama dari orang-orang jenius adalah menghargai sesama manusia. Sesederhana itu. Tapi lihatlah? Kau malah menyombongkan dirimu sendiri seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan oleh orang tuanya, dan itu terkesan ... menyedihkan."



Paul, Cherry, dan Jeddy terkesiap mendengar omongan Colin yang sangat tajam, sampai membuat Nico terdiam beberapa detik. Mereka bertiga tidak menyangka pecundang seperti Colin bisa membalas ucapan dari lelaki bermulut pedas seperti Nico. Namun, karena tidak mau kalah, Nico pun mulai menimpali omongan Colin dengan membuang kaca matanya yang sudah retak ke sembarang arah, memperlihatkan dua matanya yang sipit.



"Menarik," Nico melirik tajam pada Colin dengan senyuman tipis. "Dibanding si hitam, si hijau, dan si merah muda, ternyata kau cukup kompeten dari mereka bertiga. Aku kagum padamu. Dari awal aku memang sudah menduga bahwa kau agak berbeda dengan teman-temanmu, dari ekspresi muka pun, kau tidak tampak seperti seorang berandalan."




Karena tubuhnya sudah sangat lemas, Nico kembali berjalan, menjejakkan kakinya dengan langkah perlahan, meninggalkan Paul, Jeddy, Cherry dan Colin yang masih terdiam di sana. Sepertinya Nico sudah terlalu malas untuk membalas ucapan Colin, ditambah kondisinya sedang babak belur. Dan akhirnya, punggung Nico semakin jauh dan jauh, dan tampaknya, mereka berempat tidakĀ  berniat untuk mengejarnya sama sekali. Mereka malah memandangi kepergian Nico dengan mematung.



Hingga akhirnya, Paul bersuara dengan mata yang masih memandangi punggung Nico. "Entahlah, aku sudah malas mengejarnya lagi."



"Aku juga, Bro! Dia sangat menyebalkan, benar, kan, Bro!?" timpal Jeddy dengan menggaruk-garuk lehernya.

__ADS_1



"Bukan," jawab Paul singkat. "Bukan itu yang kumaksud. Aku malas mengejarnya karena kurasa dibalik kata-kata tajamnya, dia menyimpan berjuta-juta rasa takut di dalam dirinya saat dia berhadapan dengan kita, tapi anehnya! Dia sangat pandai menyembunyikan rasa takutnya dengan sebuah senyuman dan kata-kata yang pedas, agar orang lain tidak mengetahui kalau saat ini, dia sedang ketakutan. Brengsek sekali, ya, orang seperti dia."



"Eh!? Kenapa kau bisa tahu hal itu, Paul!?" Colin kaget mendengarnya. "Bahkan saat di Kota Poppe pun, kau bisa menyimpulkan inti masalahnya dengan mudah, sebetulnya, kau bisa menyimpulkan semua itu dari mana?" tanya Colin dengan mengenyitkan alisnya.



Paul menoleh pada Colin, lalu mendecih, "Jangan banyak tanya kau!" sergah Paul dengan meraung. "Tapi aku masih heran, tadi kenapa kau bisa seberani itu? Membalas ucapan pedas dari lelaki itu dengan kata-kata yang pedas juga, sialan! kau belajar hal itu kapan dan di mana!? Brengsek!? Seharusnya kau belajar hal-hal semacam itu bersamaku! Karena aku adalah mentormu! Bajingan!"



Paul mencengkram kerah jaket Colin dengan kencang, sembari menggoyang-goyangkan badan si rambut biru dengan sangat ganas. Colin tersenyum kaku mendengarnya, kemudian ia menjawab, "Ak-Aku hanya refleks saja! Serius! Soalnya tadi aku benar-benar tidak suka pada omongannya!"



Sementara itu, Nico sudah sampai di depan pintu rumahnya, namun sebelum mengetuk pintunya, ia melamun sejenak sambil bergumam, "Kesepian. Kesepian. Dan kesepian. Huh... andai saja aku punya teman seperti mereka. Mungkin hariku akan lebih berwarna," Kemudian Nico terbelalak, dia langsung sadar dan segera menampar pipinya sendiri dengan keras. "Heh! Sejak kapan aku jadi semenyedihkan itu! Ingat! Sebuah kebahagiaan yang menciptakannya adalah dirimu sendiri! Kau tidak butuh orang lain! Anggap saja orang lain sebagai sesuatu yang hina, aneh, dan menjijikan! Itu sudah cukup!"



Menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan, dan emosi Nico pun sudah kembali normal, dan ia pun langsung menyunggingkan senyuman tipisnya hingga akhirnya mengetuk pintu rumahnya dengan pelan-pelan sembari bilang,



"Aku pulang."


__ADS_1


__ADS_2