Sang Penggila Kekuatan

Sang Penggila Kekuatan
MINERVO 41 : Akulah Rajanya


__ADS_3

"Eh? Kenapa saya ada di sini?"



Naomi terkejut saat sadar bahwa dirinya sedang duduk di kursi dari sebuah restoran yang kumuh dan sepi. Di hadapannya ada sesosok gadis cantik berambut ungu panjang yang juga sedang duduk di kursi, saling berhadapan di antara satu meja. Mereka berdua duduk di kursi yang mejanya menempel dengan tembok berjendela, karena itulah Naomi dari kursinya bisa memandangi langit biru yang cerah, unta-unta yang berjejer di tepian jalan, dan gedung-gedung megah yang berdiri kokoh serta mengamati masyarakat kota yang sedang berseliweran di sekitar trotoar, sibuk dengan urusannya masing-masing. Kemudian, saat sosok cantik itu mulai membuka mulutnya, Naomi cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada sosok tersebut.



"Karena... Paul memerintahkanku untuk membawamu ke tempat yang aman, dan aku pikir... ini adalah tempat yang cukup aman, karena di sini suasananya menenangkan."



Baru saja Naomi akan menanggapi perkataan gadis itu, dia kaget dengan muka dan kepalanya yang diperban, serta permukaan lengan dan kakinya pun ikut dibaluti dengan perban, menutupi luka-luka yang menganga dan berdenyut-denyut. "Sejak kapan tubuh saya diperban seperti ini?" Naomi mengangkat kedua lengannya, memperhatikan kain perban yang menyelimuti dua tangannya itu. "Dan ya ampun!" Naomi meraba-raba kepalanya dan dia tersentak saat helaian rambut kuningnya ternyata bisa tersentuh dengan mudah oleh tangannya, yang artinya saat ini ia tidak menutupi kepalanya dengan kerudung dan menurutnya, itu sangat gawat. "Jangan-jangan selama Anda membawa saya kemari, kepala saya tidak ditutupi dengan kerudung?" Lalu, mata Naomi terbelalak, disadarkan dengan sesuatu yang lain. "Mengapa Anda juga tidak menutupi rambut Anda dengan kerudung? Bukankah Anda seorang gadis? Ya ampun, jika kaum Adam melihat, kita akan terkena dosa besar!" Sontak, Naomi langsung memanggil seorang pramusaji yang sedang berjaga, dan mengatakan bahwa dirinya dengan sosok berambut ungu itu membutuhkan sebuah kerudung.



Paham dengan hal itu, sang pramusaji berlari ke ruang khusus staf, beberapa detik kemudian, pramusaji itu keluar dari ruangan tersebut dengan membawa dua helai kain berwarna kuning dan ungu, dan kain-kain itu segera diberikan pada Naomi dan sosok yang diduga seorang gadis. Naomi pun dengan gesit memasangkan kain kuning itu ke kepalanya dan dirapikan sejenak hingga menjadi sebuah kerudung yang seutuhnya, menutupi rambut kuningnya yang terurai berantakan. Sementara sosok gadis yang ada di depan Naomi, hanya berdiam saja di kursinya, tanpa sekali pun menyentuh kain ungu yang tergeletak di meja.



Terheran, Naomi pun bertanya, "Apa yang sedang Anda tunggu? Ayo, cepat tutupi rambut Anda dengan kain itu sebelum pelanggan dari kaum Adam datang ke restoran ini," Mendadak, Naomi terpikirkan sesuatu. "Oh, jangan-jangan Anda itu seorang Eris, ya?" Kemudian, dengan anggun, Naomi mengangkat pantatnya dari kursi dan mendekati sosok itu sembari mengambil kain ungu yang tergeletak di meja. Naomi pun berdiri di belakang sosok tersebut. "Tidak masalah, jika Anda tidak mengetahui caranya memakai kerudung, maka saya akan memakaikannya untuk Anda. Tenang saja, walaupun Anda seorang Eris, menutupi rambut adalah kewajiban setiap perempuan. Jadi, mari kita mulai."



Tanpa kesepakatan, Naomi dengan tangan yang terbalut perban, mulai memasangkan kain ungu itu pada kepala si gadis berambut ungu panjang. Dengan sentuhan yang super lembut, Naomi membetulkan bagian-bagian yang terlihat kusut hingga akhirnya, kerudung hasil karyanya telah tercetak di kepala sosok tersebut, menutupi rambut ungu panjang yang sebelumnya tergerai bebas. Cepat-cepat Naomi duduk kembali di kursinya untuk memandangi penampilan dari gadis yang duduk di hadapannya. Naomi tersenyum tipis melihat perubahan dari sosok yang ada di depannya, kali ini gadis itu tampak lebih sejuk dari sebelumnya dengan mengenakan kerudung. Sungguh, sebuah kecantikan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Naomi sampai tidak tahan ingin memeluk gadis tersebut.



"Bagaimana?" tanya Naomi dengan senyuman tipis yang mengembang di bibirnya pada sosok yang ada di depannya. "Bagaimana perasaan Anda setelah memakai kerudung?" Naomi bisa menebaknya. "Pasti rasanya menyejukkan, kan? Saya tahu, kok. Karena saya pun begitu. Jika saya mengenakan kerudung, entah kenapa, hati saya terasa tentram dan damai, seperti--" ucapan Naomi terpotong secara mendadak.



"Sebenarnya... aku ini laki-laki," ungkap sosok itu dengan menundukan kepalanya. "Namaku Koko, dan aku... bukan seorang perempuan." Naomi mengernyitkan alisnya, tampak tidak percaya. "Dan akulah yang menutupi semua lukamu menggunakan perban. Aku melakukannya saat kau... jatuh pingsan. Aku tidak tahu mengapa kau tiba-tiba pingsan, tapi sepertinya... rasa sakit dari luka-lukamu lah yang membuatmu pingsan. Padahal... saat aku membawamu dari gang sempit itu... kau masih belum pingsan dan mampu bertanya padaku mengenai siapa diriku," Kemudian, perlahan-lahan, Koko mengangkat kepalanya untuk memandangi Naomi yang sudah berkerudung. "Lalu, jika kau bertanya bagaimana perasaanku saat rambutku ditutupi dengan kerudung, jujur saja, aku memang merasa tentram dan damai, dan aku menyukainya. Tapi, seperti yang sudah kubilang, aku ini seorang laki-laki, bukan seorang perempuan, jadi," Saat Koko hendak melepaskan kerudung ungu yang menyelimuti kepalanya, Naomi langsung berdiri dari kursinya dan meraih lengan kanan Koko yang akan bergerak.



"Jangan!" Naomi dengan napas yang berderu, berusaha menghentikan tangan Koko yang hendak melepaskan kerudung itu. "Jangan dilepas!"



"K-Kenapa?" Koko mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan situasi ini. "Aku ini seorang Eris, dan aku pun seorang laki-laki. Aku tidak pantas memakai kerud--"

__ADS_1



"Saya rasa, Anda pantas memakainya," ucapan Koko terpotong oleh Naomi. "Saya juga tidak mengerti mengapa saya bilang demikian, tapi saya yakin, Anda pantas memakainya. Karena, dilihat dari sisi mana pun, Anda tampak seperti seorang gadis dan percayalah, saya tidak berbohong."



Sejenak, Koko terkejut mendengar perkataan Naomi dan sebetulnya, dia cukup senang, tapi, dia tetap menggerakan tangannya sampai akhirnya kerudung yang membelenggu kepalanya, terlepas dengan sempurna, memamerkan rambut ungu panjangnya yang berkibar-kibar diterpa oleh angin kencang yang masuk lewat jendela. "Maaf," ucap Koko sambil merapikan kain ungu itu di permukaan meja. "Tapi sepertinya, orang sepertiku tidak cocok memakai benda ini."



Naomi menghela napasnya, dia benar-benar kaget dengan kenyataan yang membingungkan ini. Ternyata dunia memang penuh dengan misteri, banyak sekali hal-hal yang mengejutkan muncul di muka bumi ini, seperti kehadiran sosok cantik yang duduk di hadapannya ini. Tidak bakal ada yang menyangka kalau ternyata sosok cantik itu adalah seorang laki-laki, Naomi pun demikian. Karena kejadian ini, Naomi mendapatkan pelajaran yang berharga, yaitu; kecantikan tidak hanya dimiliki oleh seorang perempuan, laki-laki pun dapat memilikinya. Dan saat seorang laki-laki mendapatkan sebuah kecantikan, dunia akan tertipu dengan penampilannya.



"Baiklah, saya mengerti, tidak apa-apa," kata Naomi dengan menampilkan raut kecewa yang teramat jelas. "Oh, saya hampir lupa mengatakan ini," Bola mata Naomi terfokuskan ke muka Koko yang begitu cantik. "Terima kasih banyak telah menolong saya dari para jubah putih itu, saya benar-benar berterima kasih pada Anda," Dan Naomi mendadak mengingat sesuatu. "Tapi sepertinya yang menolong saya bukan hanya Anda, ya? Saya merasa ada dua orang lagi yang menolong saya."



"Ya," Koko tersenyum mendengar itu. "Mereka adalah... Paul dan Jeddy," kata Koko dengan muka yang tampak senang. "Mereka langsung masuk ke dalam gang sempit itu setelah... mendengar suaramu. Aku juga... diperintahkan oleh Paul untuk membawamu ke tempat yang aman, dan saat ini... mereka berdua masih sedang berada di sana, berhadapan dengan orang-orang berjubah itu." Seketika, ekspresi Koko berubah jadi sendu. "Kuharap... mereka baik-baik saja."



Naomi ikut menyunggingkan senyuman dan berkata, "Ya, Anda benar, saya harap mereka baik-baik saja di sana. Karena bagaimana pun, mereka adalah orang-orang yang baik," Naomi pun mengingat kejadian yang menimpanya tadi pagi. "Dan saya rasa, salah satu dari mereka adalah lelaki yang bertemu dengan saya di depan tempat ibadah," Naomi mulai merasa bersalah. "Padahal waktu itu saya merendahkannya karena dia adalah seorang Eris, tapi sekarang, dia malah melindungi saya," Bibir Naomi jadi bergetar. "Rendahan sekali saya sampai menilai bahwa semua manusia yang tidak memeluk agama Blanca adalah kaum yang tersesat dan jahat. Nyatanya, kalian terlihat lebih baik dari pada saya. Justru, saya lah di sini yang jahat karena memandang kalian dengan begitu hina," Air mata Naomi berlinang dalam hening. "Maafkan saya."




Paul mendecih mendengarnya, "Aku tidak peduli kau ini orang seperti apa, yang kutahu, kau hanyalah gadis cerewet yang sombong karena punya kekuatan yang sedikit lebih tinggi dari kami, tapi lihat? Baru saja kami tumbangkan teman-temanmu, kau sudah ketakutan seperti itu. Bukankah kau di sini yang terlihat seperti bocah? Hm!?"



Jeddy terbahak-bahak mendengar ucapan Paul. "Hahahah! Jangan begitu, Bro! Kau bisa menyakiti hatinya!" Kemudian tatapan Jeddy dipalingkan pada Liona yang sedang menggeram kesal. Jeddy pun tersenyum miring. "Tapi aku juga tidak bisa memaafkan kelakuan jahatmu karena telah menyakiti Naomiku tersayang."



Mengepal kedua tangannya erat-erat, Liona berteriak, "MENJIJIKAN! KALIAN MENJIJIKAN! TERUTAMA KAU," Liona menunjuk pada Jeddy dengan mata yang melotot. "KAU LEBIH MENJIJIKAN DARI TEMANMU!"



"Hahahaha!" Sebagai tanggapan, Jeddy hanya tertawa, lalu ia menoleh pada Paul. "Benarkah itu!? Bro!? Aku ini menjijikan!?"

__ADS_1



Paul menjawabnya dengan santai, "Ya, kau memang menjijikan, brengsek." Seketika Jeddy terbahak-bahak mendengar jawaban dari Paul. "Tapi, gadis itu lebih menjijikan darimu." kata Paul dengan nada yang serius. Kemudian, Paul berjalan pelan, mendekati Liona yang sedang berdiri sendirian di saat orang-orang berjubah putih lain tergeletak di tanah, sambil kedua tangannya masih memegang dua pistol pemberian Jeddy.



"Kau mau apa mendekatiku!?" Liona memundurkan langkahnya dari Paul yang mendekatinya. "Jika kau menyentuh tubuhku sedikit saja, aku akan melemparkan batu yang lebih besar padamu!"



Paul pun menghentikkan langkahnya. "Tenang saja, teman-temanmu tidak ada yang mati, kami sudah berunding untuk tidak menembaki bagian-bagian yang vital. Kami hanya menembak kaki dan tangan mereka. Tapi lupakan dulu soal itu, aku ingin bertanya sesuatu padamu," Paul pun langsung menampilkan wajah menindasnya pada Liona. "Apakah kalian ini adalah para pelaku dari peristiwa yang pernah terjadi di salah satu kedai di Kota Swart? Cepat jawab dengan jujur!"



Mendengar itu, Liona menyeringai licik. "Hebat sekali kau bisa menebaknya dengan tepat," Liona pun menatap muka Paul dengan angkuh. "Oh! Aku ingat sekarang! Kau itu salah satu bocah yang menghantam batu-batu surgawi yang kami lempar, ya? Mengejutkan sekali, bisa bertemu denganmu lagi di sini, apakah ini yang dinamakan takdir?"



Paul memejamkan matanya sambil menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan, kemudian, ia membuka kembali kelopak matanya. "Aku mengerti sekarang," kata Paul dengan suara yang pelan. Kemudian Paul langsung mengangkat pistol yang dipegangnya di tangan kiri, lalu menodongkannya tepat di dahi Liona. "Aku tarik ucapanku, kalian semua harus mati di sini."



DOR!



Liona terbelalak saat pistol yang diarahkan Paul pada keningnya mengeluarkan peluru berkecepatan tinggi sampai akhirnya menimbulkan suara yang begitu memekakan telinga, namun bagian parahnya bukanlah itu, karena saat ini, peluru tersebut telah melesat dan menembus hingga ke belakang kepalanya. "A-Apa yang... kau--" Belum sempat Liona menyelesaikan kata-katanya, rasa sakit yang menjalar mulai menyebar ke seluruh tubuhnya sampai dia tidak bisa menggerakkan mulutnya lagi untuk berbicara. Sampai akhirnya, tubuh Liona ikut ambruk ke tanah, bersama dengan teman-temannya yang sedang meringis kesakitan. Tapi, tidak seperti teman-temannya yang lain, Liona bahkan tidak bisa meringis kesakitan seperti mereka, karena nyawanya sudah tiada. Bagian depan dan belakang kepala Liona berlubang, mengeluarkan cairan merah yang sangat kental, membuat tanah tempat berbaringnya, jadi dibanjiri dengan darah segarnya.



"Sisanya kau yang urus, Jeddy," kata Paul sembari membuang dua pistol itu ke sembarang arah. Kemudian Paul pun berbalik, berjalan gagah dengan menampilkan raut wajah yang dingin, lalu saat dirinya sampai di dekat Jeddy, ia berbisik pada teman hijaunya itu. "Bunuh mereka semua." Jeddy terbelalak mendengarnya.



"Kau yakin, Bro!?"



Paul tersenyum dingin. "Ya, lagi pula, kau sudah biasa membunuh manusia, kan? Bahkan, aku jadi seperti ini berkat arahanmu saat di Kota Groen. Karena dulu, aku sangat terguncang setelah membunuh manusia. Tapi sekarang," Paul pun menepuk pundak Jeddy dan kembali berjalan meninggalkan teman hijaunya dari gang sempit itu. "Akulah rajanya."


__ADS_1




__ADS_2