
"Uwaah! Ternyata benar! Banyak salju di sini!"
Ketika bus yang mereka tumpangi masuk ke jalanan Kota Vineas, cuaca mulai berubah, yang tadinya cerah benderang dan panas terik, menjadi sangat dingin dan dipenuhi dengan butiran salju yang turun dari langit. Cherry yang memandangi salju-salju turun dari kaca jendela, memekik-mekik riang, ia sampai menggedor-gedor kacanya saking gembiranya. Sementara teman-temannya malah sedang asyik dengan dunianya masing-masing; Jeddy tampak serius menonton film di ponselnya, Paul memejamkan matanya sambil mendengarkan musik lewat penyuara kuping di kursinya, dan Colin sedang memainkan sebuah permainan simulasi di ponselnya. Sungguh pertemanan yang kurang harmonis, begitulah pikir para penumpang lain yang melirik ke arah mereka berempat.
"Dingin," ucap Colin setelah mereka berempat turun dari mobil bus, mendarat di tanah Vineas yang diselimuti salju. Udaranya memang sangat dingin, walau mereka memakai jaket pun, rasa dinginnya tetap mencekik, hingga Colin memeluk tubuhnya sendiri agar terasa hangat. "Hey, Paul," Saat Colin bernapas dan berbicara pun, ada kepulan asap yang keluar dari lubang hidung dan mulutnya. "Orang seperti apa pahlawan di kota ini? Apakah dia lelaki? Atau perempuan?"
Bola mata Paul mengerling ke muka Colin, dengan aura yang mengintimidasi. "Untuk apa kau menanyakan itu?" jawab Paul dengan nada yang sangat dingin. Namun Colin sudah terbiasa dengan hal tersebut, karena dibanding dengan Jeddy dan Cherry, dia lah yang lebih dulu mengenal Paul. Karena itulah dengan tenang, Colin langsung menimpali jawaban Paul.
"Tentu saja karena aku penasaran pada sosok pahlawan di kota ini, kuharap dia tidak sekonyol Jeddy mau pun seaneh Cherry." kata Colin dengan sengaja menyinggung Jeddy dan Cherry yang berdiri di sampingnya. Mendengar namanya disebut dengan nada sindiran, membuat Cherry langsung jatuh ke mode gelapnya. Gadis itu langsung mencengkram punggung Colin dengan menundukkan kepalanya, membuat helaian merah mudanya berjatuhan, dan ia pun berkata,
"Cherry juga berharap semoga pahlawan di kota ini," Tiba-tiba Cherry mengangkat kepalanya dan menyunggingkan seringaian mengerikan pada Colin. "...tidak sepengecut dirimu! Hihihihi!" Membuat Colin terkejut melihatnya. Setelah mengatakan hal itu, Cherry melepaskan cengkramannya dan kembali ke mode riangnya. "Ups! Sepertinya Cherry telah membuat Colin ketakutan, ya!? Waduh! Maaf, yaaaa! Hihihi!"
"Berisik, kalian!" Paul yang mendengar pertikaian antara Colin dan Cherry di sampingnya, merasa terganggu, ia pun bersuara dengan nada yang berat. "Dari pada kalian terus-terusan mengoceh, lebih baik kalian ikuti aku." Dan Paul pun mulai melangkahkan kakinya, meninggalkan halte bus tempat pemberhentiannya di Kota Vineas. Colin, Cherry, dan Jeddy berjalan di belakang Paul, mengikuti mentornya pergi entah kemana.
Walau ini masih pagi, tapi rasanya seperti sudah malam, karena langit di Kota Vineas tampak berwarna abu-abu, seperti langit yang sedang mendung. Semua tempat di Kota Vineas pun lampunya selalu menyala terang, karena jika tidak, maka suasana kota mungkin akan sangat gelap. Paul bisa melihat banyak sekali salju yang bertumpuk di atap-atap gedung, rumah, mobil, jalanan, dan pertokoan. Belum lagi kondisi udaranya yang sangat dingin, hingga Paul keheranan mengapa penduduk di Kota Vineas bisa betah tinggal di tempat seperti ini. Karena menurut Paul, pasti menyebalkan sekali jika tiap hari dia harus mengenakan jaket super tebal hanya untuk pergi keluar rumah. Paul lebih baik pindah ke luar kota dari pada harus tinggal di tempat beriklim dingin seperti ini.
Tapi anehnya, saat Paul berjalan menyusuri Kota Vineas, ia bisa memandang semua pejalan kaki di sini tampak normal-normal saja, walau mereka memakai pakaian tebal, mereka tetap beraktivitas seperti orang-orang di kota pada umumnya. Pepohonan di sini pun tampak kering kerontang, tanpa ada dedaunan yang menghiasinya, hanya ada bebatangan yang berdiri kokoh di pinggiran jalan.
__ADS_1
"Hahahaha!" Jeddy mulai mengeluarkan tawa khasnya ketika dirinya selesai mengamati suasana Kota Vineas yang cukup berbeda dengan kota-kota lainnya. "Setelah kulihat-lihat, entah kenapa, aku jadi ingin tinggal di sini, Bro!" Mendengar omongan Jeddy, membuat Paul menghentikkan langkahnya, Colin dan Cherry pun ikut berhenti. Kemudian, Paul menolehkan pandangannya pada Jeddy.
"Apa yang membuatmu tertarik untuk tinggal di kota sialan ini? Jeddy?" tanya Paul dengan nada yang cukup santai dari biasanya, membuat Jeddy senang mendengarnya. Akhirnya Paul bisa bersikap santai saat berbicara dengannya, Jeddy jadi sangat gembira.
Kemudian, dengan semangat yang meluap-luap, Jeddy mulai bercakap, "Yah, kau tahu, kan? Karena aku dari kecil tinggal di Kota Groen yang sangat gersang, aku jadi selalu bermimpi ingin tinggal di kota yang dingin dan dipenuhi oleh salju, Bro! Hahaha! Soalnya musim di Kota Groen hanya ada dua, musim panas dan musim hujan saja, itu sangat membosankan, kan, Bro! Hehe!"
"Kalau kau bilang begitu," Colin menimpali omongan Jeddy dengan memutarkan bola matanya bosan. "Itu artinya kau juga merendahkan rumah kami, Jeddy. Kau tahu, kan? Jarak antara Kota Swart--tempat tinggalku dan Paul--dengan Kota Groen--tempat tinggalmu-- itu cukup dekat, jadi bisa dibilang kota kita tetanggaan, dan mereka pun memiliki musim yang sama, panas dan hujan saja. Jadi saat kau bilang kalau dua musim itu membosankan, secara tidak langsung kau juga bilang musim di Kota Swart membosankan, benar, kan, Paul?"
"Empat musim?" Cherry tersenyum manis mendengarnya. "Tahu tidak? Kota Poppe punya empat musim, loooh! Jika Paul sangat ingin tinggal di kota yang punya empat musim, bagaimana kalau pindah saja ke Kota Poppe! Nanti Cherry akan menunjukkan tempat-tempat imut yang belum pernah dikunjungi oleh Paul di sana! Hihihi!"
Entah mengapa, mendengar Cherry menyebutkan nama Kota Poppe, membuat Paul teringat pada sebuah lingkungan yang dipenuhi dengan warna merah muda yang menjijikan. Paul jadi ingin muntah jika mengingatnya. "Tentunya bukan Kota Poppe yang menjadi tempat impianku! Brengsek!" Kemudian, Paul kembali melanjutkan perjalanannya, mengabaikan suara pekikan Cherry, tawaan Jeddy, dan keluhan Colin.
Sampai akhirnya, sampailah mereka di depan sebuah gedung tinggi yang bernama 'Perpustakaan Raksasa Kota Vineas' yang letaknya ada di pusat kota, dekat dengan tempat-tempat perbelanjaan yang sangat ramai. "Kita sudah sampai," kata Paul dengan muka yang datar. "Aku merasa kalau pahlawan kita sedang ada di dalam perpustakaan ini, mari kita cek, ayo masuk!" Namun, ketika Paul akan mendorong pintu perpustakaan, Colin langsung bersuara.
"Tunggu sebentar!" teriak Colin dengan suara yang cukup keras, membuat Paul, Jeddy, dan Cherry mengalihkan perhatiannya pada si rambut biru. "Sebelum kau bilang begitu, seharusnya kau beritahu kami bagaimana ciri-ciri dari pahlawannya, Paul? Bukankah kau sama sekali belum menjelaskannya pada kami? Ayolah! Untuk kali ini, beri kami informasi, Paul! Agar kami bisa ikut mencari orang itu di dalam!"
__ADS_1
Menghela napasnya, Paul langsung menjawabnya dengan cepat, "Ingat ini! Dia adalah seorang lelaki berambut putih, berkulit putih, berbibir putih, dan berpakaian serba putih." Sesudah menjelaskannya, Paul langsung masuk ke dalam perpustakaan, meninggalkan Colin, Jeddy, dan Cherry yang masih terkejut mendengar penjelasannya.
"Kenapa harus serba putih?" tanya Colin pada Jeddy dan Cherry yang ada di sebelah kirinya, sesaat setelah Paul sudah menghilang dari hadapan mereka. "Emm... tapi jika dipikir-pikir, rasanya semua pahlawan yang terpilih oleh Paul selalu memiliki warna khasnya masing-masing. Seperti aku yang memang suka dengan warna biru, Jeddy yang selalu memakai pernak-pernik warna hijau, dan Cherry yang sering mengenakan gaun berwarna merah muda."
"Hahaha! Benar juga, Bro! Aku baru sadar tentang hal itu! Tapi kedengarannya lucu sekali, Bro! Hahaha!" Jeddy terbahak-bahak mendengar omongan Colin yang terkesan benar tapi konyol.
"Cherry sebenarnya tidak terlalu suka pada warna merah muda, kok! Tapi karena Cherry lahir di Kota Poppe, jadi Cherry mau tidak mau harus suka pada warna merah muda! Karena kalau Cherry menunjukkan ketidaksukaan pada warna merah muda, maka Cherry akan dianggap aib oleh masyarakat di Kota Poppe! Hihihihi!"
"Ternyata setiap kota memang punya aturan anehnya sendiri-sendiri, ya." kata Colin dengan mengkerutkan alisnya, melirik pada Cherry. Kemudian Colin pun mulai mengangkat kakinya untuk masuk ke dalam perpustakaan, diikuti oleh Jeddy dan Cherry.
Setelah Colin, Jeddy, dan Cherry masuk, mereka disambut dengan suasana hening khas perpustakaan, yang terdengar di sana hanya suara-suara halaman buku yang dibuka-buka, dentikkan jam dinding, jejak kaki dari beberapa orang yang mundar-mandir, dan obrolan kecil. Ada banyak orang berpakaian tebal yang masuk ke dalam perpustakaan hanya untuk membaca buku-buku cerita di sana. Namun, yang membuat mereka bertiga terkejut bukan semua itu, melainkan Paul yang sedang berdiri di dekat rak buku, berhadapan dengan seorang lelaki berkaca mata yang memiliki helaian rambut putih, berkulit putih, dan mengenakan baju lengan panjang putih dan celana panjang putih, membuat Colin, Jeddy, dan Cherry terbelalak memandangnya.
"Kau Nico, kan?" tanya Paul dengan suara direndahkan, karena saat ini posisinya ada di dalam perpustakaan. Mendengar namanya tiba-tiba disebut oleh orang asing yang baru ditemuinya, membuat lelaki berkaca mata itu mendengus tak suka pada Paul.
"Berani sekali berandalan kotor sepertimu menyebut nama lahirku dengan sembarangan di sini?" Nico membetulkan kaca matanya yang hampir turun, kemudian dia tersenyum miring. "Tapi baiklah, aku akan memaklumi sikap tololmu itu. Toh, manusia sampah sepertimu memang tidak bisa mengenyam pendidikan dengan baik. Jadi aku pikir, tata krama dan sopan santun, tidak diperlukan saat berbicara dengan sampah masyarakat sepertimu."
__ADS_1