
"Halo!" Mengeluarkan dan mengambil ponselnya yang bergetar di kantong celananya, Paul segera mengangkat dan mendekatkan benda persegi panjang itu ke telinganya. "Siapa di sana!? Roswel, bukan!? Cepat jawab, brengsek!"
Seperti biasa, Paul mengucapkan kata-kata kasar yang mengesankan, sampai Koko yang tadinya tidak terlalu suka dengan penggunaan kata-kata kasar, jadi terbiasa setelah mentornya terus-terusan berbicara begitu. Koko bersama Nico dan Jeddy masih sedang duduk di kursi tamu, memandangi mentornya yang sedang berdiri di hadapan mereka, mengangkat telepon dari seseorang.
"Selamat, tebakan Anda kali ini benar, Tuan," Terdengarlah suara Roswel dari seberang telepon dengan nada yang teramat ramah pada Paul. Mendengar suara Roswel, Paul tampak memancarkan aura kegembiraan, walau disembunyikan dengan raut muka yang garang. "Karena Anda telah menebak dengan benar, apakah saya diperkenankan untuk memberi hadiah pada Anda, Tuan?"
Paul sangat membenci yang namanya basa-basi, karena itulah, saat Roswel berkata demikian, ia langsung menjawab, "Jangan banyak omong! Langsung saja beritahu di mana lokasi pahlawan berikutnya! Aku tidak mau buang-buang waktu! Brengsek!" Paul menyemburkan umpatan-umpatan bengis itu pada Roswel, tidak peduli kalau sosok yang sedang meneleponnya ini punya kekuatan yang sangat besar, bisa saja dia dibekukan atau dihancurkan dalam sekejap oleh Roswel, tapi Paul tidak mempedulikan hal tersebut.
Beruntungnya Roswel bukan makhluk yang sensitif atau pemarah, ia seperti punya kesabaran yang sangat tinggi saat berkomunikasi dengan Paul, padahal bocah itu terkadang bisa sangat keterlaluan jika sedang berucap, tapi Roswel benar-benar sabar menghadapinya, sampai Paul pun dibuat heran mengapa orang itu tidak pernah marah padanya, walau ujung-ujungnya, ia tidak mempedulikan hal tersebut.
"Baik. Saya akan langsung ke intinya, seperti yang Anda inginkan, Tuan," kata Roswel dengan suara yang tertata rapi seperti pembawa acara di panggung-panggung yang besar. Dengan keheningan sejenak, Roswel pun mulai kembali berbicara. "Dari yang saya lihat, tampaknya target Anda kali ini adalah seorang gadis muda yang berusia sekitar sembilan belas tahun, berambut kuning cerah, dan berwajah anggun. Dia selalu mengenakan penutup kepala yang menutupi seluruh rambutnya. Dia pun selalu memakai pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuhnya, dan terkadang, dia menggunakan cadar untuk menyembunyikan bibir dan hidungnya. Selain itu, gadis itu tiap hari selalu membawa sesuatu di tangannya, yaitu sebuah buku tebal yang saya yakini adalah kitab suci. Dan warna pakaian yang sering ia pakai adalah kuning, Tuan."
Mendengar itu, Paul langsung berkata sebelum Roswel berbicara kembali, "Katakan padaku! Di kota mana dia tinggal! Sekalian juga sebutkan namanya! Agar aku tidak sulit menemukannya! Cepatlah!"
Mengerti pada permintaan Paul, Roswel segera menyiapkan jawabannya dengan baik. "Menurut penglihatan saya, gadis itu tinggal di sebuah kota yang bernama Sablo. Dan tampaknya, beberapa orang di kota itu sering memanggilnya dengan nama 'Naomi'. Sampai sini, apakah informasinya sudah cukup, Tuan?"
"Ya! Terima kasih!" Setelah mengucapkan itu, Paul langsung menutup teleponnya dan memasukkan kembali ponselnya ke kantong celananya. Kemudian, pandangannya difokuskan ke arah Jeddy dan Koko yang sedang duduk di kursi tamu. "Kita berangkat!"
Mendengar itu, Koko dan Jeddy mengernyitkan alisnya, mereka masih belum paham terhadap perintah dari Paul. Alhasil, Jeddy bertanya pada mentornya, "Kalau boleh tahu, kali ini kita akan pergi ke mana, Bro!?" Koko juga menganggukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan itu, karena dia pun penasaran pada hal tersebut.
Paul langsung menatap tajam pada Jeddy setelah lelaki rambut hijau itu bertanya padanya. "Kau mau tahu!? Hah!?" Jeddy dan Koko menganggukkan kepalanya secara bersamaan, melihat itu, Paul menyeringai jahat. "Kita akan mengunjungi Kota Sablo!" Mendengar itu, tiba-tiba senyuman Koko jadi memudar seketika. "Dan pahlawan yang akan kita temui adalah seorang gadis bernama Naomi!" Senyuman Jeddy jadi semakin mengembang saat mendengarnya. "Jika si Cherry idiot tahu tentang ini, dia pasti akan kegirangan!" ucap Paul dengan mendecih sebal. "Lalu, karena kota yang akan kita kunjungi adalah Sablo, maka kita harus mengenakan pakaian yang sesuai dengan budaya di sana!"
"Mengapa begitu, Bro!?" tanya Jeddy pada Paul setelah mendengar penjelasan itu, dia kurang paham mengapa mereka harus memakai pakaian yang sesuai dengan budaya di Sablo, karena sejauh ini, mereka tidak terkena masalah walau memakai pakaian bebas ke kota-kota lain, lantas, mengapa mengunjungi Kota Sablo harus berpakaian yang sesuai dengan budaya di sana? Jeddy benar-benar dibuat bingung.
"Mungkin karena," Koko mulai bersuara dengan suara yang lemah, mencoba menjawab pertanyaan dari Jeddy. "Di Sablo terdapat budaya yang cukup kental, dan para pendatang... harus mematuhinya."
"Lalu, budaya seperti apa yang ada di kota itu?" Jeddy kembali bertanya dengan mengerucutkan bibirnya. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu dengan keadaan di Kota Sablo, karena selama ini, teman-temannya di Groen tidak pernah membicarakan tentang kota itu padanya, jadi Jeddy tidak tahu-menahu tentang kota tersebut.
Karena malas mendengar pertanyaan-pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Jeddy, akhirnya Nico, yang sedang duduk di hadapan mereka, mulai angkat suara untuk membantu teman bodohnya yang sama sekali tidak tahu tentang kondisi Kota Sablo. "Biar aku aja yang menjelaskannya," kata Nico dengan bersikap seperti profesor yang akan memperesentasikan hasil temuannya, membuat Paul, Koko, dan Jeddy melirik ke arahnya. "Tolong ingat ini baik-baik di otak tololmu itu, Jeddy," Nico melototkan matanya pada Jeddy dengan angkuh.
"Kota Sablo merupakan salah satu daerah yang memegang teguh prinsip keagamaan yang kuat. Dan hal itu membentuk suatu budaya yang memaksa penduduk-penduduknya untuk berpakaian tertutup, yang mereka bilang, agar tidak menimbulkan dosa yang akan menyengsarakan diri mereka di Neraka. Dan mayoritas penduduk di Sablo, memeluk agama Blanca, yang meyakini bahwa Tuhan itu ada dan tidak berwujud. Dan mereka akan mengusir para pendatang yang mengenakan pakaian yang tidak sejalan dengan prinsip mereka. Jika kau ingin tahu, di sana, para perempuan diwajibkan menutupi rambut dan seluruh tubuhnya dengan kain dan pakaian yang longgar. Sementara untuk para laki-laki, diwajibkan memakai serban, sebuah kain panjang dan lebar yang diikatkan di atas kepala, dan mengenakan gamis, pakaian yang menyerupai jubah namun terdapat kancing dan berlengan panjang. Apa sekarang kau sudah paham, Jeddy?"
Jeddy terbelalak mendengar penjelasan yang dikemukakan oleh Nico, dia kaget karena ada sebuah kota yang punya budaya unik seperti itu, dia benar-benar baru tahu tentang keberadaan Kota Sablo. Karena Negara Madelta, tempat kelahiran mereka, adalah sebuah negara yang membebaskan tiap kotanya untuk membentuk budaya apa pun, aturan apa pun, pandangan apa pun, dan acara apa pun sesuka hatinya, yang membuat beberapa kota saling bentrok karena perbedaan budaya dan aturan.
Dan terkadang, ada beberapa kota yang sengaja menyembunyikan kehadiran kota-kota musuhnya pada para penduduknya, seperti halnya Groen yang memang sering terlibat konflik dengan Sablo, yang membuat dua kota itu tidak lagi saling berhubungan, menimbulkan para pemimpin di dua kota itu memaksa masyarakatnya untuk melupakan dan mengasingkan kota musuh bebuyutannya. Seperti masyarakat Groen yang tidak mengenali keberadaan Kota Sablo, dan masyarakat Sablo yang tidak lagi mengetahui kehadiran Kota Groen di negaranya. Begitulah, saling mengabaikan satu sama lain.
__ADS_1
"Wow! Aku tidak percaya kalau di dunia ini ada kota menakjubkan seperti itu! Karena setahuku, tidak ada nama Sablo di dalam daftar seluruh kota di Negara Madelta, yang pernah dijelaskan oleh guruku saat aku masih sekolah di Groen! Mengapa bisa begitu, ya, Bro!?"
Nico, Koko, dan Paul tahu alasan mengapa masyarakat Groen tidak memberitahu keberadaan Kota Sablo pada anak-anaknya, tapi mereka lebih memilih bungkam, karena akan terlalu merepotkan untuk dijelaskan. Oleh sebab itu, Paul langsung bersuara, "Kau jangan banyak tanya! Bajingan! Bukankah pertanyaanmu sudah dijawab dengan jelas oleh Nico!" kata Paul sambil menjitak kepala Jeddy. "Dari pada buang-buang waktu di sini! Lebih baik kita segera berangkat ke kota sialan itu! Untuk menemui pahlawan kita yang bernama Naomi!"
Mendengar Paul berbicara begitu, Koko dan Jeddy langsung beranjak bangun dari kursi dan mulai berjalan mengikuti mentornya dari belakang, meninggalkan Nico yang masih sedang duduk santai di ruang tamu.
"Hati-hati di jalan, jangan lupa ketika pulang dari sana bawakan aku makanan khas Kota Sablo, aku ingin mencicipinya. Semoga kalian mengingatnya, wahai para sampah." ucap Nico dengan tersenyum miring pada Paul, Jeddy, dan Koko yang hendak keluar dari pintu. Setelah sosok ketiga temannya telah tiada, Nico membuka ponselnya untuk membaca-baca cerita di internet.
Setelah sampai di gerbang, Paul menolehkan pandangannya ke Koko yang mengenakan kaos panjang warna ungu dan celana panjang berwarna serupa, yang ia yakini itu adalah pakaian miliknya. Kemudian perhatian Paul dialihkan ke Jeddy yang memakai kaos hijau pendek dibaluti dengan sweter hijau berbulu halus dan celana jins pendek berwarna serupa. Puas mengamati penampilan dua temannya itu, Paul berkata, "Percuma kalian memakai pakaian seperti itu, karena kita akan mampir ke toko baju untuk membeli serban dan gamis!"
"Ahh," Jeddy tampak kecewa. "Padahal aku suka sekali dengan sweter ini, tapi tak apalah, yang penting aku bisa mengunjungi Sablo untuk bertemu dengan Naomi tersayang! Hahahaha!"
Mendengar kata-kata itu, Paul memberungutkan wajahnya, jijik pada sikap Jeddy yang demikian. Sedangkan Koko hanya tertawa kecil mendengar Jeddy berkata begitu, karena ia pikir itu lucu sekali.
Setelah masuk ke dalam toko baju yang berdiri di pinggir jalan raya di depan alun-alun Kota Swart, di sana mereka membeli busana yang sesuai dengan budaya di Kota Sablo. Membuat Paul, Jeddy, dan Koko berpenampilan berbeda selepas keluar dari toko baju tersebut. Kini, Mereka bertiga mengenakan gamis panjang yang berwarna serupa dengan warna rambut masing-masing; seperti Paul yang berambut hitam memilih gamis warna hitam, Jeddy yang berambut hijau lebih nyaman memakai gamis warna hijau, dan Koko yang berambut ungu panjang, tertarik untuk mengenakan gamis yang warnanya serupa dengan warna rambutnya. Bukan hanya itu, mereka juga membeli sebuah serban putih berbahan hangat untuk dipakai di kepala mereka.
Sontak, karena penampilan Paul, Jeddy, dan Koko seperti itu, membuat orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar jalan, memandangi mereka dengan tatapan aneh, karena busana semacam itu masih tabu untuk dipertontonkan ke publik di Kota Swart. Tapi Paul, Jeddy, dan Koko tidak terlalu mempedulikannya. Mereka dengan santai berjalan biasa, ikut berbaur dengan masyarakat di jalanan untuk pergi menuju halte bus. Rambut panjang Koko tampak berkibar-kibar di punggungnya saat angin kencang menerpanya.
"Kau benar! Bro!" timpal Jeddy dengan menyetujui pendapat Paul soal itu. "Kakiku juga sulit untuk melangkah lebar saat memakai baju seperti ini, Bro! Tapi karena itu! Aku jadi kagum dengan para lelaki di Sablo! Bro! Soalnya mereka tiap waktu selalu memakai pakaian seperti ini untuk beraktivitas sehari-hari, ketika kita di sini merasa kesulitan hanya memakainya baru satu kali! Mereka benar-benar luar biasa, kan, Bro!?"
Koko tersenyum tipis mendengar ucapan Jeddy, dia pun memberanikan diri untuk ikut berbicara, "Bahkan... wanita-wanita di sana diwajibkan memakai kerudung untuk menutupi kepala mereka. Bukankah itu sangat... luar biasa? Karena bisa saja... kain kerudung yang mereka pakai itu terasa gatal atau mungkin menggerahkan."
"Tapi tetap saja!" ucap Paul dengan kesal. "Mereka tidak seharusnya mewajibkan penduduknya memakai pakaian seperti ini! Kedengarannya seperti tidak ada kebebasan dalam berpakaian di sana! Dan itu membuatku jengkel!"
Jeddy tertawa mendengar itu, "Hahahah! Mau bagaimana lagi, Bro! Tiap kota, kan, memang punya keunikannya masing-masing! Kita tidak boleh membandingkan budaya kota A dengan kota B, karena itu bisa menimbulkan pertikaian, Bro! Hahahaha!"
Entah mengapa, Paul jadi terdiam saat mendengar nasihat dari Jeddy, dia jadi berpikir, ternyata teman bodohnya itu terkadang bisa sangat bijak dalam berpendapat. Koko pun tampak senang saat mendengar itu, dia jadi menilai bahwa Jeddy tidak sebodoh yang seperti orang-orang pikirkan.
Dan sampailah mereka di halte bus antar kota, Paul, Jeddy, dan Koko masuk ke dalam bus, dan seperti biasa, penampilan mereka mengundang perhatian dari para penumpang. Banyak penumpang yang berbisik seperti "lihatlah, ada orang-orang aneh", "astaga, bukankah itu pakaian yang sering dipakai orang-orang dari Sablo", "aku benci pada busana seperti itu", "terkesan pemabuk agama sekali", dan bisikan-bisikan tajam sejenisnya.
Namun mereka bertiga terlihat tidak memusingkan pada yang dibisiki para penumpang. Paul, Jeddy, dan Koko hanya duduk santai di sana, untuk pergi ke Kota Sablo. Mereka tidak sedikit pun merasa terganggu dengan omongan-omongan orang lain, karena menurut mereka itu wajar, karena busana yang sedang mereka pakai tidak sejalan dengan budaya di Kota Swart; yang menjunjung tinggi budaya modernitas.
Dan dalam waktu tiga jam, bus sampai dan berhenti di halte milik Kota Sablo. Paul, Jeddy, dan Koko keluar dari kabin bus dan menjejakkan kakinya ke pasir yang panas dari Kota Sablo. Mereka terkejut saat bus yang mereka tumpangi pergi, karena sejauh mata memandang, mereka tidak melihat tanah cokelat, permukaan di kota ini semuanya adalah pasir, dan cuacanya pun sangat panas. Walaupun begitu, suasana kotanya cukup ramai, banyak sekali orang-orang yang berseliweran di tepian jalan dengan mengenakan gamis, jubah, serban, dan kerudung. Gedung-gedung di sini pun sangat tinggi dan elegan, tidak seperti di kota-kota yang Paul kunjungi sebelumnya, semua gedung di sini tampak berkelas. Jalanan aspal pun cukup bersih, walau sebagian besar terselimuti oleh pasir.
__ADS_1
"Di sini panas sekali, Bro!" ucap Jeddy sambil menempelkan telapak tangan kanannya ke kening, agar wajahnya tidak terkena sinar matahari. "Ngomong-ngomong rumah dari pahlawan baru kita ada di mana, Bro!? Apa kau mengetahuinya, Bro!?"
"Aku tidak tahu! Tapi aku akan menemukannya secepat mungkin!" jawab Paul dengan berseru pada Jeddy. "Tapi untuk sementara, kita berteduh dulu di tempat itu!" Paul menunjuk ke sebuah gedung yang atapnya berbentuk kubah. Di sana terdapat teras yang lumayan nyaman untuk dijadikan tempat berteduh.
Paul pun mengajak Jeddy dan Koko untuk berteduh di sana, tapi baru saja mereka duduk di lantai, tampak lah seorang gadis berkerudung kuning yang membawa sebuah kitab suci di dadanya, ia berjalan anggun di antara kerumunan orang yang hendak masuk ke dalam gedung tersebut. Sampai akhirnya, gadis itu saling menatap dengan Paul dalam beberapa detik.
Ketika gadis itu tidak lagi menatapnya, Paul langsung buru-buru mengangkat badannya dan berlari menghampiri gadis tersebut. Saat sampai di hadapan gadis itu, Paul tersenyum simpul, membuat gadis tersebut merasa kaget melihat sikapnya.
"Maaf, bisakah Anda menyingkir dari hadapan saya?" kata gadis itu dengan menatap tajam muka Paul. "Saya hendak masuk ke dalam untuk beribadah, jadi tolong, mengertilah."
"Tunggu sebentar!" timpal Paul dengan suara yang keras, sampai membuat gadis itu terkejut. "Namamu Naomi, kan!?"
Mendengar namanya disebut oleh seorang lelaki asing yang bahkan tidak ia kenal sama sekali, membuat Naomi tersentak. "Mengapa Anda bisa tahu nama saya?"
"Bagus!" Paul senang tebakannya benar. "Sekarang, aku ingin kau ikut bersamaku ke suatu tempat! Naomi!"
Naomi mengangkat alisnya, kaget mendengar ucapan itu. "Maaf! Tapi lelaki dan perempuan tidak boleh ke suatu tempat bersamaan jika belum menikah, jadi saya tidak bisa menuruti kehendak Anda," ucap Naomi dengan tersenyum sopan walau sebenarnya dia sedang sangat kesal. "jadi, saya permisi."
Paul terkejut saat mendengar perkataan Naomi, dia tidak mengerti mengapa ada aturan aneh yang membuat lelaki dan perempuan tidak boleh berduaan jika belum menikah, apa-apaan itu? Padahal Paul tidak hendak melecehkannya atau sejenisnya. Alhasil karena saking jengkelnya, Paul langsung berkata, "Jika memang begitu! MENIKAHLAH DENGANKU!"
Tiba-tiba semua orang yang berlalu-lalang di sekitar gedung terkejut dan menolehkan pandangannya ke arah Paul dan Naomi, termasuk Jeddy dan Koko yang tak kalah kagetnya mendengar hal tersebut.
"EH!?" Kedua kaki Naomi sampai bergetar saat mendengarnya. "Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa kau lakukan sesuka hati, apa kau tidak paham dengan hal itu?"
"Lalu, mengapa kau bilang begitu padaku!?" kata Paul dengan beringas. "Memangnya kenapa jika lelaki dan perempuan butuh waktu untuk berbicara di tempat yang cocok!? Apakah kita harus menikah dahulu!?"
Naomi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan-jangan Anda itu seorang Eris?"
"Apa itu Eris!?" Paul terbelalak mendengarnya, baru kali ini dia mendengar istilah seperti itu.
"Eris adalah manusia-manusia sesat yang tidak memeluk agama Blanca, dan kalian kelak, menurut ajaran agamaku, akan menjadi bahan bakar api Neraka," ucap Naomi dengan menelisik ke penampilan Paul dengan ngeri. "Maaf, tapi aku tidak mau berdekatan dengan Eris seperti Anda. Karena Anda hanya akan membuat saya berdosa."
Dan Naomi langsung berlari masuk ke dalam gedung beratap kubah, meninggalkan Paul yang masih berdiri mematung di sana. Sedetik kemudian, Paul mendecih. "Jadi seperti itu, ya," Paul tampak merencanakan sesuatu yang menarik di pikirannya, dia menyunggingkan seringaian jahat di wajahnya. "Lihat saja, aku akan membuatmu tunduk padaku, Naomi!"
__ADS_1