Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 107 : Prinsip Hidup


__ADS_3

"Apa dia baik-baik saja!?"


Saat Paul menemukan lokasi Isabella dan Abbas--tepatnya di bawah pohon cemara yang rindang, tidak jauh dari pekarangan tempat sebelumnya--Ia langsung menanyakan keadaan temannya yang sekarat terkena racun pada gadis berambut merah itu. Isabella, yang sedang duduk manis memangku kepala Abbas di paha mulusnya, menoleh pelan ketika mendengar suara keras Paul. Isabella tersenyum senang, melihat kedatangan Paul yang baik-baik saja. Sungguh, sebelumnya Isabella sedikit khawatir pada keadaan Paul, mengingat orang yang dihadapinya adalah seorang pembunuh bayaran. Meskipun pembunuh bayarannya perempuan, tapi serangannya cukup mematikan.


Berkat itulah, melihat Paul bisa kembali tanpa sedikit pun terluka, dapat mengobati kecemasan di hati Isabella. Dia benar-benar senang melihat kondisi Paul.


"Tenang saja," Isabella merespon pertanyaan Paul sambil mengelus-elus rambut abu-abu Abbas. "Racunnya tidak bereaksi lagi, jadi kupikir, dia baik-baik saja."


Paul bernapas lega saat mendengar jawaban Isabella, ia segera duduk di dekat gadis itu, menyandarkan punggungnya ke batang pohon cemara yang keras dan mulai merenungkan sesuatu lagi.


"Perempuan itu," Paul bergumam pelan dengan mata yang memandang rerumputan liar. "Aku membencinya."


Isabella tersenyum miris, ia terus mengelus-elus rambut abu-abu Abbas. "Pasti merepotkan sekali, ya?" Isabella menatap muka Paul dengan tatapan mendung. "Harus menghadapi orang-orang seperti itu." Gadis itu mulai mengingat kembali momen ketika Paul bertengkar dengan Gina Orcadelia, mantan muncikarinya di Kota Luna. "Kemarin, kau juga menghadapi sesuatu yang merepotkan di kampung halamanku. Dan sekarang, kau menghadapi sesuatu yang merepotkan lagi di sini." Isabella mulai penasaran pada suatu hal.


"Hey Paul, katakan padaku, mengapa kau bisa sekuat itu, menghadapi berbagai masalah dan pertengkaran di tiap-tiap kota yang berbeda, hanya untuk mendapatkan pahlawan baru. Mengapa kau tidak bosan, harus berkali-kali mengunjungi suatu kota dengan masalah yang baru pula, bukankah itu sangat merepotkan? Mengapa kau tidak," Isabella menahan napasnya sejenak. "Mengundurkan diri saja, dari tugasmu sebagai Mentor?"


Paul melirik wajah Isabella saat perempuan itu mengungkapkan rasa penasarannya pada dirinya yang tidak pernah menyerah dan tetap lanjut dalam melaksanakan tugas sebagai mentor.


"Entahlah," jawab Paul dengan asal. "Aku juga tidak mengerti. Tapi yang jelas, aku harus menyelesaikannya. Karena jika aku tidak menyelesaikannya, aku tidak akan bisa tenang." Paul mengingat kembali pertanyaan awal dari Isabella. "Dan mengenai 'mengapa aku sekuat itu dalam menghadapi berbagai masalah di tiap kota hanya untuk mendapatkan pahlawan baru', menurutku itu tidak perlu dijawab."


"Eh?" Isabella tercekat. "Mengapa bisa begitu? Jawab, dong!?"

__ADS_1


"Apa kau pernah mendengar cerita tentang seekor ikan kecil lemah yang disatukan dengan seekor ikan pemakan daging dalam sebuah ember berisi air?"


"Aku tidak pernah mendengarnya, memangnya cerita tentang apa itu?"


Paul menyunggingkan senyuman tipisnya. "Itu cerita yang tidak terlalu penting! Tapi, maknanya sangat dalam," Paul mulai menceritakannya dengan singkat. "Jadi, saat seorang manusia memasukan ikan kecil itu sendirian di dalam sebuah ember, dia terlihat seperti mau mati, padahal embernya sudah diisi oleh air dan disediakan makanan khusus, tapi itu tetap percuma. Ikan kecilnya masih tampak sekarat. Namun," Senyuman Paul semakin mengembang. "Saat manusia itu mencoba memasukkan seekor ikan pemangsa ke dalam ember yang sama, ikan kecil itu, yang sebelumnya terlihat mau mati, jadi bangun dan terlihat panik. Ketika ikan pemangsa itu mengejarnya, ikan kecil itu berenang dengan cepat memutari ember itu agar tidak termakan. Mereka jadi berenang berputar-putar di dalam ember itu. Dan menurutmu, apa makna yang bisa diambil dari kisah ikan kecil sialan itu!?"


Isabella mulai memahaminya dan menganggukkan kepala.


"Ya," Paul ikut menganggukkan kepala. "Hidup tenang tanpa konflik memang dambaan bagi semua orang, tapi itu juga bisa jadi bumerang bagi mereka. Karena kehidupannya akan membosankan, dan lambat-laun, mereka akan mati karena jenuh berkepanjangan! Tapi, jika diperciki dengan sedikit masalah, gairah hidup manusia akan berkobar, mereka akan berusaha menyelesaikan masalah itu agar bisa hidup tenang! Dan ketika masalah satu selesai, datang lagi masalah yang baru, dan mereka melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Hidup dengan banyak masalah mungkin terdengar merepotkan, tapi jika dilihat dari sudut pandang lain, itu bisa dijadikan alasan mengapa kita bisa hidup sampai sekarang! Masalah bukan hanya mendewasakan kita! Masalah juga membuat kita merasa tertantang dan terus hidup!"


Paul menatap mata Isabella lekat-lekat dengan berkata, "Karena itulah, aku tidak akan pernah bosan dalam menghadapi berbagai masalah! Apa pun masalahnya, aku akan menghancurkannya hingga berkeping-keping! Jika muncul lagi, maka akan kuhancurkan lagi! Begitulah! Prinsip hidupku!"


Hening.


Sadar Isabella tidak menanggapi, Paul jadi sedikit jengkel. "Oi! Katakan sesuatu! Jangan abaikan aku!"


Isabella langsung tersadar dari lamunannya dan terkikik kecil, menertawakan tingkah anehnya sendiri. "Maaf, aku tadi tercengang saat mendengar prinsip hidupmu, itu sangat hebat hingga aku mematung tanpa sadar." Isabella menggelengkan kepalanya. "Aku tidak menyangka lelaki berandalan sepertimu, yang suka sekali berbicara kasar pada orang lain, punya prinsip hidup yang semantap itu. Aku jadi semakin tertarik pada juniormu."


Muka Paul langsung memerah pekat, seperti buah apel yang matang, saat mendengar lelucon yang dikatakan Isabella.


"Ah, ngomong-ngomong," Isabella kembali berkata, karena teringat akan suatu hal. "Bagaimana dengan Lizzie? Mengapa dia tidak bersamamu?"

__ADS_1


"Bersamaku? Untuk apa!?"


"Eh? Bukankah dia pahlawan baru kita? Mengapa kau tidak mengajaknya kemari? Kau sudah mengalahkannya, kan?"


"Tidak!" Paul jadi menggeram jika mengingat wajah dari perempuan tomboi itu. "Tidak mungkin aku mengajaknya begitu saja setelah dia melakukan hal itu pada Abbas! Aku akan menghancurkannya dulu sebelum mengajaknya bergabung bersama kita! Tapi sayangnya, dia sudah kabur entah kemana! Sialan!"


Isabella terbelalak. "Kabur?"


"Ya, dia kabur dariku. Aku tidak tahu mengapa dia pergi, tapi yang jelas! Aku sedikit puas! Karena telah menghantamkan amarahku ke wajahnya!"


"Kau memukulnya?"


"Ya." Paul mengerling gusar ke wajah Abbas. "Daripada itu! Kita harus bawa dia ke rumah sakit! Sebelum racunnya kembali bereaksi!"


Isabella menganggukkan kepala dan membiarkan Paul membawa tubuh kekar Abbas yang sedang lemas dengan cara mengangkat badannya ke punggung sang mentor--dengan susah payah dibantu oleh Isabella.


Akhirnya, Paul dengan menggendong tubuh Abbas, berjalan pelan di pekarangan sepi itu bersama Isabella, untuk pergi ke rumah sakit terdekat di Kota Barasta. Tapi sungguh, berat badan Abbas benar-benar gila, Paul sampai mati-matian saat menggendongnya. Di tiap langkahnya, bebannya terasa makin berat, napasnya bahkan jadi terasa sesak, seperti membawa perabotan besar.


Isabella terkikik-kikik kecil memandangi Paul yang engap-engapan dalam usaha menggendong Abbas sampai ke tempat tujuan. Seluruh tubuh Paul tampak memerah sepenuhnya, mungkin darahnya menegang karena mengangkat beban seberat itu. Tapi itu wajar, karena Abbas punya ukuran tubuh yang tinggi dan besar. Bahkan Isabella berpikir, butuh dua sampai tiga orang untuk mengangkat tubuh Abbas, dan saat melihat Paul bisa melakukannya sendirian, itu sangat hebat. Isabella terkesan dengan kekuatan Paul, walau tubuhnya lebih kecil dari Abbas, tapi dia tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengangkatnya. Itu patut diapresiasi, sangat hebat.


"Masalah memang selalu datang silih berganti, ya?" Isabella menahan tawanya sebisa mungkin. "Dan sekarang, tubuh Abbas lah yang menjadi masalahmu, Paul."

__ADS_1


"Jangan banyak omong! Brengsek!"


Tak bisa menahannya lebih lama lagi, akhirnya Isabella tertawa terbahak-bahak menertawakan Paul yang terlihat konyol. Dan Paul berusaha mengabaikan sikap menyebalkan dari Isabella agar dia cepat sampai di tempat tujuannya, yaitu rumah sakit.


__ADS_2