Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 86 : Hotel


__ADS_3

"Kau menyukai Jeddy!?"


Paul langsung melontarkan pertanyaan itu pada Naomi setelah mendengar kejujuran dari gadis berkerudung itu tentang cinta pertamanya. Sungguh, ini mengejutkan. Paul tidak menyangka kalau gadis seperti Naomi bisa menyukai lelaki seperti Jeddy. Bukankah dari awal mereka bertemu, Naomi tampak tidak suka pada tingkah Jeddy yang konyol? Paul masih mengingatnya dengan jelas, ketika momen di mana ia menyelamatkan Naomi di Kota Sablo, ketika gadis itu dibantai oleh Pasukan Jubah Putih. Lebih tepatnya saat Naomi dan Jeddy berbincang-bincang di restoran kumuh, bersama Paul dan Koko. Dan Paul yakin seyakin-yakinnya, Naomi menunjukkan raut ketidaksukaan pada Jeddy, apalagi ketika lelaki berambut hijau itu menyebut kata-kata 'Naomiku Tersayang' sebagai lelucon pada gadis tersebut.


"Saya tidak menyukainya! Saya hanya mengaguminya! Itu saja!" jawab Naomi dengan pipi yang memerah merona. "Cukup! Saya sudah melaksanakan hukuman saya sendiri! Jadi, jangan bahas hal ini lagi!"


Ketika Naomi mengatakan itu, helikopter yang mereka tumpangi menunjukkan tanda-tanda akan mendarat. "Yeyy! Sepertinya kita sudah sampai di Bank! Hihihi! Itu artinya," Cherry menatap senang ke arah Isabella. "Hukuman Cherry ditunda, atau mungkin dilupakan, hihihihi!"


"Siapa bilang?" Isabella terkikik-kikik saat mendengar ucapan Cherry yang penuh percaya diri. "Hukuman akan tetap berjalan, mau di mana pun kita berada. Camkan itu." Seketika wajah Cherry dan Paul jadi jengkel, sementara Naomi tampak tenang-tenang saja, karena ia memang sudah tidak punya beban, toh, hukumannya telah dilaksanakan dengan lancar tanpa hambatan.


Mereka berempat pun keluar dari helikopter milik Isabella, meninggalkan pria tambun--yang merupakan pilot helikopter--di dalam. Mereka mendarat tepat di depan sebuah gedung besar bertuliskan Bank Nasional, yang tampak riuh dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar gedung.


"Anda mau apa ke Bank? Meminjam uang? Mengambil uang? Atau menabung uang?" tanya Naomi tampak penasaran pada apa yang akan dilakukan Isabella di dalam Bank.


"Tentunya bukan meminjam atau pun menabung," Isabella langsung berjalan cepat dengan melenggak-lenggokan pantatnya dengan seksi untuk masuk ke dalam Bank. Di tangannya, ia membawa sebuah dompet kecil berwarna merah. Melihat Isabella melangkah, Paul, Cherry, dan Naomi mengekorinya dari belakang. Namun, setelah masuk ke dalam gedung, mereka bertiga hanya duduk di kursi antrian, sementara Isabella langsung meluncur ke meja kasir. Di sana dia bercakap-cakap dengan sang kasir untuk mengambil beberapa uang.

__ADS_1


"Hey? Jika Isabella ingin mengambil uang, kenapa tidak di ATM saja?" tanya Naomi dengan terheran-heran pada Paul. "Bukankah itu lebih efisien?"


"Entahlah!" Paul mengedikkan bahunya. "Mungkin dia punya alasan tersendiri!"


"Ngomong-ngomong," Naomi kembali bersuara dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya. "Jangan beritahu siapa pun, soal yang tadi. Saya mohon." Naomi menatap mata Paul dan Cherry yang duduk di sampingnya.


Paul memasang wajah datar sementara Cherry tersenyum merekah mendengarnya. "Tenang saja! Cherry tidak akan menyebarkannya, kok! Itu akan menjadi rahasia kita saja! Tapi yang jadi masalahnya bukan Cherry atau pun Paul, loh!" Cherry melirik ke arah punggung Isabella yang sedang bercakap-cakap dengan kasir bank. Paham dengan arah pandang Cherry, Naomi menganggukkan kepalanya.


"Anda benar," Naomi terlihat cemas. "Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Isabella setelah dia tahu rahasia saya. Mungkin sekarang, dia masih belum tahu dan kenal pada pahlawan-pahlawan lainnya, tapi kalau sudah kenal dekat dengan mereka, pasti Isabella bakal memberitahukan rahasia saya pada semuanya," Naomi meremas gamisnya sendiri dengan tangan yang berkeringat. "Mungkin Jeddy juga bakal mengetahuinya."


"Apakah seburuk itu?" Paul mendadak bersuara dengan menggeram seperti harimau. "Apakah seburuk itu jika semua orang mengetahuinya, termasuk Jeddy sendiri, tentang kisah cintamu? Menurutku, itu bagus. Karena dengan itu, semua orang bisa tahu tentang isi hatimu, dan beramai-ramai mendukungmu. Lagipula, walaupun mereka menyebalkan! Pahlawan-pahlawanku tidak ada yang jahat! Termasuk kalian! Jadi, kau tidak perlu mencemaskannya, Naomi!"


Cherry hanya menyimak perbincangan antara Paul dan Naomi yang mulai menegangkan, tapi ketika sedang seru-serunya, tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan.


"Urusanku sudah selesai," Isabella muncul di hadapan mereka dengan membawa dua plastik hitam yang mereka yakini berisi gepokan uang kertas. "Ayo kita kembali ke helikopter, untuk pergi ke tempat yang kalian mau."

__ADS_1


"Pergi ke tempat yang kami mau? Maksudnya apa itu?" Paul mengernyitkan alisnya sedikit kesal. "Lalu, untuk apa kau membawa dua plastik besar itu?"


"Oh, ini?" Isabella mengangkat dua plastiknya sejenak dan mulai berbicara, "Ini uangku sendiri, aku mengambil seratus juta di tabunganku, untuk persiapanku menjadi seorang pahlawan bersama kalian? Memangnya kenapa?"


Paul, Cherry, dan Naomi tersentak mendengarnya. "Anda terlalu berlebihan, Isabella," Naomi tercengang menyaksikan Isabella membawa dua buah plastik besar yang berisi berlembar-lembar uang tunai di dalamnya. "Menjadi seorang pahlawan tidak perlu menghabiskan uang sebanyak itu. Anda hanya harus punya kesiapan fisik dan mental saja agar nantinya tidak kaget saat menjadi pahlawan sungguhan."


"Oh, begitukah?" Isabella kaget mendengarnya, itu tidak seperti yang ia bayangkan. Padahal sebelumnya, Isabella membayangkan kalau seorang pahlawan itu harus punya kostum yang ideal dan mewah, kepopuleran yang mendunia, dan kekayaan yang berlimpah. Tapi sepertinya itu semua tidak tepat. "Kalau begitu, mau kita apakan uang-uang ini?" Isabella jadi kebingungan sendiri. "Sebenarnya tidak masalah jika kita menghabiskan uang ini sekaligus, karena jumlah uangku masih banyak di rekening, dan sepertinya akan terus bertambah. Jadi, bagaimana cara kita menghabiskan uang-uang ini?"


"Kau ini buat masalah saja!" Paul membentak Isabella dengan beranjak dari kursi, ia pun mulai merenung, untuk memikirkan hal tersebut, dan akhirnya sebuah ide bagus muncul di kepalanya, mengenai cara untuk menghabiskan uang-uang itu. "Bagaimana kalau kita sewa sebuah hotel untuk menampung para pahlawan bimbinganku!? Apa kau keberatan, Isabella!? Menggunakan uangmu untuk hal itu!?"


"Menyewa sebuah gedung hotel untuk dijadikan sebagai tempat bernaung para pahlawan bimbinganmu? Yang artinya, aku juga termasuk ke dalamnya, kan?" Isabella menganggukkan kepala dengan tersenyum senang. "Sepertinya menarik."


"Lalu, sekarang, kita akan menyewa hotel di kota mana?" tanya Cherry tampak kegirangan. "Apakah di Kota Swart? Kota Groen!? Kota Poppe!? Kota Vineas!? Kota Aljelvin!? Kota Sablo!? Kota Cocoa!? Atau mungkin Kota Luna!?" Cherry menyebut nama seluruh kota tempat tinggal para pahlawan, sampai membuat Paul kesal mendengarnya.


"Tentu saja di Kota Swart! Bodoh!"

__ADS_1


Setelah itu, mereka berempat kembali naik ke dalam helikopter untuk terbang ke Kota Swart, di tengah perjalanan, Paul dan Cherry dijahili oleh Isabella sebagai hukuman yang belum terlaksana; Paul dipaksa untuk menari-nari konyol di dekat jendela sedangkan Cherry dipaksa untuk mendesah-desah selama lima menit. Menyaksikan itu, Isabella tak henti-hentinya tertawa, sedangkan Naomi menutup mulutnya, berusaha menahan tawanya, walau selalu gagal, mereka berdua tampak puas sekali menertawakan Cherry dan Paul yang sedang dibodohi. Tapi, tawa mereka usai saat helikopter sampai di wilayah Kota Swart.


Di sini, udaranya jadi sedikit sejuk dan menenangkan.


__ADS_2